Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 42 (Pura-pura bahagia tuh butuh tenaga)


__ADS_3

"Mas Bara tumben kepo sama hidup aku. Biasanya juga masa bodoh, kenapa? Cemburu ya, tahu aku dekat sama laki-laki lain...Cieeeee mulai suka ya? Hayo ngaku," goda Syafira menoel-noel lengan Bara sambil senyum-senyum.


Bara hanya mendengus mendengarnya, tidak menyangkal namun tidak juga mengiyakan.


"Saya hanya mau kamu tahu batasan bergaul dengan pria lain, itu saja. Kamu itu sudah bersuami jadi harua jaga sikap, jangan asal ketemuan sama pria lain, jaga nama baik keluarga," ucap Bara tanpa menoleh, tetap fokus menatap jalan raya.


Syafira mengembuskan napasnya kasar.


"Kalau kayak gini aja bawa-bawa dalil sebagai seorang istri, suami, seakan kamu itu sudah bersikap layaknya suami, lupa kalau dia yang bilang aku hanya jadi ibu untuk anak-anaknya bukan istrinya. Seenak wudelnya sendiri," batinnya kesal.


"Kok diam?"


"Iya iya mas, nggak perlu di kuliahi aku sudah khatam sama yang begituan, mas Bara udah sering ceramah begitu, lagian aku juga tadi nggak sengaja ketemu dan enggak berduaan juga, ada si kembar juga," protea Syafira.


"Kamu itu kalau dibilangin suami tinggal bilang iya saja kenapa? Tidak perlu merembet menjadi lima meter sendiri ucapannya," sahut Bara.


"Jadi mas sudah mengakui nih kalau mas itu suami aku?"


"Kalau saya sudah mengakui kamu sebagai istri, apa kamu sudah siap melakukan tugas seorang istri sesungguhnya?" tantang Bara.


"Tugas yang mana nih om?"


"Om?"


"Eh, ya maaf, namanya juga manusia tempatnya lupa, harusnya di jidat om eh mas Bara di tulis gini ,Suami sah Syafira bukan omnya' hahahha," kelakar Syafira.


"Kamu ini Fir," Bara hanya menggelengkan kepalanya. Memang susah jika harus beradu mulut dengan istrinya tersebut yang menurutnya masih ABG, masih suka ngeyel dan banyak cara untuk melawan ucapan orang yang matang.


"Eh tadi tugas apa maksudnya belum di jawab,"


"Bukan apa-apa...Tidak penting," jawab Bara.


"Ya sudah, nggak penting juga buat aku," sahut Syafira cuek.


🌼🌼🌼


Mobil mereka sudah memasuki gerbang kediaman Osmaro. Bara menyuruh orang memarkirkan mobilnya. Ia turun menggendong Nala yang tak juga bangun meski sudah sampai rumah, kalau di bangunkan pasti akan menangis, berbeda dengan Nathan, pelan-pelan di bangunkan oleh Syafira. Anak itu lebih bisa di ajak kerja sama, lebih berpikir dewasa dan mandiri.


"Nathan, bangun yuk sayang, sudah sampai rumah," ucap Syafira pelan. Perlahan Nathan mengerjapkan matanya. Tanpa babibu, Nathan langsung turun dari mobil begitu sadar sudah sampai rumah.


"Bunda, Nathan mau mandi, gerah," ucapnya begitu masuk ke dalam rumah.


"Nathan kan baru bangun, sebentar lagi ya, biar nyawanya pada ngumpul dulu. Bunda siapin airnya dulu oke?"


Nathan mengangguk, dia memilih duduk di sofa ruang tamu.


Syafira menyusul Bara yang sudah jalan ke kamar si kembar duluan untuk menidurkan Nala.

__ADS_1


🌼🌼🌼


Malam hari, Syafira tampak keluar dari kamar si kembar dan menuju meja makan dimana Bara sudah duduk menunggu.


"Anak-anak sudah tidur?" tanya Bara.


"Sudah mas, mereka bilang capek, jadi tidur awal setelah mengaji dan belajar habis maghrib tadi, mereka bilang masih kenyang jadi idak mau makan lagi. Aku hanya membuatkan mereka dua gelas susu sebagai pengantar mereka tidur," jelas Syafira.


"Kau ngajakin mereka kemana saja, sampai mereka kecapean begitu,"


Syafira pun menjelaskan secara detail kegiatannya bersama anak-anak hari ini sambil mengambilkan nasi, sayur dan lauk pauk ke piring untuk makan malam suaminya.


Bara yang sebenarnya sudah tahu, pura-pura mendengarkan hanya karena ingin mendengar istrinya tersebut bicara.


"Kenapa kamu membelikan si kembar baju dengan uang kamu sendiri?"


"Nggak apa-apa pengin aja," sahut Syafira sambil duduk di sisi kiri Bara.


"Terus kenapa kamu nggak beli baju atau keperluan kamu sendiri?"


"Tidak apa-apa, aku belum butuh apa-apa untuk di beli," jawab Syafira sambil mengambil nasi untuk dirinya sendiri.


"Gunakan kartu itu membeli apapun keperluan kamu Fir, sama seperti Olivia dulu, meskipun dia bisa menghasilkan uang sendiri, tapi aku tetap menafkahinya lahir batin," ucap Bara.


Syafira tersenyum kecut dalam hati mendengarnya, secara lahir memang Bara menafkahi Syafira lebih dari cukup bahkan berlebih meskipun tanpa black card gold yang ia berikan. Tapi untuk nafkah batin? sama sekaki belum ia berikan.


"Aku tidak akan menggunakan kartu kamu itu untuk keperluanku sendiri selama kamu masih tak mengganggap aku istri," batinnya.


"Kenapa memangnya mas?"


"Aku kira kamu sudah kenyang juga seperti si kembar karena tadi kamu juga sudah makan," jawab Bara.


"Yaelah, tahu nggak mas, makanan di restoran tadi tuh makanannya cuma seuprit, nggak bikin kenyang untuk ukuran orang dewasa kayak aku. Padahal harganya beuh! Mahal minta ampun. Iya sih dokter Rendra yang bayarin, tapi tetap saja mending makan mie ayam yang murah meriah bikin kenyang," jiwa misquin bin emak-emaknya muncul seketika.


"Lain kali aku yang bayarin, tak perlu minta Rendra traktir, suami kamu lebih dari mampu buat belikan makanan di restoran seperti itu, bahkan yang lebih berkelas lagi," ucap Bara, entah kenapa dia tidak suka jika Syafira membicarakan laki-laki lain.


"Bukan itu masalahnya mas, percaya jika mas lebih dari mampu, biangnya mampu malah. Tapi sayang uangnya,"


Bara hanya geleng-geleng kepala.


"Kamu masih kuat makan segitu banyak Fir?"Bara menatap heran istrinya. Kuat juga makannya pikir Bara.


"Nggak takut gemuk?" tanyanya lagi.


"Kenapa takut, udah laku ini, udah ada suami sama anak ini, apa lagi yang di cari," ucap Syafira asal.


"Lagian aku makan banyak karena pura-pura bahagia itu butuh tenaga ekstra mas," imbuhnya.

__ADS_1


Lagi-lagi Bara hanya mampu menggelengkan kepalanya sambil menatap wanita tangguh di depannya tersebut.


🌼🌼🌼


Bara tampak berdiri di balkon kamarnya, ia kembali mengingat percakapannya dengan Syafira di mobil tadi sore. Jika benar Wanita yang Dokter Rendra cintai adalah Syafira, itu artinya dua kali ia membuat sahabatnya tersebut patah hati. Namun, ia juga tak mai sepenuhnya di salahkan karena sejak awal kenapa dokter Rendra tak jujur sama dia, jika sejak awal ia jujur mungkin Bara akan mempertimbangkan kebahagiaan sahabatnya tersebut.


"Sekarang semuanya sudah terlanjur Rend, maaf jika lagi-lagi aku harus egois. Syafira sudah menjadi ibu si kembar, aku tak mungkin melepasnya dan mengorbankan kebahagiaan anak-anak, dan sepertinya gadis bar-bar itu sudah mulai satu sisi ruang di hatiku, meski aku belum yakin," gumamnya dalam hati. Ia terus memijat pelipisnya, kepalanya terasa pening.


"Mas ini aku buatin kopi," ucap Syafir yang baru saja tiba sambil membawa secangkir kopi untuk menemani suaminya menikmati sejuknya angin malam dan membuyarkan lamunan suaminya.


"Terima kasih," ucap Bara menoleh ke arah Syafira yang sedang meletakkan kopi ke meja.


"Aku ke kamar si kembar dulu, aku udah ngantuk. Mas jangan malam-malam tidurnya, angin malam nggak baik buat orang tua," ucap Syafira.


"Saya baru tiga puluh dua tahun Fir, belum setua itu," protes Bara, membuat Syafira terkekeh.


"Ya sudah, aku mau tidur dulu," Baru satu langkah Syafira melangkah, dengan cepat Bara menoleh, meraih dan menarik tangan istrinya tersebut dan mendekapnya dari belakang.


"Mas lepaskan!" ucap Syafira.


"Sebentar saja biarkan seperti ini," ujar Bara.


"Tapi aku merasa aneh kalau mas seperti ini, aku tidak biasa begini,"ucap Syafira.


"Kamu harus membiasakan diri untuk hal seperti ini, karena mungkin saya akan sering melakukannya biar terbiasa ada kontak fisik," ucap Bara.


"Maksud mas apa sih?"


"Tidak apa-apa, diamlah. Kenapa kamu bawel sekali, selalu menjawab kalau ada orang ngomong,"


"Kalau nggak di jawab ntar dikira sombong,"


"Kan jawab lagi, bisa diam nggak Fir, nikmati saja momen yang ada,"


Syafira hanya diam tak menyahut lagi, mungkin ini awal yang baik untuk hubungan mereka, pikirnya.


"Malam ini tidurlah di sini,"


"Tapi mas jangan macam-macam,"


"Selama kamu belum siap, aku akan puasa, lebih lama lagi bersemedi, biar nanti langsung sakti mandraguna kalau di gunakan,"


"Mas ngomong apa sih, aku nggak paham,"


"Tak perlu paham dengan teori, praktik secara langsung akan lebih afdol," ucap Bara.


"Nih om-om ngomong apa sih, nggak jelas amat," batin Syafira.

__ADS_1


Tak ada lagi suara, Bara tetap memeluk Syafira sambil keduanya menatap langit berbintang malam ini. Meski merasa aneh, Syafira berusaha menikmatinya, untuk protespun ia sedang dalam mode malas.



__ADS_2