
"Mas Bara mau apa?" tanya Syafira ketika Bara memakai apron berwarna putih.
"Mau bantuin kamu buat kue, biar cepat kelar dan kita bisa cepat pulang. Kasihan anak-anak di rumah sendiri," jawab Bara cuek, ia meneruskan memakai apron tersebut sehingga menempel sempurna di tubuhnya.
Syafira memicingkan ekor matanya.
"Makanya tadi aku suruh mas Bara langsung pulang kan. Mas Baranya yang nggak mau, ih aneh!" Syafira mengambil apron yang menggantung di gantungan baju yang ada di dapur toko tersebut dan memakainya.
"Aku bantuin!" Bara menarik undak Syafira supaya mendekat.
"Mas pulang ajalah kalau gitu, ya? Di sini bukan bantuin, takutnya bikin adonan gagal mengembang malah menciut kayak nyali karena takut dengan mas Bara," ucap Syafira yang kini membelakangi Bara.
"Kamu kenapa sih Fir? Saya mau bantuin kamu, bukan mau menghancurkan kamu, kenapa seakan saya ini ingin mengobrak-abrik toko kamu ini," ujar Bara.
"Udah, selesai, bisa mulai masak," imbuhnya ketika selesai mengaitkan tali apronnya.
"Bukan gitu mas, tapi kan mas Bara itu seorang CEO, apa kata dunia kalau mas Bara berkutat dengan tepung di dapur kecil seperti ini, nanti para fansnya mas Bara jadi nggak ngelirik mas Bara lagi, nanti mas Bara kehilangan ara penggemar yang cantik-cantik itu," Syafira mencari alasan.
"Kenapa pusing mikirin kata dunia? Kata-kata kamu saja sudah suka buat saya pusing Fir,"
"Mas Bara pusing kan jika dekat-dekat aku kan? Sama, aku juga sesak napas kalau mas Bara seperti ini, deket-deket, lama-lama nempel kayak perangko, aku jadi pengap mau napas, mending mas pulang aja,"
Rani yang berdiri di pojokan dapur sambil melakukan tugasnya hanya mampu menahan tawanya sambil sesekali melirik ke arah sepasang suami istri yang kini mirip kayak tom jerry tersebut.
Ya, mereka masih berkutat di dapur karena hari masih pagi dan toko belum buka.
"Kalau kamu sesak napas, sini aku kasih CPR (Cardiopulmonary resustication). Sini!" Bara menarik pinggang Syafira hingga tubuh mereka berhimpitan.
"Mas Bara apa sih, lepasin! Ada Rani tuh! Malu!"
"Makanya diam jangan bawel kayak ABG!" Atau memang mau saya cium beneran?" giliran Bara menantang Syafira.
Di tantang seperti itu, bukan Syafira namanya jika gentar. Ia justru mendongak dan menatap tajam suaminya.
"Siapa takut, ayok sok di cium kalau nggak malu!" Syafira membusungkan badannya sehingga lebih menempel pada tubuh Bara.
Wajah Bara seketika memerah ketika benda kenyal itu menekan badannya. Ia menelan ludahnya samar supaya tidak terlalu terlihat jika dia lagi-lagi kejebak omongannya sendiri. Ia melirik ke arah Rani yang cekikikan mendengar obrolan mereka namun tak berani berkomentar.
"Sa saya masih punya malu," Bara melepaskan tangannya dari pinggang Syafira. Merasa malu karena di perhatikan oleh Rani.
"Syukurlah kalau masih punya malu," cebik Syafira.
"Ran, siapkan bahan-bahannya!" Syafira memberi perintah kepada Rani.
"Makanya kamu kalem sedikit, jangan terlalu bar-bar. Atau saya cium beneran, nggak peduli ada seribu Rani pun di sini kalau aku mau, saya berhak ngapa-ngapain kamu. Tidak salah dan tidak dosa," ucap Bara.
"Oh," jawab Syafira singkat , ia langsung meninggalkan Bara dan bergabung dengan Rani.
Bara benar-benar kehabisan kata-kata untuk sekedar membalas ucapan Syafira. Ia lebih memilih diam dan memperhatikan istrinya membuat kue sambil menunggu instruksi apa yang bisa ia bantu untuk istrinya.
Semakin Syafira bersikap waspada antipati terhadapnya, semakin membuat Bara penasaran dan gemas. Ia seperti seorang remaja yang sedang jatuh cinta. Ia menjatuhkan berat tubuhnya ke kursi yang ada di dapur tersebut.
__ADS_1
🌼🌼🌼
Siang hari di kediaman Osmaro...
Si kembar sedang tiduran tengkurap di atas tempat tidur Nathan sambil menunggu panggilan video call dari bu Lidya.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya yang mereka tunggu menelepon juga.
"Athan ayo cepat angkat, Nala sidah kangen sama oma," ucap Nala antusias ketika melihat tab mereka berdering.
"Halo, assalamualaikum cucu-cucu kesayangan oma, yuhu!" ucap bu Lidya heboh ketika melihat wajah kedua cucu kesayangannya di layar ponsel pintar miliknya.
"Wa'alaikumsalam oma," jawab Nathan dan Nala bersamaan.
"Apa kalian merindukan oma yang cantik ini?" tanya bu Lidya.
"Tidak!" jawab Nathan dingin. Membuat bu Lidya berdecak.
"Nala rindu oma, kapan oma kembali?" tanya Nala.
"Hem Nala emang the best! oma juga rindu Nala sayang. Peluk onlen sini," bu Lidya memperagakan seolah sedang memeluk Nala.
Nathan mengernyitkan keningnya melihat tingkah alay sang oma dari layar tabnya.
"Oma kelamaan traveling jadi oleng," ucap Nathan.
"Sayang, kesayangan oma, ganteng, cantik, sekarang kan sudah ada bunda, jadi ya berilah waktu oma untuk bernapas, menikmati masa tua oma ini," ucap Bu Lidya.
"Emang biasanya oma tidak bernapas?" tanya Nala polos.
"Death dong," celetuk Nathan.
"Astaga ini bocah, kenapa mirip sekali sama bapaknya, mulut kayak cabe syaiton, pedas! " gumam bu Lidya.
"Bukan begitu sayang, oma tentu saja bernapas setiap hari setiap detik bahkan, tapi maksudnya oma butuh refreshing begitu, butuh jalan-jalan. Em nggak lama lagi oma pulang kok. Sebulan lagi paling lama," jelasnya.
"Oma hati-hati, kebanyakan traveling nanti encoknya kumat kan repot," ujar Nathan.
"Hei, laki-laki kecil! Oma tak selemah itu sayang. Oma strong!" ujar Bu Lidya tak terima.
"Kalian mau di bawain oleh-oleh apa kalau oma pulang?" tanya bu Lidya. Si kembar tampak berpikir sejenak.
"Adik bayi oma!" seru keduanya bersamaan.
"Eh...?" bu Lidya syok mendengarnya.
"Iya, kata teman Nala papa sama mamanya habis traveling bawa pulang dedek bayi di perut mamanya, oma bisa bawa pulang dedek bayi tidak?" ucap Nala polos. Teringat obrolan dengan teman sekolahnya.
Bu Lidya langsung tergelak mendengarnya. Ternyata anak-anak juga suka berghibah kalau sedang ngumpul rupanya.
"Sayang, yabg bisa ngasih dedek bayi itu daddy sama bunda. Bukan oma," ujar bu Lidya.
__ADS_1
"Kenapa oma tidak bisa?" tanya Nathan penasaran. Ia merubah posisi menjadi duduk bersila fan diikuti oleh Nala.
"Aduh gimana ya jelasinnya. Pokoknya nanti mita saja sama daddy ya. Sekarang daddy sama bunda kemana?" tanya Bu Lidya.
"Daddy sama bunda sedang pacaran oma," jawab Nala.
"Iya, sekarang daddy udah baik, tidak buat bunda nangis diam-diam lagi Dan sekarang mereka lagi pacaran ke toko bunda," jelas Nathan.
"Oh begitu," jawab Bu Lidya santai. Namun, sejurus kemudian bu Lidya langsung membelalakkan matanya, mencerna apa yang barusan Nathan katakan.
"Nathan bilang apa barusan?" Bu Lidya menegaskan, berharap pria kecil itu salah bicara.
"Oma nggak dengar Nathan bicara? Nathan bilang, daddy sudah baik, tidak buat bunda nangis diam-diam lagi, gitu aja nggak dengar," cebik Nathan.
"Bunda nangis diam-diam?" masih tak percaya.
"Iya oma, huh!" kesal Nathan, ia pikir bu Lidya tidak paham dengan ucapannya. Ia melipat kedua tangannya di dadanya dengan wajah cemberut.
Bu Lidya benar-benar terkejut mendengarnya, dia pikir rumah tangga anak menantunya baik-baik saja, makanya dengan tenang ia melakukan liburan panjang dan bagaimana kehidupan Bara dan Syafira setelah menikah luput dari pantauannya.
"Astaga! Aku ketinggalan berita!" serunya dalam hati.
"Bara, pria tengil itu tidak berubah ternyata," gumamnya.
"Nathan tahu dari mana bunda nangis?"
"Oma kepo!"
"Mau dedek bayi enggak? Kalau mau cepat cerita!" ucap bu Lidya.
"Saat Nathan kebangun malam-malam, Nathan sering lihat bunda menangis, tapi Nathan pura-pura tidak tahu dan tidak lihat, soalnya kalau kalau Nathan nangis, malu di lihat orang. Nathan pikir, bunda juga begitu. Yang suka galak sama bunda kan daddy, pasti daddy yang bikin bunda nangis," jelas Nathan.
"Bara, benar-benar. Daddy sama bunda boboknya barengan nggak?" selidik bu Lidya.
Mereka berdua menggeleng.
"Bunda sering bobok sama Nala, emang kenapa oma? Kata bunda, bunda sayang sama Nala makanya bobok sama Nala," ucap Nala.
"Aku harus turun tangan sepertinya, nanti aku kasih minuman biar tahu rasa kamu Bara," gumam bu Lidya.
"Minuman apa oma?"
"Oh itu, tidak apa-apa sayang. Minum air putih yang banyak maksudnya, biar daddy nggak oleng, jernih pikirannya," jawab Hu Lidya sekenanya.
Mereka melanjutkan obrolan melalui Video call hingga si kembar ketiduran.
"Maaf nyonya Besar, tuan dan nona muda kecil ketiduran," ucap Nanny yang menemani mereka.
"Yasudah matikan video callnya. Saya juga mau siap-siap buat jalan-jalan sama teman-teman," ucap bu Lidya langsung mematikan panggilan video callnya.
"Aku harus cepat pulang. Huh dasar Bara tengil, mengganggu kesenanganku saja. Harusnya aku sudah bisa tenang, menikmati liburan. Malah bikin ulah," gumam Bu Lidya yang kini sedang berada Paris yang memiliki perbedaan waktu sekitar enam jam dari Jakarta.
__ADS_1