Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 129


__ADS_3

Syafira langsung berdiri mematung di tempatnya. Tatapan hangat yang ia rindukan, suara khas yang membuatnya selalu berdesir kala memanggil namanya. Ini bukan mimpi, ini nyata. Suaminya kini berada di depannya. Tidak. Lebih tepatnya berada di depan Adel yang ekspresinya langsung berubah ketika mendengar kata 'mas Bara' dari mulut Syafira.


Kalau tidak ada Adel diantara mereka, pasti Bara sudah langsung menubruk Syafira, memelukaya erat, seerat-eratnya. Menumpahkan segala rindu yang ia punya untuk sang istri. Tapi, melihat wajah Adel yang begitu mengisyaratkan kebencian secara tiba-tiba, membuat Bara hanya bisa terdiam di tempatnya kini. Menunggu putusan Adel, apakah mengijinkannya masuk atau tetap berada di luar rumah, bahkan mungkin di usir.


Pun dengan Syafira, ia mendadak menjadi patung di tempatnya berdiri sekarang. Waktu serasa berhenti berputar. Tiga manusia itu berdiri dengan pikiran mereka masing-masing.


Varel yang sudah duduk di kursi hanya bisa berdecak melihat pemandangan di depannya.


"Ehem! Tamunya nggak di suruh minum ini? Haus tahu!" suara Varel mampu membuat ketiganya kembali sadar.


"Tamu, tamu tak di undang!" ucap Adel nyalak memandang Varel. Kemudian pandangannya kembaki beralih ke Bara.


"Apalagi tamunya pem...."


"Eh udah sampai ya, kenapa nggak masuk pak Bara?" suara uwak menghentikan ucapan Adel.


"Ayo masuk masuk!" seru uwak yang berjalan duluan mendahului Bara sehingga mau tidak mau Adel menggeser tubuhnya supaya uwak bisa melenggang masuk.


Bara tak menyia-nyiakan kesempatan, ia segera ikut melesat masuk tanpa mengindahkan tatapan benci dari Adel. Yang penting bisa masuk aja dulu, pikirnya.


"Bagaimana? Tidak nyasar kan sampai sini?" tanya uwak setelah Bara berhasil mendaratkan pan tatnya di sebelah Varel.


"Tidak wak, uwak ngasih alamatnya sangat jelas, sehingga mudah di cari," jawab Bara sambil melirik ke arah Syafira yang masih mematung di tempatnya. Seolah ada lem yang membuatnya susah bergerak.


"Uwak yang nyuruh DIA kesini?" tanya Adel jutek dan penuh amarah.


Namun, uwak tak menjawab, jika ia menjawab dipastikan hanya akan membuat Adel mencak-mencak.


"Fir, buatkan suamimu dan Varel minum. Pasti mereka haus karena perjalanan yang cukup jauh," suara uwak menyadarkan Syafira yang srjka tadi hanya diam mematung dengan pandangan kosong.


Tanpa bersuara, Syafira hanya menganggukkan kepalanya sekilas kepada uwak lalu berjalan menuju ke dapur.

__ADS_1


" Uwak, ngapain sih pakai nyuruh orang itu ke sini? Dia yang udah buat ayah meninggal! Nggak ngertiin perasaan Adel banget! Tega!" Adel menghentakkan kakinya lalu pergi menyusul Syafira ke dapur.


Varel dan Bara yang melihatnya hanya bisa menelan sakiva mereka sambil mengernyit.


" Sudah, jangan di ambil hati. Namanya juga anak-anak. Masih labil, " ucap uwak yang melihat wajah tak mengenakkan, terutama Bara.


"Bocah, tapi udah bisa itu diajak buat bocah itu," gumam Varel yang langsung dapat sikutan dari Bara.


"Pokoknya kakak harus usir dia, Adel nggak mau tahu! Ngapain juga sih, uwak nyuruh dia ke sini. Pilihn kemarin masih tetap berlaku ya kak, kakak belum memilih. Mau pilih aku, Adik kandung kakak sendiri, atau orang yang membuat kita kehilangan ayah itu!,"


Suara Adel dari dapur terdengar jelas dari ruang tamu. Bara hanya bisa mengembuskan napasnya Berkali-kali saat mendengarnya. Ia bisa mengerti akan sikap Adel. Ia juga tak menyalahkannya sama sekali. Semua memang salahnya, di luar kendalinya.


" Ya ampun, mulutnya itu bocah. Kecil-kecil cabe rawit, pedas! Beda banget sama kakaknya," celetuk Varell.


Uwak yang mendengarnya hanya bisa tersenyum, "Adel memang seperti itu anaknya, tapi sebenarnya dia anak yang baik. Jangan di masukkan ke hati omongannya," ucapnya.


"Iya wak, sebenarnya sikapnya hampir mirip seperti Syafira... Apa adanya," timpal Bara sambil melirik ke pintu, berharap istrinya segera keluar.


Bara meliriknya dengan mata tajam, "Aku yang jadi sasaran dia, kenapa kamu yang sewot dari tadi?"


Varell langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat, "Habis gemesin sih," gumamnya kemudian.


Syafira keluar dengan membawa nampan betisis tiga cangkir teh dan meletakkannya di depan uwak, Varel dan... Suaminya. Tak ada yang bisa ia katakan, kidahnya terasa kelu hanya untuk sekedar menawarkan teh tersebut.


Syafira benar-benar tak tahu ada apa dengannya. Suami yang ia rindukan kini ada di depan matanya, namun rasa egois itu muncul kembali. Benarkah ia masih marah dan belum bisa memaafkan suaminya. Atau... Ia hanya ingin menguji Bara sedikit lebih lama lagi? Yang jelas, opsi yang di berikan oleh Adel kemarin membuatnya benar-benar bagai simalakama.


"Terima kasih..." ucap Bara tersenyum hangat ketika Syafira meletakkan secangkir teh di depannya. Senyuman itu... Yang ia rindukan.


Brak!!!


Terdengar suara pintu kamar di tutup dengan keras oleh Adel. Membuat rmua yang ada di ruang tamu tersebut terperanjat karena kaget.

__ADS_1


"Astaga!" gumam Varel seraya mengusap dadanya. "Kalau jafi suaminya mesti punya stok jantung ini mah," gumamnya lagi.


"Fira, ke kamar dulu wak," ucap Syafira. Ia mengkhawatirkan Adel. Namun, uwak mencegahnya, "Biar uwak saja. Kalian ke meja makan saja dulu. Pak Bara dan Varel pasti belum makan malam. Kita makan malam bersama. Uwak yang akan bujuk Adel," ucap uwak ia bangkit dari duduknya lalu menepuk bahu Syafira pelan.


Syafira dan Bara masih bungkam satu sama lain. Bara yang tak tahu harus mulai bicara dari mana, apalagi ada Varel diantara mereka. PAsti suasana akan sangat tidaj kondusif, pikirnya.


Sementara Varel terus berdecak melihat dua anak manusia itu hanya saling diam, "Ck, kalian bicaranya pakai telepati ya? Diem-diem bae. Ini juga kakak, tadi aja menggebu-gebu pengin segera samai sini biar bisa langsung meluk Syafira, eh taunya sampai sini kicep begini," sungutnya kesal, selain capek ia juga sudah merasa lapar, tapi mereka tak kunjung menuju tempat yang ada makan malamnya, padahal sudah jelas uwak meminta mereka makan.


" Diam kamu!" sentak Bara yang malu kepada Syafira karena ucapan Varel.


Namun Varel cuek dan tak peduli, pandangannya kini fokus sama Syafira, "Kamu juga Fir, ngomong kek. Kalau rindu bilang rindu. Kalau masih marah ya ngomel aja, nggak apa-apa, kakak tuh kangen dengar suara kamu tahu nggak. Mending marah-marah, mencak-mencak sekalian biar plong, habis itu maafin. Huh greget aku, adiknya sengak benar kalau ngomong, kakaknya diem bae kayak ayam nelen karet!"


Tanpa ba bi bu, satu pukulan langsung Bara daratkan di lengannya dengan keras.


" Apa sih kak, sakit tahu!" ucap Varel meringis.


" Berani-beraninya kamu memerahi Istriku!" Bara tak terima Varel ngomel kepada istrinya. Ia saja sebagai suami berusaha ngerem supaya tidak lepas emosi kepada Syafira yang tampaknya masih enggan untuk berdamai dengannya.


"Aku hanya membantumu mengutarakan apa yang ada dalam pikiranmu kak," sahut Varel.


Varel melihat Syafira dan Bara bergantian, dan ia semakin gusar karena rasa lapar yang melanda," Aarrgghhh, kalian ini. Terserahlah! Dimana makan malamnya, aku lapar! Nggak akan kenyang dengan hanya lihatin kalian diem-dieman begitu!" omelnya frustrasi.


"Eh kok masih pada di sini, ayo ke dalam. Makan," ajak uwak yang baru saja keluar dari kamar yang di tempati Syafira dan Adel. Adel mengikutinya di belakang dengan terpaksa. Entah bagaimana uwak membujuknya, sampai ia mau ikut makan malam bersama.


" Tahu tuh wak, masih aja drama. Padahal makan hati dan perasaan aja nggak bikin kenyang! Tetap butuh energi buat marahan!" sungut Varel. Ia memang suka mengomel jika lapar.


Uwak ternsenyum paham, "Cukup kan Fir, masakan kamu tadi buat berlima?" tanyanya kepada Syafira.


"Oh, iya wak. Cukup," jawab Syafira lirih. Ia berjakan masuk ke dalam duluan untuk menyiapkan piring dan gelas tambahan untuk Bara dan Varel.


🌼 🌼 🌼

__ADS_1


__ADS_2