Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 106


__ADS_3

"Sayang kenapa sih, nggak tenang banget duduknya. Masih penasaran? Udah tidur aja, nanti sampai rumah mas bangunin," ucap Bara menoleh ke arah sang istri.


"Mas mah gitu, main rahasia-rahasiaan sama aku. Nggak boleh tahu beneran ini?" masih kekeh tetap kepo sebelum mendapat jawaban yang memuaskan.


Bara mendesah pelan,"Mereka nggak ada hubungan apa-apa selain sahabat, dari dulu sampai sekarang status tetap sama Sa-Ha-Bat," jelas Bara menekankan kata terakhirnya.


"Kenapa kepo banget sih? Masih ngarep sama Rendra begitu?" imbuhnya cepat, wajahnya lanhsung berubah horor.


"Eh enggak enggak," sergah syafira cepat, ia sudah mencium bau bau kecemburuan dari suaminya, "Cintaku udah mentok buat mas Bara, beneran," imbuhnya nyengir.


Bara tak menyahut, namun wajahnya tak sehoror barusan.


"Emmm, Kalau nggak pernah ada hubungan apa-apa, kenapa bisa ada Tasya? Tasya itu anaknya dokter Rendra kan? Benar kan tebakanku tadi?" tanya Syafira.


"Mana mas tahu, mas nggak lihat proses pembuatan Tasya, apa benar mereka yang mengadon apa bukan," jawab Bara asal.


"Mas ih, serius dong. Nggak jawab aku nggak kasih jatah malam ini,"


"Kamu tuh ya, dari tadi nggak nyimak. Tadi di sana kan udah jelas, masih aja tanya. Perlu di upgrade kayaknya ingatan kamu," jawab Bara. Ia mengusap-usap kepala Syafira gemas.


Syafira memutar ingatannya, lalu terkekeh, "Oh iya, tadi waktu mas langsung cium aku kan? Itu aku mikirnya Tasya anaknya dokter Rendra tapi belum bicara udah mas cium duluan," ucapnya tanpa dosa.

__ADS_1


"Udah nggak kepo kan? Cukup sampai sini saja kamu tahu, nggak usah kepo lagi. Nggak bagus buat kesehatan, ngerti," kata Bara.


Syafira mendesah lagi, padahal ia ingin tahu kenapa dokter Rendra sepertinya tidak tahu kalau Tasya itu anaknya. Dan kenapa juga dokter Niken tidak memberi tahunya soal Tasya. Aaaahh, ingin sekali ia bertanya ini itu, tapi daripada kena ceramah lagi, ia memilih diam.


"Untung ya, dulu aku nggak jadi sama dokter Rendra. Kalau jadi kasihan Tasya," gumam Syafira. Ia menjadi sedih jika ingat gadis cilik berwajah manis itu. Ayah kandungnya begitu dekat, tapi gadis cilik itu tidak tahu, kasihan sekali pikirnya. Ternyata ada lagi yang lebih rumit hidupnya dari pada dirinya.


"Nggak kasihan sama mas? Kalau kamu jadi sama Rendra, sampai sekarang mas masih duda," ujar Bara.


"Heleh, bukannya mas emang lebih suka menduda daripada punya istri la..."


"Udah nggak usah di lanjut," potong Bara cepat. Ia tak ingin membahas masa lalu soal sikapnya yang tak pantas kepada Syafira.


"Emm, menurut mas gimana ya kalau nanti dokter Rendra tahu soal Tasya, apa dia mau mengakuinya?"


" Biar waktu yang menunjukkan siapa Tasya sebenarnya," lanjutnya yang sebenarnya juga sudah gemas dengan kedua sahabatnya itu. Berkali-kali ia mengingatkan dojter Niken untuk jujur kepada dokter Rendra namun wanita itu masih belum mau melakukannya.


Sepanjang jalan, Syafira terus mengajak Bara bicara soal dokter Rendra dan dokter Niken. Bara sampai harus mendesah berkali-kali. Ia sebenarnya merasa cemburu ketika istrinya itu begitu bersemangat membicarakan pria lain dengan alasan apapun.


🌼 🌼 🌼


Sementara itu, di tempat lain dokter Rendra baru saja memarkirkan mobilnya di halaman sebuah rumah besar yang berada di kawasan elite, "Ken, udah sampai," ucapnya sesaat setelah mematikan mesin mobilnya. Namun, perempuan yang berprofesi sebagai dokter kandungan tersebut tak menyahut. Rendra menoleh dan tersenyum tipis, ternyata sahabatnya itu ketiduran.

__ADS_1


Dojter Rendra menoleh ke belakang di mana Tasya juga tertidur di pangkuan pengasuhnya yang ikut tertidur. Sesaat ia ingat ucapan Syafira tadi, selama ini ia tak begitu memperhatikan dan menyadari kalau mereka mirip. Tapi kalau di ingat-ingat, kebiasaan dan wajah mereka memang ada kemiripan. Dokter Rendra mulai memikirkan hal itu. Ah, mungkin hanya kebetulan saja, apalagi mereka cukup dekat yang membuat kebiasaan dan wajah mereka jadi mirip, begitulah dokter Rendra meyakinkan keraguannya. Bodoh sekali ayah kandungnya yang tidak mengakui anak secantik dan sepintar Tasya, pikirnya.


Pandangan dokter Rendra beralih kepada dokter Niken yang masih pulas. Ia tersenyum tipis menatap perempuan yang selama ini menjadi tempat curhatnya soal segala hal tersebut. Dokter Niken yang memiliki kisah rumit sendiri, dimana ia hamil tanpa suami sampai harus menerima kemarahan kedua orang tuanya yang menganggap dokter Niken mencoreng nama baik keluarga karena hamil di luar nikah dan ia harus berjuang sendiri membesarkan Tasya, masih selalu memiliki waktu untuk mendengar curhatannya tanpa mengeluh atau protes. Wanita itu selalu menjadi pendengar yang baik, bahkan ia sering memberi semangat untuk dokter Rendra.


Cukup lama dokter Rendra memandang lekat wajah letih itu, "Kalau capek kenapa tidak pernah mengeluh," gumamnya. Dokter Rendra melepas set beltnya. Ia mencondongkkan badannya ke arah dokter Niken. Tangannya menjulur mendekati wajah dokter Niken untuk menyibakkan rambut yang menutupi sebgian wajahnya yang terlihat mengganggu tidur sahabatnya tersebut. Sekali lagi dokter Rendra menatap wajah cantik itu, kali ini dari jarak yang begitu dekat, ia baru menyadari kalau wanita itu begitu cantik dan manis. Entah kenapa, perasaannya menjadi berdebar.


"Tuan," suara pengasuh Tasya mengagetkan dokter Rendra. Pria itu segera kembali ke posisi duduk semula, "Sudah sampai bi, bibi bisa gendong Tasya? Biar saya gendong Niken, saya sudah menunggu beberapa saat tapi Niken tetap tidak bangun, kasihan dia kelihatannya capek sekali," ucap dokter Rendra mengusir kegugupannya.


"Baik Tuan," sahut bibi.


Dokter Rendra terlebih dahulu membantu bibi menggendong Tasya dan membawanya masuk ke dalam rumah. Setelah itu, pelan-pelan ia menggendong dokter Niken.


Dokter Rendra langsung asuk ke kamar dokter Niken setelah bibi membantu membukakan pintu kamarnya. Saat hendak membaringkan tubuh dokter Niken di tempat tidur, wanita itu membuka matanya," Rendra, apa yang kamu lakukan?" tanya dokter Niken. Jarak wajahnya dengan wajah dokter Rendra begitu dekat, ia bisa melihat dengan jelas manik mata yang mirio sekali dengan Tasya tersebut. Refleks, dokter Rendra langsung melepas tangannya. Untung jatuhnya di atas tempat tidur, jadi tidak sakit.


"Tadi kamu ketiduran, pukes banget. Aku bangunin nggak bangun juga, makanya aku gendong bawa ke kamar," ucap dokter Rendra salting.


"Ohh, makasih," ucap dokter Niken yang juga salting. Posisi mereka tadi membuat perasaannya tak karuan. Perasaan yang membawa ingatannya ke enam tahun yang lalu, dimana ia dan dokter Rendra melakukan dosa besar hingga lahirlah Tasya.


🌼 🌼 🌼


💠💠Bab ini sedikit menceritakan soal dokter Rendra dan dokter Niken, tapi cerita mereka di sini tidak akan banyak ya... Cerita ini akan tetap fokus pada mas bara dan Syafira saja...

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, gift ataupun votenya.. Terima kasih 🙏 🙏


Salam hangat author 🤗❤️❤️💠💠


__ADS_2