
Sampai di rumah, Syafira langsung melepas seat belt dan turun dari mobil meninggalkan Bara. Bara turun dari mobil dan mengambil beberapa box berisi kue yang di bawa dari toko dan langsung menyusul Syafira dengan langkah panjangnya.
"Sudah tidak marah kan soal ci..." sebelum Bara meneruskan kalimatnya, Syafira yang berjalan di depannya langsung berhenti dan memutar badannya. Matanya melotot menatap suaminya yang tampak kerepotan membawa box-box itu.
"Jangan di bahas!" peringat Syafira tegas.
Bara pun langsung mengunci rapat-rap mulutnya tak bicara lagi.
"Bi, si kembar dimana?" tanya Syafira kepada pelayan kaena saat masuk ke dalam rumah ia tak mendapati keduanya.
"Tuan dan nona muda kecil sedang berganti baju nyonya, mereka habis selesai mandi," jawab Bibi.
Syafira menjawabnya dengan ber-oh-ria.
"Bawa ini ke dapur!" perintah Bara menyerahkan box-box yang ia bawa.
"Em itu, tolong bagi-bagikan kepada seluruh penghuni rumah ini ya bi, pelayan, tukang kebun, penjaga, pokoknya semuanya di bagi. Kecuali yang dua box yang ukurannya sedang itu. Itu yang satu untuk si kembar dan satunya untuk tuan," ucap Syafira.
"Baik nyonya muda," angguk bibi mengerti.
"Yang untuk tuan apa mau di makan sekarang? biar bibi ambilkan piring," tanya bibi kepada Bara.
"Tidak, tuan baru saja makan. Nanti saja biar saya yang mengambilkan. Bibi bawa saja semuanya ke dapur," sahut Syafira.
Syafira langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum menemui kedua anaknya. Bara hanya diam mengekor di belakangnya.
"Mas Bara mau ngapain ngintilin aku?" tanya Syafira.
"Kamu mau ngapain?" Bara malah bertanya balik.
"Aku mau ke kamar, mau mandi," jawab Syafira sambil terus melangkah.
"Sama, saya juga," ucap Bara santai.
"Jangan macam-macam!" peringat Syafira.
"Kenapa kamu jadi curigaan sih sama saya Fir? Saya mau ke kamar karena itu jga kamar saya. Saya mau mandi tapi tidak minta di mandiin kamu, jangan curiga begitu," kata Bara sambil membuka pintu kamar mereka.
"Iya ya, biasa kan begitu. Kenapa aku mikirnya kejauhan. Astaga mendengar dia bilang sama-sama mau mandi otakku traveling," batin Syafira.
__ADS_1
"Aku kan cuma mengantisipasi segala sesuatu yang akan terjadi mas. Hehe," Syafira menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Kamu itu ya otaknya, saya tidak semesum itu," kilah Bara
"Masa?"
"Mau tahu jika saya benar-benar mesum seperti apa?" Bara langsung menutup pintu kamarnya dan memepet tubuh Syafira, mengunci tubuh Syafira yang mentok dengan pintu dengan kedua tangannya. Tak lupa senyum menyeringai tersungging dari bibirnya.
"Tidak mas, siapa juga yang mau tahu. Minggir ih mau mandi. Mas Bara juga bau tahu!" Syafira pura-pura menutup hidungnya, padahal laki-laki di depannya itu tetap wangi meski berkeringat. Dan jujur Syafira sangat menyukai aroma maskulin itu.
"Ck, dasar. Udah sana mandi. Daya mau menghubungi om Jhon dulu," Bara melepas tangannya dari pintu. Syafira langsung lari ke kamar mandi.
Setelah Syafira hilang dari pandangannya, Bara langsung mengangkat tangannya dan mencium ketiaknya kana dan kiri secara bergantian.
"Perasaan enggak bau," gumamnya lalu pergi menuju ruang kerjanya.
🌼🌼🌼
Malam harinya. Keluarga kecil itu sedang berkumpul di ruang keluarga sambil menonton televisi setelah selesai makan malam. Yang di tonton ya tentu saja channel khusus anak-anak. Syafira tak ingin anak-anaknya menonton acara yang pantasnya hanya di tonton orang dewasa.
Bara dan kedua anaknya tampak menikmati acara kartun yang sedang tayang di layar datar berukuran delapan puluh delapan inch tersebut. Mereka bertiga anteng dan fokus menatap layar televisi. Hanya Syafira yabg tak begitu tertarik dengan acara tersebut, ia lebih suka menonton drama-drama korea atau china dan sejenisnya. Tapi, berhubung anak-anak juga ikut menonton televisi, Syafira mengalah.
Berbeda dengan Bara, meski usianya sudah bisa di katakan tua, selain menonton berita dan perubahan pasar saham, ia masih menyukai serial kartun seperti anak-anaknya. Menurutnya drama-drama seperti yang Syafira sukai itu hanya menambah rasa lelahnya saja setelah seharian berkutat dengan pekerjaan karena drama bisa ikut menguras emosi kita. Selain itu baginya kehaluan dunia drama itu sangat tidak masu akal.
Syafira duduk sambil memeluk bantal sofa, sementara si kembar menempel di sisi kana n dan kiri suaminya. Sesekali Syafira melirik ke arah mereka bertiga yang tampak sangat fokus melihat televisi, bahkan mata mereka hampir tak berkedip. Sesekali ketiganya tertawa dan kemudian fokus lagi.
"Yang anak mana, yang bapak mana?" batin Syafira menggelengkan kepalanya.
"Nathan, Nala udah ngantuk bekum sayang?" tanya Syafira. Namun, tak di hiraukan keduanya saking asyiknya melihat tv. Ia beralih mengajak Bara bicara, tapi suaminya itu sama saja tak merespon. Beberapa kali ia memanggil mereka bertiga tapi tetap tak di tanggapi.
Syafira mendesah, ia menarik tangan Bara dan melihat jam tangan mewah yang melingkar di tangan kanan suaminya tersebut. Saat tangannya di tarik oleh istrinya pun Bara tak merespon. Syafira mencubit tangan Bara.
"Aw!" pekik Bara saat merasa tangannya di cubit.
"Kenapa?" tanya Bara menatap Syafira.
"Lihat ini sudah jam berapa mas, anak-anak harus tidur. Kalau terlalu larut, besok susah bangunnya. Kalau bangun kesiangan sekolah telat," tukas Syafira.
"Ya tapi nggak perlu di cubit segala kan?" protes Bara.
__ADS_1
"Dari tadi tuh aku udah ngajakin kalian ngomong, tapi nggak ada yang menggubris. Mending cuma aku cubit pelan, rencananya mau aku gigit kalau di cubit nggak mempan,"
"Boleh, tapi jangan gigit tangan saya, yang lain saja," goda Bara.
"Sssttt mas, Ada anak-anak juga. Jangan mes..."
"Kamu yang mesum, saya mau bilang gigit tangan kanu sendiri,"
"Ish nggak lucu,"cebik Syafira.
Bara terkekeh dalam hati saat berhasil menggoda istri kecilnya tersebut.
Bara meraih remote televisi dan langsung menekan tombol off.
"Daddy?"protes Nathan saat televisi mati.
"Boy, Princess, lihat sudah jam berapa. Waktunya tidur," ucap Bara tegas.
"Iya daddy," sahut Nathan.
"Nala mau tidur sama bunda," rengek Nala.
"Baiklah ayo!" ajak Syafira bersiap menggendong gadis kecil tersebut.
"Tidak, Nala tidur sama aku," cegah Nathan.
"Nathan, semalam bunda udah tidur sama.daddy, malam ini sama Nala,"
Nathan mengembuskan napasnya kasar. Iya menjentikkan jarinya supaya Nala mendekat. Entah apa yang Nathan bisikkan, Nala menganggukkan kepalanya mendengar bisikan dari saudara kembarnya tersebut.
"Ayo sayang, kita ke kamar!" ajak Syafira.
"Tidak bunda, Nala tidur sama Athan saja. Bunda tidur sama daddy," ucap Nala.
"Loh kenapa?" tanya Syafira.
"Nala minta dedek bayi daddy, hunda. Kata oma, kalau Nala mau dedek bayi, suruh minta sama Daddy dan bunda," ucap Nala.
"Iya, tadi Nala minta oleh-oleh dedek bayi sama oma, tapi oma bilang yang bisa ngasih Daddy sama bunda, emang nggak bisa sendiri-sendiri? Harus bekerja sama ya daddy kalau berdua? " kali ini Nathan yang bertanya.
__ADS_1
"Kalau begitu, malam ini daddy sama bunda kerja sama yah buat dedek bayi, besok pagi biar udah jadi dedek bayinya. Kalau hubda tidur sama Nala kapan buatnya, kan kalau siang jarang ketemu daddy, daddy sibuk, bunda juga. Nala pengin punya dedek bayi kayak teman Nala, Lusiana," ucap Nala.