
Sedangkan di tempat lain, Varell yang baru saja pulang terkejut karena bu Lidya masih duduk manis di ruang tamu, " Astaga mama, ngagetin aja. Belum tidur? Tumben?" ucap Varell.
" Mama nggak bisa tidur," sahut bu Lidya.
"Kenapa? Karena Varell belum pulang? Ah rasanya nggak mungkin mama nungguin Varel, nggak biasanya, keajaiban dunia ke delapan kalau sampai begitu," Varell duduk di samping bu Lidya. Jika di trawang dan di cermati, sepertinya ibunya sedang kepikiran sesuatu, begitulah hasil analisa kilat Varell saat memandang wajah yang sudah berumur namun masih cantik tersebut.
"Dasar kamu, kamu pikir mama nggak khawatir juga kalau kamu jam segini belum pulang dan nggak ada kabar?" tidak terlihat kebohongan sama sekali, kasih sayang seorang ibu yang sesungguhnya.
"Iya, Varel tahu. Tapi sepertinya ada yang lebih dari itu, ada apa hem?" tanya Varel.
"Mama lagi galau," ucap bu Lidya.
"Cieeehh macam abg yang lagi jatuh cinta aja galau segala," ledek Varel.
"Kan, kamu mah gitu sama mama, udah sana mama males ngomong sama kamu," bu Lidya cemberut, tangannya bersedekap di dada. Benaran dah macam anak abg aja.
"Dih mama, gitu aja ngambek," galau beneran ini sepertinya, pikir Varell.
"Cerita cerita, ada apa? Apa yang buat mama kesayangan Varel galau," sambungnya, ia menghadap bu Lidya dan memasang wajah serius, siap mendengarkan curhatan ibunda tercinta. Eh, bukannya kebalik ya, seharusnya Varel yang curhat-curhat soal cewek dan ibunya yang mendengarkan, biasanya kan gitu. Ah masa bodolah masu balik jungkir juga, pikir Varell.
Bu Lidya menatap Varell tak kalah serius, bahkan lebih serius dari tatapan serius yang di pasang Varel, "Beli obat lucknut dimana?" tanyanya.
Varel mengernyit, "Obat lucknut apa sih?" tanya nya tak mengerti.
"Huh, masa nggak ngerti sih. Itu obat yang buat perang*ang. Kayak yang buat jebak-jebak Ceo di drama-drama atau novel onlen. Kan lucknut banget tuh yang jebak, pasti jahat," jawab bu Lidya.
__ADS_1
"Oh obat perang*ang..." ucap Varel santai.
"O--bat apa?" terkejut begitu menyadari.
"Iya itu, belinya dimana? Mama mau beli,"
"Astaga! Mama mau buat apa beli, mau jebak siapa coba. Tadi mama bilang itu obat lucknut, biasa buat jebak kalau di novel, lah mama mau jadi lucknut juga? Buat jebak siapa hayo, jangan bilang mama naksir om-om, tapi omnya nggak mau atau punya istri, terus mama nekat mau jebak dia. Duh nyebut ma, jangan gitu amat kenapa sih, dosa gede itu. Jangan jadi pelakor. Jangan bikin malu ah, di tolak satu pria masih ad yang lain, jangan pakai cara begitu. Varell nggak setuju, aduh gini nih kalau biarin mama banyak bergaul dan travelling, jadi aneh-aneh pikirannnya, nyebut ma nyebut!" ucap Varel panjang lebar.
" Sembarangan kamu kalau ngomong,"bu lidya menabok lengan Varel.
" Mama juga tahu kali itu dosa, kalaupun naksir cowok nggak mau pakai cara kotor begitu, enak aja di kira mama nggak laju apa sampai harus begitu,"
" Terus?"
" Buat kakak kamu itu,"
bu Lidya mengangguk, "Nggak apa-apa kan kalau buat yang sudah sah?" meminta dukungan.
"Mana Varel tahu. Emang kakak kenapa sih?" tanya Varel.
"Tahu nggak sih Rel, kayaknya kakak kamu lagi ada masalah deh sama Fira, masa mereka nggak 'begituan' seminggu, kan aneh," bu Lidya menggerakkan jari telunjuk dan tengahnya naik turun sebagai jode.
"Aneh apanya, Varel aja udah dua puluh lima tahun nggak begitu, biasa aja, nggak aneh," celetuk Varel.
"Ih kamu nih, serius ini mama,"
__ADS_1
"Iya, iya mama sayang, ayo lanjutkan!" siap pasang telinga buat mendengar.
"Iya, jadi kakak kamu itu mama lihat mukanya uring-uringan terus. Kayak kemeja kamu yang kusut karena nggak di seterika itu, bahkan lebih kusut lagi coba, kayak gambar uang seribuan tinggal satu lembae di dompet, nghaka da senyumnya sama sekali. Dan kamu tahu, itu karena kurang sajen 'itu', "
"Lagi datang bulan kali ma, gitu aja di pikirin sampai nggak bisa tidur, ih suka parno gitu. Pikirin jodoh Varel aja ma," yang sok-sokan negebet kawin, eh nikah giliran di deketin vewek dia cuek, sok cool. Nggak di respon.
"Kalau Fira lagi palang merah mah, nggak masalah. Tapi ini enggak Rell. Padahal kan mereka baru anget-angetnya. Apa karena Bara udah tua jadi Syafira kurang gimana gitu ya,"
"Tua apanya, nggak lihat pesona kakak kayak gimana? Banyak yang antri ma, orang masih gagah perkasa begitu, justru idaman itu duren," sergah Varell cepat.
"Kalau begitu, apa karena Bara terlalu buas di ranjang ya jadi Syafiranya kurang nyaman dan menikmati , secara dia kan masih lugu-lugu polos begitu, ini pengalaman pertamanya. Ketakutan kali ya Rel, Bara terlalu kasar mungkin ya sangking bersemamgatnya karena udah lama puasa. Iya, pasti karena itu Rell. Mama harus tolong mereka kalau begitu. Kalau gini terus gimana mama mau dapat cucu lagi,"
Varel hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ocehan ibunya.
"Mama ribet amat sih. Lagian kan udah ada si kembar kok masih ngebet amat pengin cucu,"
"Makin banyak kan makin seru rell, itu kan perpaduan Bara sama olivia, yang sama syafira belum. Pasti juga lucu dan menggemaskan deh kayak si kembar. Kan mama penasaran, makin rame kalau punya cucu banyak. Mau buat sendiri kamunya nggak boleh,"
"Segitunya, emamg mama nggak penasaran sama anak Varell nanti? Nggak mau punya cucu dari varell?" sok bermuka lesu, biar dikira sedih.
"Tentu saja mau dong Nak, tapi kan jodohmu saja belum ada, belum kelihatan hilalnya. Kalau mama penasarannya dari sekarang, kan kelamaan. Ayo dong kasih tahu dimana mama bisa beli obat itu," ini nenek-nenek masih aja ngeyel.
"Mama aneh, tadi mikir kakak buas, terlalu strong di kasur. Kok malah mau di kasih obat begitu, biar apa? Biar makin ganas dan memaksa Fira, ih bisa-bisa ada kasus, istri di perkaos suami, nanti Syafiranya bisa-bisa sampai nggak bisa bangun, nggak lucu?"
" Ya bukan buat Baranya, tapi buat Syafiranya lah, biar ganas sedikit di ranjang, gimana? Bagus kan ide mama?" tersenyum puas dengan ide briliantnya.
__ADS_1
" Allahu akbar, punya emak gini amat konyolnya, titisan siapa sih. Nggak yakin aku sama kaka Olivia keluar dari perutnya," desah Varell.
🌼 🌼 🌼