
Bara kembali ke dalam ruangannya terlebih dahulu untuk mengambil jasnya. Ia memasuki ruangan sambil bersenandung senang, layaknya seorang remaja yang sedang jatuh cinta.
"Fira, Fira. Kenapa kamu menggemaskan sekali," gumamnya. Lagi-lagi satu tangannya menyentuh bibirnya, sedangkan tangan yang satu berkacak pinggang setelah meletakkan berkas di meja kerjanya.
"Ehem!" suara deheman om Jhon tak membuyarkan kehaluan Bara.
Om Jhon menatap heran tuan mudanya tersebut. Perasaan tadi tuan mudanya sedang kesal karena meeting harus tertunda karena berkasnya ketinggalan di rumah. Bahkan om Jhon yang harus mengambil hati para investor untuk sabar menunggu sampai berkas datang dan meeting di mulai.
"Ehem!" sekali lagi om Jhon berdehem, kali ini cukup keras.
"Eh om?" ucap Bara santai begitu menoleh ke sumber suara.
"Tuan muda, sudah di tunggu. Saya takut mereka tidak sabar menunggu lagi. Jika berkasnya sudah ada sebaiknya kita segera ke ruang meeting," ucap om Jhon hati-hati. Ia takut merusak kesenangan tuan mudanya.
"Ah iya, aku sampai lupa. Aku ke sini buat ambil jas. Ayo om Jhon!" Bara menyambar jas yang ia gantung di sandaran kursi lalu mengambil berkas yang tadi ia letakkan di meja kerjanya.
"Tuan muda sepertinya sedang senang sekali, mirip anak muda yang sedang kasmaran. Apa, tuan muda sedang jatuh cinta?" om Jhon memberanikan diri bertanya. Karena tentu saja ia akan senang jika tuan mudanya itu bisa move on dan kembali menemukan cintanya.
"Dengan nona muda?" lanjutnya bertanya sebelum Bara menjawab.
Ting! lift terbuka, keduanya langsung masuk.
"Seandainya benar, apa tidak masalah om?" Bara mulai menjadikan om Jhon tempat konsultasi, seperti biasa.
"Masalah apa tuan muda? Tentu saja tidak, tuan muda berhak buat jatuh cinta lagi, berhak untuk bahagia," saut om Jhon.
"Hidup harus terus berlanjut, tidak perlu terus menoleh ke belakang, jadikan semua itu sebagai sebuah kenangan yang indah. Bukan untuk terus di sesali,"
"Bagaimana dengan Olivia? Aku takut akan melupakannya Om, Aku banyak salah dengannya. Dulu aku tak punya banyak waktu untuk menemaninya saat dia mengandung si kembar. Aku..." belum selesai bicara,lift sudah terbuka kembali, mereka sudah sampai di depan ruangan meeting. Dan sesi curhat pun tertunda.
🌼🌼🌼
__ADS_1
Syafira baru saja sampai di kampus, ia memarkirkan sepeda motornya sambil mengumpat kesal dengan kekonyolan yang baru saja ia lakukan.
"Kenapa Oneng banget sih, mempermalukan diri sendiri di depan umum begitu. Kemarin aja malunya belum hilang ini malah nambah lagi. Niatnya mau bikin mas Bara shock, malu gitu. Malah kayaknya dia keasyikan, dasar mas Bara!" gumamnya terus mengomel.
"Woi!" Mia dan Shinta mengejutkan Syafira dari belakang.
"Astaghfirullah, bikin kaget aja, kebiasaan deh. Untung nggak jantungan," Syafira mengusap dadanya pelan. Mia dan Shinta terkekeh.
"Sudah jadi nyoya Sultan, masih aja naik si Wiliam. Di kemanain tuh mas kawin mobil mewahnya?" tanya Mia.
"Ada tuh ngejongkrok di parkiran rumah. Aku lebih suka naik si Wiliam, lebih gesit bisa diajak kerja sama kalau lagi macet, hemat waktu pula karena bisa cari jalan pintas yang sempit," jelas Syafira.
"Ya allah Fir, Masih pagi muka udah kusut aja kayak pakaian belum di setrika, kenapa sih? Nggak dapat jatah dari om duda semalam? Ya udah sih, nanti malam tagih, tapi mukanya biasa aja, kita aja yang jomblo happy," ujar Mia.
"Hadeh nih anak jomblo otaknya ke situ aja, aku tuh kesel bercampur malu, tadi ada kejadian memalukan saat aku antar berkas ke kantor mas Bara," jawab Syafira.
"Kejadian apa sih, sampai kebawa tuh muka kusut ke kampus," tanya Mia penasaran.
"Ada deh, kepo aja!" Syafira mengambil kunci sepeda motornya.
"Eh lihat tuh si ratu drama kampus, lagi berantem sepertinya sama Roni, Ya elah baru juga jadian kemarin udah berantem aja," Shinta mencolek lengan Syafira, menunjuk dua sejoli yang sedang bertengkar di tempat yang lumayan sepi.
"Roni pacaran sama Erika?" tanya Syafira merasa ketinggalan berita.
"Ho oh, tahu kamu udah nikah kali makanya si Roni belok haluan, eh dapatnya miss kampus sekaligus ratu drama, cantik sih, tapi penuh drama," celoteh Mia.
"Ih gimana nggak marah, orang Roninya tidak mau mengakui Erika sebagai pacar di depan teman-temannya. Kalau aku jadi Erika ya marahlah," saut Shinta. Mereka bertiga melanjutkan langkah kaki mereka meninggalkan sepasang kekasih yang sempat menyita perhatian mereka sejenak.
Mendengar ucapan Shinta, Syafira jadi teringat kejadian tadi saat Bara mengakuinya sebagai ponakan. Tiba-tiba hatinya merasa sakit mengingatnya. Jika Erika saja marah tidak di akui sebagai pacar, apa dia juga berhak marah tidak di akui sebagai istri? Apa terlalu memalukan mengakuinya sebagai istri di depan umum? Apa dia kurang cantik, tidak pantas bersanding dengan orang berpengaruh seperti Bara? Berbagai pertanyaan timbul di benak Syafira.
"Mbak Olive, bagaimana dulu cara mbak Olive mendampingi dan membuat mas Bara selalu bangga mengakui mbak Olive sebagai istrinya?" Batin Syafira merasa sesak.
__ADS_1
"Kamu kenapa Fir? Kok bengong, jangan bilang cemburu karena Rony udah move on dari kamu ya?" tebak Mia asal.
"Ish apaan sih Mi, aku cuma lagi mikir cewek secantik Erika aja nggak di akui, apalagi kayak aku ya Mi,"
"Eh eh kenapa ini? Kok kamu jadi pesimis begitu, Erika itu cuma menang tenar doang, kamu itu cantik banget tahu, tinggal di permak sedikit pasti langsung boom! Bidadari di surga pada iri semua sama kecantikan kamu. Yang paling penting kamu itu cantik hatinya, tukus tidak di buat-buat," sahut Mia. Dari ucapan Syafira, Mia bisa menangkap pasti ada sesuatu terjadi dengan sahabatnya itu, tidak mungkin hanya karena melihat Roni yang sama sekali tidak menarik perhatian Syafira, pasti ada masalah lain. Hanya saja Mia tahu, sahabatnya itu bukan tipe perempuan yang suka menceritakan masalah pribadi terutama semenjak menikah, ia selalu menjaga privasi pernikahannya.
"Sebenarnya kamu bahagia nggak sih Fir,.nikah sama om duda?" tanya Mia tiba-tiba.
"Kok tanya gitu Mi?"
"Ya memastikan aja Fir, aku nggak mau sahabat aku ini nggak bahagia, secara ada yang siap bahagiain kamu daripada om duda itu," celetuk Mia.
"Ssst Mi!" Shinta menatap tajam Mia. Mia langsung menutup mulutnya merasa bersalah.
"Sorry Fir, nggak bermaksud,"
"Hahaha nggak apa-apa kali Mi, santai aja. Yang jelas aku menikmati peranku sebagai istri dan juga ibu buat si kembar. And so far, i'am happy!" Syafira tersenyum lebar menampakkan gigi putihnya, ingin menunjukkan kepada sahabatnya dan juga dunia jika dia masih baik-baik saja.
"Syukur deh kalau begitu. O ya, aku ada voucher nyalon gratis loh di salon langganan mama. Lagi event gitu di sana. Mama ada banyak vouchernya. Aku ambil tiga buat kita. Habis ngampus nyalon yuk!" ajak Mia, ia mengeluarkan voucher dari dalam tasnya.
"Tapi anak-anak?" Syafira menyadari posisinya yang kini sudah menjadi seorang ibu. Ia tidak bisa pergi-pergi seenaknya tanpa memikirkan si kembar.
"Ayolah Fir, sekali kali nyalon kenapa? ubah penampilan, biar om duda makin cinta dan pengennya neglonin kamu terus. Tahu kan istilah duda lebih menggoda? Takutnya nanti si om di gaet sama Shinta lagi,"
"Ih apaan sih Mi, meskipun duda itu lebih hot, nggak ngerebut punya sahabat juga kali," Shinta memutar bola matanya malas.
"Cuma perumpamaan Shinta Aulia Sanjaya," ucap Mia tegas.
Syafira berpikir sejenak. Mungkin ada baiknya juga ia memperbaiki penampilan, siapa tahu suaminya akan lebih memandangnya, pikir Syafira. Selama ini dirinya memang cuek dengan penampilan. Kalau ingat foto Olivia yang masih terpajang di kamarnya, beda jauh. Meski tampak anggun dan sederhana, istri pertama suaminya itu sangat terlihat elegan dan berkelas. Tak heran jika Bara tergila-gila dengannya.
"Hem, boleh deh!" ucap Syafira kemudian.
__ADS_1
"Siiip," Mia dan Shinta mengacungkan jempol mereka ke arah Syafira dan tersenyum.