Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 97


__ADS_3

Bara terus memandangi layar ponselnya yang tergeletak di meja kerjanya. Tidak ada panggilan maupun pesan dari Syafira sama sekali. Ia hanya mendengus kesal dan melanjutkan pekerjaannya.


"Kenapa tidak ada kabar sama sekali, apa dia benar-benar marah padaku?" batin Bara matanya yang sedang menatap dokumen di depannya sambil sekali-kali melirik ponselnya. Biasanya walaupun sibuk, Syafira tetap menyempatkan waktu mengirim pesan atau meneleponnya sekedar mengingatkan untuk makan atau sholat. Karena kalau tidak diingatkan suaminya suka lupa.


Akhirnya, karena tidak tahan, Bara mengalah, ia mengirim pesan terlebih dahulu kepada Syafira.


"Kenapa tidak hubungi mas, tumben," satu pesan terkirim. Namun tidak ada balasan.


"Masih marah?"


"Fir..."


"Sayang,"


"Mas belum makan siang ini, nggak diingatkan? Kalau lupa nggak makan bagiamana?" pesan terkirim lagi. Pesan aneh dari orang yang lagi bucin, pesannya bilang belum makan berarti ingat kalau belum makan, tapi bilang kalau lupa makan, Segitunya cari perhatian.


"Sayaaaaaaannggg,"


"Fira, sayaaaaaang,"


"Sibuk apa sih?"


"Nyonya osmaro,"


"I love you...."

__ADS_1


"Marah beneran? Tapi mas tetap nggak ijinin kau magang di sana,"


"Jangan marah,"


Fix, ini marah pasti karena tidak di balas sama sekali pesan-pesannya, pikir Bara. Ia menjadi kesal sendiri. Alamat makin lama puasa ini mah. Kalau tidak ingat pekerjaannya banyak sekali hari ini, belum lagi harus meeting sore nanti, sudah otw nyamperin istrinya.


"Kenapa nggak ngerti sih Fir, emang salah kalau mas pengin kamu magang di sini biar dekat terus sama mas, biar mas bisa awasin kamu dari mata laki-laki lain. Kamu nggak ngerti sih, mereka kalau natap kamu itu kayak binatang buas yang siap menerkam mangsanya," gumamnya kesal dalam hati. Jiwa dudanya meronta, ia takut istrinya yang masih muda kinyis-kinyis itu kecantol laki-laki lain yang lebih muda darinya. Padahal setelah lulus kuliah nanti , Syafira bisa konsentrasi penuh mengembangkan toko kuenya dari pada bekerja menjadi karyawan di sebuah perusahaan. Bukankah itu akan lebih baik memiliki usaha sendiri, pikir Bara. Ia sudah memikirkan jauh-jauh hari soal usaha toko kue sang istri.


Sementara yang dikirimi rentetan pesan macam kereta api panjangnya sedang sibuk di toko kuenya, berjibaku dengan adonan kue, yang membuat tangannya kotor dan tidak sempat memegang ponselnya sejak tadi.


"Mbak, ponselnya dari tadi getar terus, kayaknya ada pesan masuk," ucao Rani. Membuay Syafira dan Desi, si karyawan baru menoleh.


"Lanjutin ya des , aku ke depan dulu," kata Syafira sambil meleas apronnya.


Di ambilnya ponsel yang ada di meja. Awalnya ia senyum-senyum membaca pesan dari Bara,. Suami kulkasnya itu kini sedang menghujaninya dengan pesan singkat , yang sama sekali belum pernah ia lakukan sebelumnya, rekor ini, pikirnya. Biasanya Bara hanya membalas satubpesan dengan kata hem, iya, kamu juga, love you too atau kalau harus panjang ia akan langsung menelepon, malas ngetik banyak-banyak katanya.


"Astaga mikir apa sih," Syafira meletakkan kembali ponselnya tanpa membalas pesan suaminya.


"biarkan saja mas Bara ngira aku marah beneran. Habisnya suka semau wudele dewe begitu, langsung ngegas, nggak bisa emang bicara baik-baik," gumamnya yang sebenarnya tidak marah, taoi karena memang sejak tadi sibuk sehingga tidak fokus dengan ponselnya.


"Sayang, bunda punya ice cream, ada yang mau?" seru Syafira sambil menghampiri si kembar yang tadi sudh ia jemput dari sekolah dan langsung di ajak ke toko.


"Mau bunda..." jawab si kembar bersamaan.


Sedangkan Bara semakin gelisah dan resah saat tahu pesannya centang biru yang artinya sudah di baca oleh Syafira namun tidak di balas.

__ADS_1


🌼 🌼 🌼


Bara merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena banyaknya pekerjaan hari ini, ia melihta jam tangan meqah merek rolex di tangannya, sudah jam setengah delapan malam.


"Di pijat Syafira enak nih kayaknya," gumamnya sambil menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Tangannya memegang tengkuknya sendiri.


Syafira kan lagi ngambek, yang ada tulang-tulangnya malah di patahin bukannya di pijit, Bara menggedik membayangkan. Ia jadi malas pulang jika memikirkan Syafira yang ngambek karena tidak akan dapat jatah lagi pasti, belum juga nyiba udah suudzon aja si Bara,. Tapi ia juga rindu. Meskipun marah, tetap ingin melihat wajahnya. Dilema jadinya.


"Belum pulang kak?" tanya Varel yang baru saja ngeloyor masuk ke ruangan presdir tanpa mengetuk pintu.


Bara hanya menatapnya. Sudah tahu kakaknya masih duduk manis di kantor pakai tanya belum pulang.


"Bareng sekalian, aku mau jemput mama. Katanya mau ke rumah kaka,. Suruh aku jemput tadi," ucap Varel.


Yang diajak bicara tak menyahut, namun berdiri dan menyambar ponsel dan jasnya lalu berjalan mendekati pintu.


"Beneran perlu di full service ini kayaknya," gumam Varell, ia menyusul langkah Bara.


Tig puluh menit kemudian, dua buah mobil beriringan masuk ke halaman kediaman OSmaro. Bara langsung masuk ke dalam setelah menyerahkan kunci kepada bawahannya untuk di parkirakan.


" Kakak masuk dulu, aku mau angkat telepon dulu sebentar," kata Varel setelah turun dari mobilnya.


Bara pun langsung melangkahkan kakinya memasuki ruang tamu. Ponselnya tiba-tiba berdering, ternyata telepon dari kliennya. Ia pun duduk di sofa lalu mengangkatnya, ia dan kliennya membahas proyek yang sudah di rencanakan.


"Maaaaaaaasssss..." suara mesrah dan manja membuat Bara menoleh.

__ADS_1


"Uhuk!" Bara langsung tersedak, dan seketika matanya membulat, bibirnya mengatup tak percaya apa yang dilihatnya. Tubuhnya mendadak lemas bagai tak bertulanh, bahkan ponselnya hampir jatuh dari genggamannya.


🌼🌼🌼


__ADS_2