Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 65


__ADS_3

"Ma titip anak-anak ya, ajak mereka sama mama lagi," ucap Bara sebelum berangkat.


"Memang kanu mau pergi berapa lama Bara?" tanya bu Lidya.


"Sampai Syafira ketemu, mungkin Bara akan sering pergi, kasihan anak-anak kalau Bara tinggal terus. Bilang aja aku ada kerjaan ke luar kota, dan Syafira ada kegiatan kampus yang harus menginap beberapa hari,"


"Mama nggak yakin anak-anak mau mama ajak pergi lagi, mereka terlalu pintar untuk di bohongi,"


"Ma, please. Rencana Bara mau sekalian ajak Syafira bula madu setelah ketemu dan Syafira memaafkan Bara," ucap Bara.


"Cocok! Baiklah, serahkan anak-anak sama mama, yang penting kamu bawa pulang istrimu, pantang pulang sebelum ketemu," bu Lidya senang dengar ucapan Bara yang mau mengajak Syafira bulan madu, tinggal bagaimana usaha Bara buat meyakinkan Syafira. Lagian, sifat Nala mirip dengannya, akan mudah ia ajak lagi. Soal Nathan, .bu Lidya akan menggunakan senjata Nala, laki-laki kecil itu tidak bisa bilang tidak jika saudari kembarnya sudah merengek dan mengeluarkan air matanya.


Bara segera pergi setelah mencium punggung tangan bu Lidya. Bu Lidya menatap sendu punggung Bara. Sebenarnya ia merasa kasihan juga dengan menantunya tersebut karena Bara terlihat jelas sudah menyukai Syafira, tapi ia tidak tahu bagaimana cara bersikap.


Jika selama hidup dengan Olivia, tak pernah ada pertengkaran diantara mereka. Olivia selalu menurut dan tidak pernah membantah apapun yang Bara katakan. Berbeda dengan Syafira yang lebih berani bersikap, membuat Bara seolah menemukan PR baru dalam rumah tangganya bersama Syafira. Olivia dan Syafira sangat berbeda jauh baik dari segi karakter dan kepribadian, Olivia cenderung pendiam dan di dominasi oleh Bara meskipun ia seorang artis, sementara Syafira lebih banyak bicara dan selalu ada tingkah atau kata-katanya yang membuat Bara tak bisa berkutik saat berhadapan dengannya, Sehingga Wajar bila Bara masih perlu banyak belajar soal hubungannya dengan Syafira. Mungkin Bara sedikit kaget ketika bertemu wanita seperti Syafira.


Bu Lidya yakin, jika Syafira hanya ingin memberi sedikit shock therapy untuk menantunya tersebut. Ia berharap semoga keduanya bisa segera baikan.


🌼🌼🌼


Tujuan pertama Bara adalah toko roti milk Syafira. Bata segera memarkirkan mobilnya laku masuk ke dalam toko. Rani yang melihatnya langsung menyambut kedatangan suami bosnya tersebut.


"Pak Bara, tumben datang sendiri?" ucap Rani yang tak mendapati Syafira bersama Bara.

__ADS_1


"Syafira apa ada di sini Ran?" tanya Bara tanpa basa-basi.


"Tidak pak, mbak Fira tidak ada di sini, udah beberapa hari mba Fira nggak ke sini," jawab Rani.


"Emang mbak Fira bilang mau ke toko Pak?" tanya Rani.


"Dia bilang ada urusan, saya kira dia ke sini. Ya sudah, kalau Fira ke sini tolong bilang saya mencari dia ya," ucap Bara.


"Iya Pak, nanti saya sampaikan kalau mbak Fira ke sini," Meski ia merasa ada yang aneh, namun Rani tak berani bertanya lebih kepada Bara.


"Makasih, saya permisi," pamit Bara langsung balik badan


"O ya, sepertinya kamu kewalahan bekerja sendiri kalau Fira tidak datang, saya akan suruh orang buat cari partner kerja buat kamu," Bara kembali menoleh ke arah Rani sebelum akhirnya benar-benar pergi dari toko.


Bara melajukan mobilnya ke makam, siapa tahu Syafira ke sana, tidak ada salahnya mencoba mencari di sana. Ia akan mencari di tempat-tempat yang biasa Syafira datangi. Dan hasilnya nihil, tak ada Syafira maupun jejaknya di makam ayah mertuanya maupun Olivia.


Bara kembali melajukan mobilnya pelan, ia melihat ponselnya siapa tahu Syafira sudah mengaktifkan ponselnya yang sudah dua hari sejak mengirim pesan terkahir untuk Bara langsung ia matikan ponselnya.


"Kemana kamu Fir, kamu bilang hanya butuh me time. Kenapa ponselmu juga tidak aktif, berapa lama me time yang kamu butuhkan?" gumamnya lirih sambil terus mengemudi.


🌼🌼🌼


"Mbak Fira, yah telat deh mbak datangnya," ucap Rani ketika Syafira datang ke toko.

__ADS_1


"Telat apanya Ran?" tanya Syafira tak mengerti.


"Baru saja beberapa saat yang lalu pak Bara kesini nyariin mbak Fira. Mungkin belum jauh juga perginya, sekitaran makam palingan mbak," jelas Rani.


"Ternyata kamu mencariku mas, tapi nantilah, aku masih ingin kamu berusaha sedikit lagi," batin Syafira senang karena ternyata suaminya bergerak cepat untuk mencarinya. Syafira tidak ingin pergi lama-lama dari rumah karena ia tahu itu tidak benar. Tidak lama, Ya, ia memang hanya butuh sedikit waktu untuk menyendiri. Pergi dengan koper sengaja ia lakukan untuk memberi sedikit shock therapy untuk suaminya biar di kira akan kabur lama-lama.


"Pak Bara pesan kalau mbak Fira ke sini suruh bilang sama mbak Fira kalau pak Bara mencari mbak Fira gitu. Emang mbak nggak bilang kemana gitu sama pak Bara? Dia tampak khawatir lho, mbak Fira nggak kabur kan dari rumah?" sama Bara memang tak berani bertanya, tapi sama saja kepo sama Syafira.


"Enggak kok Ran, aku cuma mau ngasih kejutan saja buat mas Bara. Kalau dia datang lagi saat aku tidak di sini bilang aja aku nggak kesini ya biar kejutannya berhasil. O ya, saya bawa makanan buat kamu, kamu bisa bawa pulang buat ibu dan adik-adik kamu nanti," ucap Syafira. Ia tak mungkin menceritakan perihal rumah tangganya kepada Rani. Bukankah seorang istri merupakan pakaian bagi suaminya, dan seorang suami juga pakaian istrinya.


"Wah, makasih ya mbak. Ibu pasti senang ini di bawain makanan sama mbak Fira. O ya, tadi pak Bara juga bilang mau nambahin karyawan buat kerja di sini mbak, katanya kasihan kalau saya bekerja sendiri saat mbak Fira nggak datang. Pak Bara baik ya mbak," Rani bicara dengan nada senang sekali.


Syafira tersenyum menanggapinya. Dia tahu sebenarnya suaminya itu baik, tapi emang kadang sikap ketidakpekaannya itu yang sering menyebalkan dan bikin sakit hati.


🌼🌼🌼


Bara kembali memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit miliknya yang di pimpin oleh dokter Rendra.


Ia langsung menuju ruang VVIP dimana Adel di rawat. Berharap akan menemukan Syafira di sana. Namun lagi-lagi usahanya gagal, tidak ada Syafira di sana. Hanya ada Adel yang masih terbaring koma di ranjang pesakitan.


Bara mendekati ranjang Adel. Ia duduk di kursi samping ranjang. Selama ini ia tidak begitu memperhatikan adik iparnya tersebut. Ia hanya menggunakan kekuasaannya untuk memberikan perawatan yang terbaik untuk Adelia.


"Kalau kamu tahu Kakak kamu menikah dengan seorang duda, apa kamu akan setuju? Kalau kamu tahu saya sering tanpa sadar menyakiti kakak kamu, apa kamu akan membenci saya? Apa kamu akan mengijinkan dia untuk tetap hidup bersama saya?" ucap Bara, ia menatap lekat wajah cantik tapi pucat tersebut.

__ADS_1


🌼🌼🌼


__ADS_2