Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Episode 62


__ADS_3

Kediaman Osmaro...


Cukup lama bu Lidya berada di kediaman Bara. Ia habiskan waktu untuk mengobrol dan bermain bersama si kembar. Dalam obrolannya dengan Syafira, tak ada satu katapun yang keluar dari mulut Syafira soal rumah tangganya bersama Bara.


Tak terasa waktu sudah mulai sore, bu Lidya pun berpamitan untuk pulang.


"Nggak nginep sini saja bu? Fira dan anak-anak masih kangen," ucap Syafira.


"Lain kali saja ya, habis ini ibu masih ada acara lagi soalnya," jawab bu Lidya.


"Baiklah kalau begitu," Syafira tak memaksa.


"O ya, apa photo Olivia ibu bawa pulang saja ya?"


"Jangan bu, nanti mas Bara marah,"


" Ya sudah kalau begitu. Anak-anak mana?" tanya bu Lidya.


Syafira pun mengajak bu Lidya untuk berpamitan kepada si kembar yang sedang bermain bersama paman tiger.


"Bara kenapa kasih anak-anak main sama macan sih, ibu tuh suka was-was kalau mereka main sama itu binatang buas," ucap bu Lidya saat melihat Nathan sedang memeluk paman tiger.


"Fira juga takut bu, tapi mau gimana lagi," sahut Syafira.


"Nanti kalau Bara udah bucin sama kamu, bilangin ya jangan kasih anak-anak main sama tiger sering-sering. Manusia aja sering khilaf, apalagi itu hewan buas, takutnya karena lapar dia khilaf kan bahaya," oceh bu Lidya.


Syafira hanya tersenyum, fokusnya bukan kepada takut khilafnya macan peliharaan Bara, melainkan jika nanti Bara bucin kepadanya. Ia sendiri tak berani berekspektasi setinggi itu. Namun, dalam hatinya ia mengamini ucapan bu Lidya tersebut.


"Oma mau pulang?" Nala menghampiri Syafira dan bu Lidya.


"Iya sayang," jawab bu Lidya.


"Nala ikut," rengek gadis kecil itu.


"Iya oma, bawa saja Nala, di rumah hanya bikin berisik!" sambung Nathan yang masih asyik bermain dengan paman tiger.


"Nathan, jangan keseringan main sama dia!" seru bu Lidya menunjuk paman tiger, macan jinak itu langsung menatap ke arah bu Lidya. Membuat buli kuduk bu Lidya berdiri.


"Sayang, oma masih sibuk. Lain kali yah Nala ikutnya?" Syafira mencoba memberitahu Nala pelan.


"Beneran oma?"

__ADS_1


"Emmm nggak terlalu sih," sahut bu Lidya.


"Ya sudah Nala ikut, boleh kan bunda?" Nala beralih menatap Syafira.


"Kalau oma tidak keberatan," jawan Syafira.


"Tentu saja tidak, oma malah senang," ucap bu Lidya.


Bu Lidya pun beneran pamit pulang dengan sopir yang sudah Bara siapkan untuk mengantarnya kemana-mana. Nathan pada akhirnya juga ikut bu Lidya pulang karena Nala memaksanya ikut.


"Bilang saja kau tak bisa jauh dariku," kata Nathan saat Nala merengek memaksanya untuk ikut.


🌼🌼🌼


Sementara itu, Bara baru saja memarkirkan mobilnya. Ia turun dari mobil dan berjalan menuju ke makam Olivia. Sesampainya di makam, ia meletakkan bunga tulip kesukaan Olivia di atas nisannya.


"Aku datang lagi, apa kau merindukanku?" Bara mengusap-usap nissan bertuliskan nama Olivia tersebut.


"Sayang, apa kau marah denganku? apa kau benci denganku?" pertanyaan itu tiba-tiba muncul di benak Bara. Dulu, ia meminta Olivia berhenti dari dunia hiburan. Karena keposesifannya, kebebasan Olivia benar-benar ia batasi. Bara mecoba memutar kembali memorinya, ia tak pernah melihat istrinya mengeluh. Bahkan Olivia selalu bilang menjadi wanita paling beruntung mempunyai suami seperti Bara.


Namun, karena terlalu posesif dan cemburu itulah penyebab Bara dan Olivia bertengkar waktu itu karena Bara melihat Olivia dipeluk seorang laki-laki saat menghadiri sebuah acara award, sehingga Olivia harus melahirkan si kembar sebelum waktunya. Olivia yang menderita kardiomiopati tak mampu bertahan setelah melahirkan si kembar. Sebelum meninggal, Olivia berkali-kali bilang kalau dia sama sekali tidak menyalahkan Bara atas apa yang terjadi. Tidak sama sekali.


"Maafkan aku, maafkan aku," ucapnya lirih sambil mengusap nisan bertuliskan nama Olivia Wijayanti Kusuma tersebut.


Bara kembali ke mobilnya dan segera melajukannya.


🌼🌼🌼


Syafira sudah selesai menyiapkan makan malam. Ia yakin sebentar lagi suaminya akan pulang. Benar saja, saat Syafira selesai menyiapkan makan malam, terdengar bunyi klackson mobil Bara yang memasuki gerbang utama.


Syafira segera keluar untuk menyambut kedatangan Bara. Ia mengambil alih tas yang Bara bawa lalu menyalami tangannya.


"Mau makan atau mandi dulu mas?" tanya Syafira.


"Mandi," jawab Bara singkat sambil terus berjalan diikuti Syafira.


"Ya udah aku siapkan airnya dulu. O ya, anak-anak ikut ibu pulang tadi," ucap Syafira.


"Mama kesini?" tanya Bara.


"Iya, bawain oleh-oleh banyak. Tapi nggak ada buat mas Bara, cuma buat aku sama anak-anak," jelas Syafira tersenyum.

__ADS_1


"Aku siapkan airnya dulu!" Syafira langsung menuju kamar mandi begitu mereka sampai di kamar utama.


Selesai menyiapkan air untuk Bara mandi, Syafira keluar dari kamar mandi.


"Mas, airnya sudah si...." suara Syafira terhenti ketika melihat suaminya sudah berubah raut wajahnya sambil menatap dinding yang kini sudah kosong, tak ada photo Olivia lagi.


Perlahan Syafira mendekati Bara.


"Siapa yang berani menurunkan photo Olivia?" nada bicara Bara masih sedikit rendah.


"Itu..."


"Dimana photonya?" belum Syafira selesai menjawab pertanyaan pertama, Bara sudah melanjutkan bertanya dan kali ini intonasinya semain meninggi.


"Photonya ada di gudang mas, mas duduk dulu aku jelaskan," ucap Syafira.


" Kenapa kamu berani sekali megambil photonya tanpa ijin dariku Fir? Apa karena aku bersikap baik terhadapmu jadi kamu semakin berani dan lancang? Kamu pikir dengan menyingkirkan photo Olivia, kamu bisa menyingkirkan dia dari hati saya? Tidak Fira, sampai kapanpun dia akan tetap berada di hati saya. Saya bilang beri saya waktu sampai saya siap Fira. Kalau waktunya tiba, saya akan menurunkannya sendiri, kenapa kamu tidak sabaran?! Apa kamu benar-benar ingin menyingkirkannya dari hidup saya? Apa kamu benar-benar ingin saya melupakan dia ? Tidak bisakah saya tetap menyimpan cintanya, menyimpan namanya? Itukah yang kamu mau? Jawab Fira!" ucap Bara dengan kilat amarah.


Deg! Hati Syafira terasa sakit, ia tak menyangka reaksi Bara akan semarah ini, bahkan dengan teganya menuduh Syafira ingin menyingkirkan Olivia dari hidup Bara, seakan Syafira egois ingin memonopoli Bara untuknya sendiri.


Rasanya, tenaga untuk sekedar menjelaskan kalau bu Lidya yang menurunkan photo itu sudah sirna begitu saja. Syafira hanya ingin tahu seberapa penting dirinya untuk laki-laki itu, apakah dia akan menerima penurunan photo itu dengan bijak. Atau setidaknya dia bertanya dan meminta penjelasan dari Syafira secara baik-baik, tidak seperti ini. Langsung marah dan menyerang Syafira dengan berbagai tuduhan yang sama sekaki tidak benar.


Syafira tidak pernah berpikir untuk merebut Bara dari Olivia, tidak pernah ingin menyingkirkan Olivia dari hati Bara. Tidak sama sekali, kalaupun bisa ia hanya ingin memiliki sedikit tempat di hati suaminya itu sebagai seorang istri, bukan sekedar ibu dari anak-anaknya tanpa berpikir egois untuk meminta hati itu sepenuhnya. Hanya sedikit, sedikit saja pengakuan sebagai seorang istri.


Syafira terdiam, mencoba mengatur perasaannya. Mencoba menahan air mata yang sudah menggunung di sudut matanya.


"Kenapa diam saja Fira?" tanya Bara, kali ini nada bicaranya sedikit merendah, mungkin karena melihat wajah Syafira yang berusaha menahan air matanya.


"Apa mas Bara tidak bisa bertanya secara baik-baik? Haruskah dengan amarah seperti ini? Begitukah mas Bara berpikir? Seperti itukah aku di mata mas Bara? Ingin menyingkirkan mbak Olivia dari hidup mas Bara? Seperti itukah yang mas Bara lihat dan rasakan tentang aku? Baik, aku mengerti! Ternyata mas Bara tak cukup mengenalku, apalagi sampai menyimpan namaku juga di satu sisi hati mas Bara. Maafkan aku, jika aku egois seperti yang mas Bara pikirkan," ucap Syafira, sekuat tenaga menahan air matanya. Ia langsung berjalan melewati Bara yang masih mematung di tempatnya, sedang berusaha mencerna setiap kalimat yang diucapkan Syafira.


Syafira berhenti sejenak di belakang Bara, ia menghapus air matanya yang tetap menetes meski sudah ia tahan.


"Photo mbak Olivia masih ada di gudang, aku akan menyuruh orang untuk mengembalikannya, aku pastikan photo itu kembali terpasang seperti semula, tanpa berubah ataupun cacat sama sekali," ucap Syafira dengan nada bergetar dan langsung melangkahkan kakinya untuk meninggalkan kamar tersebut.


"Fir..." Bara ingin mencegah Syafira keluar, tapi pikirannya yang masih kacau dan tidak stabil, membuatnya tak melanjutkan kalimatnya, lidahnya mendadak kelu. Biarlah Syafira merenungkan kesalahannya sendiri dahulu, pikir Bara.


Syafira pikir Bara akan memintanya untuk tidak pergi dari sana, tapi ternyata salah. Syafira pun melanjutkan langkahnya, membuka pintu dan keluar dari sana. Ia merasa kamar itu bukanlah kamarnya, lebih tepatnya kamar Bara dan Olivia. Ia merasa tak berhak berada di sana.


"Sial!" umpat Bara, ia duduk di tepi ranjang. Menyisir rambutnya frustrasi menggunakan jari-jari tangannya. Perasaannya benar-benar kacau. Kedatangan Sonya ke kantor, di tambah saat pulang photo Olivia sudah di turunkan, membuatnya semakin tidak bisa berpikir jernih. Padahal ia berharap Syafira bisa meyakinkannya kalau dia tidak seperti yang Sonya katakan.


Bara memang sudah mulai menyukai Syafira tapi tidak bisa melupakan Olivia jika itu yang Syafira inginkan.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak bisa lebih sabar menunggu Fir..." lirihnya.



__ADS_2