Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 126


__ADS_3

Adel sontak mengalihkan pandangannya kepada Syafira, berjalan mendekatinya dan mengabaikan dokter yang sibuk menyiapkan vitamin dan obat penguat kandungan untuk Syafira di bantu perawat.


"Kak... Jawab jujur.. Ada apa ini? Siapa yang ngelakui? Siapa kak?" tanya Adel frustrasi. Ia pikir kakaknya telah ternoda seblum menikah.


"Tenang dulu dek, kita bicara di rumah. Jangan di sini, nggak enak sama dokternya. Nanti kakak jelasin," sahut Syafira dengan tenang. Ya, ia berusaha setenang mungkin.


Adel patuh, ia sadar tempat mereka kini berada bukanlah yang tepat untuk membahas hal tersebut. Ia tak ingin memancing keributan di sana. Karena sudah jelas ia akan marah dan murka jika benar kakaknya hamil di luar nikah.


Mereka berdua keluar menghampiri uwak dan juga laki-laki pemilik mobil yang bernama Rizal.


"Gimana Fir? Sakit apa? Apa perlu opname kata dokter?" tanya Rizal tampak khawatir. Rizal adalah teman bermain Syafira waktu kecil jika mereka berkunjung ke rumah uwak mereka. Laki-laki itu tak bisa menyembunyikan ketertarikannya kepada Syafira hingga kini.


" Aku nggak apa-apa. Cuma kecapean aja. Kata dokter istirahat sama obat nanti juga baikan. Makasih ya Zal, udah mau nganterin ke sini, jadi ngerepotin" ucap Syafira tersenyum.


"Nggak masalah Fir, santai aja. Kayak sama siapa aja. Aku seneng di repotin sama kamu, kalau tadi uwak kamu nggak minta tolong ke rumah, aku malah nggak tahu kalau kamu ada di sini," sahut Rizal tak pernah berhenti tersenyum.


"Ayo, kita pulang sekarang. Fira harus banyak istirahat," ajak uwak.


Sepanjang perjalanan, laki-laki bernama Rizal tersebut selalu melirik, curi-curi pandang terhadap Syafira yang menurutnya semakin cantik dan menarik dari terkahir kali mereka bertemu dulu.


🌼 🌼 🌼


"Jelaskan kak, kenapa kakak bisa hamil? Sama siapa kak? Atau sama mas Rendra? Iya kak? Apa dia tahu kalau kakak hamil?" cecar Adel setelah kini mereka sudah berada di rumah uwak mereka. Yang ia tahu, dulu kakaknya dekat dokter Rendra. Ia tahu laki-laki yang berprofesi sebagai dokter itu menyukai kakaknya dan diam-diam kakaknya juga menyukai pria itu.


"Tenang dulu. Sabar. Kasihan kakak kamu masih lemas, biar dia minum dulu," ucap uwak sambil menyodorkan segelah teh hangat untuk Syafira.


"Siapa kak? Benar mas Rendra?" tanya Adel tak sabar setelah Syafira meletakkan gelas di meja.


"Bukan," Syafira menggeleng.


"Lalu siapa? Siapa yang berani melakukan itu sama kakak? Setahu Adel dulu yang dekat cuma mas Rendra," Adel tampak frustrasi.

__ADS_1


"Suami kakak, kakak udah menikah dek," jelas Syafira.


Deg!


Adel kembali terkejut dengan penuturan sang kakak. Namun, ada rasa lega di hatinya manakala tahu Syafira hamil bukan di luar nikah. Mungkin saat dia koma, Syafira butuh sandaran dan tempat untuk berkeluh kesah, sehingga ia memutuskan untuk menikah, pikir Adel dan ia bisa menerima hal itu.


"Sama siapa kak? Mas Rendra kan?" tanya Adel seraya sedikit mengu lum senyum. Sejak dulu ia setuju jika Syafira menjalin hubungna dengan dokter Rendra.


Lagi-lagi Syafira menggeleng.


"Lalu?" Adel tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


"Del, sebaiknya biarkan kakak kamu istirahat dulu. Nanti bisa di bicarakan lagi," kata uwak, ia khawatir dengan kondisi Syafira juga Adel.


"Tidak wak, biarkan Fira katakan semuanya kepada Adel sekarang juga. Fira nggak tahan jika harus menyembunyikan hal ini terus," sergah Syafira. Ya, ketika sampai di rumah uwak mereka, Syafira bercerita kepada uwaknya meskipun tak detail. Ia hanya bercerita jika Adel belum tahu kalau dirinya sudah menikah. Itu saja.


" Dek, maafin kakak," Syafira meraih tangan Adel.


"Kakak udah menikah,"


"Iya Adel tahu, tadi kakak udah bilang,"


"Suami kakak namanya mas Bara..." Adel sedikit terkejut, ia belum. Pernah mendengar nama itu. Nama itu tak pernah ada dalam daftar teman atau kenalan Syafira sebelumnya.


Adel masih menyimak, menunggu Syafira meneruskan bicaranya. Kakaknya tersebut terlihat sedang mengumpulkan keberanian untuk kalimat selanjutnya.


"Dia seorang single parent atau duda anak dua, kembar," Adel semakin terkejut, kakaknya yang masih muda, cantik, dan pintar tiba-tiba memilih menikah dengan sorang pria dewasa, duda lagi. Namun, logikanya mencoba menerima. Cinta tak memandang status dan usia. Jika kakaknya cinta, dudapun tak apa, pikirnya.


" Dan tanpa sengaja, dia yang sudah menabrak ayah dan kamu waktu itu," Syafira melanjutkan bicaranya sebelum Adel menyela.


BOOOOOM!

__ADS_1


Seperti mendapat kejutan berupa bom atom, Adel langsung menarik tangannya dari genggaman Syafira. Kepalanya terus menggeleng, bayangan sebuh mobil yang melaju cepat kala itu dan sepeda motor yang di kendarai sang ayah yang tak bisa menghindar dari hantaman mobil, kembali memenuhi kepalanya.


Pun dengan uwak yang sejak tadi menyimak, ia tak kalah terkejutnya seperti Adel. Ia seperti kehabisan kata-kata dan memilih diam dengan mata menerawang. Ia bisa menyimpulkan, inilah penyebab yang membawa Syafira dan Adel ke rumahnya.


"Nggak mungkin! Kakak jangan becanda, nggak mungkin kakak menikah dengan orang yang sudah menyebabkan ayah meninggal. Nggak! Nggak mungkin!" Tangis Adel kembali pecah. Sedih, kecewa, marah kini menyeruak menjadi satu di dadanya yang terasa sesak.


"Kenapa, kenapa kakak mau menikah dengan orang itu. Kenapa kak..."


"Tenang dulu dek, kakak jelasin dulu. Kakak sebelumnya nggak pernah tahu kalau orang itu mas Bara, suami kakak. Mas Bara juga nggak sengaja melakukannya, dia orang baik dek," jelas Syafira dengan derai air mata.


"Kok kakak malah belain dia, jelas-jelas karena dia ayah ninggalin kita kak! Kakak malah bela pembunuh itu!" teriak Adel sambil berderai air mata.


"Adel cukup! Dia bukan pembunuh! Bagaimana pun juga dia ayah dari anak yang kakak kandung sekarang. Kamu bisa marah dan benci sama dia , tapi jangan katakan kalau dia seorang pembunuh," Syafira merasa sakit dan tak terima ketika Adel mengatai suaminya pembunuh.


"Kalau bukan pembunuh apa namanya kak? Sengaja atau tidak, dia penyebabnya, karena dia!"


"Dia nggak sengaja Dek, nggak sengaja. Saat tahu kenyataannya kakak juga sama, marah dan kecewa. Tapi dia bukan pembunuh dek, bukan," Syafira mengusap perutnya. Berharap percakapan ini tak terdengar oleh makhluk kecil di dalam perutnya.


"Kakak juga marah dan kecewa bukan? Kalau begitu ceraikan saja dia kak,"


Syafira menggeleng tak percaya, reaksi Adel akan langsung seperti ini. Saat ia tahu kebenarannya, memang marah dan kecewa bahkan sempat terbesit keinginan untuk menyerah dengan rumah tangganya. Namun Bara waktu itu mencegahnya mengambil keputusan saat amarahnya berada di puncak. Namun, saat mendengar Adel memintanya bercerai dengan Bara, hatinya langsung menolak keras.


"Dek... Maafin kakak. Di dalam perut kakak sekarang ada anaknya mas Bara, nggak bisa,"


"Ada Adel kak, ada Adel yang akan bantu merawat anak kakak nanti, jangan khawatir. Kalau sekarang nggak bisa karena kakak lagi hamil, setelah melahirkan bisa kan menggugat? Pasti dia menikahi kakak tidak tulus. Pasti karena kejadian itu, dia memanfaatkan kakak, pasti karena dia merasa bersalah dan tajut kakak menuntutnya,"


Masalah bukan cuma itu, bukan sekedar karena Syafira sedang hamil atau takut tidaknbisa merawat anaknya sendirian. Tapi, karena ia telah jatuh cinta, sejatuh-jatuhnya kepada pria itu dan semua yang menyertainya, dua anak kembar yang juga menjadi bagian hidupnya kini.


Melihat reaksi Syafira, Adel langsung berdiri, "Adel nggak bisa terima dia jadi kakak ipar Adel. Sekarang kakak pilih, mau pilih suami kakak itu atau Adel?" tantang Adel.


🌼 🌼 🌼

__ADS_1


πŸ’ πŸ’ Eits, sabar.... Ini belum akhir, jangan kesal dulu karena masih belum brtemu, masih ada bab selanjutnya... Jangan cuma di lewati ya, tinggalkan jejak like dan komentarnya sebekum lanjut part selanjutnya.... Terima kasih πŸ™πŸΌ πŸ™πŸΌπŸ˜ŠπŸ’ πŸ’ 


__ADS_2