Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 80


__ADS_3

"Jadi, gimana nih kalau tuduhan mama tadi kita jadikan kenyataan?" goda Bara.


"Maaasss," rengek Syafira, matanya memohon, ia beneran tidak sanggup jika harus melayani suaminya saat ini.


"Ya udah, buat istirahat ya, mas cuma bercanda tadi," ucap Bara sambil menyelipkan, rambut Syafira ke belakang telinga.


"Hem, mas kalau mau ke kantor, berangkat aja, nanti telat," kata Syafira.


"Mas bisa mimpin rapat dari rumah, mas nggak tega kalau harus ninggal kamu,"


"Nggak apa-apa, mas ke kantor aja sana. Aku malah yang nggak tenang kalau mas di rumah, takut mas khilaf dan minta jatah," ucap Syafira.


"Enggak akan, tapi mas di rumah aja ya nemenin kamu,"


"Enggak, harus ke kantor! Udah sana, berangkat," kekeh Syafira. Ia tidak bisa percaya dengan ucapan suaminya yang tidak akan menyerangnya di ranjang.


"Sayang, ayolah. Mas pengin di rumah aja. Mas bisa bekerja dari rumah," rengek Bara, ia masih ingin menghabisan waktu bersama Syafira.


"Tuh, om Jhon pasti om Jhon sudah nelepon, buruan gih berangkat," Syafira sedikit mendorong tubuh Bara yang sudah berada diaatasnya, mengukungnya dengan kedua tangannya.


Bara mengambil ponselnya, dan benar saja om Jhon sudah menghubunginya.


"Ya, saya akan segera ke kantor Om," ucap Bara yang langsung mematikan panggilan.


"Benar kan kataku, mas tuh udah berapa hari nggak ngantor. Jangan gitu, jadi pemimpin tuh harus kasih contoh yang baik buat anak buahnya," Syafira bangun untuk memakaikan dasi untuk suaminya.


"Kamu tiduran saja, buat istirahat, mas bisa sendiri," ucap Bara.


"Cuma makein dasi sama jas mah masih kuat mas, nggak kuat tuh kalau harus gendong mas Bara, berat," jawab Syafira. Bara tersenyum seraya menghela napasnya dalam. Istri kecilnya tersebut memang selalu energik meski sakit sekalipun.


"Udah," ucap Syafira, ketika dasi sudah terpasang sempurna. Ia mengambil jas dan memakaikan kepada Bara.


"Kamu yakin mas tinggal?"


"Hem, mas nggak lihat aku masih kuat berdiri dan jalan, jadi nggak usah khawatir,"

__ADS_1


"Kamu tuh ya, kalau cewek lain sakit tuh penginnya di manja, di tungguin sama pacar atau suaminya. Kamu malah nggak mau mas tungguin, padahal mas mau manjain kamu," ujar Bara. Ia menarik pinggang Syafira hingga tak berjarak dengannya.


"Manjanya nanti aja, sekarang mas punya tanggung jawab yang harus mas lakukan sebagai pemimpin perusahaan. Udah sana berangkat!" Syafira meraih tangan Bara lalu mencium punggung tangan tersebut.


"Selesai meeting, mas usahakan langsung pulang. Kalau perlu apa-apa, panggil bibi saja," Bara mengecup kening dan beralih ke bibir Syafira. Syafira hanya mengangguk tersenyum.


"Nggak usah antar mas ke depan, kamu langsung istirahat," Bara mengecup bibir Syafira sekali lagi.


"Hem, mas hati-hati," sahut Syafira menganggukkan kepalanya.


"I love you," ucap Bara lalu memutar badannya dan melangkah menuju pintu.


"I love you more," sahut Syafira tersenyum memandang suaminya hingga hilang di balik pintu.


🌼 🌼 🌼


Rencana Bara yang ingin pulang setelah selesai meeting pun harus tertunda karena banyaknya pekerjaan. Ia hanya sesekli mengirim pesan kepada Syafira untuk menanyakan keadaannya.


Di sela-sela kesibukkannya, Bara teringat akan cerita Syafira tentang ayah dan adiknya. Bara langsung menghentikan aktivitasnya yang sedang memeriksa beberapa dokumen tersebut. Ia seperti kepikiran sesuatu. Detik kemudian, Bara menghubungi om Jhon, menyuruh laki-laki yang sudah seperti ayahnya sendiri tersebut ke ruangnnya.


Tak butuh waktu lama, kini om Jhon sudah berada di hadapan Bara.


"Ke~kenapa tuan muda mengungkit hal itu lagi? Bukankah saya sudah mengatkan jika mereka selamat?" om Jhon mencoba menutupi kegugupannya.


"Benarkah? Lalu, dimana alamat mereka? Saya ingin memastikannya sendiri," ujar Bara.


"Tuan muda, sebaiknya Anda tidak lagi memikirkan hal itu, yang terpenting sekarang tuan mudan hidup bahagia bernama nona Syafira. Mencintai dan melindungi nona Syafira," sahut om Jhon.


"Jadi benar, yang saya tabrak waktu ktu itu ayah dan adik Syafira?" tanya Bara tidk sabar.


"Tu~tuan muda,"


"Jawab Om, benar ayah Syafira meninggal gara-gara kecelakaan waktu itu?" suara Bara kian meninggi.


"Maafkan saya Tuan, semua salah saya, jika waktu itu saya mengatakan kalau korban meninggal dunia, tuan muda pasti akan menyerahkan diri ke polisi, saya tidak ingin tuan dan nona muda kecil juga harus kehilangn tuan muda, mereka sangat membutuhkan tuan muda, " ucap om Jhon menunduk.

__ADS_1


Bara mengusap wajahnya kasar, dari jawaban om Jhon sudah di pastikan kalau benar apa yang ia takutkan. Ia tak bisa membayangakn bagaimana reaksi Syafira ketika mengetahui hal itu.


" Kenapa om tidak memberitahu saya, sejak kapan om Jhon tahu jika mereka adalah ayah dan adik Syafira?" Bara benar-benar merasa frustrasi. Ia tidak sanggup membayangkan jika harus jujur kepada Syafira. Mereka baru saja memulai semuanya dengan bahagia, ia tak akan sanggup jika harus kehilangan kebahagiaan tersebut.


"Sejak acara lamaran waktu itu Tuan muda, sebelumnya saya tidak tahu karena setelah tahu korban meninggal dunia, saya menyuruh orang saya untuk mengunjungi rumah mereka dan memberikan sejumlah uang, namun mereka menolaknya. Dan orang saya di usir dari sana, mereka tidak mengijinkan suruhan saya mengikuti prosesi pemakaman, sehingga saya tidak tahu saat pertama kali kita bertemu di makam waktu itu. Maafkan saya tuan muda, saya tidak ingin tuan masuk penjara, kasihan nona dan tuan muda kecil," ucap om Jhon, ia melakukan semua itu demi Bara dan kedua anaknya. Ia tahu betul bagaimana karakter Bara, jika ia tahu korban meninggal, pasti ia akan menyerahkan diri keada polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.


"Kenapa om tidak memberi tahu saya waktu om tahu kalau itu ayah Syafira, seharusnya om bilang sebelum semuanya terlambat seperti ini," ingin sekali Bara menghardik dan menyalahkan om Jhon, tapi ia tahu om Jhon terlalu sayang dengnnya makanya dia melakukan semua ini. Tapi, Bara juga tidak membenarkan apa yang om Jhon lakukan.


"Saya tidak ingin menghancurkan kebahagiaan tuan dan nona muda kecil yang sudah lama sekali menantikan kehadiran sosok ibu, jika waktu itu saya bicara, saya yakin tidak akan pernah terjadi pernikahan tuan dan nona Syafira. Nona Syafira sangat baik, perempuan seperti dialah yang di butuhkan oleh mereka. Saya tidak sanggup melihat kekecewaan di wajah mereka yang tak berdosa tuan muda. Maafkan saya. Saya terima hukuman apapun yang tuan muda berikan kepada saya,"


"Tidak, semua salah saya. Saya yang harus menanggung semuanya,"


"Om keluarlah, saya ingin sendiri," ucap Bara dingin.


"Tuan muda..."


"Tinggalkan saya sendiri om, saya tidak akan menghukum om Jhon, semua salah saya. Sekarang Bara mohon, om keluar!"


"Saya mohon tuan muda jangan gegabah, pikirkan tuan dan nona muda kecil, pikirkan nona Syafira, mereka baru saja merasa bahagia. Mungkin akan lebih baik jika nona Syafira tidak pernah mengetahui kenyataan ini tuan,"


"Keluar om, Bara mohon,"


Om Jhon pun terpaksa meninggalkan Bara sendiri. Ini yang ia takutkan, jika Bara tahu. Ia takut kalau Bara akan berterus teranh dengan Syafira dan rumah tangga keduanya yang akan menjadi taruhannya.


"Aarrggghh!!! Bara mengobrak-abrik berkas-berkas yang ada di mejanya. Ia terus merutuki kebodohannya. Ia benar-benar tak sanggup membayangkan bagaimana reaksi Syafira jika tahu kenyataannya.


🌼 🌼 🌼


Flash back


Pagi itu, bara yang sedang mengendarai mobilnya ke kantor, terpaksa harus putar balik karena ia mendapat telepon dari bu Lidya yang mengatakan kalau Nala yang kala itu menginap di rumah bu Lidya, masuk rumah sakit. Bara panik dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, mendapati berita anaknya berada di rumah sakit, ia ingat saat harus kehilangan Olivia, ia takut jika Nala akan meyusul ibunya. Karena terlalu cepat mengemudi, bara menabrak seorang bapak-bapak yang membonceng seorang gadis berseragam SMA.


Bara ingin turun dan melihat kondisi mereka, tapi keburu banyak orang yang datang, jika ia turun, pasti urusan akan menjadi panjang sedangkan ia harus segera ke rumah sakit. akhirnya Bara menghubungi om Jhon dan menyuruhnya untuk mengurus dan memastikan semuanya baik-baik saja.


Setelah memastikan Nala baik-baik saja, Bara menghubungi om Jhon kembali dan menanyakan keadaan korban. Wajtu itu, om Jhon mengatakan jika kedua korban selamat dan ia sudah memberi santunan dalam jumlah yang sangat besar. Om Jhon sudah mengurus semuanya, makanya ia meminta Bara untuk tidak khawatir. Meski awalnya Bara kekeh ingin bertemu mereka, karena mengingat bagaimana ia menabrak sepeda motor itu hingga korban terpental jauh, ia tak yakin jika korban tidak terluka parah. Namun, om Jhon meyakinkan jika semuanya sudah beres. Bara pun percaya karena buktinya tidak ada polisi atau kasus yang menjeratnya yang tentu saja sudah di bereskan oleh om Jhon.

__ADS_1


***Flash back off


🌼 🌼 🌼***


__ADS_2