Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 99


__ADS_3

Kegiatan panas semalam membuat seluruh badan Syafira terasa pegal dan lelah. Kepalanya terasa berat dan pusing. Ia yang baru saja membuka mata, mengingat-ingat apa yang terjadi semalam sampai badannya terasa sakit semua sambil memegangi kepalanya setelah berhasil menarik tubuhnya supaya duduk bersender di senderan ranjang.


"Astaga!" pekiknya saat serpihan ingatan betapa buasnya tingkahnya menyerang Bara semalam. Syafira menoleh ke arah suaminya yang masih terlelap, ia langsung menghentak-hentakkan kakinya dan merutuki dirinya yang tiba-tiba bisa seliar itu.


"Bagaimana ini?" gumamnya kembali menoleh ke arah Bara, apa yang harus ia katakan atau lakukan jika suaminya bangun, pikirnya.


"Kerasukan apa sih kmu Fir sampai urat malu putus begitu," gumam Syafira. Sungguh, rasanya Syafira ingin menangis jika ingat kejadian semalam.


"Udah jangan di sesali, toh suami sendiri yang di serang," suara Bara yang tiba-tiba membuat Syafira langsung turun dari tempat tidur sambil menarik selimut yang menutupi tubuhnya juga Bara. Ia langsung meringis menahan nyeri di bagian intinya. Kakinya juga terasa lemas, seperti tak bertenaga.


" Nggak apa-apa kan, sayang?" tanya Bara yang melihat istrinya menahan sakit. Ia bangun dan berusaha untuk mendekati Syafira.


" Ja--jangan mendekat. A--aku mau mandi, udah mau subuh mas," ucap Syafira langsung mundur satu langkah tanpa berani menatap mata Bara, ia langsung memutar badan dan dengan langkah terseok-seok menujuk ke kamar mandi. Efek akibat olah raga semalaman ternyata lebih parah dari saat hilang perawannya waktu itu.


Bara ikut meringis melihat istrinya seperti memaksakan untuk jalan.


"Mas gendong mau?" tawar Bara,


"Tidak, aku bisa sendiri," jawab Syafira cepat.


Bara hanya bisa mengernyit menatap punggung Syafira yang tak tertutup selimut itu menuju ke kamar mandi. Bahkan ia ikut mendesis ketika Syafira berhenti melangkah karena nyeri.


Meski sulit melangkah, akhirnya Syafira sampai juga di dalam kamar mandi, ia langsung mengunci pintu dan mulai menyalakan shower.


Hampir tiga puluh menit berlalu, namun Syafira tak kunjung keluar dari kamar mandi. Membuat Bara sedikit khawatir. Ia yang sudah memakai boxer tanpa atasan mencoba mendekati pintu kamar mandi untuk memanggil istrinya.


"Aku aja sampe lemas, ngilu begini apalagi Syafira," gumamnya pelan.


Bara mencoba membuka pintu kamar mandi, namun di kunci oleh Syafira.


Tok tok tok! "Sayang mandinya udahan belum? Gantian dong, mas jug mau mandi ini keburu telat subuh nanti," ucap Bara. Ia tahu pasti Syafira sengaja berlama-lama di dalam karena malu untuk keluar dan bertemu dengannya.


Bagi pria dewasa seperti Bara, sikap Syafira semalam sangat ia sukai dan menurutnya wajar jika istri minta duluan, meskipun ia merasa yang semalam itu memang di atas normal untuk ukuran perempuan belia yang baru tahap belajar soal urusan ranjang seperti Syafira. Namun, bagi Syafira sendiri itu adalah hal yang memalukan, keagresifan yang overdosis membuatnya seperti kehilangan muka di wajah suaminya.

__ADS_1


"Sayang, ayolah. Mas nggak kenapa-kenapa. Mas nggak ada gimana-gimana sama kamu. Kamu jangan malu sama mas. Mas justru berterima kasih kamu udah berusaha susah payah menyenangkan dan memuaskan mas. Ayo keluar sini kalau udah selesai mandinya," .


Ceklek! Akhirnya pintu itu terbuka. Syafira yang terlihat lebih segar hanya bisa menunduk, malu untuk menatap suaminya, "Aku udah, sana mas Bara mandi nanti sholat bareng, aku tunggu," ucapnya.


"Lihat mas," ucap Bara. Syafira tetap menunduk.


"Fira, sayang lihat mas kalau mas lagi bicara atau kamu ajak bicara mas, tatap mas sayang," Bara menarik dagu Syafira supaya mendongak dan menatap kedua matanya.


"Aku malu mas, ini pertama kali aku lepas kontrol seperti itu," ucap Syafira, matanya sudah berkaca-kaca.


Bara mendesah pelan mendengar ucapan Syafira. Biasanya istrinya itu bersikap bar-bar dan suka mancing-mancing, tapi kali ini sepertinya ia benar-benar merasa malu.


" Sini peluk mas," Bara menarik tubuh Syafira yang hanya memakai bathrobe ke dalam pelukannya.


Bara berkali-kali mengecup puncak kepala Syafira, "Nggak apa-apa, nggak usah malu sayang. Ini mas Baramu, suamimu, kamu berhak ngapain aja sama mas. Bahkan pahala bagi kamu kalau kamu yang minta duluan sayang. Udah nggak apa-apa, jangan malah kayak nyesel begitu, buat mas jadi serba salah karena semalam mas ladenin kemauan kamu yang minta nambah dan nambah lagi,"


" Tapi sekarang aku capek mas," rengek Syafira


" Iya iya mas tahu, nanti kalau pengen mainnya yang kalem aja, pelan tapi pasti menuju puncak. Kalau capek istirahat dulu, jangan kayak semalam yang langsung gas aja. Sekarang mas mandi ya, kamu buruan pakai baju dan tunggu mas ya?"


" Mas ih!"


Bara tergelak dan langsung menutup kembali pintunya, "Pintunya nggak mas kunci, kalau mau satu ronde lagi boleh, masuk aja," teriak laki-laki tersebut.


Syafira berdecak, biasanya yang mesum itu lebih dominan suaminya, walaupun ia akui kalau dia ketagihan dengan hentakan-hentakan yang Bara lakukan. Pesona mantan duda tampan itu memang selalu mampu membuat darahnya selalu berdesir dan ingin mendesah terus di bawahnya. tapi kenapa semalam ia seperti seribu kali lipat mesumnya dari Bara, ada yang salah, pikir Syafira, "Apa aku ketularan mas Bara ya mesumnya, apa ilmu yang dia ajarkan sudah aku serap dengan baik sehingga aku bisa jadi liar begitu. Ya ampun bayanginnya aja aku tambah ngilu," Syafira menutup wajahnya sambil geleng-geleng tak percaya. Ia buru-buru ke ruang ganti untuk memakai baju.


๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ


" Mas kopi, " Syafira meletakkan secangkir kopi dan camilan di meja depan suaminya kini sedang duduk memangku laptop.


Bara mendongak," Makasih sayang," ucapnya tersenyum lalu kembali fokus menatap layar di depannya.


"Mas," panggil Syafira yang kini duduk di sisi kanan suaminya.

__ADS_1


"Hem," sahut Bara.


"Soal semalam..."


"Nggak usah di bahas, nanti kamu malu lagi," Bara menoleh dan mengusap wajah Syafira lembut.


"Enggak bukan begitu. Aku ngerasa aneh sama diri aku, aku takutnya kerasukan jin atau apa mas, apa perlu aku ke kyai ya mas," menatap serius ke arah Bara, menunggu reaksi suaminya.


Bara balas menatap manik mata yang terlihat tak percaya diri dengan perilakunya semalam," Emang semalam istri mas ngapain? Kan ngapain-ngapainnya sama suami sendiri, nggak papa kalau kerasukan sekalipun mas suka kok,"


"Ih mas serius ini, semalam aku emang niatnya pakai baju itu, biar mas senang kan udah lama mas puasa. Pengennya goda mas gitu, tapi aku mau pakai jubahnya rasanya panas banget dan waktu liat mas Bara tuh pengennya..." Syafira tidak melanjutkan bicaranya, ia malu mengatakan kalau suamonya begitu terlihy menggairahkan dan sangat gagah.


"Pengen apa?"


"Pengin itulah, mas Bara pasti tahu. Mas tuh kelihatan gagah banget, nggak hanya tadi malam aja sih gagahnya, setiap hari juga tampan dan gagah,"


"apalagi saat nggak pakai baju dan lagi gagahin kamu ya Fir, gagah banget pasti, iya kan?"


"Iya, eh...maksudnya," Syafira terjebak omongannya sendiri. Bara terkekeh melihat Syafira salah tingkah.


"Udah jangan mikir macam-macam, mas jadi ngerasa kamu nggak ikhlas semalam,"


"Eh bukan begitu mas, ikhlas kok, lahir batin ikhlas beneran, tapi semalam kayak yang khilaf benar-benar nggak kekontrol, tapi ikhlas kok beneran," malah jadi merasa bersalah.


"Kalau ikhlas, sering-sering ya begitu, sering-sering khilafnya, mas sukaaa," Bara mencium bibir Syafira.


"Dengar dulu aku mas ih. Padahal cuaca semalam tuh dingin loh mas, ibuk aja sampai bikinin aku teh, katanya biar hangatan dikit badan aku. Setelah pamit habis ngeteh bareng ibuk, aku ganti baju di kamar mau nunggu mas Bara pulang eh malah hawanya nggak hangat lagi tapi panas, gerah dan...rasanya aneh pokoknya, pengin banget begitu," cerita Syafira.


Mendengar cerita Syafira, Bara seperti mendapat kesimpulan apa yang melatar belakangi kebuasan istrinya semalam," Dasar mak mertua nggak ada akhlak, istriku di kasih obat set*n pasti," gumamnya. Untung aja dia datang tepat waktu kalau tidak, entah bagaimana jadinya, siapa yang akan menjadi penyalur hasrat sang istri, masa iya bawahannya yang bertugas di rumah. Bara menggedik ngeri. Amit-amit, batinnya.


Entah harus terima kasih atau marah kepada emak mertuanya yang gokilnya kadang bikin ia was-was itu. Bagiamana tidak was-was jika bu Lidya terkadang melakukan hal yang bahkan orang lain tidak kepikiran.


๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ

__ADS_1


๐Ÿ’ ๐Ÿ’ Jangan lupa like, komen dan hadiahnya... Kalau masih ada vote boleh juga dong buat mas Bara dan Syafira..terima kasih๐Ÿ™๐Ÿ™


Salam hangat author โค๏ธโค๏ธ๐Ÿ’ ๐Ÿ’ 


__ADS_2