
Cukup lama Bara berada di makam ayah mertuanya, hingga ada sebuah pesan yang di kirim oleh Syafira.
"Mas aku ke cafe xxx ya, cuma sebentar kok, mau ketemu ibuk," Bara membaca pesan dari dari Syafira.
Bara mengernyitkan keningnya ketika membaca pesan Syafira. Ia langsung menelepon sang istri.
"Kamu yakin mau menemui dia?" Bara langsung bertanya begitu Syafira mengangkat panggilannya.
Bara mendengar penjelasan Syafira, kenapa ia akhirnya mau menemui ibunya.
"Kalau begitu tunggu mas, mas yang akan mengantar kesana, mas pulang sekarang," ucap Bara.
Bara lagi-lagi mengernyitkan dahinya, ternyata Syafira sudah berada di jalan. Ia naik William dan sekarang sedang berhenti di pinggir jalan untuk menerima telepon dari Bara.
"Ya sudah, hati-hati," pesan Bara.
"Love you more," Bara kembali memasukkan ponselnya ke saku celana setelah panggilan di matikan oleh Syafira.
"Sekali lagi maafkan keegoisan saya ke depannya," Bara menatap lekat makam ayah Syafira, sebelum ia meninggalkan tempat itu.
Sementara itu, Syafira kembali melajukan sepeda motor maticnya. Sebenarnya ia sedikit curiga dengan nada bicara suaminya yang seperti tidak bersemangat tadi.
" Mungkin karena banyak pekerjaan yang membuat mas Bara kelelahan, jadi mas Bara nggak semangat ngomong," monolognya sambil berkendara.
Syafira segera memarkir sepeda mootornya begitu sampai tempat tujuan.
__ADS_1
Ia melihat ibunya sudah berada di dalam cafe. Dengan perasaan deg-degan, Syafira melangkah masuk. Ini kali pertama ia akan bertatap muka secara langsung dengan ibunya setelah sekian lama.
"Kenapa naik motor butut? Suamimu orang kaya bukan?" pertanyaan pertama yang terlontar dari wanita yang telah melahirkannya tersebut. Bukan menanyakn soal kabar Syafira selama ini. Membuat Syafira tersenyum getir.
"Aku lebih suka naik motor," ucap Syafira, ia langsung duduk di seberang ibunya yang sudah menghabiskan setidaknya setengah gelas orange juice di depannya. Sudah cukup lama berarti wanita paruh baya itu menunggunya.
Pelayan datang untuk menanyakan pesanan Syafira.
" Air putih saja," ucap Syafira kepada pelayan cafe.
"Yakin tidak mau pesa yang lain?" tanya ibunya.
"Itu saja," ucap Syafira, ia melihat ke arah pelayan.
"Fir, ibu tahu suami kamu orang kaya, orang yang berpengaruh. Ibu minta tolong sama kamu, tolong bujuk suami kamu untuk membantu suami ibu, perusahaannya hampir bangkrut," ucap sang ibu tanpa basa basi setelah pelayan itu kembali dengan segelas air putih, meletakkannua di meja lalu pergi dari sana.
"Suami Fira memang orang kaya, tapi Fira tidak bisa membantu ibuk. Fira sudah banyak menggunakan uangnya untuk membayar hutang dan juga biaya rumah sakit Adel," ucap Syafira.
"Adel sakit?" tanya ibunya sedikit terkejut. Berita kalau Syafira bersuami orang kaya langsung sampai ke telinga ibunya, tapi berita adiknya yang sakit tidak ia dengar sama sekali. Sungguh miris sekali.
"Ya, Adel koma karena kecelakaan, sedangkan ayah sudah meninggal," ucap Syafira ketus.
"Ibu ikut prihatin dengan apa yang menimpa Adel, semoga dia cepat sadar dan sembuh. Tapi ibu benar-benar minta tolong, bujuk suami kamu untuk membantu suami ibu Fir, dia juga ayahmu,"
"Ayah? Sejak kapan Fira punya ayah lain, buk. Itu suami ibu, bukan ayah Fira. Bukankah ibu sendiri sudah tidak peduli dengan Fira dan Adel," tegas Syafira.
__ADS_1
Syafira menahan sakit di dadanya. Dulu saat ibunya memutuskn untuk pergi waktu itu, ibunya tidak sedikitpun menoleh kepada dia dan Adel. Ia tidak peduli dengan tangisan metung-raung Adel yang masih begitu kecil kala itu. Dan sekarang ibunya tahu Adel sakit, koma. Hanya seperti itu tanggapan wanita itu? Syafira pikir istilah sejahat-jahatnya harimau, dia tidak akan menerkam anaknya sendiri itu benar. Kini bisa Syafira simpulkan, pepatah itu tidak selamanya benar.
"Fir, ibu tahu ibu dalah waktu itu sudah meninggalkan kalian bersama ayah kalian yang tidak punya apa-apa. Tapi ibu tidak ada pilihan lain, suami ibu tidak mengijinkan ibu membawa dua atau salah satu dari kalian jika ibu ingin tetap tinggal bersamanya. Ibu tidak bisa jika harus hidup susah terus bersama kalian, jadi ibu terpaksa melakukannya,"
" Kalau ibu tidak bisa hidup pas-pasan bersama ayah, kenapa ibu mau menikah dengannya bahkan sampai ada aku dan Adel?"
" Awalnya ibu pikir, cinta saja sudah cukup membuat ibu bahagia hidup bersama ayah kamu. Bahkan ibu sampai melawan orang tua ibu yang tidak setuju menikah dengan orang miskin seperti ayah kamu. Tapi, lama-lama ibu sadar, orangvtua ibu benar dan ibu juga butuh kemewahan yang tidak bisa di berikan oleh ayah kamu, ibu sudah mencoba bertahan selama enam tahun menjadi istrinya, tapi ibu tidak sanggup lagi. Ibu harap kamu mengerti,"
Syafira hanya bisa berdecak kesal mendengarnya sambil menahan air matanya. Padahal ayahnya tidak serta merta membiarkan dirinya menderita dulu, ayah Syafira selalu bwrusaha dan bekerja keras untuk mewujudkan keinginan-keinginan sang ibu, tapi tetap saja ibunya merasa kurang.
"Jika ibu bertemu Fira hanya untuk membicarakan itu, maaf Fira tidak bisa bantu. Semoga perusahaan suami ibu tidak jadi bangkrut supaya ibu tidak berniat meninggalkannya dan mencari laki-laki yang lebih kaya lagi, seperti ibu meninggalkan ayah dulu," Syafira berdiri, ia sudah tidak tahan berada di sana.
" Ibu mohon Fir, bantu ibu kali ini saja. Hanya sedikit bantuan Fir, tidak akan mengurangi kekayaan suami kamu, jangan sampai kamu menjadi anak durhaka Fira,"
Deg! Hanya karena dia menolak membantu karena dia juga tidak mungkin meminta kepada Bara, ibunya bisa bilang dia durhaka? Segitu bencinyakah sang ibu kepada ayahnya sehingga darah daging ayahnya juga ikut kena imbasnya. Padahal mereka juga darah daging wanita itu.
"Terserah ibu mau bicara apa, jika Fira durhaka, lalu sebutan apa yang pantas untuk ibu yang lebih durhakan kepada anaknya?"
"Fira, jaga bicaramu, kamu bicara dengan ibumu, ibu yang telah melahirkanmu!"
"Fira hanya mengatakan yang sebenarnya, bukankah Fira lahir dari rahim Anda? Jadi tidak salah bukan jika mulut saya tidak ada akhlak menurun dari Anda?"
"Fira, ibu mohon bantu ibu," masih kekeh untuk meminta bantuan tanpa malunya setelah apa yang barusn ia katakan.
"Saya tidak akan membantu suami Anda. Itu cek lebih dari cukup untuk menbaut usaha baru. Jangan pernah lagi muncul di hadapan istri saya kedepannya atau saya akan benar-benar menghancurkan kalian," ucap Bara sambil melempar cek ke meja depan ibu Syafira. Ia menggandeng tangan Syafira dan menariknya pergi dari sana.
__ADS_1
Ya, sehabis dari makam ayab Syafira, bara langsung menuju ke cafe karena ia tidak tenag membiarkn isttinya bertemu dengan sang ibu.