
Selesai makan malam, Bara melajukan mobiknya ke sebuah supermarket untuk membeli buah-buahan segar. Entah kenapa, malam ini ia ingin sekali makan rujak, seerti yang biasanya Syafira buat. Om John hanya mengikutinya tanpa banyak bertanya.
Sesampainya di apartemen, Bara langsung meminta om John untuk mengeksekusi buah-buahan itu. Rasanya ia sudah tak sabar ingin melihat laki-laki yang berusia lebih dari searuh abad itu membuatkan rujak untuknya.
"Bisa tidak om?" tanya Bara saat melihat om jhon sedang mekihat ponsel pintarnya dengan tekun.
"Sebebtar tuan muda," jawab om John tanpa menoleh. Ia masih khusyuk menyimak video cara membuat rujak dengan dahi mengernyit. Mantan duda ini benar-benar sedang mengujinya, pikir om John. Tapi, begitulah om John, sejak Bara kecil ia tak pernah menolak kemauannya. Apapun selalu ia turuti selama batas wajar. Tapi, apa kali ini terbilang wajar? Entahlah kenapa om John merasa ini sedikit aneh dan anti mainstream. Sudah keluar jalur dari sikap Bara yang biasanya.
"Jangan lupa di kasih es om, biar tambah segar," pesan Bara sebelum ia pergi meninggalkan om John dengan kebingungannya.
Bara menyalakan televisi sambil menunggu om John menyelasaikan misinya malam ini. Ia ingat bagaimana keseruan keluarga kecilnya ketika menonton televisi bersama. Dimana si kembar kerap kali berebut acara televisi.
Bara mengembuskan napasnya pelan, ia meraih ponselnya dan menghubungi si kembar. Ia sangat merindukan mereka. Sebwkum menghububgi si kembar, ia melihat kembali pesan-pesan yang ia kirimkan kepada Syafira. Semuanya masih sama, hanya centang satu abu-abu. Ternyata istrinya belum mengajtigkan ponselnya sejak malam ia pergi.
Saat menghubungi si kembar, Bara selalu takut jika mereka menanyakan bundanya. Ia tak tahu harus menjawab apa. Dan benar saja, sejak melihat wajah kedua anaknya di layar, Nala sudah menyerangnya dengan menanyakan keberadaan sang bunda.
"Daddy! We miss you! Bunda mana? Nggak kelihatan?" ucap Nala yang mencari-cari keberadaan Syafira. Karena sebelumnya sesuai permintaan Bara, bu Lidya mengatakan jika Syafira harus menemani Bara ke luar kota.
"Iya, bunda mana? Aku kangen bunda," imbuh Nathan yang duduk di samping Nala.
Bara membuang napasnya pelan, "Kalian nggak rindu sama daddy? Boy, Princess!" tanya Bara mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Tentu saja rindu daddy!" jawab Nala tak terima atas tuduhan sanga ayah.
"Tapi rindu bunda juga," sambung Nathan cepat.
"Emmmm, bunda sedang di dapur bikin rujak. Daddy pengin yang segar-segar, jadi bunda sedang buatin buat daddy," jawab Bara sekenanya mencari alasan. Ia menoleh ke arah dapur, seandainya saja benar yang sedang berada di daour itu Syafira dan bujannya om John, pikirnya.
Ternyata Syafira tak menemui anak-anak selama ia berada di luar kota. Semarah itukah, sampai ia tak lagi peduli dengan si kembar, pikirnya.
"Bunda juga sangat merindukan kalian, kalian jangan nakal ya, nurut sama oma dan uncle selama daddy dan bunda nggak di rumah. Ini sufah malam kalian lekas tidur. Daddy tutup dulu teleponnya, daddy masih banyak pekerjaan," ucap Bara. Rasanya ia tak sanggup lagi untuk berbohong kepada si kembar. Mereka terlalu cerdas untuk selalu di bohongi. Dari sorot mata mereka, sepertinya mereka sudah menaruh curiga, terutama Nathan.
__ADS_1
Bubda yang mereka kenal, pasti akan meluangkan waktu ubtuk sekedar menyapa mereka karena rindu. Tidak mungkin melewatkan obrolan dengan mereka hanya karena rujak. Sesibuk apapun pasti Syafira selalu memprioritaskan si kembar.
"Tapi Nala mau lihat bunda daddy, Nala kangen bunda mana, kalau kangen kenapa nggak mau bicara," rengek Nala.
"Besok ya, kalau bunda sempat daddy suruh telepon Nala. Tapi Nala janji harus jadi princessd daddy yang baik dan penurut, nggak boleh cengeng dan harus sabar kalau bunda belum telepon juga. Okey?" sahut Bara.
"Janji?"
"Hemmm," Bara mengangguk seraya tersenyum.
"Boy, ajak adikmu buat tidur. Ini sudah malam," ucapnya kepada Nathan yang terdiam penuh curiga terhadapnya.
"Hem," Nathan mengangguk. "Ayo Nala kita tidur, bunda tidak suka jika kita tdiur kemalaman, kalau bunda marah nanti bunda tidak telepon," ajaknya keada Nala kemudian.
"Bunda nggak suka marah, bunda baik Athan," jawab Nala.
"Iya bunda baik, Ayo tidur! Tidur malam-malam tidak bagus buat wajahmu yang syantik, nanti cepat keriput kayak oma," ucap Nathan.
"Kata Nathan oma keriput!" jawab Nala. Bu Lidya hanya bisa mengerutkan keningnya, "Ya sudah ini minum susu terus tidur, nggak nurut besok nggak jadi oma ajak jalan-jalan ke zoo ya,"
Dan si kembar pun langsung menenggak habis susu yang di bawa bu Lidya. Bara hanya bisa diam menyaksikannya dari seberang layar.
"Daddy, kita tidur dulu. Selamat malam daddy," ucap Nala kemudian.
"Selamat malam princess," Nala melakukan kiss jauh kepada Bara lalu berjalan mendahului Nathan.
"Selamat malam daddy," ucap Nathan.
"Selamat malam boy, jaga adikmu ya. Dan... Nice dream," sahut Bara. Nathan mengangguk lalu pergi meninggalkan bu Lidya yang bertugas mematikan ponsel si kembar.
"Bagiamana kabarmu Nak?" tanya bu Lidya. Kini wajahnya menyiratkan kesedihan setelah si kembar tak lagi di sana.
__ADS_1
"Bara baik ma, secepatnya Bara akan kembali. Titip anak-anak. Doakan Bara semiga semuanya cepat selesai dan kembali seperti semula," sahut Bara.
"Mereka cucu mama, tak perlu kamu bikang titip pasti mama jagain. Kamu baik-baik di sana. Jangan kupa makan dan jaga jesehatan. Mama lihat kamu kurusan. Apa kamu sakit?" timpal bu Lidya, tak ada canda seperti biasanya. Ia sekuat tenaga menahan tangisnya.
" Makan ma, kakau Bara sakit dan jadi jelek, nanti Fira nggak mau lagi sama Om-om kayak Bara," ucap Bara tergelak, mencoba mencairkan suasana.
" Ck, dasar kamu tuh. Maafin mama, kali ini mama nggak bisa bantu banyak selain doa,"
"Itu yang utama, ya udah. Bara tutup dulu teleponnya. Masih banyak yang harus Bara kerjakan," ucap Bara.
"Hem, cepat balik dan.... Bawa istrimu kembali. Mama nggak mau kehilangna anak peremouan lagi," ucap bu Lidya.
"Hem," Bara mengangguk dan langsung mematikan panggilannya.
Bara meletakkan ponselnya di atas meja. Ia memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.
" Marahlah denganku sebosanmu Fir, tapi jangan libatkan anak-anak dalam amarahmu. Kasihan mereka yang tak salah dan tak tahu apa-apa. Yang mereka tahu hanya mencintaimu dengan tulus," rintih Bara dalam hati.
Om John yang sejak tadi menyimak obrolan Bara dan si kembar juga bu Lidya, benar-benar merasa bersalah. Bara memang salah, taoi ia lebih salah hingga akhirnya menjadi seperti ini.
" Tuan muda, ini rujaknya sudah jadi,"ucao om John seraya mendekat setelah ia berhasil menghapus bulir bening yang keluar dari kefua matanya.
Bara mulai memakan rujak buatan om John, ia langsung mengernyit," Tidak enak om, nggak kayak buatan Syafira," ucap Bara.
" Bayangkan saja rujak itu nyonya muda, tuan. Yang masih muda, ranum, segar dan sangat nikmat, yang bikin tuan muda ketagihan," ucap om John.
"Tetap beda rasanya om.
"Kan, kalau bayangin rujak ini Syafira, jadi ambyar imajinasiku om. Tetap beda rasanya om, nggak hisa bayangin rujak ini jadi Syafira. Nggak dapat feelnya. Tetap enakan Syafira kemana-mana," cibir Bara namun tetap mengunyah rujak yang rasanya entah tersebut.
🌼 🌼 🌼
__ADS_1