
Syafira masuk ke dalam.kamar setelah menidurkan si kembar. Bara sedang duduk bersandar di ranjang dengan memangku laptopnya.
Syafira langsung menuju ke walk in closet untuk berganti piyama kemudian duduk di depan meja rias, memakai skincare sederhana yang biasa ia gunakan sebelum tidur.
"Anak-anak sudah tidur?" tanya Bara menoleh ke arah Syafira yang sedang menepuk-nepuk wajahnya pelan.
"Sudah," jawab Syafira.
"Kalau kurang keras nepuknya, sini aku bantu. Wajah sendiri kok di sakiti!" cibir Bara.
"Ini namanya perawatan mas, biar tetap cantik dan awet muda," jawab Syafira asal. Padahal ia hanya memakai gel yang biasa ia pakai untuk melembabkan saja.
"Tetap saja tidak akan secantik Olivia," ucap Bara tanpa sadar kalau ucapannya seakan menusuk hati Syafira.
Syafira tersenyum getir mendengarnya. Wanita mana yang tidak cemburu mendengar suaminya memuji perempuan lain, sekalipun itu almarhumah istrinya.
"Iya lah, aku mana bisa saingan sama mbak Olivia. Dari segi perawatan saja pasti dia jauh lebih mahal dan mewah, aku mah mampunya cuma beli pelembab aja. Ditambah mbak Olivia dulu punya suami yang menganggap dan mencintainya, memperlakukan dia layaknya seorang istri, di banjiri kasih sayang. Lah aku? Boro-boro di sayang, di anggap aja enggak," ucap Syafira santai namun kata-katanya benar-benar menonjok hati Bara.
Syafira bangun dari duduknya, ia menghampiri Bara yang seakan tak mendengar ucapannya barusan. Atau memang sengaja menulikan telinganya karena sebenarnya dalam hati, ia merasa bersalah sudah berucap seperti itu. Hanya saja gengsinya masih menggunung mengalahkan hati nuraninya untuk sekedar berucap kata maaf.
"Mas tadi bilang apa? Mau bantu aku menepuk pipiku? Ini dengan senang hati, puk-puknya pakai perasaannya, pakai cinta kalau bisa," ucap Syafira tersenyum menggoda, menyodorkan wajahnya ke depan Bara.
"Ayo mas cepat!" ucapnya lagi kali ini ia memejamkan matanya tanpa memudarkan senyumnya. Kakinya ia naikkan satu menindih kaki Bara sedangkan yang satu masih menapak di lantai.
__ADS_1
Bara hanya mampu menelan ludahnya kasar melihat tingkah Syafira yang mulai berhasil menggoyahkan imannya. Bagaimana tidak, piyama yang Syafira kenakan saat ini adalah piyama dress berbahan satin yang membuatnya terlihat seksi dan menggoda.
Bara akui, gadis yang kini menjadi istrinya tersebut memang cantik dan...memiliki bentuk tubu yang seksi namun lagi-lagi gengsinya mengalahkan segalanya.
Tangan Bara seakan tergerak ingin sekali membelai pipi mulus sang istri, bibirnya ingin sekali mengecup bibi ranum yang kini tepat berada di depannya tersebut.
"Cantik, natural," pujinya dalam hati.
Belahan dada gadis itu terlihat dengan jelas di sana membuat Bara semakin belingsatan.
"Kelamaan, aku ngantuk! Tidur dulu mas, aku tidur di kamar si kembar malam ini," ucapnya sengaja. Tadi ia sengaja memancing Bara, apa Bara benar-benar tidak tertarik dengan wanita selain Olivia, apa baginya wanita cantik dan seksi hanya Olivia. Dan sepertinya dugaannya benar, karena tadi Bara tak bereaksi sama sekali terhadapnya, pikir Syafira yang tak tahu sebenarnya jika kini Bara sedang dalam mode on.
Syafira langsung menurunkan kakinya yang tadi menindih Bara.
Namun, dengan cepat Bara menarik pergelangan tangan Syafira hingga tubuh Syafira berputar menghadapnya. Tanpa sela, Bara langsung mencium bibir Syafira.
Syafira tersentak kaget di buatnya, ia masih belum sadar apa yang sedang suaminya lakukan saat ini. Bara menghentikan aktivitasnya sejenak, kemudian kembali menciumnya penuh nafsu.
"Astaga ini yabg di namakan ciuman? Aku harus ngapain?" batin Syafira yang hanya mampu terdiam, tangannya berusaha meronta, tapi tenaga Bara jauh lebih besar, sehingga ia tak punya pilihan selain membiarkan laki-laki tersebut menyelusuri setiap sudut bibirnya.
"Itu sebagai pengingat kalau saya bukan seorang duda lagi," ucap Bara dingin.
Bara kembali mencium bibir Syafira, kali ini ciumannya semakin intens, seluruh wajah Syafira di sapu oleh bibirnya hingga ke leher. Sungguh, Syafira hanya bisa mematung, merasakan sensasi yang luar biasa pada tubuhnya, karena ini baru pertama kali baginya.
__ADS_1
Syafira akui kalau ia juga menikmati sentuhan lembut bibir suaminya. Namun, ia segera tersadar saat ekor matanya melirik ke arah photo Olivia yang masih terpajang di kamar tersebut. Tanpa terasa bulir matanya jatuh membasahi pipinya. Bara yang sedang sibuk mencumbu leher jenjangnya menghentikan aksinya ketika air mata Syafira jatuh ke pipinya.
"Dan ini bukti kalau saya masih normal!" Bara meraih tangan Syafira dan menyentuhkannya ke benda keras di balik celana piyama yang ia kenakan.
Plak! refleks tangan Syafira menampar pipi Bara saat laki-laki itu melepaskan ciuman dan genggaman tangannya.
"Maaf maaf, refleks!" ucap Syafira.
Bara memegangi pipinya yang memerah.
"Jangan coba-coba memancing saya jika belum siap. Saya berhak atas tubuh kamu Fira, ingat itu!" peringat Bara yang langsung pergi ke kamar mandi untuk menenangkan juniornya yang terbangun.
Sementara Syafira masih mematung ditempatnya sambil memandang photo Olivia.
"Bolehkan aku iri sama mbak Olive? Yang selalu berhasil memenuhi hati Mas Bara? Bolehkan aku cemburu mbak sebagai istrinya mas Bara saat ini? Apa yang harus aku lakukan mbak? Aku memang tidak berharap lebih darinya, tapi tetap saja sakit mbak. Maafkan saya mbak jika saya egois menginginkan sebuah rumah tangga seperti orang lain pada umumnya mbak. Atau saya lebih senang jika hanya menjadi babby sitter si kembar bukan menjadi ibu mereka atau istri yang tak dianggap oleh Mas Bara. Bahkan mas Bara tak segan-segannya memuji Mbak Olivia di depanku, aku tahu sampai kapanpun tidak akan bisa menjadi seperti mbak Olivia. Tapi ijinkan mas Bara untuk menerima pernikahan ini mbak," ucap Syafira sebelum akhirnya ia pergi ke kamar si kembar. Malam ini ia akan tidur di sana.
Jika kasusnya adalah pelakor, mungkin Syafira malah tidak akan sesakit ini karena dia bukan wanita yang mudah tertindas, tapi ini masalahnya adalah ada dalam diri Bara sendiri yang memang sengaja tidak mau membuka diri. Masih terlalu menjunjung tinggi pendiriannya yang menganggap jika dia mencintai wanita lain, sama saja mengkhianati almarhumah istrinya tersebut. Tanpa ingin memandang dari sudut Syafira yang kini sudah menjadi istrinya.
Tanpa Syafira tahu, Bara masih berada di balik pintu kamar mandi, ia bisa mendengar dengan jelas apa yang Syafira ucapkan karena pintunya tidak tertutup rapat.
"Maafkan saya Fira, semua perhatian yang kamu berikan buat saya dan si kembar membuat saya nyaman. Tapi, bagi saya menikah dan cinta hanya satu kali," gumamnya. Tanpa sadar jika dia sudah mulai jatuh hati dengan Syafira.
🌼🌼🌼
__ADS_1