Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 113 (Puncak kecewa)


__ADS_3

Syafira mulai memasukkn baju-bajunya satu persatu ke dalam koper. Bara yang baru saja sampai mendekatinya dan langsung memeluk Syafira dari belakang, "Mas tahu, ini semua salah mas. Ini semua menyakitkan buat kamu, tapi mas mohon kamu jangan pergi," ucap Bara.


Syafira menghentakkan tangannya hingga pelukan Bara terlepas. Ia kemudian berjalan keluar untuk mengambil kotak p3k di laci kamar. Meski marah, ia tak tega melihat kaki suaminya terluka. Bara hanya termenung duduk di tepi ranjang seraya menunggu apa yang Syafira lakukan.


Syafira mendekati Bara, ia duduk bersimpuh di lantai lalu menarik kaki suaminya ke dalam pangkuannya untuk di obati tanpa suara. Air mata masih saja membanjiri wajahnya. Syafira benci dengan keadaan ini, ia tak pernah menyangka akan berada pada titik seperti ini. Orang yang paling ia percaya, penolong bak malaikatya ternyata yang menyebabkan ayahnya meninggal. Di nalar seperti apapun tetap saja, dadanya merasa sakit seperti di tusuk ribuan jarum.


Bara tak mampu berbuat apapun selain hanya diam, menikmati penyeslan dan rasa sakit di dadanya sendiri sembari melihat Syafira mengobati lukanya. Matanya memerah dan memanas siap mengeluarkan air matanya. Betapa ia juga merasa sakit melihat isrrinya seperti itu. Betapa menyesalnya dia yang sudah tak jujur dari awal saat ia tahu kebenarannya. Mungkin jika ia mengakui kesalahannya sejak awal, istrinya yang memiliki hati bak malaikat tersebut akan lebih legowo memaafkannya. Lihatlah, bahkan dalam keadaan paling kecewa dan marah pun perempuan itu tetap peduli dengannya.


Membiarkan Syafira tahu dengan cara tak sengaja seperti ini tentu saja akan membuat istrinya itu semakin kecewa. Hanya karena keegoisan dan ketakutannya akan kehilangan Syafira, ia bahkan mungkin akan mendapat lebih dari ketakutannya. Bukan hanya di tinggalkan, kemungkinn terburuk keputusan yang akan Syafira ambil dalam rumah tangganya pun harus ia terima.


Selesai mengobati luka Bara, Syafira langsung berdiri dan memutar badan untuk melangkah. Namun, dengan cepat Bara memegang tangannya.


"Lepas mas," ucap Syafira tanpa menoleh.


"Dengarkan mas dulu, setidaknya beri mas kesempatan untuk menjelaskan," pinta Bara, ia mendongak menatap punggung sang istri yang berdiri tepat di hadapannya.


"Apa lagi yang mau mas jelaskan, apapun alasannya mas Bara tetap salah," jawab Syafira.


Bara diam, ia membenarkan perkataan Syafira.


" Kamu benar, semua memang salah mas. Kalau saja waktu itu mas nggak buru-buru mau ke rumah sakit karena Nala sakit, andai saja mas tidak melewati jalan itu, mungkin ayah kamu dan Adel masih hidup," sesal Bara.


"Aku tahu takdir mas, semua sudah di gariskan oleh Allah. Mungkin memang waktu ayah sampai di situ, tapi kenapa harus mas Bara perantaranya, itu yang aku sesalkan" Syafira kembali memutar badanya menatap Bara, air matanya terus saja berderai. Ia menepis tangan Bara yang mencengkeram tangannya dan kembali ke walk in closet untuk melanjutkan menata baju-bajunya. Kenapa Bara tidak pernah jujur keadanya dari awal, kenapa laki-laki itu lebih memilih diam dan membiarkannya terus larut dalam kebodohan yang pada akhirnya semakin menambah daftar rasa kwcewanya yang mendalam.


"Maafin mas Fir, mas tahu apapun yang mas lakukan tidak akan bisa menebus kematian ayah kamu. Karena nyawa tidak bisa di tukar dengan apapun. Marahlah dan bencilah mas Fir jika itu bisa buat kamu lega. Tapi mas mohon jangan pergi. Ini rumah kamu, rumah kita. Jangan tinggalin mas dan anak-anak," ucap Bara yang baru saja menyusul Syafira.

__ADS_1


Syafira telah selesai menata beberapa baju yang ia pilih dari lemari. Menutup koper dan menyeretnya.


" Fir, jangan pergi dalam keadaan seperti ini," Bara menarik tangan Syafira. Syafira menoleh dan menatap lekat wajah suaminya yang tampak sendu, "Aku bisa dengam mudah memaafkan perlakuan buruk mas Bara terhadapku dulu yang tidak menganggap aku istri mas, yang hanya di jadikan sebagai baby sitter anak-anak. Tapi untuk kali ini, aku tidak bisa mas, ini terlalu menyakitkan," sahut Syafira.


"Mas tahu Fir, kesalahan mas fatal. Tapi anak-anak sangat membutuhkan kamu Fir demi anak-anak," Bara mengiba, menggenggam erat jemari Syafira.


Syafira termenung sesaat, ia ingat dua anaknya yang masih butuh perhatiannya. Hatinya tiba-tiba semakin sakit, "Maafkan bunda sayang," ucapnya dalam hati.


Syafira mengembuskan napasnya pelan, "Anak-anak akan tetap jadi anak aku sampai kapanpun mas. Meskipun kita tidak bersama, mereka akan teteap jadi anakku... Aku tetap akan jadi ibu mereka, seperti yang mas mau dulu, untuk menjadi ibu untuk mereka," ucap Syafira.


Bara terhenyak mendengar kalimat yang di lontarkan Syafira," Maksud kamu apa Fir? Kenaoa kamu ngomong begitu?" Bara tidak lagi memiliki kepercayaan diri terhadap kelangsungan rumah tangganya.


Syafira terdiam, ia juga tak menyangka akan berada ada titik dimana ia mengeluarkan kata-kata itu. Kenyataan ini benar-benar menyakitkan.


" Ijinkan aku pergi mas, "ucap Syafira dengan nada bergetar.


" Jangan pergi, Mas nggak bisa," sambungnya mengiba.


" Aku butuh waktu mas. Beri aku waktu untuk memikirkan kembali pernikahan kita mas. Aku mohon sekarang ijinkan aku pergi, aku butuh waktu untuk semua ini,"


Bara langsung menarik Syafira ke dalam pelukannya, wanuta itu tak tak menolaknya namun ia juga tidak membalas pelukan suaminya. Pelukan itu masih terasa hangat ia rasakan, tak ada yang berubah. Hanya saja hatinya yang kini menjadi sedikit ragu.


" Apa cintamu buat mas dan si kembar tidak bisa membuatmu sedikit saja memaafkn kesalahan mas?" tanya Bara, ia memeluk erat, sangat erat tubuh mungil itu.


"Entahlah, bahkan aku ragu akan cintamu buatku mas. Ijinkan aku pergi untuk menenangkan diri. Mari kita sama-sama merenung untuk nasib rumah tangga kita selanjutnya. Mas mungkin bukan mencintaiku, tapi cuma merasa bersalah atau kasihan. Mas juga bisa memikirkan ulang soal pernikahan kita," ucap Syafira. Air matanya bahkan pernah surut, justru semakin dera mengalir membasahi wajahnya yang cantik. Berat, sangat berat ia mengatakan itu semua kepada laki-laki yang saat ini masih memelukanya erat.

__ADS_1


Lagi-lagi Bara menggelengkan kepalanya," Enggak, mas nggak perlu memikirkan apapun lagi. Memang mas yang sudah menabarak ayah sama Adel, tapi bukan berarti mas hanya merasa kasihan atau bersalah sama kamu, percaya atau tidak, mas benar-benar mencintai kamu sayang," ucapnya.


"Tapi aku perlu mas! Tolong mas ngerti, ini tidak mudah untukku! beri aku waktu mas. Ijinkan aku pergi. Aku benar-benar tidak bisa menghadapi mas Bara saat ini, aku bahkan tidak yakin bisa melihat wajah mas Bara setelah ini, ini terlalu menyakitkan," ucap Syafira.


" Atau mas mau aku putuskan sekarang tentang kelanjutan rumah tangga kita? "tabya Syafira cepat.


Bara melepaskan pelukannya," Tidak, kamu jangan memutuskan apapun dalam keadaan marah seperti ini, "sergah Bara, ia tak ingin mendengar apapaun dari mulut Syafira saat ini. Apalagi ia tahu Syafira dalam keadaan emosi.


" Kalau begitu, aku mohon ijinkan aku pergi sekarang, "ucap Syafira pelan.


Bara menggeser tubuhnya, memberi jalan untuk Syafira. Namun, Syafira tak lantas langsung melangkah, ia tak akan pergi sebelum ijin keluar dari mulut suaminya.


" Baiklah, mas ijinkan kamu pergi," akhirnya kalimat itu diucapkan Bara dengan sangat berat hati, suaranya bergetar menahan gemuruh di dada. Ini memang salahnya, jika dengan pergi bisa membuat Syafira sedikit lebih tenang, ia mengijinkannya. Lebih baik ia membiarkan Syafira sendiri terlebih dahulu untuk menenangkan diri, dari pada iastrinya tersebut langsung memutuskan semuanya dengan gegabah. Orang dalam keadaan emosi bisa saja memutuskan apapun tanpa berpikir. Semoga berjalannya waktu nanti Syafira bisa memaafkan dan kembali kepadanya . Hanya itu yang bisa Bara harapkan.


"Makasih mas, aku pergi," ucap Syafira, ia mulai menyeret kopernya melewati Bara.


Bara hanya bisa memejamkan matanya, menahan sakit di dadanya. Ia memaksa langkah kakinya yang sudah psimis mengekori Syafira hingga ke kamarnya.


" Kamu mau pergi kemana, ini sudah malam? Biar mas antar kamu kemanapun kamu mau pergi," ucap Bara ketika Syafira berhenti tepat di depan pintu kamarnya. Mengenang memory kebersamaannya bersama Bara di kamar itu. Terlalu banyak kenangan romantis dari kamar tersebut. Matanya tertuju ke ranjang king size, dimana ia biasa bercengkerama santai atau bermanja-manja dengan suaminya setelah aktivitas seharian yang melelahkan. Tempatnya dan suaminya memadu kasih tanp kenl lelah. Entah apa dia akan kembali lagi menghangatkan ranjang berukuran besar itu atau tidak. Ia hanya bisa menyerahkanny kepada takdir Tuhan yang mungkin akan menuntunnya kembali atau menuntunnya semakin menjauh,"Maafkan aku mas, maafkan atas keegoisan istrimu ini," rintihnya dalam hati.


"Mas Bara tenang saja, aku bisa jaga diri. Mas tidak perlu mengantarku, aku sudah pesan taksi online. Sebentar lagi sampai," sahut Syafira seraya mengusap air matanya. Ia memutar badan dan membuka pintu kamar. Bara hanya mampu mematung menatap kepergian sang istri dengan tatapan kosong.


Saat pintu kembali tertutup dan bayangan Syafira tak lagi nampak, Bara menumpahkan air matanya. Duduk di tepi ranjang seraya menjambak frustrasi rambutnya. Pria dengan segala ketegaran hatinya itu kini akhirnya tergugu.


Bara melihat Syafira masuk ke dalam taksi dari balkon kamarnya. Inilah akhirnya, Syafira akan pergi meninggalkannya dan anak-anak. Tak banyak yang bisa ia lakukan, kecuali menerima konsekuensi atas kesalahan dan kebohongannya. Seperti yang ia takutkan, ketika istrinya yang tak pernah benar-benar marah itu pergi karena kali ini ia benar-benar kecewa. Memaksa Syafira tetap tinggal hanya akan membuat wanita yanh di cintainya itu semakin terluka hatinya.

__ADS_1


🌼 🌼 🌼


__ADS_2