Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 123


__ADS_3

Si kembar tengah duduk di pos satpam seraya ngekepin kotak macaron yang baru saja pak satpam kasih ke mereka. Nala dan Nathan, masing-masing memeluk satu box berukuran sedang. Mereka duduk menunggu di jemput oleh bu Lidya seperti biasa sambil menikmati macaron buatan Syafira.


"Enak , pak Sapto mau?" tawar Nala kepada satpam bernama Sapto yang sedang memperhatikan mereka berdua.


"Enggak Neng, buat Neng Nala aja," tolak pak Sapto.


"Enggak apa-apa kalau mau, ini ada banyak. Kata bunda kita harus berbagi. Ini ambil!" Nala menyodorkan kotak yang sejak tadi ia peluk kepada pak Sapto.


"Punyaku saja! Nanti Nala nangis kalau punya dia lebih sedikit dari punyaku. Ini ambil punyaku pak!" sergah Nathan.


"Ini pak, ambil!" Sodor Nathan lebih dekat lagi. Pak Sapto pun dengan ragu mengambilnya, lalu memakannya.


"Iya enak, ini buatan bunda kalian sendiri? Enak banget," ujar pak Sapto sambil mengunyah dan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Bukan, bunda lagi pergi sama daddy. Ini yang buat mbak Rani palingan," jawab Nathan.


"Tapi diajarin bunda, rasanya enak kayak bunda yang bikin!" sambung Nala.


Pak sapto hanya menganggukkan kepalanya. Mulutnya penuh dengan suapan terakhir macaron yang di berikan oleh Nathan. Rasanya yang enak membuatnya melirik box yang tetap setia di peluk oleh Nathan. Masih ada banyak, tapi untuk minta lagi, ia malu.


" Mau lagi?" tawar Nathan.


"Boleh?"


Nathan hanya mengangguk. Pak Sapto tersenyum lalu kembali mengambil satu lagi, "Bunda kalian pintar bikin kue ya, bapak baru kali ini makan kue seenak ini, biasanya makannya roti bungkusan lima ratusan atau seribuan buat ganjal perut," curhat pak Sapto yang tak di tanggap oleh si kembar yang tak mengerti ucapannya.


"Oma kalian yang jemput lagi?" tanya pak Sapto kemudian.


Lagi-lagi Nathan hanya mengangguk sambil mengunyah macaron. Sementara Nala asyik menggoyang-goyangkan kakinya yang menjuntai sambil menikmati macaron juga.


"Pantas, telat lagi jemputnya," ucap pak Sapto.


"Bunda lagi ke luar kota sama daddy, jadi oma yang jemput," ucap Nathan.


"Ke luar kota? Bukannya tadi Neng Fira ke sini sendiri? Tahu ah! Mau ngasih kejutan kali kalau sudah pulang," batin pak Sapto.


Suasana opun hening dengan pikiran masing-masing. Saat mereka bertiga asyik melamun sambil menikmati kue macaron, bu Lidya datang.

__ADS_1


" Sayang, maaf oma telat lagi. Ayo pulang! " seru bu Lidya heboh dari jarak beberapa meter seraya berjalan mendekat.


"Oma hebring datang," gumam pak Sapto yang tersadar dari lamunannya karena suara bu Lidya yang seperti geledek buatnya.


" Eh kalian makan apa?" tanya bu Lidya setelah sampai di depan si kembar. Ia melihat kedua cucunya memeluk sebuah box dengan posesif.


"Macaron, oma," jawab Nala.


"Di kasih siapa? Tadi oma tidak membekali kalian macaron. Aduh, pak Sapto, jangan biarkan dong anak-anak nerima barang, terutama makanan dari orang asing. Bisa bahaya tahu!" omel bu Lidya.


"Ini dari bunda, oma," jawab Nala.


"Bunda? Bunda siapa lagi, pak kenapa di biarin sih ada perempuan yang ngaku-ngaku jadi bunda mereka. Modus pasti, pasti cewek-cewek gemes yang ngefans sama Bara ini, huft pada tahu aja kalau mereka lagi ada masalah. Pada pengin banget gantiin posisi Fira apa gimana. Pak Sapto gimana sih, jaga dong keamanan, ih!" kesal bu Lidya.


Pak Sapto yang kena semprot hanya bisa mengelus dadanya.


" Oma tenang ya, itu macaron memang dari bunda mereka. Dari toko kue Maharani cake, lihat saja boxnya ada tulisannya jelas terpampang nyata. Kalaupun itu ada racunnya, saya juga kena. Saya juga ikut makan, oma," jelas pak Sapto.


"Iya oma, ini di kirimin sama bunda. Semalam kan kita bilang kangen sama Bunda, pasti daddy bilang sama bunda, makanya tadi nyuruh mbak Rani kesini antar ini. Oma jangan marah-marah," kata Nala.


"Iyain ajalah, yang jelas itu beneran dari bunda mereka, oma," jawab pak Sapto.


"Ya sudah kalau begitu, ayo kita pulang," ajak bu Lidya.


Si kembar pun langsung berdiri dan berjalan menuju ke mobil, tak lupa box macaron mereka bawa.


"Pak jawab jujur, siapa yang anterin itu kue?" tanya bu Lidya sesaat setelah memastikan si kembar sudah masuk ke dalam mobil.


"Bohong kuwalat!" sambung bu Lidya cepat sebelum pak Sapto buka mulut.


"Mbak Fira, oma," jawab pak Sapto dariada dia kuwalat bohong sama oma-oma, pikirnya.


Bu Lidya tersenyum mendengarnya, seperti yang ia duga.


"Ya sudah terima kasih," ucap bu Lidya lalu melangkahkan kakinya menuju ke mobil.


Sebelum masuk ke dalam mobil, bu Lidya celingak-celinguk, siapa tahu Syafira masih ada di sekitar sana.

__ADS_1


"Oma, ayo cepat!" teriak Nala dari dalam mobil.


"Iya iya," bu Lidya pun langsung masuk ke dalam mobil.


Benar adanya, ternyata Syafira masoh berada di sana. Ia bersembunyi, sesaat setelah mobil melewatinya, ia keluar dari persembunyiannya.


"Setidaknya aku sedikit tenang jika kalian baik-baik saja. Maafkan Fira bu, Fira harus memastikan kesembuhan Adel terlebih dahulu. Ini berat untuk Fira, Fira benar-benar bingung dengan keadaan ini bu," gumamnya lirih.


Pak Sapto yang melihat Syafira dari jauh langsung mengernyit," Lah, lagi main petak umpet apa bagaimana mereka," gumamnya heran.


🌼 🌼 🌼


Bara sedikit tersenyum saat mendapat pesan dari bu Lidya yang mengatakan jika Syafira datang ke sekolah si kembar dan membawakan mereka macaron.


"Terima kasih sayang, karena kamu masih peduli dengan mereka. Aku tahu, ini juga berat untuk kamu. Tunggu aku kembali dan meyakinkan kamu lagi," gumamnya dalam hati.


Tok tok tok!


Om John masuk setelah mengetuk pintu.


"Ada apa om?" tanya Bara.


"Sudah waktunya makan siang tuan muda," om John mengingatkan.


"Ah, iya om. Apa di sekitar sini ada restoran yang menjual sayur asam?" tanya Bara.


"Saya akan mencarinya tuan muda," om John langsung membuka ponselnya. Keningnya mengernyit. Tidak ia temukan apa yang diinginkan oleh Bara.


"Tidak ada tuan muda," ucapnya kemudian.


Bara tampak kecewa, "apa bahan-bahan untuk membuatnya ada di supermarket om? Atau di pasar mungkin?"


Om John terhenyak mendengarnya, jangan bilang kalaubia harus memasak, membuat sayur asam. Yang semalam soal rujak yang berakhir dengan diare saja masih membekas di hatinya. Takutnya kali ini jika ia harus mengeksekusi sayur asam, bujan hanya diare tapi keracunan.


🌼 🌼 🌼


πŸ’ πŸ’ Habis ini ada lagi ya, author double up. Tapi jangan lupa tetap like dan komen di setiap babnya, jangan dilewatin aja, author sedih jadinya πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ’ πŸ’ 

__ADS_1


__ADS_2