
Aku tidak bisa berkata-kata,mulutku terasa kaku. Zayyan menyadari rautku langsung duduk menyilang kaki di lantai,menatapku yang masih duduk disofa.
"aku ingin bertanya padamu Dasha." ucap Zayyan membuatku menatap matanya.
"apa?"
"apa kau menyesal memberikan roti itu padaku dulu? karena itu awal mulamu dibully." tanya Zayyan pelan.
Aku terdiam sejenak,memang benar sejak aku memberikan roti itu pada pria ini,para fansnya banyak yang membenciku bahkan membulliku tanpa ampun. Tindakan mereka saja bisa membuatku hampir saja nekat melakukan tidak-tidak. Tapi,dalam hatiku sedikitpun aku tidak menyesal memberikannya roti waktu itu.
Aku menggeleng pelan, "aku tidak menyesal memberikanmu roti kak,itu memang inisiatif ku sendiri memberikanmu roti. Kau tau kenapa aku memberikan roti itu padamu kak?" tanyaku menatapnya lurus,ia pun juga menatapku dengan lekat menunggu penjelasan ku.
"karena kau terlihat kesepian kak. Aku waktu pertama kali masuk ke kelas,kau orang pertama kali kulihat. Aku tidak tau kenapa,aku melirik ke arahmu waktu itu,tapi yang jelas sempat terbesit dihatiku kau itu kesepian." lirihku pelan sambil membayangkan saat aku pindah sekolah waktu itu.
Zayyan tampak tertegun,ia hanya menatapku dalam diam tanpa mengatakan apapun. Ini malah membuatku jadi canggung.
"aiiih kak,tolong responnya dong,aku jadi ma—" aku terkejut saat Zayyan tiba-tiba menarikku kedalam pelukannya. Aku terdiam lalu membalas pelukannya. Aku mencium aroma maskulin pria itu yang membuatku terasa tenang.
Tunggu... gumamku pelan saat merasa ada yang aneh,aku mendengar suara dengkuran membuat alisku mengerut.
"hmm kak Zay,Zay!!" aku menepuk punggungnya tetapi pria itu tidak ada sahutan sedikit pun.
"sialan,malah tidur dia,ya Allah nih anak." gerutuku pelan. Tetapi,aku bingung harus melakukan apa sekarang,tidak mungkin kan aku menggendong nya ke sofa.
"kak jangan salahkan aku besok kau masuk angin yaa,kita terpaksa tidur dilantai nih. Aku juga nggak sanggup menggendongmu kak,serius." ucapku pelan. aku mengambil bantalan sofa lalu aku letakkan dibawah kepala Zayyan,begitu pun aku juga ikut tidur dilantai. Aku memiringkan badanku melihat pria itu tertidur pulas.
"sial,kau terlalu tampan kak," ucapku gemas memandang wajah damainya. Aku langsung memeluk pria itu, "kau membuatku nyaman kak." ucapku pelan langsung memejamkan mata dan ikut masuk kedalam mimpi.
***
"Astagfirullah,kalian bangun! bangun!" teriak seseorang membuatku membuka mata. Aku terkejut melihat keluargaku sudah berkumpul diruang inap kakek.
"ibu?!" pekikku langsung terperanjat bangun,begitu juga dengan Zayyan yang langsung terduduk saat mendengar teriakanku.
"ya ampun kalian ngapain tidur di lantai nak? masuk angin nanti." gerutu Ibu melihat kami berdua.
"apa Bu? kami nggak ada ke kamar mandi." ucap Zayyan pelan sambil menguap.
Aku menoleh kearah Zayyan, "heh,bukan itu lho yang ditanyakan ibu." kesalku sambil menepuk bahunya.
__ADS_1
Zayyan mengucek matanya, sesekali ia menguap lagi.
Sepertinya nyawanya belum terkumpul semua. kekehku pelan.
Ibu menggeleng pelan melihat kelakuan kami, "huft, ya sudah lebih baik kalian pulang aja dulu. Kakek biar kami yang jagain." ucap Ibu menatap kami. Kami mengangguk pelan,aku merenggangkan otot-ototku sakit karena semalaman tidur dilantai begitu juga dengan Zayyan.
"ayo." ajakku berjalan sedikit gontai,Zayyan berjalan mengambil kunci mobil diatas nakas. Zayyan masih dalam kantuknya berjalan kearahku.
"kau yang bawa yaa Sha,aku ngantuk kali." ucap Zayyan langsung menyerahkan kunci mobilnya padaku.
"mana bisa kak,aku juga masih ngantuk nih,kau ajalah yang bawa mobilnya." tolakku sambil menyerahkan kunci mobil itu kembali ke Zayyan
"kau ajalah." ucapnya lagi.
"kau aja kak."
"serius nih,aku ngantuk kali."
"yaah sama aku pun ngantuk juga kak. ck,kalau nggak bang Gazza ajalah yang ngantar kita. Bang jadi supir bang." ucapku sambil menunjuk Gazza yang sedang meneguk air mineralnya.
"uhuk...uhuk." Gazza tersedak saat mendengar suaraku. Gazza menatap tajam kearahku.
"ya udah, Gazza kamu antar adik kamu ke rumah cepat." ucap Ibu menyetujui usulanku. Aku tersenyum kemenangan menatap Gazza,Gazza menghendus kesal merampas kunci mobil ditanganku.
"Ibu kami pulang duluan yaa, assalammualaikum." pamitku menyalami ketiga orang yang aku sayangi itu.
"hati-hati dijalan." ucap Kakek,kami pun mengangguk lalu berjalan keluar ruang inap kakek.
"lah mana bang Gazza?" tanyaku melihat sekeliling lorong rumah sakit. Zayyan tampak acuh tak acuh menarik tanganku menuju lift.
"hoaaam." nguapnya membuatku ikut juga menguap.
"hoaaam,aku ingin pulang." ucapku sambil mengucek mata.
"ya kan nih kita mau pulang bodoh." ucap Zayyan membuatku menatap malas kearahnya.
"ya santai aja ngomongnya,nggak usah ngegas jugalah. Cih, pagi-pagi dah ngegas aja." gerutuku lagi.
Kami pun keluar dari lift,aku berjalan pelan tanpa sadar menabrak seseorang.
__ADS_1
"ya ampun maaf." ucapku sambil membantu gadis itu berdiri. Namun saat tanganku mengulur kearahnya ia pun menepis tanganku, "jalan bisa liat nggak?! pakai mata!" ketusnya mulai mendongak kearah ku. Aku terkejut menatap wajahnya begitu juga dengan gadis itu.
"Vanya?" ucapku terkejut,tetapi Vanya langsung berdiri dan mengibas bajunya, menatap tajam kearahku.
"kau?! harusnya kau yang ada disana!!" sarkasnya sambil menarik kerah bajuku. Vanya menatap nyalang kearahku, "dasar sialan kau!!" ucapnya hendak menamparku tetapi tangannya dicekal Zayyan.
Vanya terkejut menoleh kearah Zayyan,pria yang tampaknya asing baginya. Vanya marah sekaligus kagum dengan ketampanan suamiku. Aku menghendus kesal menatapnya,lalu menghadang Zayyan agar Vanya tidak terus-terusan melihat Zayyan.
Cih,kak Zay kenapa kau tidak berpenampilan culun aja sih?! lihat dia sekarang terpesona dengan ketampananmu kak. kesalku dalam hati menatap tajam kearah Vanya.
"kenapa kau menghalangiku Sha?" bisik Zayyan membuatku berdecak kesal. "diam dulu!" aku masih menatap tajam kearah Vanya.
"Vanya apa maksudmu tadi hah?!" sentakku menatapnya. Vanya menatapku dengan penuh kebencian.
"kau membuatku menderita Dasha! harusnya kau yang terjebak bukan aku!!!" teriaknya membuat seluruh orang yang melintas menoleh kearah kami dengan ekspresi yang bermacam-macam.
Aku menoleh kearah sekeliling lalu menarik tangan wanita itu keluar dari rumah sakit sebelum membuat kegaduhan yang membuat dirinya malu.
Zayyan menghela napas melihatku,lalu mengikuti kami dari belakang,ia mengerti kalau aku ingin menyelesaikan masalahku sendiri.
"lepaskan!!!" sentak Vanya menepis tanganku,ia pun lagi-lagi mau menamparku tetapi aku menahan lengannya, "kau yang hampir menjebakku,tetapi kau disini seolah-olah kau yang terjebak. Tanggung sendiri masalahmu,jangan bawa-bawa aku. Kau yang membuat rencana ini kan? tanggung sendiri!!!" ucapku dingin menatapnya tajam. Aku pun langsung berjalan berbalik kearah Zayyan yang berdiri tidak jauh dari kami.
Vanya tidak terima, "sialan,seharusnya kau yang ada disana bukan aku!!!"
Aku berbalik menatapnya, "itu salahmu sendiri. Ingat pepatah ini baik-baik Vanya, setiap perbuatan pasti ada balasannya. Kau yang membuat rencana sialan itu,lalu kenapa kau yang marah?"
"brengsek,bagaimana kau bisa sadar pas saat itu hah?!"
Aku berjalan mendekatinya sambil melipat tangan didepan dada, "insting anak baik,sudahlah aku tidak ingin berdebat denganmu lagi,maaf aku pergi." ucapku sambil menyibak rambutku kebelakang dan berjalan kearah Zayyan, "ayo kak." ajakku menarik tangan suamiku menjauh dari Vanya.
Dapat kudengar umpatan yang keluar dari mulut wanita itu.
maaf waktu itu aku tidak ada pilihan lain selain mengorbanmu waktu itu. Lirihku pelan dalam hati,memang aku tidak ingin Vanya juga terjebak tetapi waktu itu aku tidak dapat berpikir jernih dan hanya berpikir menyelamatkan diriku saja.
Zayyan menepuk bahuku pelan,ia pun merangkul ku. "jangan bilang kau menyesal apa yang sudah kau lakukan Sha?" tanya Zayyan
"sedikit." ucapku pelan. Lalu Zayyan berdiri didepanku dan menangkup wajahku yang terlihat sendu itu.
"kau tidak perlu menyesal Sha,kau sudah melakukan hal yang benar kok. Kadang kita harus menyelamatkan diri kita dulu baru orang lain. Ada saatnya kau menolong orang lain,tetapi tidak mengorbankan dirimu sendiri Sha. Jangan terlalu polos atau harga dirimu yang akan diinjak-injak nantinya." jelas Zayyan.
__ADS_1
Aku tertegun sekaligus terkekeh dengan ucapannya, "tumben kau bijak kak?" tanyaku menatapnya.
Zayyan berdecak kesal, "dah lah." gerutunya mendahuluiku,aku langsung mengejarnya.