
"Aku bisa sendiri mas, nggak usah di pasangkan," ujar Syafira ketika Bara ingin memasangkan seat belt kepadanya.
"Mas Bara akhir-akhir ini kenapa sih? Jadi aneh tahu nggak, aku jadi nggak nyaman," ucap Syafira terus terang.
"Terus kamu maunya saya bagaimana? Cuek salah, baik salah. Serba salah," Bara mengembuskan napasnya kasar sambil menyalakan mesin mobilnya lalu melajukannya .
"Malah diam," ucapnya sambil membelokkan laju mobilnya ke arah kiri setelah melewati gerbang utama kediaman Osmaro.
""Fir...kamu dengerin saya tidak sih?" tanya Bara mulai kesal.
"Iya mas, ini lagi mikir buat jawab. Sabar napa sih, jangan gampang kesal, cepat tua nanti," cebik Syafira.
"Eh emang udah tua ding! lupa hehe," imbuhnya terkekeh.
"Kenapa kamu suka sekali mengatai saya tua Fir? Saya itu pria dewasa, bukan tua," protes Bara.
"Dih nggak sadar, buntutnya udah dua, berati udah jadi orang tua," sindir Syafira tak mau kalah.
Lagi-lagi Bara hanya bisa menarik napas dalam dan mengembuskannya pelan. Benar-benar! Sepertinya istrinya tersebut sengaja membuatnya merasa kelimpungan menghadapi sikapnya.
"Itu dua juga sekaligus dapatnya Fir, cetak satu bonus satu. Jadi sama aja kayak baru punya anak satu. Bukannya justru malah sedang menggoda-menggodanya Fir, seorang hot daddy dalam usian segini?" ucap Bara tak mau kalah.
"Ya lah ya lah! terserah mas Bara saja, asal senang!" sahut Syafira.
"Kok gitu Fir?"
"Lah, emang harus gimana? Biasanya gitu kan, asal Anda senang, saya menderitapun tak masalah!" sindir Syafira.
"Gitu amat Fir ngomongnya," ucapan Syafira terasa sangat menohok hati Bara.
"Heleh canda mas," Syafira menoel lengan Bara.
"Tapi aku merasa itu seperti dari hati kamu bilangnya Fir," batin Bara mendesah.
__ADS_1
"Nyalain lagu mas, biar nggak sepi," Syafira mengambil beberapa kaset dan memilih salah satu untuk di nyalakan.
"Suara kamu aja sudah ramai Fir," Bara melirik aktivitas Syafira. Istrinya tersebut tak menggubris ucapannya.
Setelah menyalakan musik, Syafira bersenandung kecil mengikuti lirik lagu yang di putar.
"Pertanyaanku tadi belum di jawab Fir?"
"Pertanyaan yang mana mas?" Syafira balik bertanya.
"Yang itu, saya harus bagaimana bersikap sama kamu Fir,?
"Oh itu, terserah mas Bara saja, asal dari hati. Mau dingin atau hangat sikap mas ke aku, kalau dari hati, it's oke!" ucapnya.
Bara terdiam, mencoba mencerna ucapan Syafira.
"Kenapa saya merasa kamu sedang balas dendam sama saya ya Fir, kenapa saya merasa kamu sengaja membuat saya bingung dan frustrasi menghadapi kamu Fir? Kalau begini, sampai kapan hati ini akan sampai ke sana, kalau kamu tidak mau menuntunnya, menunjukkan jalan untuk sampai ke sana, aku takut tersesat dan memutuskan kembali lagi ke masa lalu Fir," gumam Bara dalam hati.
Keduanya diam sambil menikmati lagu yang Syafira putar tadi.
🌼🌼🌼
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil Bara sudah memasuki halaman toko.
"Makasih ya mas udah mau ngantar aku," ucap Syafira sambil melepaskan seat beltnya, lalu ia mengulurkan tangannya untuk menyalami tangan Bara.
Bukannya menyambut ukuran tangan Syafira, Bara malah ikut melepas seat beltnya.
"Ayo turun!" ajak Bara.
"Mas mau ngapain?" tanya Syafira heran.
"Mau bantuin kamu buat kue, ayo!" jawab Bara, ia menutup pintu mobilnya dan berjalan mendahului Syafira.
__ADS_1
Syafira berlari kecil menyusul langkah panjang kaki Bara, mensejajarkan langkah kaki mereka meski tetap saja Syafira tidak bisa menyamai langkah Bara yang panjang.
"Terus anak-anak bagaimana mas? Mas pulang aja deh, aku bisa handle semuanya sendiri. Ada Rani juga yang bantu," ujar Syafira.
"Apa kamu lupa tadi mereka bilang apa, hem?" tanya Bara, Syafira bodo amat tak mendengar.
"Mereka bilang kita di persilakan buat pacaran, mereka tidak masalah di rumah tanpa kita," lanjutnya karena Syafira tak menyahut.
"Mas Bara menganggap serius omongan anak-anak? Bahkan mereka saja tidak paham apa yang mereka ucapkan, bekum paham apa itu pacaran. Hadeh, ini yang anak-anak yang mana, yang bapak-bapak yang mana. Udah sana mas pulang aja, kasihan mereka," Syafira mendorong tubuh Bara pelan, namun karena tubuh Bara yang kokoh malah membuat Syafira mental dan hampir jatuh karena kehilangan keseimbangannya . Beruntung, Bara dengan sigap menyangga tubu Syafira supaya tidak jatuh. Bisa di bayangkan betapa malunya jika Syafira sampai jatuh terpental di depan tokonya sendiri. Pandangan keduanya kembali bertemu. Membuat keduanya kehilangan akal sehat, Bara memajukan wajahnya dengan pelan, ingin mencium bibi ranum Syafira. Namun, Syafira segera menyadari dimana posisi mereka sekarang. Tangannya langsung membungkam mulut Bara yang hendak menyosornya tersebut.
"Lihat-lihat tempat dong mas kalau mau mesum. Ini di depan toko, astaga otakmu mas. Ngeres. Lepaskan!" Syafira menepis tangan Bara yang memeganginya.
"Lagian, di suruh pulang ngga mau, di sini yang ada pasti gangguin aja deh,"cebik Syafira.
"Diam, jangan bicara lagi atau kamu tidak saya ijinkan buka toko lagi, kamu lupa siapa suami kamu? Tanpa toko kecil ini, saya mampu menghidupi kamu," ucap Bara.
"Kan, kan! dalil suami muncul lagi. Iya iya tuan muda yang kaya raya, tak akan habis tujuh tanjakan maupun turunan kekayaannya. Tapi nih ya, aku tetap harus kerja, kan mas Bara bayarin semua hutang dan biaya Adel dengan Syarat aku jadi ibunya si kembar. Buat jaga-jaga aja, siapa tahu nanti tenaga aku sudah nggak di butuhkan lagi buat jadi ibu mereka dan mas Bara menuntut aku buat ngembaliin hutang aku yang jumlahnya sendiri aku nggak bisa hitung nolnya itu. Jadi, aku tetap harus bekerja keras ngumpulin duit," ujar Syafira panjang lebar.
Bara langsung menghentikan langkahnya tepat di depan Syafira, setelah Syafira selesai bicara. Membuat Syafira tersentak kaget dan langsung mengerem kakinya.
"Sudah bicaranya?" ucap Bara menatap Syafira serius.
Syafira salah tingkah di tatap seperti itu oleh Bara.
"Kalau misalnya saya mencabut kembali omongan saya bagaimana?" ucapan Bara semakin serius, menatap dalam manik mata istrinya.
"Eh dia serius?" batin Syafira bertanya. Ia membalas tatapan suaminya dalam, mencoba mencari keseriusan di sana. Dan....dia menemukannya!.
"Tenang Fir, jangan gegabah. Jangan asal percaya omongannya begitu saja, kuatkan mental buat tidak langsung luluh. Lihat dulu seberapa seriusnya dia," ucap Syafira dalam hati.
"Ayo ah mas, cepetan masuk, kasihan Rani pasti udah kerepotan," Syafira langsung ngeloyor masuk mendahului Bara. Laki-laki itu hanya mampu memejamkan matanya sekejap lalu mendesah berat. Sekilas, seutas senyum ia sematkan di bibirnya, betapa menggemaskannya istrinya tersebut saat salah tingkah seperti itu. Ia mengikuti Syafira dari belakang dengan langkah santai.
__ADS_1