Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 124


__ADS_3

Dua hari kemudian, Syafira kembali datang ke sekolah si kembar. Namun kali ini ia menemui mereka. Bahkan sebelumnya ia sudah mendatangi bu Lidya dan mengatakan kalau ia yang akan menjemput mereka hari ini. Bahkan ia sempat menanyakan kabar Bara.


“Mas Bara, bagaiman kabarnya buk” tanya Syafira.


“Masih sama, menunggu kamu memaafkannya. Ibu tahu kamu masih butuh waktu, tapi jangan lama-lama buat berpikir, ibu tak membela Bara karena dia memang salah meskipun tak sengaja. Tapi, ibu harap kamu bisa menilai bagaimana Bara selama ini, jamu lebih mengenalnya luar dalam tentunya. Semua keoutusn kembali kepadamu lagi Fir, ibu tak bisa memaksa. Kamu tahu, kalau perusahaan Bara sedang dalam masalah?”


Syafira mengangguk, “ Maafin Fira buk. Fira...,”


“Ibu tahu, sudah sana pergi jemput si kembar. Pasti mereka senang ketemu kamu,” ucap bu Lidya tersenyum.


“Fira pamit ya buk, sekalian mau ajak si kembar jalan-jalan nanti,” pamit Syafira.


Dan di sinilah Syafira sekarang, di sekolah si kembar. Ia tersenyum saat melihat kedua anaknya berjalan beriringan menuju pos satpam seperti biasa. Melihat Syafira yang datang menjemput, mereka langsung berlari ke arahnya, “Bundaaaaaa!” seru keduanya yang langsung berhambur ke pelukan Syafira.


Syafira menciumi mereka bergantian tanpa henti.


“Bunda pulang?” tanya Nathan saat Syafira melepas pelukannya.


Syafira yang menangis hanya bisa mengangguk dan kembali mendekap keduanya.


“Ayo kita jalan-jalan. Kita makan es krim, mau?” tawar Syafira.


“Mau!”jawab si kembar bersamaan.


Syafira mengajak keduanya masuk ke dalam taksi yang sejak tadi menunggunya.


🌼 🌼 🌼


“Nala mau rasa strawberry bunda,” ucap Nala. Kini mereka sidah berada di mall.


“Boleh. Nathan mau apa?”


“Cokelat,” jawab Nathan singkat.


“Sebentar ya, bunda beliin. Kalian duduk di sini, jangan kemana – mana.


“Daddy ndak ikut pulang bunda?” tanya Nala yang kini sudah menikmati es krimnya.


“Apa, mas Bara bilang kalau aku ikut dengannya keluar kota?” batin Syafira saat mendengar pertanyaan Nala.


“Oh, iya sayang. Daddy masih banyak pekerjaannya, jadi bunda pulang duluan. Lagian onty Adel sudah sadar , jadi bunda harus jagain onty di rumah sakit,” jawab Syafira.


“Onty syantik udah sadar bunda?” netra gadis cilik itu berbinar-binar.  Sementara Nathan tampak tersenyum. Ia senang sekali, itu artinya bundanya tak lagi akan menangis, pikirnya.


“Hehem, makanya nanti kalau bunda enggak pulang, berarti bunda lagi merawat onty Adel biar cepat sembuh. Nathan sama Nala sama oma dulu sebelum daddy pulang ya?”


“Nala ikut ke rumah sakit jagain Onty syantik,” ucap Nala.


Syafira bingung harus bagaimana. Jika ia mengajak si kembar ke rumah sakit, Adel pasti syok. Ini bukan waktu yang tepat.


“Emm, Onty Adel kan baru sembuh, jadi belum boleh di jenguk. Nanti ya, kalau udah sembuh bunda Ajak pulang. Tapi, sekarang ijinkan bunda merawat tante Adel dulu ya sampai sembuh. Boleh?” tanya Syafira.


“Boleh bunda,” jawab si kembar kompak.


“Anak pintar. Habis ini kita ke time zone yuk, habis itu makan siang terus... Pergi ke toko.. Nanti bunda buatkan macaron spesial, baru bunda antar pulang. Deal?”


“Nala mau boneka Barbie bunda,” ucap Nala.


“Oke, nanti kita beli. Nathan mau apa?”


Nathan menggeleng, “Cuma mau bunda, jangan pergi lagi,” ucap Nathan lirih.


Mata Syafira langsung memanas, “Sudah habis eskrimnya? Yuk kita ke time Zone!” ajak Syafira mengalihkan pembicaraan.


Hari ini benar-benar Syafira habiskan waktu bersama si kembar. Sore harinya, dengan membekali si kembar kue kesuakaan mereka, Syafira mengantar keduanya kembali ke rumah.

__ADS_1


Ia pamit setelah mengurus keperluan si kembar, dari membersihkan diri, membuatkan makan malam, bermain dengan si kembar sampai membacakan dongeng sebagai pengantar tidur mereka.


Setelah mereka tertidur karena sudah lelah, Syafira mencium kening mereka bergantian, “Maafin bunda. Bunda sayang kalian,” gumamnya. Lalu ia menyelimuti mereka dan keluar.


Bu Lidya diam-diam merekam aktivitas Syafira dan si kembar sejak mereka datang tadi yang langsung ia hubungkan dengan Bara.


Bara dengan tekun mengamati aktivitas Syafira bersama si kembar sejak sore tadi pulang dari layar ponselnya. Ia bahkan enggan beranjak dari tempat tidur demi bisa menikmati pemandangan indah di depannya. Hanyabdari layar ponsel saja, sudah cukup membuatnya senyum-senyum sendiri sangking senangnya.


Melihat ketiganya baik-baik saja, membuat Bara senang dan tenang . Ia bisa melihat, tak sedikitpun rasa sayang Syafira berubah kepada si kembar.


Setidaknya rasa rindunya sedikit terobati walau hanya melihat Syafira dari layar video.


“buk, Fira pamit dulu ya?” ucap Syafira.


“Loh, pamit kemana? Ini rumah kamu sayang,” sahut bu Lidya seraya mengatur napasnya karena baru saja ia buru-buru berlari dari sehabis mengintip dan merekam Syafira di kamar anak-anak lalu pura-pura duduk dengan tenang di sofa ruang tamu sambil membaca majalah. Ponselnya masih menyala, ia duduki di bawah bo kongnya.


Meski gelap karena tertutup bi kong bu Lidya, Bara masih bisa mendengar suara istrinya.


“Jangan pergi sayang please Itu rumah kamu, kamu mau kemana lagi. Janga pergi lagi, tunggu mas pulang, tetap di rumah. Jangan pergi, “ gumam Bara saat mendengar Syafira pamit.


“Fira... Harus merawat Adel  buk, Fira harus pergi,” ucap Syafira.


“Tapi besok pulang ke sini lagi kan? Kalau Adel udah boleh pulang, ajak pulang ke sini Fir,” ucap bu Lidya mewakili Bara.


“Ya, itu yang mau aku ucapkan ma,” komen Bara.


“Sejujurnya, Fira belum memberitahu soal mas Bara buk. Fira baru memberi tahu soal ayah dan ibu kemarin. Itu saja sudah membuat Adel drop lagi. Dokter bilang, Adel tidak boleh berpikir yang berat-berat dulu takutnya ia akan lebih drop dan... Bisa kembali kritis,” jelas Syafira.


“Fira butuh waktu, untuk bilang sama Adel buk. Fira harus memastikan kondisi Adel terlebih dahulu untuk siap mendengar berita yang lebih menyakitkan lagi. Maaf jika Fira egois, tapi Fira nggak mau kehilangan Adel buk. Doain Fira ya buk, supaya bisa melewati semua ini,”sambung Syafira.


Bu Lidya bisa melihat betapa bingung dan tertekannya Syafira karena keadaan ini. Di satu sisi ada si kembar dan ayahnya yang kini telah menjadi bagian hidupnya , tapi di sisi lain ada adik kandungnya yang juga sanagt penting bagi hidupnya. Syafira harus memilih yang mana yang harus ia utamakan terlebih dahulu.


Bara yang mendengarnya langsung lesu, “Maafin mas sayang,”.


“Baiklah ibu ngerti. Ibu percaya, kamu akan melakukan yang terbaik untuk semuanya,”


“Biar diantar pak Hendro ya, Fir,” ucap bu Lidya.


“Tidak usah buk, Fira bisa naik taksi saja,”tolak Syafira.


“sayang, ini sudah malam. Jangan keras kepala, biar diantar pak Hendro,” protes Bara, tapi tentu saja Syafira tak mendengarnya.


“Fir...” panggil bu Lidya saat syafira baru melangkahkan kakinya satu langkah.


Syafira langsung menoleh


“Apa kamu tidak bisa memaafkan Bara. Sampai kapan kamu akan memutus komunikasi dengannya. Dia butuh kamu sekarang,”


“Doa Syafira selalu menyertainya buk dimanaoun berada. Mas Bara pasti bisa merasakannya. Soal itu, biarkan waktu yang menjawab. Fira pergi ya buk, assalamualikum,”


“Waalaikumsalam,” jawab bu Lidya.


Setelah Syafira menghilang dari pandangannya, bu Lidya langsung mengambil ponselnya yang ia duduki.


“Gelap ma, nggak kelihatan tadi. Di taruh dimana sih ponselnya, Bara jafi nggak bisa lihat Fira kan,” protes Bara.


“maaf, tadi mama buru-buru, takut ketahuan Fira jadi ponsel mama duduki,” ujar hu Lidya.


“Astaga, jadi yang dari tadi aku lihat pan tat mama?”


“Sembarangan, mana kelihatan dalamnya. Mama pakai rok ya,” sergah bu Lidya.


“Udah lihat kan tadi, istrimu baik-baik saja. Dengar juga kan, dimanapun ia tetap mendoakan kamu,”


“Iya ma, makasih ya. Nanti Bara transfer,” ujar Bara.

__ADS_1


“Mama nggak minta loh. Besok aja transfernya kalau kondisi perusahan sudah membaik, mama anggap hutang. Makanya harus jadi pecut buat kamu biar perusahaan kembali jaya, dari pada punya hutang sama mama,” canda bu Lidya.


“Iya, mama lebih menakutkan daripada rentenir kalau nagih hutang,” ucap Bara.


“Ck, dasar kamu. Udah ya. Mama mau maskeran dulu. Mama tutup dulu teleponnya.


🌼 🌼 🌼


Sudah beberapa hari ini Varel tidak berkunjung ke rumah sakit menjadi penguntit karena kesibukannya di kantor. Ia pikir tak akan masalah, toh Adel udah sadar, jadi Syafira akan anteng-anteng aja merawat Adel di rumah sakit dan nggak aka melakukan hal yang aneh-aneh. Sehingga ia bisa sedikit lepas tangan.


Hari ini ia sedikit senggang, makanya menyempatkan diri ke rumah sakit. Saat tiba di rumah sakit, ia tak mendapati Adek mauoun Syafira di sana. Ruang rawat Adel sudah kosong dan bersih.


Varel menanyakan soal Adel kepada resepsionis.


“Oh, pasien atas nama Adelia sudah pulang tiga hari yang lalu tuan,“


“Tiga hari yang lalu?” Varell mengernyit. “Yasudah, terima kasih,” ucapnya.


Varel langsung menelepon bu Lidya, menanyakan apakah Syafira kembali ke rumah tiga hari yang lalu dan bu Lidya mengatakan tidak.


“Mungkin pulang ke rumah ayah Syafira,” jawaban bu Lidya membuat Varel langsung bergegas ke rumah lama Syafira. Ia harus memastikan kalau mereka benar-benar di sana.


Sesampainya di sana, varel langsung mengetuk pintu, “Fir, ini aku Varel,” ucapnya setelah mengetuk beberapa kali. Namun rumah tersebut tampak kosong tak ada orang.


“Mas cari siapa ya?” tanya tetangga Syafira yang kebetulan lewat.


“Ini, saya cari Syafira. Apa ibu tahu di pulang ke sini?” tanya Varel.


“Oh Syafira, tiga hari yang lalu memang dia pulang ke sini sama adiknya yang baru sadar dari koma itu. Tapi, dua hari yang lalu saya lihat mereka naik taksi dengan bawa koper, nggak tahu pergi kemana,”


“begitu ya bu, makasih infonya,” sahut Varel.


“Ya udah, Saya permisi mas. Mari,”


Varel menganggukkan kepalanya. Detik kemudian ia langsung mengumpat, “Shit! Kecolongan! Pergi kemana kalian,” ucapnya frustrasi.


🌼 🌼 🌼


 


💠💠Sepertinya mas Bara harus lebih sedikit berjuang lagi nih. Tenang-tenang, nggak lama kok mereka ketemu lagi. Yuk, dukung mas Bara dengan like komen dan hadiahnya, biar mas Bara lebih semangat lagi, eh authornya maksudnya 🤭🤭


Salam hangat Author 🤗❤️❤️💠💠


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2