Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 135


__ADS_3

Malam semkin larut, di luar hujan di sertai petir dan angin yang membuat Syafira tak kunjung memejamkan matanya karena kedinginan. Selimut satu-satunya sudah di gunakan oleh Adel yang sudah terlelap membelakanginya. Tak mungkin ia memeluk Adel untuk menghangatkan diri.


Tiba-tiba, Syafira merasa ingin buang air kecil. Ia keluar dan menuju ke kamar mandi. Sekembalinya dari kamar mandi, ia melihat Varel masih meringkuk di atas permadani depan televisi.


Syafira menatap pintu kamar yang kini di tempati oleh suaminya. Dengan ragu-ragu ia mendekati pintu tersebut, dibukanya sedikit untuk melongo ke dalam dimana Bara juga terlelap membelakangi pintu. Ia kembali menoleh kepada Varel yang tak terusik sama sekali dengan suara hujan dan petir yang saling bertaut.


Jederrrrrr....


Suara petir yang sangat keras berhasil membuat Syafira terkejut dan langsung masuk ke dalam kamar Bara. Ia langsung naik ke ranjang dan membaringkan diri di samping suaminya tersebut secara spontan. Syafira menoleh ke arah suaminya yng sepertinya tidak terusik dengan keberadaannya. Buktinya, pria itu tetap tenang dalam posisi tidurnya.


Sayfira tidur membelakangi Bara, namun tak juga bisa tidur. Tak mungkin ia menarik selimut yang di gunakan Bara untuk ia gunakan sendiri.


Jederrrrr


Dan suara petir yang terasa memejamkan telinga kali ini mampu membuatnya balik badan, mendekat lalu meringkuk tepat di punggung suaminya.

__ADS_1


Berada dekat, bahkan menempel pada suaminya, perasaannya kini menjadi tenang meski petir masih sesekali terdengar keras. Karena masih merasa dingin, Syafira memberanikan diri menyusupkan tangannya, melingkari tubuh Bara. Memeluknya demi rasa hangat dan nyaman yang kini ia rasakan.


Syafira berpikir, nanti ia akan bangun terlebih dahulu sebelum Bara bangun, jadi ia tak akan ketahuan dan malu akan tingkah konyolnya tersebut. Perlahan tapi pasti, kini ia bisa terlelap.


Bara yang sebenarnya belum terlelap hanya mampu menyunggingkan senyumnya dengan tetap memejamkan matanya demi merasakan pelukan hangat Syafira. Ia tak ingin membuat istrinya malu jika tahu ia belum tidur.


Setelah memastikan Syafira sudah terlelap, Bara memutar badannya menghadap Syafira. Ia tersenyum, tangannya merapikan rambut yang menutupi wajah Syafira lalu pelan-pelan ia mengecup kening Syafira.


Tangan Bara berpindah menyentuh erut Syafira, "Sehat-sehat ya sayang. Apapun yang terjadi besok, kamu harus tahu kalau daddy sayang sama kamu juga bunda," ucapnya dalam hati.


Tanpa sadar, Syafira semakin meringkuk, mencari kehangatan lebih dari Bara. Bara memeluknya sangat erat, hingga Syafira tak lagi bergerak karena nyaman. Bara menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan juga Syafira sebelum akhirnya ia ikut terlelap.


Ia tersenyum penuh arti, rasa bahagia sekaligus cemburu masih ia rasakan hingga kini. Karena ternyata sampai sekarang, ia masih mengagumi sosok wanita yang kini menjadi istri kakak iparnya tersebut. Dan sampai kapanpun akan ia simpan rapat-rapat rahasia hatinya tersebut.


Varel menutup pintu itu kembali dengan pelan-pelan supaya tidak mengganggu tidur mereka. Sejenak, ia terdiam di depan pintu, lalu menoleh ke pintu kamar sebelah, "Masuk kamar yang itu aja kali ya... Hemm besok langsung otw di giring ke KUA pasti," gumamnya sambil tersenyum, membayangkan jika waktu bangun Adel melihatnya berada di dekatnya, auto kena amuk pasti.

__ADS_1


"Huh, nasib-nasib. Jomblo, dingin-dingin gini nggak ada yang ngangetin," gumamnya lagi sambil menggosok-gosok tangannya. Kemudian ia berjalan menuju kursi dan menyingkirkan beberaa barang yang di beli oleh Bara di pasar malam. Ia menyisakan sebuah boneka yang entah ia sendiri tak tahu boneka apa itu sebagai bantal dan juga kembang gula yang di kemas dalam sebuah plastik bergambar frozen dipeluknya sebagai ganti bantal guling, pikirnya.


Keesokan harinya....


Bara tersenyum ketika ia membuka mata dan wajah ayu istrinya yang pertama kali ia lihat. Ia mencium kening Syafira dan kembali mengusap perutnya yang mana membuat Syafira menggeliat.


Bara langsung balik badan memejamkan matanya, ia pura-pura masih terlelap. Syafira bernapas lega karena ia pikir Syafira menatap lekat wajah lelah suaminya yang kini semakin terlihat tirus dengan bulu-bulu yang mulai tumbuh. Ia menyentuh dan mengusap pelan wajah itu. Sebenarnya ia juga lelah dengan semua ini, ia lelah selalu berpura-pura tegar dan sok nggak butuh.


"Aku harus gimana mas, harus gimana. Aku lelah," ucapnya lirih.


Bara tahu kini isteinya sedang menangis, namun sebisa mungkin ia tetap bergeming, menahan rasa sakit di dadanya kala mendengar ucapan Syafira.


Syafira segera turun dari tempat tidur sebelum Bara bangun dan memergoki nya.


Saat keluar, Syafira mengatup kan bibirnya rapat-rapat demi menahan tawa ketika melihat Varel memeluk permen kapasnya sebelum akhirnya ia pergi ke kamar mandi.

__ADS_1


🌼 🌼 🌼


πŸ’ πŸ’ Masih ada lagi, tapi jangan lupa untuk tetap like dan komen setiap babnya ya... Tengkyu πŸ™πŸΌπŸ€—πŸ€—πŸ’ πŸ’ 


__ADS_2