Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 101


__ADS_3

"Makasih ya sayang," Bara mengecup kening Syafira sesaat setelah pertempuran di atas ranjang mereka berakhir. Syafira yang sudah merasa benar-benar kelelahan tak menyahut, ia hanya mengangguk ka kepalanya dan berusaha tersenyum.


"Capek banget ya?" tanya Bara yang kini sudah berbaring di samping Syafira. Tangannya membelai lembut pipi Syafira. Berkali-kali ia menghujani wajah lelah Syafira dengan kecupan.


Melihat Syafira benar-benar tak berdaya, membuat Bara tersenyum tipis. Sangat kontras kondisi Syafira saat ini dengan semalam yang seperti hilang kendali.


Bara mengusap perut Syafira di balik selimut karena mereka belum mengenakan kembali pakaian mereka, "Semoga cepat tumbuh ya bibit yang mas tanam di sini," ucapnya penuh harap.


Syafira tetap diam, ia hanya bisa mengamini ucapan suaminya dalam hati. Meskipun masih muda, ia tak keberatan jika cepat hamil dan punya anak. Karena ia sangat menyukai anak-anak.


Bara melihat gelas di atas nakas sudah tandas tak ada air tersisa. Ia segera memakai kaos dan celana trainingnya, "Mas ambilin minum ya sebentar," ujarnya lalu ergi meninggalkan Syafira yang masih enggan beranjak, sungguh badannya serasa rontok semua, perlu sedikit waktu untuk mengumpulkan tenaganya kembali.


Tak lama kemudian, Bara kembali membawa segelas air putih dan juga sepiring nasi beserta lauknya. Syafira tersenyum melihatnya, bagaimana tidak makin cinta kalau perlakuan suaminya seperti itu.


Syafira duduk, kedua tangannya menggapit selimut untuk menutup tubuhnya sampai ke atas dada.


"Minum dulu," Bara duduk di tepi ranjang lalu menyodorkan gelas yang ia pegang kepada Syafira. Syafira menerima gelas itu dan langsung meminum isinya.


"Mau makan lagi? Mas bawain nasi kalau lapar," kata Bara.


"Boleh, suapi!" pinta Syafira.


Bara pun dengan senang hati menyuapinya. Sesekali ia menyendok makanan untuk dirinya sendiri yang juga merasa sedikit lapar. Pasalnya pagi tadi, ia hanya sarapan selwmbar roti dan sudah ia gunakan untuk bercocok tanam.


"Mandi yuk!" ajak Bara setelah mereka selesai makan.


"Nggak!" tukas Syafira cepat. Bara mengwrnyit melihat ekspresi Syafira. Biasnya perempuan itu paling rajin mandi, apalagi setelah melakukan adegan delapan belas ples.


"Aku udah nggak sanggup mas," sambungnya lirih.


Bara langsung tergelak, padahal ia hanya ingin mengajak Syafira mandi saja, bukan untuk melakukannya lagi. Tapi, sepertinya isteinya tersebut salah mengartikannya.


"Hanya mandi sayang, tidak lebih," kata Bara.


"Benar?" seperti tak yakin. Kalau soal kemesuman, suaminya itu sudah masuk level akut menurut Syafira. Apalagi rumah sedang sepi, para pelayan entah kemana rimbanya juga tak tahu. Sepertinya Bara mengirim Mereka ke suatu planet hingga tak ada yang nampak batang hidungnya satupun. Bahkan paman tiger juga tak ketinggalan.


"Iya, janji," sahut Bara.


"Mas siapkan airnya dulu, biar kita bisa berendam," Bara langsung berlari ke kamar mandi.


Syafira hanya menatapnya, baik benar dia punya suami, pikirnya. Iyalah orang baru dapat yang enak-enak, pikiran jahatnya mencibir.


🌼 🌼 🌼

__ADS_1


"Pelan-pelan sayang,"


"Iya mas, ini juga pelan," sahut Syafira.


"Biasanya juga aku yang melakukannya, takut amat tergores. Tenang aku nggak akan nikin wajah gampan suami aku ini terluka," imbuhnya.


"Tolong remot sayang!" titah Bara. Syafira menghentikan aktivitasnya mencukur rambut kumis dan sekitar dagu Bara. Tangannya meraih remote televisi dan memberikannya kepada Bara, "Orang nggak di lihat juga tivinya mas," ucap Syafira lalu melanjutkan mencukur kembali dari belakanh sofa dimana Bara harus mendongak.


"Habis ini di lihat, kalau udah selesai," ucap Bara.


Ternyata, di belakang mereka dokter Rendra telah memperhatikan keromantisan yang aneh dari pasangan suami istri tersebut. Masih terbesit sedikit luka ketika melihat Syafira mesra dengan sahabatnya. Namun, ia segera menepisnya dan langsung memasang wajah seolah semuanya baik-baik saja.


"Ehem!" suara deheman dokter Rendra membuat keduanya menoleh. Ia langsung masuk dan mencari keberadaan Bara.


"Rumah sepi amat Ra, nggak ada yang nyambut aku, pada kemana?"


"Rendra," refleks, Bara langsung berdiri dan meloncati sofa. Di tariknya tubuh Syafira hingga tersembunyi di belakang tubuhnya. Seolah kedatangan dokter Rendra untuk merebut istrinya. Syafira berdecak, ia menyembulkan kepalanya dari balik ketiak suaminya.


"Masih aja posesif Ra, orang udah sah jadi hak milik juga. Dua-dua kamu menang Ra, apa lagi sih yang di takutin?" ucap dokter Rendra yang melihat kewaspadaan dari Bara.


"Waspada itu perlu Rend, tikungan makin tajam sekarang,"


"Ngapain ke sini, tumben?"


"Aku sehat," jawab Bara cepat.


"Iya percaya, lagi sehat-sehatnya, pengantin baru. Tapi cek kesehatan juga perlu. Nggak mau kan tiba-tiba Syafira jadi janda, aku jadi ada kesempatan," canda dokter Rendra.


"Dih amit-amit," cebik Bara.


Dokter Rendra tergelak mendengarnya, "Makanya cek," ucapnya.


Sementara Syafira sedang memutar otak, apa maksud dokter Rendra bilang kalau Bara menang atas dua-duanya? Jika satunya dia, yang satu lagi siapa," Astaga! Mbak Olivia juga," gumamnya yang seperti lnya langsung menemukan jawaban atas pertanyaannya barusan. Bara menoleh mendengar gumaman istrinya yang kini menatap dokter Rendra dengan tatapan iba, kasihan benar nasibnya, pikir Syafira. Mendadak jadi sedih dianya, orang sebaik Rendra nasibnya gitu amat.


"Jaga mata sayang," Bara menutup mata Syafira yang mengintip.


"Ck, apaan sih mas. Aku lihat dokter Rendra juga di mataku lihatnya mas Bara. Santai aja," meski terkesan memaksakan ucapannya, taoi mampu membuat Bara tersenyum tipis.


"Hai Fir, apa kabar?" sapa dokter Rendra.


"Baik, sangat baik. Cepat katanya mau cek," bukan Syafira yang menjawab melainkan Bara. Ia langsung duduk di sofa.


"Kabar baik dok, saya buatkan minum silahkan kalian mengobrol," ucap Syafira ramah. Ia senang melihat dua sahabat itu, meski kelihatan saling cuek tapi mereka sebenarnya akrab dan saling mendukung satu sama lain.

__ADS_1


Bara menatap tajam Syafira yang sudah memutar badan meninggalkan dirinya dan dokter Rendra. Ramah sekali pakai senyum senyum segala, jangan-jangan masih ada rasa, pikirnya.


" Biasa aja, jangan tegang gitu nanti tensinya naik," dokter Rendra menepuk pundak Bara.


Bara dan dokter Rendra mengobrol sambil dokter Rendra mengecek kesehatan Bara. Sejak dulu memang dokter Rendra yang dipercaya oleh mantan duda itu sebagai dokter pribadinya.


" Syafira nggak sekalian aku periksa Ra?" canda dokter Rendra. Ia senang jika sahabatnya itu ngegas. Karena jujur ia rindu saat-saat dulu ketika mereka masih sering ngumpul.


" Enggak, dia punya dokter pribadi sendiri, perempuan," jawab Bara cepat.


"Acara charity dinner ma anak-anak pemderita kanker gimana?" tanya Bara.


"Udah delapan puluh persen kata Niken kemarin dia bilang," jawab dokter Rendra.


Televisi masih menyala, menayangkan berita terhangat saat Syafira telah selesai menyeduh teh dan menyiapkan camilan. Dua pria twraebut tak menghiraukan apa yang di siarkan oleh berita , mereka sibuk membicarakan hal lain dan mengabaikan televisi yang sedang memberitakan soal di temukannya seorang perempuan paruh baya meninggal dunia di sebuah kontrakan kecil dan sederhana.


Pyaaarr! Syafira yang baru saja kembali ke ruang keluarga tersebut, terkejut begitu melihat identitas mayatbyang di temukan tersebut hingga nampan yang berisi dua cangkir teh panas dan camilan itu jatuh ke lantai. Beruntung teh panas itu tidak jatuh tepat di kakinya, jika hal itu terjadi kaki Syafira sudah pasti melepuh.


Bara dan Rendra yang sedang asyik mengobrol pun langsung menoleh.


"Sayang,"


"Syafira," mereka langsung mendekati Syafira.


"Sayang, kamu nggak papa?" tanya Bara khawatir.


"Fir, kamu baik-baik saja?" dokter Rendra juga tampak khawatir.


"Istriku ini,"


"Aku tahu, tak perlu kamu buat pengumuman. Aku cuma tanya apa dia baik-baik saja," sahut dokter Rendra sedikit kesal. Sebelum Bara ketemu Syafira ia sudh lebih dulu mengenalnya, bahkan ia lebih dulu khawatir kalau gadis igu kenapa-kenapa.


Sementara yang di tanya masih terpaku menatap televisi, "Ibu," gumamnya.


Bara dan dokter Rendra serempak langsung menoleh ke arah televisi.


🌼 🌼 🌼


💠💠 Besok udah senin lagi nih, jangan lupa vote untuk om Bara Fira si mantan duda dan mantan perawan...terima kasih 🙏 🙏


pesan othor selalu jaga kesehatan dan patuhi protokol kesehatan dimanapun kita berada...


Salam hangat author 🤗❤️❤️💠💠

__ADS_1


__ADS_2