
Sekian menit menikmati ciumannya, Adel terus memejamkan matanya, menikmati setiap sapuan bibir Varel. Sebisa mungkin Adel tidak mengeluarkan air matanya.
Varel melepas pagutannya, ia memandang lekat wajah gadis yang ada di depannya tersebut. Ia menangkup pipi Adel dengan kedua tangannya lalu kembali mencium bibir gadis itu.
Ciuman mereka berakhir setelah mereka benar-benar hampir kehilangan seluruh oksigen dalam tubuhnya.
"Makasih om. Maksih untuk malam ini. Anggap ini adalah kencan pertama dan terkahir kita. Anggap ini kencan perpisahan kita," ucap Adel setelah ia berhasil mengatur napasnya.
Deg!
Tentu saja varell terkejut mendengarnya.
"Mksud kamu apa?" tanyanya.
"Lusa aku berangkat," jawab Adel.
"Kemana?" perasaan Varel semakin tidak enak.
"Seperti yang pernah aku bilang. Aku mau melanjutkan kuliahku di luar negeri. Dan aku tidak ingin menggantung status om di sini. Om punya mimpi, aku juga punya mimpi. Kita memang memiliki satu mimpi yang sama, tapi waktu untuk mewujudkannya yang berbeda. Aku ingin konsentrasi meraih mimpiku yang lain dulu om. Aku aku tidak mau menghalangi om mewujudkan mimpi om, yang juga menjadi mimpi ibuk yang ingin segera melihat om menikah. Terima kasih untuk selama ini,"
Kaki Varel mundur satu langkah, ia benar-benar terkejut dan yang pasti tak percaya.
" Jangan bercanda, del. Ini beneran nggak lucu!" sangkal Varel.
" Aku serius om, selama ini diam-diam aku udah menyiapkan semuanya. Dan lusa aku berangkat. Aku hanya bisa bilang makasih dan juga maaf," ucap Adel tercekat. Ini bukan keputusannya yang mendadak. Ia sudah memikirkannya matang-matang.
"Katakan kalau ini tidak benar! Katakan kalau kamu tidak akan pergi meninggalkan aku! Katakan! Apa kau tidak bisa meraih mimpimi yang lain itu dengan tetap berasa di sini, di sisiku? Apa tidak bisa mewujudkan mimpimi itu beriringan dengan mimpi kita yang sama itu? Katakan kalau kamu tidak akan pergi!" Varel mengguncang bahu Adel frustrasi. Membuat gadis itu menangis.
"Maaf, om. Tidak bisa," Adel menunduk pasrah.
🖤🖤🖤
Mobil sampai di depan rumah Bara. Varel dan Adel masih diam duduk di dalam mobil tanpa ada yang berniat untuk turun duluan. Suasana hening tanpa suara. Mereka berdua larut dalam pikiran masing-masing.
"Apa tidak bisa meraih mimpimi di sini, dengan tetap berasa di sisiku?" sekali lagi Varel berusaha.
Adel menggeleng, "Keberadaanku di sisi om hanya akan membuat om semakin lama mewujudkan mimpi om,"
"Berapa lama kamu pergi?" tanya Varel.
Adel menggeleng," Tidak tahu, mungkin lima atau enam tahun,"
"Aku bisa menunggu," sahut Varel cepat.
"Mungkin om bisa, tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa membawa perasaan egois dan bersalah terus bersamaku karena membuat om terikat dengan janji yang entah kapan bisa aku tepati. Bahkan mungkin tidak bisa terwujud. Aku tidak meminta om untuk menungguku. Lebih baik semua berakhir sampai di sini. Aku doakan semoga om segera menemukan wanita yang baik dan lebih baik dari aku," Adel merata kuat jari jemarinya. Hatinya sudah hancur berkeping saat mengatakannya.
Varel mencibir," Kau yakin itu doamu?" tanyanya.
__ADS_1
Adel terdiam, ia tak tahu harus berkata apa.
Varel mengusap wajahnya kasar. Hubungan mereka bahkan belum mulai namun sudah harus kandas seperti ini.
"Aku turun dulu, capek mau istirahat. Lusa aku berangkat jam sembilan," ucap Adel. Ia buru-buru membuka pintu mobil karena sudah tidak bisa lagi berpura-pura tegar dan baik-baik saja di depan pria itu.
"Aku tidak akan mengantarmu!" teriak Varel.
Adel memejamkan matanya yang terasa sangat panas mendengar teriakan amarah dari Varel. Ia lalu mempercepat langkah kakinya, ingin segera sampai di kamarnya.
"Si al!" umpatnya memukul stir mobil. Ia benar-benar tidak rela melepas gadis yang selama ini selalu berada dalam lingkaran hidupnya. Gadis yang pelan tapi pasti membunuh perasaannya terhadap Syafira. Hatinya benar-benar hancur, bahkan lebih dari sebelumnya. Selama ini ia benar-benar menaruh harapan besar kepada Adel. Tapi semuanya kini seakan sia-sia, ia harus kalah sebelum berperang.
Varel langsung mengemudikan mobilnya kembali. Ia tak mampir dulu dirumah Bara.
Perasaannya benar-benar kacau.
🖤🖤🖤
Dua hari kemudian....
Adel tengah menunggu keberangkatannya ke Luar negeri. Syafira terus mewanti-wantinya untuk berhati-hati di negeri orang sendirian. Untuk terus menghubunginya setiap waktu, untuk menjaga diri dan kesehatan dengan baik. Dan yang tak kalah penting, menjaga pergaulan ya selama di sana. Ia terus memeluk adiknya sambil terisak.
Sementara Bara berdiri di depan mereka menggendong Baby Zack dan Zio di kedua tangannya. Si kembar duduk di sisi kiri Adel. Nala sejak tadi juga tak berhenti menangis. Ia tak rela melepas Onty kesayangannya. Sedangkan Nathan hanya diam dan menunduk saja sejak tadi. Wajahnya tampak sendu, namun ia tak mengatakan apapun.
"Udah, kakak jangan nangis terus. Aku jadi nggak rela ninggalin kakak kalau kayak gini,"ucap Adel tersenyum demi mengatakan hati Syafira dan juga hatinya sendiri.
"Aku pergi kan buat mewujudkan mimpi kita berdua kak, lagian aku pergi untuk kembali. Kan, disini sudah ada kakak ipar dan keponakan aku yang lucu-lucu. kakak tidak akan kesepian. Kakak tenang saja, aku akan jaga diri baik-baik. Nanti sesekali kakak bisa jenguk aku sekalian liburan kan? Suami kakak kaya raya ini, manfaatin uangnya, "seloroh Adel. Membuat Syafira mengulum senyumnya.
" Nah gitu dong, senyum. Jangan nangis lagi, kasihan tuh si kembar. Princess Onty juga nangis terus dari tadi. Nala nggak boleh sedih. Nanti kalau Onty pulang, Onty bawain oleh-oleh yang banyak buat Nala sama Nathan," Adel mencium puncak kepala gadis kecil itu.
" Benarkah? Tapi Nala jadi nggak punya teman bermain barbie di rumah, Nala sedih onty syantik, huaaaaa, "
" cup cup jangan sedih. Kan ada bunda, sini peluk, " Nala langsung memeluk Adel erat dengan tetap menangis sesenggukan.
"Boy, Onty titip bunda ya. Kalau daddy nakal, bilang sama Onty. Nanti Onty langsung terbang untuk marahin daddy," gurau Adel Kepada Nathan. Anak itu langsung mendongak, terlihat sekali matanya berkaca-kaca.
Nathan mengangguk tanpa bersuara.
Adel memilih untuk menunggu pesawat di boarding room. Jika kelamaan melihat kakaknya, ia takut mengurungkan niatnya untuk pergi.
"Kami pulang ya. Kamu masuklah. Hati-hati. Kalau sudah sampai segera hubungi kami.," ucap Bara dan Adel mengangguk.
Ia berjalan meninggalkan Syafira dan lainnya pelan tapi pasti langkahnya semakin jauh dari mereka. Sesekali ia menoleh, matanya mencari seseorang.
" Dia benar-benar tidak datang,"gumamnya dalam hati. Sedih sudah pasti. Kecewa, namun dia tak Menyalahkan Varel. Bukan laki-laki itu yang salah disini. Bukan pula dirinya. Keadaan yang memaksa ya memilih. Pergi atau tetap di sini dengan segala konsekuensinya.
Adel kembali melangkahkan kakinya dengan mantan, namun hatinya terluka.
__ADS_1
Varel yang baru saja sampai langsung berlari mencari keberadaan Adel. Ia menarik tangan seorang gadis yang ia kira Adel tapi ternyata bukan. Ia terus mencari.
Sekali lagi Adel menoleh, namun tetap tak terlihat batang hidung Varel. Ia mengembuskan napasnya berat.
"Tidak ada yang perlu di sesali. Semua sudah keputusanmu, Adel. Melangkahlah dengan tegar, pergi dengan tegar. Pulang dengan gelar yang membanggakan kakakmu," gumamnya dalam hati.
Tiba-tiba, tangannya di tarik oleh seseorang. Di dekapanya dengan erat tibuh mungilnya. Belum melihat wajah laki-laki yang memeluknya, ia sudah tahu jika itu Varel dari kehangatan dekapannya. Dari detak jantung ya dan juga dari deru napas laki-laki itu yang terengah-engah.
Adel mengurai pelukan Varel. Ia menatap lekat wajah pria itu lalu menyentuhnya, "Aku pergi. Om harus hidup dengan baik setelah ini. Maaf," hanya itu yang bisa Adel katakan. Ia tak bisa berkata-kata lagi.
"Tunggu!" Varel mencekal tangan Adel saat gadis itu hendak balik badan.
"Aku hanya ingin tahu, selama ini, bagaimana perasaanmu kepadaku? Adakah namaku di sini? (Menunjuk dada Adel). Pernahkah kamu mencintaiku?" tanya Varel penuh tuntutan.
Adel tak menjawabnya langsung, ia maju satu langkah, menarik kerah pria di depannya tersebut. Berjinjit lalu mencium bibirnya penuh perasaan," Kamu tahu jawabannya," ucapnya kemudian.
Syafira yang melihatnya langsung bereaksi, tangannya langsung menutup mata si kembar. Ia ingin sekali mendekat dan menasihati adiknya, namun segera di tahan oleh Bara dengan menggelengkan kepalanya, "Biarkan," ucapnya pelan sambil memastikan jika Zio dan Zack juga tak melihat adegan romantis Namun dramatis tersebut. Syafira manut.
Adel langsung balik badan dan mengambil langkah cepat meninggalkan Varel.
Ia terus berjalan dengan langkah panjang sambil terus menghalau air matanya yang berjatuhan di wajah cantiknya.
Varel menatap punggung gadis itu yang semakin menjauh dengan lemas dan pandangan kosong. Pergi, gadis itu benar-benar pergi.
"Pergilah?Dan aku tidak akan memaafkamu!" teriak Varel dengan sisa tenaganya.
"Memang aku yang salah," Adel dalam hati.
"Pergilah! Aku tidak akan menunggumu! Seperti yang kamu minta bahkan kamu doakan! Aku akan menikahi gadis lain!" teriak Varel frustrasi. Bahkan gadis itu sengaja memblokir nomornya atau mungkin sudah ganti nomor supaya tidak ada komunikasi di antara mereka. Adel tidak Varel gagal move on darinya.
"Itu lebih baik, dan au akan berusaha bahagia untukmu jika benar itu terjadi," batin Adel, ia semakin mempercepat langkahnya sambil terus mengusap wajahnya serabutan.
Percayalah, hatinya juga sama sakitnya dengan Varel.
"Kenapa kau tidak memintaku untuk menunggu. Aku bisa menunggumu, bahkan sepuluh atau lima belas tahun pun aku akan menunggu, jika kamu minta. Tapi kenapa kau malah mendoakan aku menemukan gadis lain. KENAPA," gumam Varel yang terus menatap lekat punggung Adel yang semakin jauh dari pandangannya.
"Jika aku boleh egois, aku ingin kau menunggumu. Aku ingin takdir mempersatukan kita kembali," rintih Adel dalam hati.
🖤🖤🖤
💠ðŸ’
Seperti yang sudah aku bilang di Ig ya, hari ini Last bonus Extra untuk novel 'Ibu untuk anak-anakku'....akhir yang sedih untuk Varel dan Adel di sini. Tapi insyaallah mereka akan di pertemuan kembali di cerita lain. Apakah ada akhirnya mereka akan berjodoh? Author masih memikirkan alurnya untuk mereka 😄
See you di cerita othor yang lainnya 😘😘
💠ðŸ’
__ADS_1