I Know Your Secret

I Know Your Secret
Dua Manusia Menyebalkan


__ADS_3

Dapat kurasakan ada seseorang yang membuka pintu lalu menatap kearahku.


"akhirnya,kau pingsan juga."


Tunggu,suara ini sepertinya tidak asing. gumamku,tetapi aku tidak membuka mataku untuk melihat wajahnya. Bisa-bisa aku tambah dalam bahaya. Lebih baik aku mengikuti alurnya.


Aku ingin mengumpat dan memukulnya keras telah berani menggendongku tanpa izin,dapat samar-samar aku mendengar suara wanita didekatku.


"gimana,berhasilkan rencanaku? kau sih tidak percaya." gerutunya.


Sial,ini suara Vanya. Memang kampret tuh anak,awas saja kau. Dari awal aku sudah curiga dengan gelagat kau Van,cih licik. umpatku dalam hati.


"yah..yah kuakui kau memang hebat Van,tapi ngomong-ngomong kau kok bisa dapat ide brilian seperti ini?" tanya pria yang menggendongku yang tak lain adalah Afran. Aku baru ingat suara itu,suara yang pernah menyatakan perasaannya padaku waktu sore itu.


"Farah,aku senang banget dapat tips dari dia. Eh,dia itu ahli banget soal ini,makanya aku tau dari dia."


Sialan juga tuh Farah,kau masih sama seperti dulu.


umpatku lagi dalam hati.


Afran langsung memasukkanku kedalam mobil,tetapi aku masih mendengar percakapan mereka.


"kau sudah membereskan Elisa?"


"aman kok,saat ini dia harus berteman dengan tikus-tikus digudang." gelak Vanya


"hahahaha bagus,oh sepertinya aku harus berterimakasih pada Farah telah memberitahu ide ini. Aku jadi penasaran orangnya seperti apa."


"cantik kali,kalau bisa dia lebih cocok jadi primadona kampus,bukan seperti Dasha sialan itu." cercanya tidak suka.


Terimakasih sudah jujur padaku kalian berdua. Aku akan dengan senang hati membantai kalian berdua,lihat saja nanti. gumamku pelan sambil membuka mataku. Aku melirik ke samping mobil ternyata ada ruang kecil. Aku menoleh kearah mereka,tampak Afran tengah masuk kedalam kampus seperti ingin mengambil sesuatu didalam. Sedangkan Vanya bermain ponsel membelakangi mobil Afran.


Tidak menunggu waktu lama,aku langsung memukul tengkuknya pingsan lalu menyeretnya masuk kedalam mobil. Sedangkan aku langsung berpindah masuk kedalam ruang kecil yang ada disana.


Dapat kudengar langkah kaki menuju mobil Afran,

__ADS_1


"eh,mana dia? kenapa dia menghilang?" tanya Afran pelan tetapi masih terdengar olehku. Lalu terdengar suara deruh mobil mulai menjauhi tempatku bersembunyi.


"fyuuh selamat." ucapku lega. Yap,Afran pasti tidak menyangka jika yang ada dibalik selimut itu bukan aku melainkan Vanya. Aku tidak peduli apa yang akan terjadi pada wanita itu,yang jelas mereka sudah mencoba mencelakakanku dan aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi.


Aku berjalan keluar lalu segera menghubungi Elisa.


"Elisa dimana kau? apa kau baik-baik saja?" gumamku pelan,lalu teringat percakapan Afran dan Vanya tadi. Dengan cepat aku berlari ke gudang. Dimana itu adalah tempat Elisa dikurung.


"Elisa!!! Elisa!! dengar aku??" teriakku sambil menggedor pintu gudang itu kuat. Gudang ini sangat jauh dari tempat lokasi kampus yang biasanya lalu lalang. Tentu saja tidak ada yang berjalan mengarah kesini.


Tidak ada sahutan dari dalam,aku mencoba mencari cara agar membuka pintu itu. Ingin meminta seseorang tetapi tidak ada yang terlihat olehku.


"cih tidak ada pilihan lain." aku mengambil batu lumayan besar,lalu dengan sekuta tenaga aku menokok gembok yang mengunci pintu itu.


Braak. Akhirnya gembok itu lepas dan aku langsung mendobrak pintu itu kuat. Alangkah terkejutnya aku melihat Elisa tergeletak tidak berdaya digudang yang penuh debu ini.


"El,Elisa dengar aku??" kataku sambil menepuk pipinya. Namun siempunya pipi tidak kunjung bangun membuatku langsung bertindak menelpon dua manusia ngeselin itu datang. Tentu saja siapa lagi kalau bukan Zayyan dan Gazza.


"hallo kak."


"urgent! please cepat datang ke gudang didekat kampus, cepat!!"


"kenapa? ada apa? kenapa kau ada disana Sha?" cerca Zayyan dengan banyak pertanyaan. Daapt terdengar olehku nada cemasnya.


"nanti aku jelasin,sekarang datang aja dulu." ucapku langsung mematikan telepon lalu menepuk pipi Elisa lagi.


"ya ampun aku lupa,kalau Elisa phobia gelap. Kurang ajar kalian berdua!!!" gerutuku kesal. Aku melihat sekeliling gudang,kalau dilihat-lihat tempat ini sangat menakutkan dan banyak bertebaran debu. Aku sesekali terbatuk-batuk karena tidak sengaja menghirup debu disana.


Oh sial,tasku tinggal di toilet dong. Untung saja Afran bodoh itu ceroboh." umpatku lagi,lalu menoleh kearah Elisa.


"El,aku akan segera kembali. Tunggu yaa." ucapku langsung berlari kencang menuju toilet yang sangat jauh dari gudang itu. Butuh dua ratus meter untuk sampai ke toilet kampus.


"hosh...hosh akhirnya dapat juga." ucapku sambil menyambar tasku,lalu berlari lagi menuju tempat Elisa.


Tidak kusangka aku akan berlari-lari sebanyak empat ratus meter. Ini adalah rekor terlama sepanjang hidupku,patut diapresiasikan.

__ADS_1


"fyuuh...hosh...hosh capek." ucapku sambil menselonjorkan kakiku. Sambil meneguk air mineralku sampai kandas,barulah aku mengambil minyak kayu putih untuk dioles ke kaki dan tangan Elisa.


Dapat kurasakan kaki dan tangannya dingin,membuatku terus berusaha untuk menggosok-gosok tangannya sambil menunggu dua manusia ngeselin itu datang.


Akhirnya mereka datang,dengan tergesa-gesa berlari menghampiriku. Zayyan langsung melirik kearah ku dan memelukku langsung membuatku tertegun.


"syukurlah kau baik-baik." ucapnya lega,tetapi sadar dengan situasi sekarang membuatnya terkejut langsung melepaskan pelukannya. Aku tersenyum kikuk begitupun dia yang tampak salah tingkah.


"hei kalian berdua,bukan saatnya romantisme disini. Lihat sahabatmu sudah sekarat gini." ucap Gazza tampak jengah menatap kami berdua.


Aku langsung tersadar lalu menoleh kearah Gazza. "bang segera kita bawa kerumah sakit. Elisa phobia gelap,tadi dia dikurung disini." jelasku membuat keduanya terkejut.


"kenapa bisa? siapa yang mengurungnya?" tanya Gazza bingung.


"ck,nanti saja aku jelasin diperjalanan. Yang penting bawa dulu Elisa okee." ucapku langsung dianggukan keduanya. Zayyan langsung menuju mobil dan membukakan pintu,sedangkan Gazza langsung menggendong Elisa.


Aku mengikuti Gazza dari belakang sambil membawa tasku dan tasnya Elisa. Aku merogoh tasnya dan tidak menemukan ponsel gadis itu.


"sudah kuduga,ternyata pesan itu hanya alibi saja." lirihku pelan,lalu masuk kedalam mobil. Aku duduk dibelakang sambil memangku kepala Elisa. Sedangkan Gazza duduk didepan dan Zayyan yang mengemudikan mobilku.


"katanya mobil kau udah siap bang? kenapa tidak pakai mobil sendiri?" sindirku.


"memang udah,kau menelpon saat kami udah sampai rumah. trus cepat-cepat naik mobil barengan." jelas Gazza melirikku dari kaca spion tengah.


"oh."


"cepat jelaskan pada kami,apa yang terjadi sebenarnya?"


Aku langsung menjelaskan semua yang terjadi padaku dan juga Elisa tanpa ada terlewatkan satupun. Dapat kulihat Zayyan tampak menggenggam kuat stir mobilnya. Sudah jelas pria itu saat ini sangat marah.


"brengsek tuh anak!!" umpat Zayyan keras. Bukan hanya Zayyan saja yang kesal bahkan Gazza tampak diam hening sambil mengepalkan tangannya.


Oh tidak,bang Gazza marah,habislah. Aku sangat tau kalau Gazza marah seperti kesetanan. Abangku itu memang terlihat kalem dan tenang,tetapi jika sudah sekali marah terlihat seperti monster.


"aku tidak akan membiarkannya hidup tenang." ucap Zayyan dingin sambil menambah kecepatan mobil.

__ADS_1


Aku hanya diam tidak berkutik dan mengucap-ucap terus dalam hati agar kami tetap selamat sampai ke rumah sakit. Aku tidak ingin membantah dua manusia menyebalkan itu disaat suasana didalam mobil mulai mencengkam.


__ADS_2