
Syafira masuk ke dalam kamar si kembar dan mengunci pintunya. Ia mendekati tempat tidur Nathan dan membenarkan posisi tidurnya. Anak itu biasa awal tidur posisi kepala dimana tapi lama-lama pindah ke arah berlawanan, bahkan kadang berputar-putar seperti gasing.
Kemudian, Syafira mendekat ke tempat tidur Nala, gadis kecil tersebut tampak meringkuk sambil memeluk boneka Lilo miliknya. Ia duduk di samping Nala yang sudah sangat pulas terdengar dari napasnya yang teratur dan halus.
Syafira tidak bisa langsung tidur, apa yang baru saja terjadi di kamar utama membuat air matanya kembali menetes tanpa permisi. Namun sesegera mungkin Syafira mengusap serabutan air matanya tersebut.
"Kita lihat mas, sejauh mana kamu akan menyangkal dan menutup diri, sejauh itu pula aku akan membatasi hati," gumamnya. Ia segera mengambil posisi tidur di samping Nala. Memiringkan badannya dan memeluk gadis kecilnya tersebut dari belakang. Merasa nyaman dan aman, Nala langsung mengubah posisinya menghadap Syafira, dengan tetap memeluk boneka LiLonya meringkuk dalam pelukan Syafira.
🌼🌼🌼
Hari-hari berikutnya, Syafira jalani dengan bersikap seperti biasa. Tidak ada yang berubah padanya, ia menyembunyikan perasaannya dengan sangat apik. Seperti saat ini di meja makan, tak ada satu katapun ia ucapkan kepada suaminya. Syafira hanya mengajak bicara si kembar.
Bara merasa di acuhkan dengan sikap Syafira. Meskipun Syafira tetap melayaninya seperti biasa tapi terkesan cuek dan tanpa perasaan. Dan itu sungguh menyiksa batinnya, ia merindukan Syafira yang hangat dan banyak bicara. Tidak seperti sekarang yang terasa jauh.
"Nathan, Nala hari ini ikut Bunda ke toko yuk mumpung weekend. Nanti kita sekalian jenguk tante Adel dan ke makam mommy, gimana?" tanya Syafira setelah selesai sarapan dan kini mereka sedang bersantai di ruang keluarga.
"Mau bunda! Yeee kita ke toko, Nala mau macaroon yang buanyak," sahut Nala antusias.
"Tapi tante Adel siapa Bunda?" tanya Nathan yang memang belum mengenal Adik Syafira yang sedang koma tersebut.
"Adik bunda, nanti bunda kenalin," ucap Syafira tersenyum.
"Sama daddy nggak bunda?" tanya Nala.
"Enggak, kita bertiga saja. Daddy kan sudah kemarin ke makam mommy sendiri," jawab Syafira tanpa bertanya terlebih dahulu kepada suaminya, ia hanya melirik sekilas ke arah Bara yang sedang memainkan ponselnya. Ia masih kesal karena lagi-lagi Bara ke makam Olivia tanpa mengajaknya.
"Benarkah daddy?" tanya Nala.
"Hem, daddy juga ada banyak pekerjaan. Kalian pergilah sama bunda," ucap Bara tersenyum.
Nyes! Adem rasanya melihat senyum suaminya seperti itu. Seandainya ia juga tersenyum manis seperti itu terhadapnya, pikir Syafira.
🌼🌼🌼
Varel masuk tanpa permisi karena sudah biasa, sering berada di luar negeri membuatnya merindukan dua bocah kembar yang selalu mengganggunya tersebut.
"Hello twins! Uncle datang!" serunya tanpa ada yang menyahut.
__ADS_1
"Aneh, sepi amat ini rumah. Pada kemana penghuninya," gumam Varel. Matanya memicing ketika melihat sesosok gadis sedang melamun di taman belakang.
"Pantas nggak nyahut, melamun sih," gumamnya sambil berkacak pinggang mendekati Syafira.
"Assalamualaikum peri manis," ucap Varel tepat di telinga Syafira.
"Astaga, wa'alaikumsalam. Ngagetin aja kamu Rel," Syafira mengelus dadanya pelan.
"Lagian kamu melamun di sini sendiri. Anak-anak mana? Kakak mana?" tanya Varel.
"Si kembar lagi belajar bela diri di aula. Mas Bara mungkin di ruang kerjanya," sahut Syafira. Entah kenapa Varel merasa melihat aura sendu di wajah ayu gadis yang selalu ia panggil peri manis tersebut. Ini bukan kali pertama ia memergoki Syafira sedang melamun sendirian.
"Ya udah aku cari kakak dulu ya, jangan banyak melamun, nanti aku repot loh, eh maksudnya kakak yang repot," ucap Varel sambil nyengir lalu pergi.
Varel langsung masuk untuk mencari Bara. Tak lama kemudian om Jhon datang dan langsung menuju ke ruang kerja Bara.
"Mereka mau ngapain sih, main keroyokan keruang kerja Mas Bara, padahal ini weekend, masih bahas kerjaan juga, apa otak mereka nggak mendidih," gumam Syafira saat melihat om Jhon masuk ke ruang kerja Bara.
Syafira segera mencari si kembar, siapa tahu mereka sudah selesai latihan.
Sesuai rencana, Syafira akan mengajak si kembar jalan-jalan setelah mereka selesai latihan. Setelah menyiapkan segala keperluan si kembar yang akan di bawa, Syafira dan si kembar pun menuju ke ruang kerja Bara untuk pamit.
"Ada apa?" tanya Bara melihat ke arah pintu di mana hanya kepala Syafira saja yang menyembul terlihat.
"Daddy, kita mau berangkat, mau salim dulu," ucap Nala menerobos masuk melewati Syafira diikuti oleh Nathan.
"Udah mau berangkat ya?" tanya Bara.
"Iya daddy," Nathan dan Nala salim bergantian dan langsung keluar.
"Aku pergi dulu mas," pamit Syafira.
"Tunggu!"
"Apa mas? Mau cium?" tantang Syafira.
"Kalau iya kamu mau apa?" eh ada apa dengannya tiba-tiba bersikap seperti itu.
__ADS_1
"Jangan GR, saya cuma mau ngasih ini," Bara menyodorkan black card unlimited kepada Syafira.
"Apa ini? Kartu ATM? kenapa gosong begini, emang bisa berguna?"
Bara menahan tawa mendengarnya.
"Itu black card gold, kamu bisa gunakan itu untuk membeli apapun tanpa batas, termasuk skincare yang mahal. Jangan di kira saya pilih kasih dengan tidak memberikan kamu skincare yang layak," ucapnya.
"Eh dia masih ingat ucapanku malam itu ya?" batin Syafira.
"Tapi Mas Bara emang pilih-pilih buat kasih, kasih sayang mas Bara nggak di kasih juga ke aku," Ucap Syafira tersenyum menyindir.
"Pelan-pelan saja saya ngasihnya kalau yang itu, nanti kalau sekaligus kamu kaget. Sedikit-demi sedikit biar saya maupun kamu terbiasa," balas Bara.
Eh apa maksudnya? Sejak tadi kenapa omongannya aneh begitu?
"Mas Bara salah minum obat ya? maksudnya apa sih" tanya Syafira.
"Sudahlah kamu berangkat sana,"
"Ya sudah, aku berangkat. Ini makasih ya, kapan lagi dapat kartu begini, mumpung mas khilaf ngasih aku, nanti aku gunain deh! coba beneran unlimited enggak," canda Syafira.
"Tunggu!"
"Apa lagi mas?"
"Tidak apa-apa pergilah," ucap Bara dingin.
Syafira hanya menggelengkan kepalnya sambil menghela napas.
"Assalamualaikum," ucapnya sebelum meninggalkan suaminya, tak lupa ia mengedipkan satu matanya sambil berkata
"Jangan rindu ya, aku tidak lama," goda Syafira tersenyum.
"Kalau kamu seperti ini, tak pernah marah atas apapun yang aku lakukan, selalu tersenyum, bagaimana aku bisa tahan Fir?" gumam Bara dalam hati menatap kosong pintu yang sudah kembali tertutup tersebut.
"Apa maksud ucapanmu mas? Kenapa hari ini kamu sedikit berbeda? Jangan beri celah untuk aku masuk jika pada akhirnya pintu hatimu tak bisa terbuka sempurna untukku mas," ucap Syafira dalam hati sambil memandangi kartu yang tadi di berikan oleh Bara.
__ADS_1
Syafira masih terus bertanya dalam hati apa maksudnya tadi Bara akan pelan-pelang ngasih 'itu' kepadanya. Itu apa yang dia maksud? Syafira tak ingin terlalu percaya diri dengan menyimpulkan arti ucapan suaminya tersebut.
🌼🌼🌼