Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 69


__ADS_3

"Aku juga cinta kamu," ujar Bara berbisik tepat di telinga Syafira.


Syafira melongo mendengar ucapan suaminya. Jantungnya berdegup sangat kencang dan seperti mendadak berhenti. Seketika ia merasa sedang tidak menginjakkan kakinya di bumi.


Syafira tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Benarkah suaminya yang selama ini seperti tak menganggap keberadaanya tersebut baru saja menyatakan cinta kepadanya? Atau ia salah dengar? Syafira sedang berusaha mencernanya.


"Kok diam?" tanya Bara yang kini sudah menempelkan pipinya di pipi Syafira. Membuat Syafira tersentak dan tak sengaja menyenggol wajan panas di depannya.


"Aw!" pekik Syafira seraya langsung mengibaskan tangannya.


Bara langsung melepas pelukannya dan memegang tangan Syafira.


"Hati-hati, kenapa bisa kena sih. Sakit?" tanyanya khawatir. Ia langsung mematikan kompor dan dan menyalakan kran wastafel untuk menyiram jari Syafira yang terkena panas.


Kemudian, Bara menuntun Syafira untuk duduk.


"Di olesi krim anti panas ya? Ada tidak? Di mana? Biar aku ambil," ucap Bara.


"Nggak usah mas, nggak apa-apa. Udah nggak sakit, tadi hanya sedikit kaget aja saat nyenggol wajannya, lagian nggak ada juga krimnya di sini," sahut Syafira.


Bara meniup-niup tangan Syafira.


"Maaf ya, gara-gara aku, kamu jadi begini," sesal Bara.


Tiba-tiba, Syafira langsung menarik tangannya dari genggaman Bara ketika memorinya kembali mengulang percakapannya tadi dengan Bara. Sepertinya ada yang tidak benar!


"Kenapa?" tanya Bara heran.


"Tadi mas Bara bilang apa?"


"Yang mana?"


"Yang tadi itu, yang di bisikin di telinga aku," ucap Syafira.


"Oh itu. Emang kamu nggak dengar? Aku bilang aku juga cinta sama kamu," jawab Bara.


"Tuh kan nggak benar!" protes Syafira.


"Beneran, nggak benar apanya sih?"


"Ya nggak benar dong, aturannya mas Bara yang bilang cinta sama aku duluan.


kenapa rasanya seperti aku yang menyatakan cinta duluan ke mas Bara dan mas Bara membalas pernyataan cintaku itu? Kenapa jadi kesannya jadi aku duluan yang nembak mas Bara? Nggak mau! Mas Bara licik ih!" protes Syafira.


Bara tersenyum tipis sambil menghela napasnya dalam.


"Lah aku kira itu romantis malahan," ucap Bara santai, ia mengusap tengkuknya sendiri. Bisikkan mautnya ternyata tidak mempan.

__ADS_1


"Iya sih, tapi tetap nggak mau! Harus mas Bara duluan yang bilang, baru aku mau balas apa terserah aku!" Syafira sengaja mengetes suaminya.


Lagi-lagi Bara tersenyum, ia meraih kedua tangan istrinya tersebut.


"Kan, dari tadi senyum-senyum mulu. Nggak tahu aku lagi kesal apa? Mas Bara kok ngeselin banget sih,"


"Lihat aku, tatap aku!" pinta Bara serius. Syafira terdiam dan menurut, ia menatap manik mata milik suaminya, dan deg deg deg deg! Jantungnya kembali tidak normal. Syafira langsung melengos, namun Bara dengan cepat meraih dagu Syafira supaya kembali menatapnya.


"Syafira Maharani, Nyonya muda Osmaro. Dengan ini saya, Barata Ken Osmaro, menyatakan perasaannya, dengan sejujur-jujurnya dan sesadar-sadarnya kalau Saya mencintai kamu. Bagaimana? Apakah kamu juga mencintai saya?" ucap Bara serius, namun Syafira malah menahan tawa, penyataan cinta suaminya terdengar seperti sedang membacakan teks proklamasi saja.


"Jawab Fira," ucap Bara nggak sabar.


"Jawabannya nanti ya, sekarang mau selesaikan masak dulu. Mas Bara harus makan dulu biar ada tenaga, takutnya pingsan nanti kalau tahu jawabanku," Syafira melepas tangan suaminya dan kembali menyalakan kompor.


"Astaga, ini anak. Tadi minta buat nyatain cinta duluan, sekarang malah begini. Sengaja tarik ulur kayaknya," desah Bara dalam hati.


"Kamu nggak cinta sama saya Fir?" ada rasa khawatir juga dalam diri Bara, takut kalau Syafira tidak mencintainya.


"Belum tahu mas,"


"Kok belum tahu?"


"Iya, sekarang belum tahu, tapi siapa tahu nanti aku bisa langsung jatuh cinta sama mas Bara, tergantung bagaimana mas Baranya aja bagaimana buat aku jatuh cinta," jawab Syafira.


"Selama ini kamu nggak cinta sama aku?"


"Di logika aja mas, dengan sikap mas Bara selama ini begitu ke aku, apa mungkin aku dengan senang hati memberikan cinta untuk mas Bara? Enggak semudah itulah mas, ya kali aku mau menderita tekanan batin dengan cinta sepihak," ujar Syafira berbohong. Karena nyatanya dia sudah memiliki rasa itu, sesuai janjinya setelah menyandang status nyonya Osmaro, maka cintanya hanya untuk suaminya.


Syafira menyembunyikan senyumnya.


"Makanya beri aku sedikit waktu buat cinta sama kamu mas,"


"Ini makan dulu!" Syafira meletakkan nasi goreng buatannya di depan Bara.


"Sepiring aja kamu buat?"


"Iya, nasinya cuma ada segitu sisa kemarin. Aku kan nggak tahu kalau mas Bara mau ke sini," jawab Syafira.


"Makan berdua ya?"


"Mas Bara aja, aku masu kenyang. Nanti mas nggak kenyang kalau berbagi sama aku," ucap Syafira sambil mengisi gelas kosong dengan air putih lalu meletakkan di di samping nasi gorengnya.


"Saya memang lapar, tapi saya lebih ingin memakan kamu sebenarnya," ucap Bara yang tidak di mengerti oleh Syafira.


"Maksudnya?"


"Nggak apa-apa. Aku makan ya?"

__ADS_1


"Iya, kan emang buat mas Bara makan. Bukan buat di liatin doang," cebik Syafira.


Setelah menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya sendiri, Bara kembali menyendok dan menyuapkannya kepada Syafira.


Awalnya Syafira menggelengkan kepalanya menolak suapan suaminya tersebut, tapi pada akhirnya mau membuka mulutnya juga setelah di paksa oleh Bara.


"Nah gitu dong," ucap Bara tersenyum.


Ini seperti mimpi buat Syafira, perubahan sikap suaminya masih belum ia percaya. Apa itu cuma akting saja demi mengambil hatinya supaya mau pulang? Tapi tadi dia bilang cinta, ungkapan uang tak mungkin di ucapkan secara sembarangan oleh seorang Bara. Aaah rasanya Syafira ingin bilang cinta juga, tapi tahan! Ia masih ingin mengerjai suaminya.


🌼🌼🌼


"Mas aku mau ke toko sebentar ya?" ucap Syafira setelah selesai mencuci piring yang di gunakan untuk makan tadi.


"Pagi-pagi begini? Mandi juga belum Fir," ucap Bara yang kini sedang duduk di depan televisi.


"Nggak apa-apa cuma sebentar aja, mau ngecek stok bahan-bahan aja. Biar nanti Rani datang bisa langsung pergi belanja," ucap Syafira.


"Aku antar ya?" tawar Bara.


"Nggak usah, dekat ini kok. Nyalain televisinya, kalau mau lihat berita,"


"Gimana nyalainnya, dari tadi aku coba nggak nyala,"


"Televisi antik jadul mah harus di ketok dulu mas, coba deh mas ketok-ketok televisinya, pasti nyala,"


Bara melakukan yang di perintahkan Syafira.


"Tetap nggak nyala," ujarnya menoleh.


"Lebih keras lagi!" Seru Syafira.


Dan alhasil televisinya malah mengeluarkan asap dan sebagian tombolnya lepas dari tempatnya.


Bara menoleh ke arah Syafira sambil mengangkat bahunya.


"Terlalu keras sih, jadi rusak deh," Syafira terkekeh karena sebenarnya televisi tersebut memang sudah rusak.


"Tadi suruh lebih keras. Nanti saya belikan yang baru, yang nggak perlu di ketok dulu baru nyala," ucap Bara.


"Ya udah, kalau begitu mas Bara bantu potong rumput sama sapu halaman aja deh ya, itung-itung cari keringat sebelum mandi,"


"Aku? Nyapu?" Bara menunjuk mukanya sendiri, Kaya sejak lahir, belum pernah sekalipun ia memegang benda yang bernama sapu. Apa kata dunia jika seorang Bara beralih profesi sebagai tukang kebun?.


"Iya, nggak mau ya nggak apa-apa," Syafira pura-pura kecewa.


"Iya mau, dimana sapunya," Ingat sedang berjuang mendapat balasan cinta, Bara pun rela melakukannya.

__ADS_1


"Ada di belakang, cari aja nanti ketemu. Aku berangkat dulu sebentar," pamit Syafira.


🌼🌼🌼


__ADS_2