
"Makasih sayang, I Love you," Bara mengecup kening Syafira dan menjatuhkan tubuhnya tepat di samping Syafira setelah pertempurannya mencapai puncak.
Saat sedang mengatur napasnya, Bara mendengar Syafira terisak.
"Kok nangis? Kurang ya? Mau lagi?" tanya Bara dan pertanyaannya justru membuat Syafira semakin terisak. Membuat Bara mengacak rambutnya gusar, perasaan tadi istrinya itu menikmati kegiatan malam panjang mereka, ya meskipun selalu protes dan minta berhenti sih, tapi setiap Bara mau berhenti, eh dianya minta lanjut. Terus kenapa sekarang malah menangis.
"Jangan nangis dong, bilang sama mas mau apa?" ucapnya lembut.
"Aku udah nggak perawan lagi huwaaa, ayah Fira udah jebol huwaaa!" Tangis Syafira semakin pecah.
Mendengarnya, Bara mengembuskan napasnya di barengi dengan mengusap wajahnya kasar. Bingung harus bilang apa, Bara hanya mampu menggaruk kepalanya yang tidak gatal tersebut.
"Fira, sayang dengar aku. Kita adalah suami istri, dan kamu juga sudah bisa di bilang dewasa jadi melakukannya dengan suami kamu itu bukanlah sebuah dosa," Bara menangkupkan kedua tangannya di pipi Syafira, mencoba mengajak bicara Syafira baik-baik.
"Yang selama ini aku jaga, akhirnya hilang," ucap Syafira. Bara mendengus antara merasa bersalah, kasihan tapi juga kesal. Sepertinya Syafira tidak mendengar ucapan Bara barusan.
"Maaf," ucap Bara lesu tanpa tenaga, ia menunduk dan menurunkan tangannya dari pipi Syafira.
"Eh...?" mendadak tangis Syafira berhenti.
"Mas Bara kenapa?" tanyanya polos sambil menggeser posisi tidurnya menjadi duduk dan bersandar di ranjang. Benarkan, sejak tadi Syafira asyik dengan tangisnya sendiri tanpa fokus kepada suaminya.
"Maafkan aku, semua salahku yang tidak bisa menahan untuk tidak meminta hakku sampai kamu benar-benar siap," ucap Bara dengan wajah tertunduk.
"Ih kok gitu? Mas menyesal melakukannya?" Kan, salah lagi. Yang nangis siapa yang di bilang menyesal siapa. Bara benar-benar merasa frustrasi sendiri.
"Aku memang banyak salah sama kamu, tapi jangan hukum aku begini juga dong sayang, aku nggak bisa ngembaliin perawan kamu, kecuali di operasi," ucapnya pasrah.
"Maksud mas apa sih? nggak ngerti,"
"Kamu kenapa menangis Fir, saya jadi merasa bersalah kalau begitu. Aku sadar banyak salah sama kamu, tapi aku cinta sama kamu Fir,"
"Oh itu, nggak apa-apa nas. Cuma terharu aja,"ucap Syafira santai tanpa dosa.
Bara mengernyit mendengarnya. Terharu dia bilang? Astaga, benar-benar bikin esmosi sekaligus gemas. Kalau tidak kasihan sudah digagahi lagi tuh alumni perawan.
"Astaga kamu ini, mas udah hampir jantungan tadi. Kirain kamu benar-benar menyesal," ucap Bara seraya menarik Syafira ke dalam pelukannya.
"Mas ih, pakai celananya. Itunya kocar-kacir tuh, malu lihatnya!" mendorong dan menunjuk Bara junior yang sudah siap untuk bangun lagi.
"Bangun lagi sayang, tanggung jawab," goda Bara.
"Hiks, beneran tega? Beneran mau lagi? Enggak kuat, hiks," rengek Syafira, belum siap jika harus melakukannya lagi mengingat ini pertama kali baginya.
"Bercanda sayang, ya udah tidur gih!" Bara mengecup kening Syafira. Menggiring tubuh polos istrinya untuk kembali berbaring lalu menyelimutinya. Hatinya meringis melihat tanda merah hasil karyanya hampir di seluruh tubuh istrinya.
__ADS_1
"Pakai celananya!" seru Syafira sebelum memejamkan matanya.
"Iya," sahut Bara tersenyum, rupanya istri kecilnya itu mengantisipasi kemungkinan yang akan terjadi jika dia tertidur.
Bara pun bernapas lega ketika Syafira sudah tertidur pulas dengan wajah yang terlihat sangat kelelahan akibat ulahnya.
🌼🌼🌼
Pagi menyapa, Bara kini tengah memandang wajah sang istri yang masih terlelap dalam dekapannya.
Pelan-pelan Bara turun dari tempat tidur ketika bel kamar hotelnya bunyi yang ternyata pelayan hotel yang mengantar sarapan untuk mereka berdua. Tak lupa ia tinggalkan kecupan singkat di kening Syafira.
Bara kembali masuk dan meletakkan sarapannya di meja. Setelah itu ia kembali ke ranjang, di lihatnya Syafira belum juga ada tanda-tanda akan bangun. Ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Selesai mandi, Bara mengambil remote untuk membuka gordyn supaya cahaya matahari bisa masuk.
Syafira mengerjap, matanya menyesuaikan dengan cahaya matahari yang menyilaukan matanya.
"Bangun sayang, udah pagi," ucap Bara yang kini berdiri berkacak pinggang di samping tempat tidur untuk menghalau sinar matahari yang membuat silau Syafira.
"Astaga, udah pagi mas? Telat bangunin anak-anak!" seru Syafira yang langsung menyibak selimut yang menutupi tubuh polosnya.
Syafira langsung menutup kembali tubuhnya begitu ia sadar kalau tidak memakai apapun.
"Anak-anak aman bersama mama sayang, kau lupa semalam kita..."
"Kenapa mesti malu sih? Suami istri biasa ngomongin begituan, bukan hal yang tabu," sahut Bara terkekeh.
"Aku belum terbiasa mas. Masih terasa tabu buat aku," ujar Senja menarik jari telunjuknya lalu duduk bersila. Ia meringis, sedikit manahan sakit di antara kedua pahanya.
"Kamu harus terbiasa. Apalagi kalau kamu yang nawarin buat iya-iya duluan, pahala loh Fir,"
"Tapi nggak sekarang mas, masih trauma akunya,"
"Lah bukannya enak sayang? Buktinya nggak mau udahan," goda Bara lagi.
"Ih nggak nyadar, sendirinya yang nggak mau udahan juga," cebik Syafira.
"Maklumlah Fir, udah lama puasa. Sekali buka puasa ya pengin semua menu di coba," ujar Bara yang tak di mengerti oleh Syafira.
Pandangan Syafira tertuju kepada meja dimana sudah ada beberapa menu sarapan diatasnya. Syafira mengelus perutnya yang sedang keroncongan. Ia menelan ludahnya mencium aroma makanan yang tersaji. Tanpa pikir panjang, Syafira langsung turun dari tempat tidur sambil memegangi selimut yang menutup tubuhnya. Lagi-lagi ia meringis menahan sakit hingga tubuhnya terseok saat hendak jalan.
"Mau kemana kamu Fir?" Bara langsung menahan tubuhnya dengan memegangi kedua bahu kanan dan kiri Syafira supaya tidak jatuh karena terseok.
"Makan mas, lapar sangat ini. Semua tenaga rasa sudah terkuras tak tersisa. Badan serasa rontok semua tak bertulang," ucap Syafira.
"Kamu tuh ya, badan masih bau keringat juga. Keringat aku juga ada nempel di tubuh kamu. Mandi dulu Fira sayang," Bara menekan baru Syafira supaya duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
"Makan dululah mas ya?"
"Enggak! mandi dulu! Biar segeran nanti makannya lebih fresh jadi menikmati makanannya nggak sambil cengar-cengir cengir nahan bau keringat,"
"Tapi mas...."
"Sayang....sekali kali manut napa di bilangin mas,"
"Hem, ya udah mandi," jawab Syafira lesu.
Syafira menatap lekat suaminya.
"Apa? Kenapa? cepat mandi sayang baru boleh sarapan," celoteh Bara karena Syafira tak kunjung berdiri untuk mandi.
Syafira berdiri dan berusaha jalan, sakit sih tapi masih bisa jalan tidak tak separah sampai benar-benar nggak bisa jalan meski tak seperti jalan biasanya yang lancar seperti tol. Atau mungkin Bara kurang galak kali ya ranjang, sehingga efeknya tidak terlalu drama, pikir Syafira.
"Mas nggak pengin gendong aku gitu ke kamar mandi?" Syafira berhenti dan menoleh ke arah Bara yang kini sedang mengamati jalannya sambil berkacak pinggang.
"Bisa jalan gitu sayang, masa mau di gendong?" Bara pura-pura cuek.
"Ini orang nggak ada romantisnya," cebik Syafira dalam hati.
Tiba-tiba Syafira punya ide, ia pura-pura meringis kesakitan dan jalannya ia buat semakin tertatih dan penuh perjuangan.
"Aduh aduh, sakit ini. Enggak bisa jalan beneran," ia melirik ke arah suaminya yang masih cuek. Sengaja memang Bara melakukannya.
Kesal karena tak di respon, Syafira menghentakkan kakinya, ia langsung meringis kesakitan beneran karena hentakan kakinya berefek pada intinya.
"Aku mau makan aja dulu, titik no debat!" kesal Syafira kemudian belok arah menuju ke meja.
Bara terkekeh melihat tingkah menggemaskan sang istri. Ia menggelengkan kepalanya dan langsung berjalan mendahului Syafira, berhenti dan berjongkok tepat di depan istrinya tersebut.
Syafira hanya menatap suaminya aneh, ngapain sih nih orang, pikirnya.
"Katanya sakit, mau di gendong. Ayo naik, mas gendong anterin ke kamar mandi," ucap Bara menepuk-nepuk punggungnya sendiri.
"Ogah, ya kali mas mau gendong di punggung, kayak ngangkut karung aja mentang-mentang sekarang aku kayak buntelan lemper begini,"
Bara tersenyum tipis mendengarnya, istrinya yang di gulung selimut memang seperti lemper, membuatnya jadi pengin makan. Tapi bukan makan lemper, melainkan pengin makan Syafira lagi.
"Ck, emang nggak peka, nggak romantis," gumam Syafira berdecak sebal.
"Gini kan maunya?" tiba-tiba Bara sudah membopong tubuhnya ala bridal style. Yang membuat Syafira otomatis mengalungkan tangannya di leher sang suami.
🌼🌼🌼
__ADS_1