
๐ฆ*Flash back on**๐ฆ*
"Kondisi Adel tidak stabil, saat dia memikirkan sesuatu yang berat baginya, ia akan drop seperti tadi," ucap dokter sesaat setelah Syafira masuk ke dalam ruangannya. Ia baru saja memastikan kalau Adel kini kondisinya baik-baik saja setelah tadi adiknya tersebut kembali drop. Air matanya belum kering karena menangisi Adel yang beberapa saat yang lalu kembali drop.
Syafira berjalan sambil memikirkan cara supaya semuanya baik-baik saja setelah keluar dari ruangan dokter. Rencananya untuk jujur setelah kemarin bertemu dengan si kembar lagi-lagi harus ia pendam terlebih dahulu.
Pada akhirnya, Syafira memutuskan akan mengajak Adel ke tempat yang tenang dan damai. Dengan harapan, semoga kesehatan Adel bisa lebih cepat pulih sehingga ia bisa mengatakan semuanya tanpa takut Adel akan kenapa-kenapa.
"Sabar ya nak, kita harus kuat. Sampai waktu itu tiba, kita sekarang liburan dulu ya sama Onty Adel," gumamnya seraya mengusap perutnya.Kata liburan ia ucapkan sebagai penguat hatinya yang kini sangat merindukan Bara. Saat hamil muda seperti ini, memang perasaannya sangat sensitif dan egonya semakin menjadi. Padahal jika ia mau, ia bisa menghubungi suaminya, Bara asti akan mengerti jika mereka masih harus merahasiakan pernikahan mereka. Apapun pasti akan Bara lakukan, apalagi jika ia tahu kalau Syafira sedang hamil anaknya. Tapi lagi-lagi sifat egois dan sensitifnya yang entah kenapa kini semakin menjadi-jadi saat hamil membuatnya berpikir harus mandiri dan merasa bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Meski pada kenyataannya ia sebenarnya butuh sosok suaminya tersebut.
*๐ฆFlasback off๐ฆ*
Varel mengusap wajahnya kasar, beberapa hari ini memang ia cukup sepele dengan urusan Syafira. Ia pikir, keadaan akan aman setelah Adel sadar sehingga ia tak lagi menguntitnya seerti sebelumnya dan kebih berkonsentrasi ke perusahaan.
"Ini mah fix kabur mereka," gumam Varel mengingat tetangga Syafira mengatakan jika mereka membawa koper.
Varel segera merogoh ponselnya di saku celana, kemudian ia menghubungi Bara.
"Hais, nambah kerjaan aja sih mereka," gerutunya sambil menunggu panggilan terhubung.
"Ada apa Rel?" tanya Bara sambil melihat beberapa berkas di atas meja. Perasaan senang sedang menghinggapi hatinya. Selain karena kini perusahaan yang sudah kembali stabil dan ia disana hanya tinggal menunggu kliennya untuk menanda tangain kontrak kerja sama. Itu artinya masa depan anak dan istrinya akan tetap terjamin, termasuk terjaminnya saldo rekening bu Lidya, juga karena dua hari yang lalu ia mendapat pesn yang tak terduga dari Syafira.
"Assalamualaikum mas, bagaimana kabar mas Bara. Fira harap mas Bara sehat selalu. Fira cuma mau bilang kalau Fira selalu doain mas Bara dimanapun Fira berada. Jangan lupa makan meskipun sedang sibuk. Jangan sampai sakit,"
Ia mengingat kembali isi pesan singkat dari Syafira sambil tersenyum. Ia tahu meskipun sedang ngambek, tapi Syafira masih tetap peduli dengannya. Ya, walaupun setelah itu nomor Syafira kembali tidak aktif saat ia berusaha meneleponnya. Balasan chatnya juga hanya menandakan centang satu berwarna abu-abu. Pesan dari Syafira seolah sinyal untuknya segera menyelesaikan urusan pekerjaan dan fokus mengejar maaf sang istri.
"Kenapa diam Rel, mau bilang apa? Setelah ini aku ada meeting," ujar Bara ketika tak mendengar suara Varel.
"Aku sedang sibuk merangkai kata kak, gimana cara bicara ke kakak," ucap Varel sambil mengaruk tengkuknya.
"Mau bicara apa sih, pakai harus merangkai kata segala. Kayak mau ngelamar cewek aja. Cepat katakan to the poin! Nggak pakai lama!" sahut Bara setelah berdecak sebal dengan basa basi Varel.
"Tapi janji ya jangan marah," ucap Varel.
"Apa sih Rel, bicara enggak? Atau aku tutup teleponnya!" kesal Bara. Tidak biasanya adik iparnya itu bicara berbelit seperti itu, seperti sedang bicara dengan kekasihnya saja, pikirnya.
"Sipkan hati dan pikiran dulu tapi,"
"Satu..."
"Janji dulu kak,"
__ADS_1
"Dua....Ti..." jika Bara audah menghitung sampap tiga artinya ia akan mematikan telepon dan marah.
"Syafira kabur!" ucap Varel dengan cepat sebelum Bara melempar ponselnya karena kesal.
"Kabur bagaimana?" Bara sedikit membentak.
"Ya kabur, bawa koper dan bawa Adel pergi,"
"Kok bisa, aku udah bilang, jagain Syafira. Awasi dia terus! Kenapa bisa sampai dia pergi!"
"Maaf kak, karena Adel udah sadar, aku pikir Syafira akan anteng aja dan sedikit melunak hatinya, jadi aku bisa sedikit melonggarkan pengawasan terhadap dia. Beberapa hari aku konsen sama urusan kantor, tadi waktu aku cek ke rumah sakit ternyata Adelnudah keluar tiga hari yang lalu dari rumah sakit, maksa keluar lebih tepatnya. Terus kata tetangga mereka dua hari yang lalu mereka naik taksi bawa koper gede, nggak ada yang tahu pergi kemana. Maaf kak, aku kecolongan," sesal Varel.
"Kamu sudah pastikan kalau mereka benar-benar pergi?"
" Iya kak, apa lagi. Mereka pergi bawa koper. Kalau sekedar mau refresing atau shopping nggak mungkin bawa koper, cukup bawa dompet dengan isi penuh. Ini koper kak,"
Bara segera mematikan ponselnya karena kesal.
"Apa ini arti dari pesan kamu Fir? Secara tak langsung kamu pamit sama aku? Kemana kamu Fir? Segitu marah dan bencinya kamu sama aku Fir. apa kali ini aku akan benar-benar kehilangan kamu Fir, aku nggak sanggup Fir. Mas nggak sanggup," gumam Bara lirih.
Bara langsung kembali meraih ponselnya yang beberaa saat lalu ia campakkan di atas meja.
"Om, siapkan penerbangan ke Jakarta sekarang juga. Aku harus kembali sekarang," ucapnya setelah om John yang sedang mengantre minuman yang lagi hits yang kemarin tanpa sengaja Bara lihat di jalan sepulang dari kantor. Dan kali ini ia ingin mencicipi minuman itu, harus. Yang mana membuat om John lagi-lagi mengernyitkan dahinya tadi sebelum ikut mengantre berburu minuman tersebut. Dalam hatinya, ia terus mengkhawatirkan kondisi Bara yang makin hari makin keluar jalur, pikirnya. Ia takut ini semua efek stres Karena banyaknya masalah yang di tanggung tuan mudanya tersebut.
"Baik tuan muda, lalu ini minumannya jadi atau tidak?"
"Tidak jadi, di pending aja. Aku langsung ke Bandara sekarang," tukas Bara.
"Lalu urusan kantor?"
"Om yang handle, semuanya sudah beres, tinggal menunggu tuan Burhan menanda tangani kontrak. Om John tetap stay di sini sampai tuan Burhan menginjakkan kaki di kota ini dan memastikan jika ia pergi dari sini setelah semuanya beres," jelas Bara yang kini sudah memakai jasnya dan bersiap untuk meninggalkan ruangan tersebut.
" Baik tuan muda,"
" Ia hanya perlu memastikan jika kerja sama ini akan menguntungkan baginya, mengingat kondisi perusahaan kemarin yang tidak meyakinkan. Pintar-pintar om John meyakinkan beliau. Aku tutup teleponnya, om John hati-hati," ujar Bara sebelum ia mematikan ponselnya.
๐ผ ๐ผ ๐ผ
Dan di sinilah Syafira dan Adel sekarang berada. Di kampung tempat kelahirn ayah mereka dimana uwaknya tinggal. Ia berharap di kampung yang lebih tenang dan asri tersebut Adel akan segera pulih dan benar-benar sehat. Ia sengaja kembali menonaktifkan kartunya dan setelah mengirimi Bara pesan singkat karena suaminya itu pasti dengan mudah akan menemukannya.
"Kita main petak umpet dulu ya sama ayah, sayang," gumamnya setelah mengirim pesan pesan kepada Bara waktu itu seraya kembali melepas kartu sim ponselnya.
__ADS_1
"Kakak melamun aja sore-sore. Ngelamunin apa sih?" tegur Adel yang tiba-tiba datang dari dalam rumah uwak mereka. Berada di sana dua hari, kondisi Adel semakin terlihat sehat dan segar.
"Eh kamu dek, ngagetin aja. Kakak lagi liatin anak-anak itu main aja," Syafira menunjuk beberapa anak tetangga yang sedang asyik bermain di halaman rumah uwaknya yang bergandengan dengan halaman rumah tetangga. Tak ada pagar yang membatasi rumah mereka. Melihat anak-anak seusia si kembar itu bermain dengan cerianya untuk menghabiskan waktu sore hari setelah mereka mengaji di rumah salah satu ustadz, membuatnya ingat dengan dua anaknya tersbut sambil membayangkan reaksi keduanya yang pasti akan antusias jika tahu sebentar lagi mereka akan punya dedek bayi, hal yang selalu mereka rengekkan kepadanya dan Bara.
Syafira juga ingat dan rindu dengan suaminya. Tak di pungkiri kondisi emosionalnya saat hamil sangat tidak stabil. Kadang ia masih marah dan kecewa jika ingat soal kecelakaan itu. Tapi kadang ia juga sangat merindukan kasih sayang laki-laki yang berhasil membuahinya tersebut.
Kadang ia ingin mendapat kejutan tiba-tiba suaminya datang, merayu dan membujuknya. Tapi ia malah memilih kabur ke tempat uwaknya seperti sekarang dan memutus komunikasi dengan suaminya. Benar-benar kondisi emosi yang ia sendiri tak mengerti. Ia tahu, jauh di sana suaminya juga sedang berjuang sama sepertinya yang sedang berusaha untuk mengatakan semuanya kepada Adel.
"Kakak, aku lihat pucat dari kemarin. Kakak nggak enak badan ya?" tanya Adel seraya ikut duduk di samping Syafira mengamati anak-anak yang sedang bermain. Termasuk cucu uwak mereka yang tak tinggal satu rumah dengan mereka
"Enggak, paling sedikit masuk angin aja. Sedikit kembung perutnya, dan pusing. Nanti di gosok minyak kayu putih juga sembuh," kilah Syafira seraya menahan mual. Beberapa hari ini ia akan mual di pagi hari dan juga sore menjelang malam.
"Beneran kak? Apa kita periksa ke puskesmas terdekat aja?" Adel tampak khawatir mamandang wajah pucat sang kakak.
"Enggak usah, nggak apa-apa," tolak Syafira. Meskioun sebenarnya ia khawatir dengan janin di dalam perutnya. Tapi, jika ke puskesmas, pasti Adel akan tahu kalau di hamil.
Syafira merasa mualnya semakin menjadi, ia bangkit dari duduknya hendak menuju ke kamar mandi. Namun, rasa pusingnya juga kian ikut semakin parah hingga ia terhuyung yang bisa di pastikan akan jatuh jika Adel tak segera menahannya.
"Kak...!" pekik adel seraya menahan tubub Syafira.
"Kakak pusing banget dek," ucap Syafira setengah sadar. Sambil memegangi perutnya yang terasa kram.
"Kita ke puskesmas!" ucap Adel, ia langsung memanggil uwaknya yang sedang berada di dalam rumah.
"Nggak usah dek,"
"Harus!"
Syafira tak lagi bisa menolak. Ia juga merasa khawatir dengan bayinya karena perutnya juga terasa kram.
Sang uwak segera ke rumah tetangga yang memiliki mobil untuk mengantar Syafira ke puskesmas terdekat.
Tak butuh waktu lama, Syafira sudah selesai di periksa oleh dokter.
"Jangan terlalu banyak pikiran ya bu, orang hamil harus banyak bahagia. Jangan terlalu stres, bisa berkibat buruk buat calon anaknya. Apalagi ini masih di trimester pertama. Saya akan kasih vitamin dan penguat kandungan," ujar dokter kepada Syafira setelah memeriksanya.
Syafira terus memegangi perutnya, dalam hati terus meminta mamaf kepada anak yang ada dalam perutnya.
Adel yang sejak tadi menyimak ucapan dokter terperanjat tak percaya," Hamil dok? Kakak saya hamil?" tanyanya bingung dan tak percaya. Yang ia tahu kakanya belum menikah.
๐ผ ๐ผ ๐ผ
__ADS_1
๐ ๐ Sabar ya, sebentar lagi Syafira bakal Ketemu Bara kok. Jangan lupa like komen dan hadiahnya, terima kasih๐๐ผ๐๐ผ๐ ๐