
"Del, makan apa sih? Malah asyik sendiri di sini. Si kembar tuh jagain!" ucap Varel.
"Apa sih, om? Orang baru duduk sebentar, anak-anak juga kelihatan tuh lagi main sama saudara paman Tiger. Mau ngadem dulu ini," sahut Adel sambil menikmati es krim vanila yang baru saja ia beli. Ia menggeser duduknya untuk Varel.
"Justru karena mereka main sama saudara jauh paman Tiger harus di awasi. Takutnya mereka nekat masuk ke dalam, dikiranya macan itu baik kayak paman mereka, eh tahunya di mangsa. Kan serem. Mau bilang apa sama kakak nanti kalau pulang cuma bawa tulang mereka," ujar Varel sambil mengawasi keponakannya.
"Ih otaknya.... Pikiran kok jelek, berpikir tuh yang positif-positif, om. Itu macannya juga ada pawangnya. Si kembar juga tahu kali itu bahaya, mereka itu pintar nggak kayak om!"
"Kalau kamu positif, aku harus tanggung jawab dong," kata varel ngelantur.
"Apaan sih, nggak jelas banget. Ngomongin apa, nyahutnya kemana. Emang ciuman doang bisa positif? Nggak lah! Positif juga harus begituan dulu kali!" Ucap Adel mencebik.
"Begituan apa hayo? Bocil pikirannya udah kemana-mana aja,"
"Udah mau pulang belum sih, udah sore nih. Capek!" keluh gadis itu kemudian demi mengalihkan pembicaraan.
"Bentar lagi, nunggu kebun binatangnya tutup sekalian," jawab Varel santai.
"Om mau bantu ngunciin gerbangnya? Ya kali nunggu sampai tutup, aku mah ogah!" Adel memutar bola matanya malas.
"Seru ya del, momong mereka. Berasa momong anak sendiri, itung-itung belajar momong anak kita nanti," Varel tersenyum memperhatikan si kembar yang masih asyik dengan seekor macan. Bahkan Nathan terlihat seperti sedang mengajak macan itu mengobrol. Entahlah, apa anak itu bisa bahasa macan atau gimana, Varel tak mau ambil pusing memikirkannya. Memikirkan masa depannya saja sudah ruwet.
"Anak kita, anak om kali! Aku mah belum kepikiran!" sahut Adel ngegas.
"Santai aja dong, nggak usah ngegas gitu. Beneran deh Del, kawin aja yuk! Pacaran kayak gini terus juga nggak berfaedah. Nggak takut apa aku di tikung cewek lain?"
Lagi-lagi, Adel memutar bola matanya malas,"Astaga, halu om kebangetan deh. Yang pacaran siapa?"
"Ya Kita lah, apa namanya coba kita nyaman satu sama lain kalau bukan pacaran?
" Enggak ya! Lagian kan aku udah sering bilang, aku masih sekolah, mana mungkin aku kawin. Eh nikah maksudnya. Kalau ada yang mau nikung, aku malah bersyukur karena artinya masih ada cewek yang mau sama om,"
" Ck, gitu amat bocil!" Varel mengacak rambut Adel gemas.
"Di bilangin jangan pegang-pegang kepala! Apalagi ngacak rambut, ih ngeselin!" sungut Adel seraya memasukkan sesendok es krim ke mulutnya kasar.
__ADS_1
"Dih, ngambek. Manyun! Jangan gitu dong bibirnya biasa aja, kalau Manyun gitu tuh indikasi minta di kiss tahu nggak. Kalau kata Zio, tiiiiissss!" goda Varel.
"Apaan sih,,, nggak lucu om..." pipi Adel sudah merah merona karena gombalan garing dari Varel. Membuat Varel terkekeh, "Cieeew, baper. Gitu aja baper, tapi mau di halalin nggak mau," ledeknya dan langsung mendapat satu tabokan di lengannya.
"Om, mau nggak? Enak nih!" Adel menawarkan es krim yang hanya tinggal tiga atau empat sendok es krim tersebut.
"Nggak ah, kayak bocil makan es krim!" tolak Varell.
"Ya udah kalau nggak mau, aku habisin sendiri," Adel menyendok es krimnya. Saat ia hendak memasukkannya ke mulutnya, dengan sigap Varel menyambar es krim tersebut dengan mulutnya.
"Ck, dasar. Bilangnya nggak mau," cebik Adel.
"Nih, ambil!" Adel menyodorkan es krimnya kepada Varel.
"Maunya suapin!" rengek Varel dengan manjanya.
"Manja!" omel Adel namun tetap menyendok es krimnya.
"Nih!" ucap Adel seraya menyodorkan es krim tersebut ke mulut Varel.
"Tambah manis rasanya kalau di suapi kamu," kata Varel tersenyum. Adel hanya memanyunkan bibirnya saat mendengar gombalan dari Varel lagi.
"Kenapa emang? Apa salahku, om?" tanya Adel kesal.
"Itu, sudut bibir kamu ada es krimnya. Boleh nggak di bersihin pakai mulutku?"
"Eh! Jangan ngadi-adi deh, om!" Adel langsung gelagapan tatkala Varel sudah memajukan bibirnya mendekat.
"Astaga, akankah tragedi ciuman itu terulang kembali?" Adel memejamkan matanya dengan sedikit melirik. Was-was tapi menunggu. Ia hampir lupa sedang berada dimana sekarang.
"Ehem!" suara deheman Nathan menggagalkan segalanya.
"Ampun deh, nih bocah! Ganggu aja!" batin Varel yang langsung salah tingkah sekaligus kesal, bibirnya yang tinggal sedikit lagi menempel sempurna di bibir Adel gagal total karena kehadiran dua makhluk kecil tersebut. Pun dengan Adel yang langsung menengguk habis es krim di cupnya karena salah tingkah.
"Apa?" tanya Varel sewot kepada si kembar yang sudah berdiri di depan mereka.
__ADS_1
"Cieeeee, pacaran ya?" ledek Nala dengan sangat ceria.
"Nanti bunda marah!" imbuh Nathan datar.
Varel dan Adel hanya bisa saling pandang. Adel menatap tajam Varel, penuh peringatan dan kejengkelan. Sementara Varel hanya bisa mengusap tengkuknya sambil meringis.
"Pulang, Onty, uncle. Sudah sore!" ucap Nathan sambil berjalan mendahului mereka yang masih salah tingkah. Tangannya menarik posesif tangan saudari kembarnya, Nala yang hanya menurut saja di tuntun olehnya.
"Om sih, ah. Awas nanti kalau sampai mereka ngadu sama kakak, aku ngambek pokoknya!" omel Adel yang langsung menyusul si kembar.
"Sory, sory! Jangan ngambek dong," ucap Varel.
"Boy, princess! Tadi kalian lihat apa?" tanya Varel memastikan, apakah keponakannya sadar akan situasi tadi atau tidak.
"Nala lihat, Onty sama uncle... Hihihi... Om lihatin Onty dekat banget, om suka ya sama Onty?" celoteh gadis cilik tersebut.
"Enggak. Tadi uncle cuma mau bantu bersihin es krim di bibir Onty, tapi mata uncle tiba-tiba burem jadi harus lihat dari dekat dulu, benar itu sisa es krim apa bukan," jelas Varel seadanya, yang langsung di balas ouhhh oleh Nala.
"Bunda bisa marah beneran kalau tahu!" ucapan Nathan sukses membuat Varel dn Adel menelan salivanya susah payah. Laki-laki kecil itu memang selalu lebih peka situasi daripada Nala.
"Hihi Athan lucu, bunda malah senang dong, karena uncle baik hati mau bantuin Onty Adel bersihin kotoran, biar Onty tetap syantik. Iya kan Onty?"
Adel hanya mengangguk seraya tersenyum canggung.
"Emang, Nathan lihat apa tadi?" selidik Varel penasaran.
"Nggak lihat apa-apa. Tapi, Lain kali jangan gitu lagi!" ucap bocah laki-laki tersebut penuh arti.
Varel mengembuskan napasnya lega, "Aman," ucapnya tersenyum menatap Adel.
"Ehem!" Nathan kembali berdehem.
"Apa sih, boy? Tenggorokan serak?" tanya Varel gemas sendiri dengan ponakannya yang satu itu.
"Jangan gitu lagi!" peringat Nathan lagi.
__ADS_1
"Iya iya! Enggak enggak! Santai!" sahut Varel pasrah, "Bilangnya nggak lihat apa-apa, tapi mudeng, ampun gusti! Jangan dewasa sebelum waktunya napa than," batinnya.
🌼 🌼 🌼