
Sesungguhnya Syafira tak pernah benar-benar membenci ibunya. Namun lebih kepada rindu dan kecewa yang begitu dalam. Ia masih tak menyangka ibunya akan berakhir seperti ini.
Setelah melihat berita di televisi, Syafira dan Bara langsung memastikan berita tersebut ke rumah sakit tempat jenazah ibunya berada.
Entah apa yang sebenarnya terjadi terhadap wanita yang sudah melahirkannya tersebut, kenapa bisa tinggal di sebuah kontrakan yang sangat kecil, hingga ia lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya. Polisi memastikan kalau ibunya memang mengakhiri hidupnya sendiri. Sebuah keputusan konyol yang di rutuki Syafira.
Dan akhirnya, inilah yang bisa Syafira lakukan sebagai baktinya terhadap wanita itu, mengurus dan memakamkan ibunya dengan layak. Meski tak ada kesan yang baik sedikitpun antara mereka, namun Syafira tetap merasa kehilangan sosok ibunya. Kini benar-benar tak ada lagi sosok ibunya tersebut di dunia ini. Bahkan sampai akhir, ia dan ibunya belum berdamai. Ada rasa menyesal dalam dirinya, jika saja ia tahu kalau ibunya akan pergi aecepat ini, Syafira ingin sekali mengatakn jika ia sangat merindukan wanita itu, tak pernah sedetikpun ia tak merindukan wanita yang sudah tega meninggalkan keluarganya demi laki-laki lain tersebut. Setidaknya hanya itu yang bisa ia lakukan.
Tak ada air mata yang keluar dari mata Syafira sejak ia tiba di rumah sakit untuk mengurus jenazah ibunya hingga sekarang saat ibunya sudah di makamkan. Namun sejak tadi ia hanya diam menatap makam sang ibu.
Tak banyak yang mengikuti proses pemakaman tersebut, hanya beberapa orang terdekat Syafira saja, bu Lidya, varell, om John, dua sahabatnya dan dokter Rendra. Suami dan anak-anak sambung ibunya pun tak ada yang peduli. Syafira menduga jika hubungan ibunya dan suaminya tak baik-baik saja, mungkin karena waktu itu Bara menolak untuk membantu perusahaan suaminya. Tapi, bukankah waktu itu Bara memberikan uanh yang cukup banyak. Entahlah, Syafira tak ingin tahu apapun soal keluarga baru ibunya tersebut. Ia hanya melakukan tugasnya sebagai anak.
"Sayang, ayo kita pulang, anak-anak sudah menunggu di mobil," ucap Bara memegang kedua pundak Syafira yang sejak tadi hanya menatap kosong makam ibunya tersebut. Semua yang hadir sudah terlebih dahulu meninggalkan tempat tersebut.
"Iya mas," sahut Syafira.
Sepanjang perjalanan pulang pun Syafira lebih banyak diam. Ia hanya sesekali menimpali celotehan kedua anaknya.
"Bunda, yang meninggal tadi siapa?" tanya Nala. Sejak ikut ke pemakaman tadi, gadis cilik itu memendam rasa penasaran.
"Itu, ibunya bunda sayang," jawab Syafira.
"Benarkah? Nala tak pernah melihatnya seperti apa wajahnya? Apa cantik seperti bunda?" tanya gadia cilik itu, ia berdiri kepalanya melongo diantara jok depan.
Syafira tersenyum, "Iya, cantik," jawabnya.
"Kenapa kita tidak pernah melihatnya bunda, apa selama ini nenek pergi jauh?" tanya Nathan yang tak kalah penasarannya, khas anak-anak yang selalu ingin tahu dan tahu.
"Emmm, iya jauh, jauh sekali," jawab Syafira lirih. Selama ini ia tak pernah tahu dimana keberadaan ibunya yang ternyata tak benar-benar jauh keberadaannya tersebut. Setidaknya masih satu wilayah hingga saat ibunya menemuinya baru ia tahu hal itu. Mungkin karena perbedaan gaya hidup yang begitu jauh hingga mereka tak pernah bertemu dalam satu tempat yang sama. Dekat di mata jauh di hati, begitulah pikirnya.
__ADS_1
"Sayang jangan ajak bunda bicara terus, kasihan bunda lagi tidak enak badan," ucap Bara yang sedang mengemudi.
"Maaf bunda," ucap keduanya.
Nathan dan Nala pun langsung diam. Di tinggalkan orang meninggal itu pasti sedih rasanya, pasti bunda merka sedih sampai tidak enak badan, pikir mereka.
"Nggakpapa mas," sergah Syafira. Ia menoleh, kedua anaknya tampak menunduk dan diam, "Bunda nggak kenapa-napa, kalian jangan sedih gitu dong," ucapnya tersenyum.
Nala mengangkat wajahnya, "Beneran bunda nggak apa-apa? Jangan sedih, masih ada Nala, Nathan dan daddy," ucapnya.
"Iya sayang, bunda nggak sedih. Kan masih ada anak-anak bunda yang sayang sama bund ini," timpal Syafira. Nathan dan Nala pun tersenyum, Syafira ikut tersenyum.
"Ehem!" Bara melirik Syafira.
"Iya, bapaknya juga," ucap Syafira. Bara tersenyum dan membelai rambut Syafira lembut.
🌼 🌼 🌼
Syafira tampak sedang duduk bersender dan memangku bantal di kamarnya. Sejak sampai di rumah tadi, ia menyendiri di kamar. Di tangannya, ia memegang photo keluarganya, satu-satunya kenangan yang ia punya bersama ibunya tersebut.
"Kenapa, kenapa ibu lebih memilih jalan seperti ini. Apa aku benar-benar nggak ada artinya sampai ibu lebih memilih mati. Bahkan pertemuan kita terakhir punt kita tidak baik-baik saja,"gumamnya mengusap photi tersebut.
" Ayah, sekarang ibu udah nyusul ayah, ayah bilang kalau sampai kapanpun ayah cinta sama ibu yang sudah melahirkan Fira sama Adel," Syafira selalu ingat pesan ayahnya bahwa dirinya tidak boleh benci dengan ibunya atas apapun yang telah ibunya lakukan. Justru ayahnya merasa dirinyalah yang paling bersalah karena tidak bisa membahagiakan ibunya sampai ibunya pergi meninggalkan mereka dan mencari kebahagiaannya sendiri.
"Jangan benci ibumu, dia tidak bersalah. Semua salah ayah yang tidak bisa membahagiakannya. Sampai kapanpun dia tetap ibu kalian, terlepas dari apapun yang pernah ia lakukan," ucap ayahnya kala itu.
"Fira nggak benci ibu yah, enggak. Fira cuma kecewa, Fira kangen..." Syafira tak bisa lagi membendung air matanya. Sekaranh ahnya Adek yang ia miliki, ia jadi semakin takut, bahaimana jika akhirnya adiknya itu juga menyerah dan meninggalkannya.
Ceklek! terdengar suara pintu di buka, Syafira buru-buru mengusap wajahnya serabutan.
__ADS_1
"Eh mas... Mau makan malam? Aku siapalin sebentar," ucapnya langsung menyembunyikan photo itu di bawah bantal.
"Enggak sayang, justru mas kesini bawain kamu makanan. Dari siang kamu belum makan," Bara mendekati Syafira dengan sebuh nampan berisi makanan.
"Makasih ya mas, aku baru aja mau turun buatin makan malm, eh malah mas yang buatin buat aku," kata Syafira tersenyum, mencoba menyembunyikan kesedihannya.
Bara duduk menyerang, si letakkannya nampan itu di atas tempat tidur, tepatnya di depan Syafira, "Mau mas suapi? Mumpung lagi baik nih," guraunya.
"Boleh, kapan lagi mas Bara nyuapin aku kan," timpal Syafira, ia membenarkan posisi duduknya.
"Ck, kalau mau tiap hari juga mas suapin sayang," Bara mulai menyendok makanan di depannya.
"Anak-anak udah tidur mas?" tanya syadira6sambil mengunyah makanan yang baru saja masuk ke mulutnya.
"Udah," jawab Bara.
"Pasti mereka kecapean, ibu nginep kan?"
"Hem, udah tewas juga neglonin si kembar aku lihat," jawab Bara yang langsung di tabok oleh Syafira.
"Ngawur, ibu sendiri di bilang tewas," ucap Syafira tergelak.
"Nah gitu dong, ketawa. Mas kangen wajah kamu yang ceria ini, sejak tadi mendung terus," Bara mengusap sisa air mata yang masih menempel di pipi Syafira. Ia tahu istrinya tersebut baru saja menangis.
"Jangan pernah merasa sendiri, masih ada mas dan anak-anak yang sayang sama kamu,. Seperti kata Nala tadi. Adel juga pasti akan sembuh," imbuhnya. Hatinya berdesir saat mengatakan soal Adel, rasa bersalahnya kembali mengusik perasaannya. Ia sudah melakukan pengobatan yang terbaik untuk adik iparnya tersebut, tapi sampai sekarang belum juga sadar.
Syafira tersenyum, sentuhan tangan suaminya begitu menghangatkan hatinya, "makasih ya mas," ucapnya.
🌼🌼🌼
__ADS_1