Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Extra part 14


__ADS_3

Satu tahun kemudian..


Dan inilah hasil dari renungan Adelia setelah obrolan nya dengan Syafira kurang lebih satu tahun yang lalu. Setelah proses pemantaban keputusan yang panjang, pada akhirnya ia sampai pada keputusannya saat ini.


Malam ini, Adel tampak cantik sekali. Lain dari biasanya yang hanya tampil sederhana dan apa adanya. Malam ini, ia sedikit memoles wajahnya.


Ya, malam ini Adel akan pergi makan malam bersama dengan Varel. Laki-laki yang lebih dari satu tahun itu selalu ada untuknya.


Meski Adel selalu berusaha menjaga jarak dengan Varel namun selalu gagal, entah kenapa alam seperti sengaja membuatnya bergantung pada pria yang kini berusia dua puluh tujuh tahun tersebut.


"Udah siap?" tanya Varel setelah berhasil mengkondisikan jantungnya sejak melihat Adel turun dari lantai atas tadi.


"Hem," Adel mengangguk dan tersenyum. Bikin hati Varel semakin meleleh.


"Kak, kami pergi dulu! Assalamu'alaikum..." pamit Adel kepada Bara dan Syafira yang sedang menonton televisi bersama ketiga anak mereka. Sementara si bungsu yang lahir empat bulan yang lalu itu sudah terlelap di dalam bok bayinya.


"Waalaikumsalam..." balas Syafira dan lainnya.


"Alaitumcalam..." terdengar suara baby Zio ikut membalas salam dengan suara cadelnya.


"Mereka mau kencan?" tanya Bara penasaran.


Syafira mengangkat kedua bahunya, "Pamitnya makan malam,"


"Varel tahu kalau lusa Adel berangkat?" tanya Bara lagi.


"Kayaknya belum mas, mungkin malam ini dia akan bilang,"


"Kasihan Varel, pasti dia kecewa. Mas takut dia jadi trauma nantinya sama cewek,"


"Jangan gitu mas, doain yang terbaik aja buat mereka. Aku ke kamar dulu, mau lihat baby Zack takutnya bangun. Mas tungguin anak-anak di sini," Syafira beranjak bangun. Namun tangannya di tahan oleh Bara.


"Apa sih mas?"


"Ikut, mas mau mengadakan sidak di tempat asalnya Zio dan Zack. Pengin cek siapa tahu masih bisa untuk tempat bersemedi satu lagi," Ucap Bara mengerling. Ia mengsuap-usap kan pipinya ke tangan Syafira dengan manja.


"Buntutnya udah empat juga, masih aja yang ada di kepala nggak jauh dari selang kangan. Lihat itu anaknya pada lihatin daddinya yang omes!"


Bara menoleh, dan benar saja ketiga anaknya kini sedang menatap orang tua mereka dengan tatapan polos khas anak-anak. Mungkin dalam pikiran mereka, ini orang tua pada ngapain.


Bara nyengir, ia segera melepas tangan Syafira," Ya sudah sana lihat Zack dulu. Biar mas di sini sama mereka. Nanti mas segera nyusul! Jangan lupa pakaian dinas malamnya. Yang mas belikan dua hari yang lalu itu, belum pernah di pakai kan?"


Syafira menggelengkan kepalanya, sebelum akhirnya ia melangkah pergi. Mantan dudanya itu makin umur bertambah tua malah semakin menjadi keme sumannya, pikirnya. Bahkan ia kini di jadwal setiap malam harus memakai pakaian dinas malam yang mana, sekalipun mereka tidak melakukan penyatuan. Hanya tidur bareng sambil berpelukan saja.


"Daddy, kalau malam bunda kerja?" tanya Nala kritis.


"Enggak, Kan kalau malam. Bunda selalu di rumah,"

__ADS_1


"Kok daddy suruh pakai baju dinas?" rupanya Nathan juga penasaran.


"Iya. Dinas malam kata daddy tadi," Nala menambahi, yang menbaut Bara seketika mengatup. Mana mungkin ia menjelaskan apa itu baju dinas malam yang ia maksud. Yaitu lingeri seksi, baju dinas malam yang wajib di pakai Syafira untuk melayaninya di ranjang.


"Sayang, tolongin mas dong!" rengek Bara. Ia yakin jika istrinya itu masih mendengar obrolan mereka.


"Tahu anaknya pada kritis, malah bahas begituan di depan mereka, salah sendiri," ucap Syafira sambil tetap melangkah.


"Waaahh, Zio udah ngantuk ya? Kakak, sana ajak Zio sikat gigi terus bobok. Daddy masih ada pekerjaan setelah ini," ucap Bara mengalihkan pembicaraan.


"Beyum ngantuk! Daddy pitnah!" sanggah Zio cepat. Bayi yang kini sudah berusia dua tahu itu tampak masih segar, bahkan matanya tak berkedip menonton kartun di layar televisi.


Bara nyengir seketika. Dari mana anak gagal bungsunya itu tahu kata fitnah segala.


Akhirnya Bara pasrah, menunggu ketiga buah hatinya menonton kartun kesayangan mereka sambil sesekali melirik ke lantai atas dimana istrinya kini berada. Tak sabar ingin melihat Syafira memakai lingeri yang ia belikan kemarin lusa. Pasti sangat seksi dan membuatnya semakin rajin ingin nambah anak lagi. Dan tentu saja Syafira menolaknya.


πŸ–€πŸ–€πŸ–€


Varel memakrikrkan mobilnya di sebuah cafe yang suasananya romantis. Cocok untuk pasangan kekasih. Untuk sekedar nongkrong bersama teman juga bisa.


"Kita makan di sini?" tanya Varel.


Adel mengangguk,"Di sini oke tempatnya. Kalau beruntung, nanti ada penyanyi yang suaranya bagus, andalan cafe ini. Cantik orangnya, banyak fansnya. Tapi dia udah punya pacar, aku pernah lihat dulu dia di jemput laki-laki tampan. Nah tuh dia, baru mau nyanyi. Cantik kan orangnya. Suaranya juga bagus banget, pantas jadi icon cafe. Beruntung kita datang mbak Vada pas ada jadwal manggung," celoteh Adel panjang lebar.


Varel tak memperhatikan apa yang gadis di sampingnya itu katakan. Bahkan ia tak menoleh sama sekali meski Adel bilang penyanyi cafe itu cantik. Ia justru tersenyum memperhatikan kecantikan Adel. Ia sedikit memiringkan kepalanya yang di tumou oleh tangan kanannya di meja. Meski sejak tadi dalam hati ia terus bertanya-tanya, tumben Adel mengajaknya keluar duluan. Biasanya dia yang punya inisiatif.


"Iya iya," Varel mencebik karena Adel mengganggu kesenangnanya memandangi wajah Adel. Ia melambaikan tangannya untuk memanggil pelayan cafe.


"Mau pesan apa kamu?" tanya Varel sambil membuka buku menu.


"Apa aja, samain sama om juga nggak apa-apa," jawab Adel. Ia sibuk melohat penampilan penyanyi cafe yang ia sebut bernama Vada tadi. Adel sangat menikmati suara yang di lantunkan wanita itu. Suaranya yang khas, membuat Adel kagum.


"Makan dulu, lihatin orang nyanyi nggak bikin kenyang," ucap Varel.


Adel mencebik, "Berisik sih om, kan udahan jadinya menyanyinya,"


"Lah, dia nyalahin aku. Emng lagunya yang udah habis," timpal Varel. Tapi ia senang, karena konsentrasi Adel tidak akan lagi ke panggung melainkan makan malam mereka berdua.


"Eh, kok yang jemput beda ya, bukan cowok yang dulu itu. Ini lebih ganteng, dan... Wow bewokan, mukanya juga cool banget dan tegas. Ya ampun, meleleh hatiku. Lah yang dulu apa udah putus ya?" Adel memperhatikan penyanyi cafe yang baru turun dari panggung dan langsung menghampiri Seorang pria yang baru saja tiba untuk menjemputnya.


"Makan Adel! Malah ngepoin hidup orang. Mau putus kek, mau selingkuh kek, itu urusan mereka. Urusan kita di sini untuk makan!" ucap Varel mulai gemas dengan tingkah Adel. Ia cemburu karena Adel memuji pria lain di depannya. Terlebih apa yang Adel katakan tidak semua ia miliki. Ganteng, ia punya. Tapi brewok yang bikin meleleh hati gadis itu? S h i t! Ia tak punya.


" Apa aku harus membiarkan brewokku tumbuh ya, biar dia bisa meleleh sama aku juga," ucap Varel dalam hati.


"Iya iya, bawel sih. Ayo makan, malah sekarang dia yang bengong," cebik Adel.


"Bisa nggak kita makan tanpa berdebat? Jangan ngerusak mood aku deh, Del,"

__ADS_1


"Hais, iya iya. Udah, di makan. Habis ini kita jalan-jalan ya, Om? Kita kencan!" kata Adel tersenyum.


Varel mengeratkan Keningnya, "Kencan? Nggak salah? Aku kira ini cuma perayaan kelulusan kamu aja," ucapnya tak percaya.


"Udah sih tinggal bilang iya aja. Buruan makan. Mau aku suapi?"


Uhuk! Uhuk!


Varel sampai tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan Adel.


"Kamu kenapa sih? Kok aneh? Kesambet di mana?" Varel curiga.


"Mau enggak? Nggak mau ya udah,"


Tanpa bicara lagi, Varel segera membuka mulutnya lebae-lebar demi menyambut suapan Adel.


πŸ–€πŸ–€πŸ–€


Selesai makan malam, Adel mengajak Varel ke sebuah tempat. Tepatnya di pinggir danau yang sangat indah dan tenang. Meski malam hari, pemandangan di danau tersebut sangat indah dengan cahaya lampu. Di sudut lain ada juga beberapa pasang muda mufi yang sedang menikmati waktu mereka bersama kekasih.


Adel mengajak Varel duduk di sebuah kursi panjang. Ia lantas menyadarkan kepalanya di pundak Varel. Sekuat hati ia berusaha menahan air matanya yang tetap saja jatuh dalam temaram cahaya malam yang mampu menyamakan wajahnya yang basah oleh air mata itu.


Varel merasa ada yang aneh dengan Adel malam itu. Ia menggenggam tangan Adel,"Kamu kenapa? Katanya kita kencan. Kok kayak nggak senang gitu,"


"Enggak apa-apa, aku senang kok. Bahagia banget tahu om. Aku bakal ingat malam ini. Jalan-jalan yuk om, kesana!" Adel menarik tangan Varel dengan mengulum senyum di wajah cantiknya.


Varel tersenyum, ia mengikuti apa yang Adel mau.


Mereka berjalan menyusuri pinggir danau sambil bergandengan tangan. Tepat di bawah pohon besar yang bercahaya karena di hias oleh lampu yang bersinar kerlap-kerlip, Adel menghentikan langkahnya.


"Kok berhenti?" tanya Varel.


"Aku kelilipan om!" dusta Adel.


"Kok bisa sih, sini coba aku lihat!" Varel melepas genggaman tangannya. Ia membuka Mata Adel dengan kedua tangannya lalu mendekatkan wajahnya untuk meniup mata Adel.


Namun, siapa sangka jika Adel malah mencium bibirnya. Sontak membuka Varel melongo tak percya. Aneh, Adel benar-benar aneh malam itu.


Adel mengalungkan tangannya di leher Varel, bibirnya terus bergerak memagut bibir Varel yang masih mengatup.


Detik kemudian, Varel membalas lu ma tan Adel. Ia menarik pinggang Adel supaya lebih menempel kepadanya. Di sesaonya bibir Adel penuh cinta. Per se tan dengan sikap Adel yang aneh, ia menyusuri setiap rongga mulut Adel, mengabsen setiap gigi milik Adel yang berjajar rapi. Meraup kembali bibir Adel dengan rakus, hingga membuat Adel kuwalahan mengimbanginya.


🌼🌼🌼


πŸ’ πŸ’ 


Part di cafe mengandung iklan ya, mampir juga ke cerita Vada dengan judul Wedding Trap by Mr. Introvert. Mohon dukungannya, karya itu sedang ikut lomba DI NT. Terima kasih πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ

__ADS_1


πŸ’ πŸ’ 


__ADS_2