Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 144


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian....


Hari-hari, bahkan bulan-bulan selanjutnya berhasil di lewati oleh Syafira dan Bara dengan penuh drama. Dimana Syafira yang saat berjauhan dengan Bara begitu mandiri dan kuat, namun langsung berubah seratus delapan puluh derajat ketika mereka kembali bersama.


Mulai dari drama mualnya Syafira saat melihat si piton yang bertahan sampai usia kandungannya empat bulan, Sampai mabuk parah yang membuatnya terus berada di toilet tanpa beranjak sedikitpun. Hingga pada akhirnya ia harus diinfus demi mencegah dehidrasi karena terlalu sering muntah. Jangankan makan, minum air putih saja akan kembali keluar. Benar-benar membuat tenaganya terkuras.


Bahkan berat badannya sempat turun drastis. Hal itu, membuat Syafira dan Bara sedikit was-was akan kondisi janinnya sehingga ia terpaksa cuti kuliah, paling tidak sampai anaknya lahir nanti.


Tapi, beruntung setiap di periksa oleh dokter, bayi mereka sehat dn baik-baik saja, perkembangannya juga sesuai dengan usia kehamilannya.


Namun, semua itu menghilang seiring berjalannya waktu. Di usia kehamilannya yang kini sudah berada di trismeter akhir membuat Syafira tak lagi merasakan hal-hal drama yang dulu sangat 'nikmat' ia rasakan, kini tak lagi ia rasakan.


Rasa tak sabar untuk segera bertemu dengan buah hatinya selalu menggebu-gebu ia rasakan.


"Sayang, cepat lahir ya. Bunda udah nggak sabar buat ketemu," ucap Syafira yang kini sedang mematut dirinya di depan cermin. Mengusap-usap erutnya yang sudah membuncit. Tubuhnya tak bertambah gendut sedikitpun, hanya perutnya saja yang semakin membesar.


Bahkan, Varel dan Adel sering meledek ya seperti orang busung lapar karena hanya perutnya saja yang membuncit.


Ceklek!


Bara yang baru saja masuk, tersenyum begitu melihat Syafira yang hanya mengenakan pakaian dalam saja. Jika berada di dalam kamar, Syafira lebih suka memakai pakaian dalam saja atau jika memakai daster, ia tidak akan memakai daleman.


Tentu saja, hal itu membuat Bara girang bukan main karena memudahkannya untuk mengunjungi anak mereka.


Bara berjalan mendekat lalu memeluk Syafira dari belakang. Ia mengecup pundak Syafira yang tak tertutup apapun itu. Tangannya melingkar sempurna di perut buncit Syafira.


"Mas udah pulang?" ucap Syafira.


"Iya, kerjaan selesai cepat jadi mas bisa pulang lebih awal," Ucap Bara, bibirnya sudah asyik mengecup leher Syafira.


Semenjak Syafira hamil tua, Bara memang sering pulang lebih awal.


"Habis mandi ya, wangi banget!" Bara mengendus aroma shampo yang menempel di rambut Syafira.


"Iya, habisnya gerah banget. Jadi mandi lagi," jawab Syafira,. Ia tersenyum. Melihat pantulan dirinya dan Bara dengan perutnya yang besar dari cermin.


"Yo look, so sexy!" bisik Bara.


Syafira menoleh lalu mengecup rahang kokoh suaminya.


"Ini hasil kerja kerasmu, mas," ucap Syafira.


"Terima kasih udah buat dia ada di sini," lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Emm... Menurut Dokter perkiraan lahirnya masih seminggu lagi kan?" tanya Bara.


"Iya, kenapa?"


"Pakai baju sayang, mas mau ngajak kamu ke suatu tempat," ajak Bara.


"Kemana?" tanya Syafira.


"Jalan-jalan. Bernostalgia waktu dulu mas berhasil merawani kamu. Masih seminggu lagi kan? Bisa dong diajak ke hotel waktu itu, sebelum mas puasa,"


"Jauh itu,"


"Enggak, dekat kok,"


"Anak-anak gimana?"


"Kan ada Adel, dia udah pulang sekolah tuh mas lihat. Lagi main sama si kembar. Gimana?"


"Ya udah, aku ikut gimana mas Bara aja," Syafira langsung mencari pakaian yang nyaman ia kenakan.


🌼 🌼 🌼


Bara kembali mengajak Syafira jalan-jalan menggunakan motor gedenya. Meski tak bisa memeluk erat suaminya lantaran terganjal perutnya, namun tak mengurangi keromantisan mereka.


"Kenapa sayang?" tanya Bara sambil. Melajukan motor gedenya pelan.


"Aku mules," ujar Syafira meringis.


Bara menepikan sepeda motornya, "Udah mau lahiran? Aduh gimana dong," ujar Bara langsung gusar.


"Enggak ah, paling mules biasa. Kan waktu lahirnya masih seminggu lagi. Cariin toilet mas," jawab Syafira.


Bara kembali melajukan sepeda motornya dan berhenti di sebuah SPBU.


"Gimana?" tanya Bara yang berlari tergopoh-gopoh keluar dari minimarket yang ada di SPBU.


"Udah enakan," jawab Syafira yang baru saja keluar dari toilet.


"Ini minum dulu," Bara membuka tutup air mineral yang baru saja dibelinybllu menyodorkannya kepada Syafira.


"Apa kita pulang aja? Mas jadi was-was nih, gimana kalau mau lahiran beneran? Mumpung baru separuh perjalanan ini," ucap Bara.


"Udah hilang ini mulesnya. Jalan lagi aja nggak apa-apa. Nanggung udah separuh jalan. Kapan lagi bisa honeymoon lagi kan," ucap Syafira

__ADS_1


"Yakin?"


Syafira mengangguk. Bara pun kembali melajukan sepeda motornya. Namun, belum seberapa jauh motor melaju, rasa mulas kembali Syafira rasakan, "Aduh, mas.... Mulas lagi," ucap Syafira.


"Hah, serius? Jangan-jangan beneran mau lahir," kata Bara panik.


"Nggak tahu, mas. Kan aku belum pernah melahirkan, jadi nggak tahu gimana rasanya,"


"Iya, ini. Kayaknya emang mau lahiran. Aduh, kita balik aja ya," ujar Bara.


"Cari toilet dulu, ini mules banget. Mau buang air lagi," kata Syafira mengelus perutnya.


Untung mereka berhenti tak jauh dari reat area, Bara memarkirkan sepeda motornya. Syafira bergegas ke toilet.


"Gimana? Masih mules? Duduk sini dulu," Bara mengajak Syafira duduk di meja pojok.


"Udah agak mendingan sih. Dari pagi udah agak mules sebenarnya, tapi aku kira mules biasa, orang ke kamar mandi juga keluar kok,"


"Aduh sayang, dari pagi ya. Kenapa enggak bilang tadi. Kalau tahu gitu nggak bakal mas ajak pergi,"


"Ya, aku nggak tahu mas. Kemarin periksa kan dokternya bilang masih seminggu lebih HPLnya (Hari perkiraan lahir).


"Kan dokter juga bilang,. Bisa maju atau mundur. Aduh gimana ini,"


" Jadi Ini aku mau lahiran?" Wajah Syafira langsung berubah pucat, panik dan takut.


"Gimana ini mas... Aduh, mules lagi ini," Syafira pergi ke toilet lagi. Bara mengikutinya, "Mas ikut masuk, takutnya kenapa-kenapa di dalam," ucap Bara dan Syafira hanya menurut.


"Kita balik aja, semoga anak kita bisa sabar menunggu buat keluar. Ayo sayang,"


Sesampainya di parkiran sepeda motor, "Bisa naik motor?" tanya Bara yang sudh harap-harap cemas.


"Bisa," jawab Syafira.


"Tahan ya, sayang," Bara kembali melajukan sepeda motornya. Sungguh, jika tahu akan begini, ia tidak akan mengajak Syafira pergi.


"Massss..." Syafira mencengkeram pinggang Bara ketika mules kembali ia rasakan.


"Aduh, gimana ini. Massss...nggak mau lahiran di jalan... aku takut mas... Ssshhh maasss..." Syafira menarik napas lalu mengembuskan ya pelan demi mengurangi sedikit rasa mulesnya.


Sejujurnya Bara sendiri merasa amat panik. Tapi dia mencoba untuk terlihat tenang, ia tak ingin membuat Syafira semakin panik.


🌼 🌼 🌼

__ADS_1


__ADS_2