Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 131


__ADS_3

"Mas juga pasti tahu apa yang aku inginkan. Tapi..."


"Sudah, cukup... Istirahatlah. Kamu kelihatan pucat, besok kita bisa bicara lagi," Bara mencoba tersenyum, ia tahu kemana arah Syafira.


Syafira yang memang merasa sedikit kurang enak badan efek kehamilannya berjalan menuju kamarnya. Bara mengikutinya dan memastikan istrinya benar-benar masuk ke dalam kamar dan istirahat. Sudah cukup untuk hari yang melelahkan ini. Yang penting ia sudah menemukan istrinya dalam keadaan baik-baik saja.


"Aku hanya ingin semuanya baik-baik saja mas, semua bahagia," gumam Syafira dalam hati setelah ia menutup pintu kamar. Diusapnya pipi yang kini telah basah oleh air mata. Ia mendekati Adel yang sudah tidur meringkuk memunggunginya.


Setelah menyelimuti Adel, Syafira ikut berbaring di sampingnya, memunggungi Adel. Adel yang sebenarnya belum tidur, tak kuasa menahan air matanya. Ia tahu, kakaknya saat ini sedang diam-diam menangis dan ini bukan untuk pertama kalinya. Namun, sering.


🌼 🌼 🌼


Malam semakin larut, namun Bara tak kunjung bisa memejamkan kedua matanya meskipin sebenarnya ia sangat lelah. Bara tidur terlentang, kedua tangannya ia jadikan bantal. Matanya terus menerawang, menatap plafon kamar uwak.


Entah apa yang membuatnya tak bisa tidur, yang jelas ia lelah dengan semua ini. Ia ingin semuanya segera berakhir, dengan akhir yang baik tentunya.


Ia menoleh ke samping dimana Varel sudah mendengkur hakus tanda kalau adik iarnya tersebut sudah sangat pulas dengan dahi dan leher penuh keringat. Ya, suasana kamar tanpa AC mauoin kipas angin tersebut terasa sangat panas malam ini. Namun, Varel yang biasanya akan bawel, entah kenapa kini bisa tidur manis dalam kondisi tersebut.


Karena gerah dan tak kunjung bisa tidur, Bara memutuskan untuk keluar mencari angin. Namun, di teras rumah, ia melihat uwak ternyata masih duduk di sana.


"Uwak belum tidur?" ucap Bara seraya duduk di kursi sebelah uwak.


"Eh, pak Bara. Belum, uwak biasa tidur malaman. Ini sebentar lagi anak uwak berangkat kerja, baru uwak ke ruamhnya nemenin Dito tidur," sahut uwak tersenyum.


"Jam segini baru mau berangkat kerja wak?" tanyanya heran.


"Iya sift malam," jawab uwak.


"Suaminya kemana emang wak?" tanya Bara hati-hati. Sebenarnya ia tidak enak menanyakn hal itu, karena takutnya rumah tangga anak uwak tidak baik-baik saja dan ia takut menyinggung.

__ADS_1


"Suaminya kerja di luar kota. Palingan tiga bulan sekali baru pulang," jawab uwak.


Hati Bara merasa tersentil mendengarnya. Ia merasa kasihan dengan cucuk uwak yang harus berjauhan dengan ayahnya. Ia tidak bis membayangkan jika ia yang arus ergi merantau dalam waktu yang lama. Tidak bisa terus berdekatan dengan anak dan istrinya. Lebih-lebih, ia tak bisa membayangkan jika Syafira harus pergi bekerja hampir tengah malam seperti itu, terlalu beresiko, pikirnya.


Suasana kembali hening, tak ada obrolan lagi diantara keduanya hingga Bara berinisiatif untuk meminta maaf atas semua yang telah terjadi dengan ayah Syafira, yang tak lain adalah adik uwak.


"Semua di luar kendali saya wak, saya benar-benar minta maaf atas apa yang terjadi. Saya benar-benar menyesali hal itu. Seandainya waktu itu saya tidak buru-buru, mungkin semua tidak akan seperti ini," ucap Bara sungguh-sungguh. Meski sejak ertama datang tadi, sikap uwak sangat welcome terhadapnya seolah tidak pernah terjadi apa-apa, namun ia merasa tetap harus meminta maaf.


Uwak menganggukkan kepalanya seraya tersenyum,"Di maafkan. Uwak tahu, jika di tanya, kita semua pasti tak ingin hal seperti itu terjadi. Mungkin memang jalannya harus seperti itu. Uwak memang sempat terkejut saat tahu, tapi semua sudah terjadi. Tak perlu tetlalu di sesali. Yang terpenting sekarang adalah kalian hidup bahagia, saya yakin ayah Syafira juga akan merasa lega dan senang jika melihat anak-anaknya bahagia. Kamu yang sabar, Adel hanya perlu waktu untuk menerima kenyataan. Soal Fira... Uwak tahu kamu pasti lebih paham. Lebih tahu cara melunakkan hatinya. Uwak pergi dulu, sudah waktunya mamanya Dito berangkat. Istirahatlah, jangan terllu di pikirkan, serahkan semua kepada yang di atas," uwak mengakhiri ucapannya dengan beranjak dari duduknya lalu menepuk bahu Bara.


Bara tersenyum dan mengangguk," Terima kasih wak," ucapnya.


🌼 🌼 🌼


Pagi-pagi sekali, Syafira sudah berjalan-jalan keliling kampung. Hal itu menjadi kebiasaannya selama di rumah uwak, apalagi ia kini sedang hamil. Udara pagi yang sejuk dan jauh dari polusi sangat ia nikmati. Dengan kaki telanjang tanpa alas kaki, ia berjalan dengan pelan sambil menikmati udara pagi.


Bara yang baru saja keluar dari kamar mencari keberadaan Syafira, namun tak ia temui. Ia hanya melihat Adelnyang sedang asyik memberi makan ayam jagi milik uwak di halaman belakang, "Fira mana?" tanyanya kepada Adel.


"Sama siapa?" tanya Bara.


"Tahu! Sama Rizal kali!" jawab Adel ketus.


"Rizal? Siapa dia? Sepupu?" tanya Bara penasaran.


"Pemuda sini, ganteng orangnya. Suka sama kak Fira dia, cocok sih sama kakak, masih muda lagi. Kak Fira juga kayaknya nyaman sama dia, nggak kayak...."


Tidak mendengarkan smpai selesai ucaan Adel, Bara buru-buru pergi. Adel hanya melirik kepergian Bara sambil berdecak.


" Mau kemana kak? Buru-buru amat," tanya Varel yang baru saja keluar kamar.

__ADS_1


" Mau buat perhitungan sama orang," sahut Bara sambil berlalu. Hatinya sudah tak karuan, membayangkan Syafira jalan sama pemuda yang bernama Rizal tersebut. Ia tidak terima, lebih tepatnya takut. Takut jika Syafira benar-benar move on darinya dan berali kepada laki-laki yang lebih muda, darinya. Soal tampan, kaya, gagah, ia tak takut kalah saing. Taoi, jika soal usia, jelas ia sudah kalah telak, pikirnya.


Varel mengernyitkan keningnya, "Apa sih, pagi-pagi udah mau buat perkara aja," gumam Varel.


Varel menghampiri Adel, "Ayam aja yang di kasih makan, aku enggak nih?" ucapnya sambil mendekat.


Adel hanya meliriknya sekilas,"Emang om siapa, sampai harus aku kasih makan," cebiknya.


"Heh om lagi, Kakak, abang, mas, itu lebih cocok,"


"Dih nggak sadar ama umur, sama muka juga," sindir Adel.


Varel lngsung memegang wajahnya, apa iya setua itu, pikirnya.


"Ganteng gini kok, sini coba lihat baik-baik. Beneran udah kayak om-om enggak,"pinta Varel.


"Ih ogah, nanti aku lihat ke-GR-an lagi, dikiranya aku naksir. Om kan narsisi!"


"Hilih gayamu, sini cepetan coba pandang dari dekat baik-baik. Sepuluh detik, eh nggak, lima detik aja coba!" Varel menarik paksa tangan Adel hingga gadis itu berdiri dan memutar badannya hingga ia melihat wajah dengan jelas dalam jarak yang bisa dibilang sngat dekat.


Sesaat Adel bergeming, terpana dengan garis wajah yang nyaris sempurna di depannya. Bahkan matanya tak berkedip beberapa saat, menikmati pemandangan indah nan menyegarkan mata di depannya tersebut. Ia akui dalam hati, jika laki-laki dewasa di depannya memang... Tampan.


"Bagaimana, ganteng kan? Sampai nggak kedip gitu, nelan ludah lagi, " ucap Varel tersenyum seraya meniup mata Adel hingga berkedip dan sadar.


"Si-siapa bilang ganteng. Tua iya, GR!" sewot Adel, ia langsung pergi meninggalkan Varel. Mencoba menyelamatkan harga dirinya karena nyatanya jantungnya berdetak tak karuan karena tatapan kima detiknya berusan.


"Itu baru lima detik, coba tambah lima detik lagi! Auto jatuh cinta kamu!" teriak Varel, yang membuat Adel semakin menghentak-hentakkan kakinya kesal.


Varel tersenyum geli melihat tingkah Adel yang berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya karena kesal.

__ADS_1


"Dasar bocah!" gumamnya.


🌼🌼🌼


__ADS_2