
"Ih nakal," ucap Syafira mengusap pipi Bara yang kini sudah berada tepat di atas pundaknya. Satu kecupan Syafira daratkan di pipi itu kemudian.
"Apa masalahnya serius mas?" tanya Syafira. Ia bisa merasakan napas berat suaminya.
"Cukup serius, sepertinya ada yang diam-diam berkhianat. Emmm, mas perhatiin kok ini ukurannya semakin besar ya sayang. Makin mantap di genggaman mas," tangannya sudah bergerilya di dada Syafira.
"Makin besar juga karena kerjaan mas Bara kan," ujar Syafira.
"Tapi serius sayang, kamu kelihatannya makin montok, padat berisi," Bara langsung mencium leher Syafira. Masalah yang ia hadapi cukup berat, ia butuh sedikit penyegaran.
"Maksud mas, aku tambah gemuk begitu?" tanya Syafira kesal. "Tapi kayaknya emang aku tambah berat badannya, ngemil aja bawaannya. Tadi aja biskuit yang di bawa Mia hampir setengahnya aku habisisn. Pengin makan terus, harus diet nih kayaknya," imbuhnya. Was-was juga kalau gemuk, bisa-bisa Bara melirik perempuan lain, pikirnya.
"Aku gemuk kan mas, gendut kan," tanyanya lagi heboh. Merasa tidak percaya diri. Kalau dulu dia cuek, tapi sekarang beda, suaminya sudah melihat seluruh lekuk tubuhnya, akan malu jika bentuk tubuhnya tidak bagus lagi.
"Enggak, cuma tambah seksi aja, makin seger dilihatnya. Apalagi ini, kok makin kencang yah," Bara kembali meremat dada Syafira dari luar bajunya. Bara merasa akhir-akhir ini Syafira sangat sensitif, mudah tersinggung dan parno sendiri.
"Mas ahh, aku harus lanjut kerja lagi," kata Syafira, jika lama-lama di sana bisa kebablasan pikirnya.
"Ini juga kerja, nyenengin suami, dapat pahala lagi," Bara langsung memagut bibir Syafira. Tangannya mulai melepas satu persatu kancing blousa berwarna biru muda yang Syafira kenakan.
__ADS_1
"Mas lagi pusing, mas lagi pengin, boleh?" Bara meminta persetujuan Syafira untuk melakukan lebih. Syafira menoleh ke arah pintu, ia takut jika tiba-tiba ada yang masuk saat mereka bercinta.
Bara langsung mengambil remote dan menutup seluruh ruangan dengan tirai dan pintu otomatis terkunci," Aman," ucapnya tersenyum menyeringai.
Syafira langsung menarik tengkuk suaminya, mereka saling memagut dan melilit lidah satu sama lain. Bara mengangkat pinggang Syafira hingga duduk ke meja tanpa melepas ciuman panas mereka.
Sebulan megang di kantor, Bara cukup tangguh bisa menahan untuk tidak melakukannya di kantor. Paling pol biasnya ia hanya mencium dan meraba-raba saja. Namun, kali ini ia benar-benar butuh itu dan Syafira tak bisa menolak, jika suaminya sudah menghendakinya.
Ciuman bara berpindah ke telinga dan berakhir di leher jenjang Syafira, membuat Syafira semakin bergetar, "Mas yakin mau di sini?" tanya Syafira, melayani suaminya di kantor membuatnya sedikit was-was. Pikiran polosnya terlalu takut, meski pintu sudah di kunci rapat, aneh aja pikirnya.
"Mas nggak bisa nunggu sampai pulang sayang, boleh kan?" sekali lagi Bara meminta persetujuan Syafira. Padahal jika Syafira menolakpun ia akan memaksa.
Syafira mengangguk pasrah, ia juga sudah on, ingin sekali merasakan patukan si piton. Bara tersenyum lalu menggiringnya ke sofa," Di sini lebih nyaman," ucap Bara, ia kembali menyesap bibir yang menjadi candunya tersebut. Bibirnya berpindah ke dada yang di rasa Bara semakin besar dan menggoda, bak buah melon tersebut. Menyesap benda kenyal tersebut secara bergantian dengan rakus tanpa melepas blouse yang Syafira kenakan, hanya pengait branya saja yang ia lepaskan mengingat ini di kantor, ia harus bermain cantik dan cepat. Tidak menunggu lama, tangan Bara sudah menyusup masuk ke rok span yang panjangnya di bawah lutut tersebut. Sekali tarikan, ia berhasil meloloskan cd berwarna hitam milik Syafira. Memainkan tangannya di area sensitif Syafira beberapa saat, bibirnya terus memagut bibir syafira tanpa jeda, hanya sesekali melepas pagutannya sekedar untuk menghirup oksigen. Permainan tangan bara berhasil membuat Syafira mencapai puncaknya pertama kali.
Syafira mengangguk, ia membantu Bara melepas kancing kemejanya. Ia meraba dada bidang Bara yang membuatnya selalu menelan ludahnya jika melihatnya tersebut. Tangannya menyusuri dada itu, turun ke perut dan berakhir di pengait celana bahan yang di kenakan Bara. Tangannya dengan cepat membantu melorotkan celana bahan tersebut, hingga tersisa boxer berwarna senada dengan cd yang di kenakan Syafira. Terakhir kali melihat benda di balik boxer itu semalam, tapi Syafira merasa aneh ketika melihatnya semalam.
Syafira meraba dan meremat si piton yang sudah tegak beriri tersebut dari balik boxer, membuat Bara mengerang nikmat. Kalau saja di rumah, pasti ia sudah meminta Syafira menyervis si piton dengan mulutnya. Beberapa kali di ajari, istrinya itu sudah lihai membuatnya ketagihan.
"Sekarang aja ya, di buru waktu soalnya," Bara langsung menurunkan boxer yang ia kenakan, dan.... "Hoek...," Syafira langsung menutup mulutnya. Sama seperti semalam, ia mual melihat si piton. Apa karena ia sedang tidak enak badan ya, pikir Syafira. Badannya memang terasa sedikit kurang fit sejak kemarin.
__ADS_1
Kening Bara langsung mengernyit, menatap syafira yang sedang menutup mulutnya "Kenapa sayang? Kamu sakit?" tanyanya heran.
Syafir menggeleng, "Enggak, nggak apa-apa," ucapnya, jika jujur bilang mual gegera lihat si piton bisa tersinggung nanti suaminya. Pasalnya itu benda pusaka kebanggaan suaminya.
"Udah cepat masukin!" Syafira menarik rok spannya sedikit ke atas, lebih cepat terbenam lebih baik pikirnya. Ia jadi tak harus berlama-lama melihatnya.
Bara terus bergoyang maju mundur cantik, ia mengubah posisi Syafira membelakanginya dan berpegangan pada sofa. Ia kembali memasuki goa sempit itu, lalu kembali bergerak.
Di tengah-tengah permainan panas tersebut, tiba-tiba terdengar pintu di ketuk, membuat Syafira yang mendesah langsung mengatupkan mulutnya. Mereka berdua menoleh ke pintu.
"Tuan muda, apa tuan ada di dalam? Ada yang ingin saya sampaikan," terdengar suara om Jhon bicara keras dari luar.
" lagi nunggang, eh nanggung om, lima belas menit lagi om kesini lagi," ucap Bara berteriak.
Om Jhon menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Nunggang apa? Kuda? Nanggung? Nanggung dosa? Ia menggelengkan kepalanya tak mengerti. Namun tak ingin terlalu kepo, iapun pergi meninggalkan ruangan tersebut.
๐ผ ๐ผ ๐ผ
๐ ๐
__ADS_1
Jangan lupa like jomen DAN hadiahnya, tengkyu para kesayangan...
Salam hangat author๐คโค๏ธโค๏ธ๐ ๐