Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 94


__ADS_3

Lima menit kemudian, Bara kembali ke kamar Si kembar. Kepalanya nyembul di celah pintu, membuat Syafira menoleh, tangannya langsung bergerak mengusir Bara.


"Udah belum? tanya Bara lirih, yang di jawab gelengan kepala oleh Syafira. Jari telunjuknya ia tempelkan ke bibir kode supaya Bara tidak berisik.


Bara mendengus kesal karena ternyata Nala belum juga terlelap. Ia malah semakin mengeratkan tangannya mendekap sang bunda.


"Daddy kenapa balik lagi, beneran takut? Nathan temani," Nathan bangun dan bersiap untuk turun dari tempat tidur. Jiwa sok pemberaninya keluar.


Gawat, kalau Nathan tidur dengannya, bisa-bisa gagak lagi nanti.


"Tidak, daddy hanya mengecek saja. Cepat tidur lagi!" sergah Bara sebelum putra kecilnya benar-benar turun dari tempat tidurnya.


"Oh baiklah, selamat malam Daddy," ucap Nathan santai dan kembali berbaring dan memeluk guling.


"Malam," Bara melirik ke Syafira dan Nala sekejap lalu keluar lagi.


Sampai di kamarnya, Bara kembali memangku laptopnya. Namun sialnya, ia sudah tidak bisa konsentrasi lagi, "Arrggh sial. Sabar napa Ton, jangan bikin malu," umpatnya melihat ke bawah.


Akhirnya Bara memilih tetap di kamar sambil mondar-mandir sembari menenangkan si piton sambil sesekali mengumpat, "Gini amat, kan malu sama Syafira kalau terlalu kelihatan ngebet banget," keluhnya.


Beberapa menit menunggu dan menunggu hingga seperempat jam lamanya, Syafira tak kunjung masuk, "Tidak bisa!" Serunya. Kalau di tahan lebih lama lagi, ia akan semakin nyud-nyudan, semakin pusing rasanya.


Bara pun kembali menyusul Syafira ke kamar si kembar. Di bukanya lagi pintu itu, Ia menghela napas berat ketika melihat Syafira malah juga ikut terlelap di samping Nala. Di tungguin malah tidur, keluhnya dalam hati.


Mengendap, Bara masuk supaya tidak membangunkan kedua buah hatinya. Ia mmembenarkan posisi tidur Nathan yang sudah malang melintang. Kemudian, ia memutar badan dan mendekati ranjang Nala. Di pandanginya dua perempuan yang sangat berarti dalam hidupnya tersebut, yang kini sedang saling memeluk. Tangan mungil Nala masih memeluk erat Syafira posesif.


Pelan-pelan, Bara memindahkan tangan mungil itu dari tubuh Syafira. Namun, pelukannya malah semakin erat dan kuat kuat seolah tahu kalau daddynya akan menculik sang bunda. Bara berusaha sekuat tenaga supaya tangan itu bisa lepas memeluk bundanya namun dengan tidak membangunkannya. Hingga akhirnya tangan itu lepas dengan sendirinya karena posisi tidur Nala yang kini berbalik memunggungi Syafira.


"Anak pintar," gumam Bara tersenyum licik.


Syafira tak bergeming sedikitpun, rupanya ia tidur sangat pulas. Bahkan saat Bara pelan-pelan mengangkat tubuhnya pun ia tidak bangun. Mungkin malah semakin nyenyak.


"Maaf sayang, tapi malam ini daddy butuh bunda," ucapnya lirih menatap Nala. Memggunakan kakinya, Bara mengambil boneka Lilo yang sering menemani tidur Nala dan meletakkannya di belakangnya sebagai ganti Syafira.


Bara buru-buru membawa kabur Syafira ke kamarnya.


" Kenapa kamu semakin montok sih sayang," gumamnya yang merasa kalau bobor tubuh Syafira sedikit meningkat.


Bara membaringkan Syafira di ranjang, sesaat ia terdiam. Memandangi istrinya dari ujung kaki sampai kepala, lalu berpikir. Tidurnya udah kayak orang pingsan begitu, nggak sadar apa-apa. Gimana mau mulainya, masa iya harus nekat di perkosa, pikiran Bara kemana-mana.


Bara mendudukkan diri di samping Syafira, diusapnya wajah sang istri, "Cantik, kenapa sih kamu selalu memenuhi otak mas sekarang," gumamnya tersenyum, tangannya terus membelai wajah ayu tersebut. Sambil terus berpikir bagiaman cara membangunkan Syafira, tanpa membuatnya kaget. Ingin langsung nyosor, ingat tendangan Syafira waktu di rumah ayahnya. Bara meringis mengingatnya.


"Beneran udah nggak tahan mas?" tiba-tiba suara Syafira mengagetkan Bara, refleks ia langsung menindih tubuh sang istri, tangan Syafira di kunci di atas kepalanya menggunakan satu tangan kirinya.


"Nggak tidur kamu? Ngerjain mas lagi? Tega," ucap Bara, pura-pura kecewa.


"Maaf," sahut Syafira tersenyum jahil. Namun, sorot matanya tak bisa bohong jika ia juga merindukan suaminya. Bara bisa melihat itu dengan jelas.


"As you wish," ucap Bara langsung menyambar bibir Syafira, di pagutnya dengan penuh nafsu. Sudah tidak bisa secara lembut lagi, ia ingin segera melampiaskan apa yang sudah ia tahan seminggu terkahir.


"Kan baru seminggu mas, kalau aku datang bulan gimana, kan juga seminggu," ucap. Syafira di sela-sela pagutan mereka, di tangkupnya wajah Bara, tangannya sudah di bebaskan oleh Bara supaya bisa ikut menjelajah.


Bara mengernyit, sempat-sempatnya Syafira mikir ke sana.

__ADS_1


"Beda cerita," sahut Bara tangannya sudah tak bisa ia biarkan diam begitu saja. Sudah ia ajak bekerja sama memancing ******* Syafira. Coba kalau seminggu libur terpaksa di tambah libur palang merahnya Syafira, jadi dua minggu, dua minggu! Bara tidak bisa lagi mentolelirnya kalau begitu.


Syafira menahan tangan Bara ketika tangannya mulai membuka dua kancing piyama yang Syafira kenakan dengan bibir mereka tetap saling memagut.


Bara mengangkat kedua alisnya yang di artikan Syafira sebagai pertanyaan kenapa.


"Aman tidak, pintunya udah di kunci?" tanya Syafira melihat ke arah pintu. Tangannya mencengkeram piyamanya yang baru saja di lepas oleh Bara, menyisakan dua kancing yang masih menutup bagian perutnya.


"Aman," ucap Bara, persetan dengan pintu, mau di kunci atau tidak toh semua juga sudah tidur, pikir Bara. Ia segera menepis tangan Syafira dan kembali memagut bibir ranum sang istri.


Syafira sedikit tersentak ketika tangan suaminya semakin nakal menggerayangi tubuhnya, terutama saat tangan itu menyentuh pangkal pahanya. Namun, lama-lama Syafira menikmatinya juga terbukti dari suara ******* yang keluar dari mukutnya secara malu-malu.


"Bunda!" suara cempreng Nala menghentikan tangan Bara yang sedang bekerja, sontak keduanya langsung mematung seketika.


"Siapa sih ganggu aja!" kesal Bara yang mendadak lupa dengan suara putrinya karena otaknya masih traveling.


"Anakmu itu," sahut Syafira yang sudah tegang melihat gadis cilik berlesung pipit itu berdiri di depan pintu.


Mata Bara langsung membulat terkejut. Ia menoleh ke arah suara. Keduanya langsung bernapas lega karena gadis cilik itu tidak seratus persen sadar, terlihat satu tangannya sibuk mengucek kedua matanya yang setengah terpejam hingga tak fokus melihat pemandangan tak pantas di depannya sedangakan tangan yang satunya memeluk boneka lilo kesayangannya. Syafira buru-buru menepis tangan suaminya. Bara yang tersadar setelah melihat tangannya yang di tepis Syafira langsung menarik tangannya.


"Sial!" umpatnya tertahan.


"Kan aku udah bilang tadi soal pintu, mas bilang aman," ujar Syafira lirih.


"Sayang kenapa bangun?" tanya Syafira mendekati Nala setelah bisa menguasai diri dan cepat-cepat mengancingkan piyamanyanya kembali.


"Bunda kenapa ninggalin Nala, Nala mimpi bunda di culik dan dikutuk jadi Lilo, huwaaa," tangis gadis cilik itupun pecah.


"Huwaaa bunda nggak mau lagi bobok sama Nala, bunda sayang lagi sama Nala hiks hiks,"


"Mas ah...!" Syafira menoleh menatap tajam suaminya yang kini sedang menahan kesal, tapi juga tidak bisa marah.


"Tidak sayang, yadi bunda cuma ngecek daddy udah tidur apa belum, daddy kan suka lupa matiin laptopnya duku kalau tidur," entahlah, alasan itu mempan atau tidak, yang penting usaha, pikir Syafira.


"Iya kan daddy?" Syafira kembali menoleh, bibirnya tersenyum namun matanya sedikit melotot.


"Iya," jawab Bara singkat.


"Ya udah, ayo ke kamar, Nala bobok lagi," Syafira mengajak Nala kembali ke kamar si kembar. Namun gadis cilik itu tak merespon, ia seerti sedang berpikir, "Nala mau bobok di sini," tukasnya kemudian.


"Allahu akbar!" Bara mengusap wajahnya kasae, rasanya ia benar-benar ingin menangis.


"Baiklah, ayo kita tidur," Syafira menuntun Nala ke ranjang. Sesampainya di ranjang, Naka langsung memposisikan diri di tengah-tengah kedua orang tuanya. Bara dan Syafira saling melempar pandang, bagaimana ini? Seerti itulah kira-kira arti tatapan Bara kepada Syafira. Namun yang di tanya hanya bisa menggedikkan kedua bahunya. Yang mana membuat Bara mendesah.


Syafira menepuk-nepuk punggung Nala supaya ceay tisur, sementara Bara membaringkan tubuhnya miring di belakang Nala yang menghadap Syafira. Tangan kirinya ia gunakan untuk menyangga kepalanya.


"Gini amat sih sayang, kenapa Nala jadi kayak di lem begini sih sama kamu, mas sampai nggak kebagian waktu begini," ucap Bara masih dalam posisinya. Tangannya mengusap-usap lengan Nala.


"Nggak apa-apa mas, wajar kok seumuran Nala begini, maunya dekat sama bundanya terus. Ada masa dimana ia tidak mengijinkan bundanya dekat-dekat sama daddynya, itu lumrah pada anak seusia dia," sahut Syafira.


"Kok kamu tahu sih? Kan belum pernah ngalamin punya anak?"


"Ada dulu tetanggaku, seuisa Nala, jangankan ayahnya bilang mau tidur sama ibunya, orang duduk deketan sama ibunya aja anaknya nggak boleh, katanya ibu punyaku, begitu katanya mas," jelas Syafira.

__ADS_1


"Anak siapa sih ini, kok pinter banget, gemesin begini," Bara mencium pipi Nala berkali-kali melampiaskan rasa kesalnya, tidak demgam aamrah tapi dengan ciuman bertubi-tubi. Sesekali ia memencet hidung Nala yang mana membuat gadis cilik yang sudah terlelap itu menggeliat.


"Lah nanya anak siapa lagi, mas ingay nggak pernah buat dia,"


Bara hanya tersenyum tipis menanggapinya.


"Jangan digituin mas, nanti dia bangun lagi," Syafira menepis tangan Bara yang menjahili anaknya.


"Salah sendiri bikin daddy harus puasa lagi," ujar Bara.


"Mas ih..."


"Iya iya,"


🌼 🌼 🌼


Lima belas menit sudah berlalu, Namun syafira jangan buat ide gila deh, Bara belum juga tidur.


"Mas nggak mau tidur?"


"Gimana mau tidur, kalau si piton aja masih bangun," jawab Bara lesu.


"Ya gimana dong mas, masa iya mau gituan tapi anaknya di biarin nangis,"


Bara langsung tampak berpikir serius.


"Mas mikirin apa sih?" Syafira penasaran.


"Mas lagi mikir, gimana kalau Nala mas pindahin ke lantai aja, atau ke sofa biar kita bisa lanjut yang tadi?"


"Ih ngaco, masa anaknya mau di tiudrin di lantai, di sofa juga nanti gelinding gimana, Nala kan tidurnya juga usil. Nggak, nggak,"


" Atau kalau nggak, gimana kalau kita yang mainnya di lantai atau di sofa?"


"Nggak ah, lantai keras. Sofa...ah aneh rasanya belum pernah, gimana nanti kalau pas begitu Nala kebangun, kan gawat. Jangan buat ide gila deh mas, ada anaknya ini,"


"Arrgghh, mas yang gila beneran kalau begini," ujar Bara frustrasi, ia beranjak dari tempat tidur sambil mengacak rambutnya.


"Maaasss..."


"Iya, iya mas nggak marah," menghentikan langkahnya dan menoleh.


"Tapi manggil masnya jangan begitu dong, mas jadi makin puyeng ini," sambungnya.


"Cuma mau tanya, mas mau kemana?"


"Semedi, kamu tidur aja duluan," ucap Bara yang sudah ngeloyor menuju ke kamar mandi.


"Gagal maning, gagal maning ton, ton," gumam Bara frustrasi seraya menghilang di balik pintu kamar mandi.


Syafira yang polos, berpikir kalau suaminya mungkin mau buang air kecil, " Ya udh aku tidur duluan aja kalau begitu!" serunya. Tapi yang di teriaki tak menyahut.


🌼 🌼 🌼

__ADS_1


__ADS_2