Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 143


__ADS_3

Pagi hari....


Syafira mengerjapkan matanya ketika waktu menunjukkan pukul empat pagi. Ia menatap suaminya yang masih mendengkur halus. Tiba-tiba ia kembali merasa bersalah ketika ingatan ya membawanya ke kejadian semalam.


"Ya ampun, kenapa aku ngidamnya aneh begini sih. Aturan tuh kalau lagi hamil senang begituan, ini malah mual. Dek, dia ayahmu, Nak. Emang nggak mau kenalan sama ayah? Nggak mau di jengukin ayah?" Syafira berkata dalam hati sambil mengusap-usap perutnya.


"Sayang, bangun," bisik Syafira di telinga Bara lalu ia membubuhi wajah suaminya tersebut dengan ciuman.


Bara menggeliat dan mulai membuka kedua matanya, "Sayang, kok udah bangun. Kenapa? Mual lagi? Apa mau sesuatu?" Tanya bara, matanya langsung membuka sempurna, rasa kantuknya seketika menguap.


Syafira tergelak melihat respon ceat suaminya, bagaimana ia tidak jatuh cinta lagi dan lagi sama suaminya jika seperti ini, pikirnya.


" Enggak ma Baraku, sayang. Istrimu nggak mual, tapi pengin sesuatu," ucap Syafira menangkupkan kedua tangannya di wajah Bara.


"Apa? Katakan! Mas akan buatkan, atau kalau nggak ada akan mas carikan," Bara menyingkap selimtnya dan bersiap turun dari tempat tidur.


"Jangan turun!" cegah Syafira, ia menarik tangan Bara supaya duduk.


"Iya, ayo katakan. Istri dan anak mas mau apa, hem?" tanya Bara lembut.


"Mau ini," Syafira meremat si piton dari luar. Membuat Bara langsung meringis.


"Mau lanjutin yang semalam," imbuh Syafira cepat.


"Nggak, nanti kamu mual lagi sayang,"


"Emang sedikit mual. Sih, tapi karen morning sickness. Tapi aku mau,,," rengek Syafira.


Ya ampun, mimpi apa istrinya merengek minta seperti itu, pikir Bara. Tapi ia juga khawatir kalau Syafira akan mual parah lagi seperti semalam.


"Mas nggak mau? Udah bosan sama aku? Belum juga gendut badan aku, udah nggak mau aja!" Syafira pura-pura merajuk, sebenarnya ia ingin menebus rasa bersalahnya semalam. Bermain kilat sebelum melakukan rutinitas seertinya tidak masalah, pikirnya.


"Eh, kok gitu? Nggak gitu sayang, aduh bumil ko sensitif banget gini ya. Bukannya mas nggak cinta, bukannya mas bosan sayang. Tentu aja mau, siapa sih yang nolak rejeki di pagi-pagi buta begini. Cuma kan...."

__ADS_1


"Ssst, stop!" Syafira langsung membungkam mulut Bara dengan bibirnya.


"Aku mau, apapun caranya," ucap Syafira tanpa bisa di ganggu gugat.


"Tapi, jngan salahkan mas kalau nanti mual lagi," Bara langsung mengukung Syafira di bawahnya.


Syafira menarik tengkuk Bara tak sabar untuk memulai aktivitas singkat pagi itu.


Bara merasa geli dan prihatin kepada dirinya sendiri melihat Syafira memejamkan matanya ketika si piton sudah bebas dan bersiap masuk ke sarangnya. Padahal ia paling suka ketika Syafira melihatnya melakukan tugas sebagai suami di bawah sana. Melihat betapa gagahnya dia yang sedang menunjukkan keperkasaannya yang kini telah berhasil. Membuahi rahim nya tersebut. Namun, apa mau di kata, dari pada mual lagi dan aktivitas mereka akan kembali terganggu.


Syafira memekik, ketika tubuh mereka berhasil menjadi satu. Rasa luar biasa tak bisa ia utarakan. Sudah lama mereka tak melakukannya.


"Kok di kunci, sih!"


Bug Bug bug!


"Daddy, bunda! Buka pintunya!" teriakan Nala terdengar melengking di depan pintu. Rupanya gadis cilik itu sudah bangun dan tidak menemukan keberadaan Syafira di sampingnya.


"Mas, Nala," ucap Syafira dengan napas terengh tanpa membuka matanya.


Dug dug dug!


"Bundaaaa... Bundaaaaa kenapa ninggalin Nala... Daddy... Buka. Bunda Jangan tinggalin Nala lagi...!"


Dug dug, "Bukaaaaa!!!!


"Mas, gimana? Udah mau belum? Kasihan Nala," tanya Syafira.


"Ya ampun, kamu nggak kasihan sama mas. Nanggung ini, sebentar lagi. Masa udahan gitu aja, nggak enak rasanya,"


"Ya udah, cepetan. Kilat, mas," ucap Syafira.


"Maafin daddy princess, tapi daddy harus menyelesaikan apa yang udah daddy mulai," Bara kembali melakukan aktivitas favoritnya.

__ADS_1


Sementara di luar, Nala terus saja meneriakkan keduanya.


Dug dug dug! Nala menggwdor pintu menggunakan kakinya karena tangannya yang mungil itu tidak akan menimbulkan bunyi yang keras jika hanya mengetuk.


"Huwaaa.. Daddy... Bunda... Bangun.... Buka pintunya... Nala mau masuk....!"


"Daddy.... Nala mau masuk.....!!!!"


Karena merasa tak tega dengan Nala, Nathan bangun dan ikut mengetuk pintu.


Tok tok tok, " Daddy, bunda... Sudah bangun belum? Buka pintunya, ini Nala dari tadi nyariin bunda terus. Nangis. Berisik! Nathan masih ngantuk," ucap Nathan.


" Teriak Athan, yang kencang, daddy sama bunda biar dengar!" protes gadis yang kini sedang memeluk boneka lilu tersebut.


" Kamu aja!" ucap Nathan yang langsung merosot dan kembaki menyender ke tembok.


" Dadddyyyy.... Bundaaaa..... Bukaaaaa... Nala mau masuk.... "teriak Nala lagi.


Di dalam, Bara dan Syafira sedang mengatur napas mereka setelah beberapa detik yang lalu selesai melakukan ibadah sebagai suami istri.


Bara segera memakai celananya lalu membantu Syafira memakai pakaiannya kembali.


Bara mengambil pengharum ruangan lalu menyemprot ke seluruh sudut ruangan supaya tambah wangi, mengalahkan wanginya hasil tanam sahamnya.


Setelah di rasa aman, Bara berjalan tergesa menuju ke pintu.


Ceklek!


"Dadddyyyy huwaaa... Daddy nakal... Bundaaa!" Nala langsung nyelonong masuk saat pintu terbuka.


"Boy..." Bara tersenyum kepada Anak laki-laki nya yang selalu lebih peka.


"Daddy lama bangunnya. Nggak dengar Nala teriak-teriak dari tadi," bocah laki-laki itu bngun dari duduknya lalu berjalan masuk melewati Bara yang hanya bisa nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

__ADS_1


🌼 🌼 🌼


__ADS_2