
"sampai kapan kau terus memandang perutmu hah?" tanya Zayyan jengah melihatku hanya memandang perutku itu selama dua jam.
Aku menoleh kearah Zayyan, "bang beneran aku hamil?" tanyaku lagi. Entah sudah keberapakalinya pertanyaan yang sama aku lontarkan kepada Zayyan.
"huft,Iyaa Dashaku. Kau memang lagi hamil sekarang,diperutku itu ada janin anak kita." seru Zayyan dengan sabar menghadapi ibu hamil yang satu ini.
"serius?"
"sekali lagi kau tanya,aku benaran lempar kau keluar." ketus Zayyan menekuk wajahnya.
Aku sontak tertawa lepas melihat raut kesal Zayyan, "ya ampun jangan marah dong sayang,kan aku cuma mengujimu saja tadi. Patutlah akhir-akhir ini aku makan banyak,trus datang bulan udah lama banget nggak datang,eh rupanya ada seseorang disini." kekehku sambil mengelus perutku dengan lembut.
"sabar...sabar..." ucap Zayyan menenangkan dirinya.
"wait bang,apa jangan-jangan kau dari kemarin sudah tau tentang kehamilanku bang?"
Zayyan mengangguk, "jelaslah tau,orang kau bertingkah aneh."
"hmm tapi yang buat aku bingung ya bang,kenapa aku tidak muntah kayak ibu hamil biasanya?" tanyaku lagi.
"itu normal kok nyonya,memang hampir semua ibu mengalami morning sickness tapi ada juga yang tidak merasakan apa-apa." jelas dokter itu yang baru saja masuk keruanganku. Ia pun menghampiriku.
"lalu kenapa aku harus dirawat disini?" tanyaku jengah menatap keduanya.
Dokter tadi hanya terkekeh pelan, "kalau soal itu,anda bisa tanyakan pada suami anda." ucapnya sambil menyodorkan obat padaku.
"ini nyonya,vitamin buat ibu hamil. Anda tidak boleh kecapean apalagi stres yaa. Itu tidak baik untuk janin anda. Saya juga menyarankan anda harus berolaga ringan agar saat persalinan sembilan bulan bagi berjalan lancar." terang dokter itu.
"baiklah, terimakasih ya dok." ucapku tersenyum kearahnya,dokter itu membalas senyumanku dan pamit undur diri. Setelah dokter itu pergi,aku langsung menatap tajam kearah suamiku.
"hei bang,bisa jawab kenapa aku harus nginap??"
"demi anak kita. Kau itu lasak,jadi kalau ada sesuatu kan langsung panggil dokter."
"yaa tapi kan,nggak gini juga. Masa iyaa aku nggak ada sakit apa-apa lagi nginap dirumah sakit. Aku mau pulang." seruku tetap berteguh dengan pendapatku.
"sabar. Kau harus pemulihan dulu baru pulang,besok aja pulangnya." ucap Zayyan menolak permintaanku.
"heh kau kira bayar rumah sakit murah? kan mahal bang." ucapku memelas.
"rumah sakit ini punyaku Sha,jadi gratis." jawabnya sambil tersenyum seringai membuatku tidak bisa berkata-kata lagi.
Aku juga baru menyadari jika rumah sakit ini milik keluarga Zayyan. Aku hanya menghela napas pasrah menuruti kemauan suamiku.
"kau tidak ngidam sesuatu?" tanya Zayyan penasaran.
__ADS_1
"tidak,hari ini aku mau istirahat." ucapku sambil menggulung badanku dengan selimut.
***
Aku berjalan pelan menuju kamar Elisa. Yap,hari ini adalah hari pernikahannya,biasanya setiap orang yang menikah akan bahagia tetapi tidak dengan sahabatku itu. Aku yakin dirinya terpaksa menerima Ergin yang menjadi suaminya kelak. Benar dugaanku,Elisa menatap kosong kearah cermin padahal dirinya begitu cantik menggunakan gaun putih itu.
"Elisa." panggilku pelan menghampirinya,Elisa terperanjat lalu dengan cepat menunjukkan senyumnya berbalik menatapku.
"Dashaa,kau sangat cantik walaupun perutmu agak menonjol." ledeknya membuatku terkekeh pelan.
Haduh,sahabatku ini suka sekali menyembunyikan masalahnya. gerutuku geram dalam hati.
"hush,jangan menghina perutku yaa,ini ada jagoan didalam. Kau bisa dimarahi olehnya nanti kalau udah lahir." candaku membuat Elisa sedikit terdiam.
"dia tidak mungkin memarahiku."
"lah kenapa? kau kan tantenya,dan ini keponakanmu."
Elisa menatap nanar kearahku, "aku aja gagal jadi kakak iparmu Sha. Mana mungkin aku jadi tantenya." lirihnya tanpa terasa air matanya sudah membasahi pipinya.
"ya ampun bestie," lirihku langsung memeluknya, "kalau kau mau menangis,nangis lah dulu. Aku ada disini nemanin." hiburku sambil menepuk punggungnya pelan.
Aku juga sedikit kecewa dengan keputusan yang dibuat Elisa yang gagal menjadi kakak iparku. Memang sedikit sih kemungkinan Elisa menikah dengan Gazza mengingat pria itu sangat dingin tak punya hati. Walaupun Aku sering membuli abangku yang satu itu tetapi dirinya sangat dingin dengan yang lain termasuk Elisa. Entah apa penyebabnya,tetapi firasatku mengatakan dari sorot mata abangku menyimpan amarah besar saat melihat Elisa.
Elisa juga membuatku curiga,yang aku tau dirinya terbelenggu dengan Ergin. Tetapi,setiap melihat Gazza seperti menciut tidak berani menatap Abang tampanku itu. Semua masih semu aku lihat,dan tidak menemukan titik terang dari semua ini.
Elisa menggeleng pelan, "tidak Sha,aku akan tetap menikah dengan Ergin walaupun mungkin aku tidak menyukainya. Tapi, perlahan-lahan aku akan mencintainya kok,tenang saja." ucapnya sambil tersenyum tipis kearahku.
"kau jangan menunjukkan senyum palsu itu padaku El,aku sangat sedih melihatmu menahan semua ini. Kau tidak mau bercerita denganku soal dirimu,bahkan tentang kakakmu itu aku tau dari Ergin yang tidak punya hati merekam semua kejadian itu. El,aku bukan menghasutmu tetapi ingat,pernikahan ini bukan main-main. Kau harus siap lahir dan batin,tanyakan pada hatimu kau memang mau bersedia menikah dengan Ergin yang jelas-jelas tau tentang kecelakaan itu??" tanyaku berusaha menyakinkan sahabatku itu dengan keputusannya.
Maafkan aku Tante,tapi aku tidak bisa melihat sahabatku tidak bahagia dengan pernikahannya. gumamku lagi dalam hati.
Elisa menarik napasnya pelan, "siap tak siap aku akan tetap menikah juga dengan Ergin kan? jadi kabur pun aku tidak ada gunanya." pasrahnya lagi. Aku sekali lagi memeluknya sambil menguatkan gadis itu.
"aku bangga punya sahabat sepertimu El,kau sangat berjiwa besar." seruku tersenyum kearahnya,lalu aku melihat riasan Elisa sedikit berantakan.
"oh tidak pengantin kita riasannya sedikit pudar,kita harus merapikannya!" celotehku membuat Elisa tertawa pelan. Ia pun membiarkanku memperbaiki riasan wajahnya.
Setelah siap seperti semula,Elisa membalik menatap cermin. "fyuuh,bismillah bisa." ucapnya menyakinkan dirinya.
"semoga kau selalu bahagia teman,selamat kau sudah melepaskan masa mudamu hari ini." ledekku disambut cubitan gemas oleh Elisa.
"ih kau itu," lalu ia melirik kearah perutku, "walaupun kita bukan satu keluarga,kamu tetap keponakanku yaa. Jangan lupa kabarin kalau udah lahir." ucapnya pada perutku membuatku terkekeh geli.
"siap?" tanyaku menatap Elisa,Elisa mengangguk pelan sambil menarik napas.
__ADS_1
"fyuuuh siap." ucapnya mantap. Aku dan Elisa menunggu di kamar sambil menunggu ijab Qabulnya selesai,kami terkejut saat sudah mendengar ucapan 'sah' dari semua orang dilantai bawah. Seketika Elisa gugup memegang tanganku, "a-aku sudah menikah yaa Sha?" tanyanya tetapi rautnya terlihat sedih.
Aku mengangguk pelan, "ayo pengantin baru,kita temui suamimu." ucapku membimbing Elisa menuruni anak tangga satu persatu. Banyak yang takjub dengan kecantikan kami berdua. Aku melihat Zayyan berada dibelakang tempat duduk pengantin pria.
Tunggu,kenapa Zayyan berdiri dekat Ergin? bukannya dia benci liat pria itu sampai-sampai aku pula yang meleraikan keduanya. Lalu kenapa dia tampak akrab dengan suami Elisa. gumamku merasa heran,setelah sampai ditempat pelaminan aku mendudukkan Elisa disamping pengantin pria.
Zayyan menarik tanganku dengan cepat, "kau capek sayang?" tanyanya khawatir melihat rautku berkerut.
"tidak,tapi aku bingung,kenapa kau bisa dekat dengan Ergin?" tanyaku sambil berbisik.
Zayyan mengangguk mengerti,lalu menepuk pundak pengantin pria itu, "Gazza,istrimu ada disebelahmu." ucap Zayyan membuat Elisa dan aku terkejut dan menoleh kearah pria yang sedari tadi diam menunduk. Elisa yang tadi hanya diam menunduk langsung mendongak kesamping dan terkejut saat mengetahui pria itu adalah Gazza.
"what the—"
"huh,mau mengumpat huh? mau bayar denda kamu sayang?" seru Zayyan memperingatiku dengan tatapan tajamnya.
"hehehe tidak," cengirku tetapi aku masih syok dengan apa yang terjadi barusan.
Apa ini? bagaimana bisa abangku menjadi suami Elisa?!. gumamku tidak percaya.
Semua kejadian tak terduga itu terus membuatku menjadi penasaran yang tingkat tinggi. Tetapi,Zayyan mengelus kepalaku pelan, "kau jangan terlalu banyak memikirkan hal yang tidak penting,"
"bang,bagaimana bisa semua ini terjadi? lalu dimana Ergin?"
"untuk apa kau mencari pria brengsek itu? sudahlah lupakan saja,biarkan yang sudah berlalu. Yok kita ambil eskrim disana!" seru Zayyan acuh tak acuh memikirkan kejadian abstrud ini, ia pun menarik tanganku,mau tak mau aku mengikuti suamiku menuju tempat stand eskrim yang disediakan di tempat pernikahan Elisa.
Tetapi,apapun itu alasannya aku senang akhirnya tanpa terduga Elisa menjadi kakak iparku. Senyum lebar terbit dari wajahku, "semoga kalian bahagia!!" seruku sambil menikmati eskrim yang ada ditanganku.
"aamiin." ucap Zayyan yang mendengar doaku tersenyum tipis. Kami pun menikmati eksrim jauh dari tempat pelaminan Elisa dan Ergin,eh ralat Elisa dan Gazza.
Semua terlihat normal dan aku tidak menyangka saja semua sudah seperti air mengalir.
Aku teringat saat pertama kali bertemu Zayyan yang saat itu masih berpenampilan culun sampai saat ini aku mengandung anaknya. Yap,rahasiaku selama ini Zayyan juga mengetahuinya. Pertemuan yang unik bukan? tetapi aku bersyukur bisa menjadi istrinya,istri dari Zayyan Firaz Adibrata.
"kau tersenyum." ucap Zayyan melihat rautku,aku terkekeh pelan menatapnya lekat.
"aku bahagia."
•
•
•
Tamat
__ADS_1
_I Know Your Secret_