
Bara segera turun dari kamarnya menuju ke garasi. Ia langsung masuk ke dalam mobilnya dan munyusul taksi yang di tumpangi oleh Syafira sebelum kehilangan jejak taksi tersebut, ia harus tahu kemana Syafira akan pergi malam itu. Ia harus memastikan kalau Syafira aman. Mobilnya terus mengikuti taksi di depannya hingga taksi tersebut belok ke pekarangan rumah ayah Syafira.
Ya, rumah almarhum ayahnya adalah tempat yang paling aman yang bisa Syafira kunjungi saat ini. Setidaknya malam ini ia akan menginap di rumah itu.
Syafira yang baru saja masuk ke dalam kamarnya dan menyalakan lampu langsung merosot duduk di lantai bersandar tepi ranjang setelah mengambil sebuah dari dalam laci nakas. Di peluknya erat photo tersebut, "Maafin Fira ayah, maaafin kakak dek... Maaf... ," raungnya tak terbendung lagi.
Bara menghentikan mobilnya agak jauh dari rumah tersebut, ia mengamati rumah itu beberapa saat lamanya.
"Maafin mas Fir... Maaf...mas harus pergi malam ini, kamu baik-baik di sini, jangan lama-lama marahnya, semoga saat mas pulang nanti kamu udah melunak hatinya, mas akan jemput kamu," ucap Bara penuh penyesalan menatap lekat ke arah ruangan yang paling terang dari seluruh sudut rumah tersebut, ia ingat itu adalah kamar Syafira. Ia ingat di kamar itu waktu itu hampir menerobos pertahanan gawang Syafira namun gagal, bahkan ia harus mengajak Syafira jalan-jalan terlebih dahulu untuk menenangkan dan meyakinkan Syafira untuk 'melakukannya'.
Beberapa saat lamanya Bara terpaku mematap ruangan yang berada di sudut rumah tersebut Hingga ia terpaksa kembali melajukan mobilnya karena ia harus bersiap-siap berangkat ke luar kota yang rencana awal akan berangkat esok pagi, tapi di percepat malam ini. Ini memang berat buat Bara, tapi jika ia hanya memeperjuangkan cintanya dan membiarkan usahanya bangkrut, lantas bagaimana dengan masa depan anak-anak dan istrinya kelak. Bagaimana dengn nasib para karyawannnya. Semua usahanya selma ini tak lain adalah untuk keluarganya, ia tidak bisa membiarkan perusahaannya di akuisisi perusahaan lain karena ulah sepupunya yang tak tahu berterima kasih itu.
Bara memarkirkan mobilnya di garasi di lihatnya pak Hendro tampak tertidur di kursi yang ada di garasi. Pasti sopir pribadinya yang kini beralih menjadi sopir anak-anak dan Syafira itu menunggunya. Pandangan Bara beralih ke mobil yang dulu di jadikan mahar ernikahan mereka, mobil iti sangat jarang di gunakan karena Syafira lebih sering menggunakan mobil anak-anak. Meski sudah bisa mnengendarai mobil sendiri, ia lebih suka di antar pak Hendro atau naik sepeda motor kesayangannya.
Melihat sewda motor kesayangan Syafira masih terparkir berdampingan dengan motoer gede miliknya, membuat Bara berharap jika pemilik sepeda motor yang di beri nama william itu akan kembali.
Bara menjawil pak Hendro untuk membangunkannya, "Pak bangun," ucapnya pelan.
__ADS_1
"Eh tuan sudah kembali, mana nyonya?" tanya pak Hendro dengan gelagapan karena kaget.
"Dia berada di tempat yang aman, butuh waktu untuk menenangkan diri. Pak Hendro bisa meneruskan tidur di dalam, tidak enak todur di kursi sempit begitu," ucap Bara yang lanhsung berlalu meninggalkan pak Hendro. Pak Hendro menatap punggung majikannya yang sudah ia ikuti sejak sepuluh tahun yang lalu itu. Ada rasa iba di hatinya," Kasihn tuan, masalah datang secara bersamaan. Klau saya pasti sudah stroke atau serangan jantung mendadak. Tapi tidak bisa menyalahkan nyonya juga, pasti beliau juga sangat syok dengan semua ini. Semoga semuanya bisa cepat selesai dan keadaan kembali damai seperti sebelumnya. Mereka orang-orang baik, pasti bisa melewati ujian ini," gumam pak Hendro, ia berjalan pelan menujur kamarnya yang letaknya tak jauh dari garasi tersebut.
Suasana rumah begitu lenggang, sepi dan sunyi seperti tak ada kehidupan di sana. Para pekerja di rumah tersebut tahu jika tuan dan nyonya mereka tidak sedang baik-baik saja, bahkan paman tiger yang biasanya akan mengeluatkan suara pun kelihatannya anteng-anteng saja. Mungkin ia merasa kehilangan sosok Syafira yang suka sekali beradu mata dengannya. Saat dia mengaum, maka Syafira akan membalas mengaum lalu mencebikkan bibirnya sambil berdecak.
Bara berjalan menuju kamar si kembar, di lihatnya mereka sudah terlelap pulas sekali bersama nanny yang tertidur terduduk bersandar kepala Ranjang milik Nala. Mendemgar suara pintu di buka, pelayan yang merangkap tugas jadi nanny dadakan saat Syafira sedang tak ada tersebut langsung membuka matanya, rupanya ia tak benar-benar pulas.
"Tuan..." sapanya sopan.
"Saya harus pergi ke luar kota malam ini, tolong jaga anak-anak. Nanti, besok atau lusa saya akan meminta mama kesini, nanti selama saya pergi terserah anak-anak mau tetap di rumah atau mau ke rumah mama. Kamu ikut ke rumah mama kalau mereka mau ke rumah mama. Besok pagi kalau mereka bangun dan nannyain Fira, bilang saja bundanya lagi ada tugas kerja nemenin saya ke luar kota, " pesan Bara kepadanya.
Bara mendekati ranjang Nala, "Maafin daddy sayang, princessnya daddy. Maaf," lirihnya lalu mencium kening Nala. Anak gadisnya itu tersenyum, mungkin ia sedang bermimpi indah. Entah bagaimana esok hari jika bundanya tak kunjung kembali, apakah senyuman itu masih bisa terukir di sudut bibirnya yang mungil?
Bara beralih ke ranjang Nathan, anak laki-lakinya itu tidur memeluk robot kesayangannya, "Maafkan daddy boy, jadilah laki-laki bertanggung jawab, jangn seperti daddy," ia juga mencium kening Nathan. Anak laki-lakinya itu tak terlalu rewel atau bawel, tapi bukan berarto dia tidak peka, jika ia tahu bundanya pergi, pasti ia juga tak kalah sedih dari Nala.
"Malam ini temani mereka tidur, tidurlah yang benar jangan sambil terduduk," ucap Bara, ia meninggalkan kamar si kembar.
__ADS_1
Bagitu masuk kamar, Bara menerawang seluruh ruangan tersebut yang tak ada lagi keceriaan sang istri. Bara duduk di tepi ranjang merogoh ponselnya, ia menghubungi Varel. Entah apa yang ia katakan keada adik iparnya tersebut. Beberapa saat lamanya ia meneleponnya lalu melemoarkan ponselnya ke atas tempat tidur setwlah panggilang berakhir.
Dengan langkah gontai, Bara masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Di bawah guyuran shower, Bara Berkali-kali menyebut nama Syafira dan meminta maaf. Ia benar-benar menyesal atas semua yang terjadi. Meski kecelakaan itu tak di sengaja, namun tetap saja ia salah.
Ia menyisir rambutnya dengan jari jemarinya frustrasi. Di bawah shower yang menhucur deras, Bara menangis tergugu, mengingat semua kesalahannya terhadap Syafira. Jika ia tahu dari awal, asti sikapnya kepada Syafira tak akan seburuk itu sejak awal mereka bertemu. Gadis itu tak pernah membencinya atas sikapnya dulu. Tapi kali ini, pasti ia benci, sangat benci!
Mesk berusaha kuat dan tegar , tapi nyatanya hatinya rapuh juga, Bara merasa beban di pundaknya kali ini begitu berat, sangat berat hingga ia seperti ingin menyerah. Kepalanya terasa pening, serasa mau pecah memikirkan semua masalah yang menimpanya secara bersamaan.
Malam itu Bara dengan terpaksa harus meninggalkan si kembar dan masalahnya bersama Syafira. Ia tak boleh gegabah, satu persatu masalah harus ia selesaikan. Setelah keadaan perusahaan membaik, ia akan kembali memohon pengampunan dari Syafira lagi. Mungkin saat itu Syafira audah lebih bisa memaafkannya. Perkara keputusan untuk kelanjutan rumah tangga mereka, ia pasrah.
Sementara Syafira, ia menghabiskan malam yang terasa amat panjang dari biasanya itu dengan terus menangis. Entah kenapa air matanya itu tak kunjung kering meski ia sudah terlalu banyak mengeluarkannya. Entah sampai pukul berapa ia menangis hingga tertidur meringkuk dengan sendirinya karena terlalu lelah menangis seraya mendekap erat photo dirinya bersama sang ayah dan adiknya.
Hari yang benar-benar berat untuk Syafira dan Bara.
πΌ πΌ πΌ
π π Jangan lupa like komen dan mawarnya... Votenya juga boleh hika masih ada sisa, mungkin masih nyempil kekuapaan belom buat vote ππππΌππΌ
__ADS_1
O ya, jangan lupa selalu jaga kesehatan dan patuhi prokes...
Salam hangat author, π€β€οΈβ€οΈπ π