
"Nggak kerja Mas hari ini?" tanya Syafira ketika melihat Bara masih sibuk dengan motor gedenya, padahal sudah pukul 09.00 WIB.
Bara diam-diam tersenyum mendengar Syafira memanggilnya dengan sebutan itu sejak pagi tadi. Dan ini ke tiga kalinya gadis yang selalu berpenampilan cuek tersebut memanggilnya mas.
"Mas? Perasaan itu tidak dia list semalam, but it's no bad," ucapnya dalam hati ketika subuh tadi Syafira membangunkannya dan memanggilnya Mas untuk pertama kali.
"Mas, aku ngajakin ngomong loh, enggak kelihatan emang badan segede ini di sini?" protes Syafira yang kini sedang berdiri di sampingnya.
"Kamu juga nggak lihat aku ada di sini? Kalau di sini berati sedang tidak bekerja," jawab Bara.
"Kenapa nggak ngantor om, eh Mas," Syafira belum terbiasa dengan panggilan barunya untuk Bara.
"Suka suka saya, kantor milik saya," jawabnya acuh.
"Mas boleh dong kapan-kapan ajakin jalan pakai motor gedenya. Atau kalau nggak aku pinjam deh Mas sekali-kali,"
Bara hanya diam tak menyahutnya, ia terus mengelap motor kesayangannya tersebut. Semenjak Olivia meninggal, motor gede tersebut lebih sering terparkir di garasi dari pada di pakai. Dulu ketika Olivia masih hidup, Bara sering mengajaknya touring ke luar kota bersama komunitas mogenya.
"Itu motor siapa?" Bara menunjuk scooter matic milik Syafira yang terparkir tepat di samping motor gedenya menggunakan dagunya.
"Oh itu, punyaku Mas. Kenapa?"
"Nggak apa-apa, tanya aja. Kamu nggak ada kuliah?"
"Ada sih, tapi ntar siangan. Ini mau ngerjain tugas dulu sama teman," jawab Syafira.
"Siapa? Mia?"
"Ih Mas Bara mulai kepo yaa?" goda Syafira.
"Nggak usah di jawab kalau begitu,"
"Bukan Mas, aku sama mia kan beda jurusan. Temenku namanya... eh itu dia udah datang buat jemput aku," Syafira melihat ke arah laki-laki yang mengendarai sepeda motor ninja.
"Selamat pagi om, saya ke sini menjemput Fira om ada tugas yang harus di kumpulkan sore ini. Bolehkan on ajak jalan ponakannya?" ucap Roni, teman satu jurusan Syafira.
__ADS_1
Mendengar Roni memanggilnya om dan mengira Syafira keponakannya, Bara langsung melempar kain kanebo yang sedang ia pegang untuk mengelap motor gedenya.
"Terserah!" ucapnya sambil menahan kesal.
Syafira menahan tawanya, pasti dalam hati Bara mengumpat habis-habisan, pikirnya.
"Bentar ya, aku ambil tas sama buku dulu," ucap Syafira kepada Roni.
"Hem," Roni mengangguk.
"Keren om motornya, suka touring ya om?" tanya Roni.
"Bukan urusan kamu, satu lagi saya bukan omnya Syafira," ucap Bara sewot.
"Terus siapanya? Nggak mungkin ayahnya kan om? Kayaknya om nggak setua itu,"
"Saya suaminya!" tegas Bara. Ia tak suka dengan pemuda tersebut, sebagai sesama laki-laki, Bara paham jika Roni mengagumi atau bahkan menyukai Syafira.
Roni cukup terkejut mendengarnya, pasalnya ia tak pernah mendengar kabar Syafira menikah. Ya, emang ia akui sih, ia dan Syafira tak terlalu dekat, ia memang mengagumi sosok Syafira, tapi gadis itu selalu menjaga jarak dengannya. Ini saja karena ada kerja kelompok dan Syafira belum tahu alamat tempat mereka akan mengerjakan makanya Roni menjemputnya.
"Apa saya kelihatan sedang bercanda? Tidak ada waktu!" sarkas Bara.
"Mas, nanti aku terusan kuliah ya, keperluan anak-anak sudah aku siapkan kalau mereka pulang sekolah nanti," ucap Syafira kepada Bara setelah keluar dari mengambil tas dan bukunya. Menyela Roni yang sepertinya ingin bicara tapi tidak jadi.
"Hem," sahut Bara singkat.
"Eh Ron, aku pakai sepeda sendiri aja ya, biar nanti pulangnya nggak susah," ucap Syafira.
"Bonceng aja nggak apa-apa Fir, nanti aku antar pulangnya," timpal Roni.
"Ehem!" Bara berdehem keras tanpa menoleh.
"Enggak Ron, aku pakai motor sendiri saja,"
"Ya udah kalau begitu, saya permisi dulu om," pamit Roni kepada Bara dan hanya di jawab hem oleh laki-laki yang sedang tidak sadar jika dia sedang cemburu tersebut.
__ADS_1
"Pergi dulu mas, assalamualaikum," Syafira menyalami dan mencium tangan Bara.
"Wa'alaikumsalam," jawab Bara.
Syafira mendekati motornya dan mengeluarkan kunci dari dalam tasnya. Tak lupa ia memakai helm bogonya.
"Ck sok-sokan nolak di boncengin si wiliam-wiliam itu, padahal kalau nggak ada aku pasti udah nempel-nempel," gumam Bara, tanpa ia sadari Syafira masih berada di sampingnya sedang berusaha mengeluarkan sepeda motornya dan mendengar ucapan Bara.
"Namanya Roni mad, bukan William. Ini yang William," ucap Syafira menepuk sepeda motornya.
"Saya tidak peduli, mau Roni atau Wiliam. Yang jelas kamu harus tahu batasan sebagai seorang istri. Jangan terlalu dekat bergaul dengan laki-laki," peringat Bara.
Syafira mengatupkan bibirnya menahan kesal dengan ucapan Bara, seakan-akan dia ketahuan akan melakukan kejahatan dalam rumah tangga bersama pria lain, padahal ia murni hanya ingin mengerjakan tugas yang di berikan oleh dosennya. Ia kesal saat seperti ini, Bara selalu menyudutkan dia mengatas namakan jabatannya sebagai seorang istri.
"Tuan Bara yang terhormat, saya tahu apa yang saya lakukan, dan saya tahu batasan mana yang harus saya lalui untuk menjaga nama baik keluarga, terutama SU A MI saya," ucap Syafira dengan menekan kata suami.
"Bukankah Anda sendiri yang bilang kalau saya hanya perlu menjadi ibu yang baik buat anak-anak, bukan menjadi istri yang baik? Kalau saya masih bersikap waras dan menganggap mas sebagai suami, anggap saja itu bonus!" lanjut Syafira. Ia langsung menghidupkan mesin sepeda motor maticnya.
"Aku berangkat dulu, kalau sudah selesai kuliah nanti akan langsung pulang. Assalamualaikum," pamit Syafira dan langsung meninggalkan Bara yang bahkan tak memiliki kesempatan untuk menyela ucapannya.
"Maaf mas, aku tak bermaksud berkata kasar, aku hanya ingin mas menghormati pernikahan ini. Kalaupun tak ada cinta, setidaknya bersikaplah bijak dalam menjalani rumah tangga ini. Aku juga tak akan berharap lebih pada rumah tangga kita. Kecuali kamu yang memang menginginkan lebih," batin Syafira sambil terus menatap lurus ke depan hingga melewati pintu gerbang rumahnya menyusul temannya, Roni yang sudah jalan duluan di depannya.
Bara menghentikan aktivitasnya, ia mengingat kata-kata Syafira tadi. Entah kenapa ia tak suka jika Syafira bilang hanya perlu menjadi ibu yang baik bukan istri yang baik, padahal jelas-jelas ia sendiri yang mengatakan hal itu. Lali di mana salahnya Syafira dengan mengatakan hak tersebut yang hanya tinggal membeo ucapannya saja?.
"Shit!" umpatnya yang merasa perasaannya kini sedang di permainkan oleh keadaan. Gadis yang ia anggap masih bocah itu, berhasil membuatnya frustrasi.
"Kenapa harus laki-laki, teman perempuan emang nggak ada?" kesalnya. Entah benar-benar karena demi nama baik keluarga atau sebenarnya karena ia merasa cemburu dan takut jika Syafira benar-benar tak peduli lagi dengan statusnya sebagai istri?
sepertinya Bara mulai kehilangan jati dirinya yang selalu membanggakan kesetiaan yang ia miliki untuk almarhumah Olivia. Meskipun masih saja ia menyangkal hal itu. Menyangkal jika sebenarnya ia butuh sosok seperti Syafira, yang mewarnai dunianya yang gelap dengan sifat gadis tersebut yang cuek, masa bodoh, meski ia selalu cuek dan dingin terhadap Syafira, namun selalu di balas senyuman oleh istrinya tersebut. Istrinya tersebut selalu berhasil menyembunyikan apa yang sebenarnya ia rasakan dalam hatinya.
"Terserahlah mau pergi dengan siapa, yang penting nggak bikin ulah," gumamnya dengan menggertakkan giginya yang sebenarnya untuk menutupi kekecewaanya. Ya, ia sengaja meliburkan diri hari ini karena ingin mengajari Syafira menyetir mobil.
Bara langsung masuk ke dalam kamar dan mengambil ponselnya, ia menghubungi om Jhon yang pasti sedang berada di kantor.
"Om jhon, bawa pekerjaan saya hari ini ke rumah, dan tolong siapkan buket bunga. Saya akan ke makam Olivia," ucapnya yang langsung mematikan panggilannya.
__ADS_1
🌼🌼🌼