Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 91


__ADS_3

"Mas kita ke toko dulu sebentar ya. Mau ambil kue baru ke rumah mama," ucap Syafira begitu masuk ke dalam mobil dan memasang seat beltnya.


"Hem..." sahut Bara singkat. Ia langsung melajukan mobilnya pelan keluar melewati pagar besi yang menjulang tinggi di mana ada dua penjaga berbadan kekar yang selalu setia berdiri di sana.


Sudah sepuluh menit berlalu sejak mobil yang di tumpangi Bara dan Syafira meninggalkan rumah. Tapi, Bara masih saja diam dan hanya fokus ke jakan raya di depannya. Syafira melirik suaminya yang kini sedang merajuk tersebut, mukanya di tekuk, kusut seperti pakaian yang baru saja diangkat dari jemuran dan belum di seterika. Membuat Syafira tak berani bersuara terlebih dahulu. Ia juga memilih untuk diam sepanjang perjalanan ke toko. Aneh, sungguh Syafira merasa aneh diam-diaman seperti ini. Padahal mereka sejatinya sedang tidak bertengkar, tapi mood Bara benar-benar sedang berantakan akibat si piton yang sudah demo minta masuk ke goa.


"Mas mau ikut turun atau nunggu di mobil?" tanya Syafira ketika mobil Bara berhenti di halaman toko.


"Di sini saja, nggak lama kan?" Bara balik bertanya.


"Yabudah, aku turun dulu. Cuma bentar kok, ambil kue aja langsung ke rumah ibuk," ucao Syafira sambil melepaskan seat belt dan langsung membuka pintu mobil.


"Mbak Fira..." sapa Rani yang sudah menunggu Syafira sejak tadi.


"Pesananku udah di packing kan Ran?" tanya Syafira.


"Iya udah mbak, bentar aku ambilin!" ucap Rani, ia langsung berlari kecil mengambil tiga box berisi kue dan macaroon, "Ini mbak, udah yang ini buat bu Lidya, ini buat si kembar dan ini untuk bapaknya," Rani menjelaskan sesuai dengan pesan yang di kirim oleh Syafira.


"Oke sip, makasih ya. O ya, gimana karyawan baru yang di kirim om Jhon, siapa namanya? Desi ya?" tanya Syafira. Karena sibuk, ia bekum sempat menanyai perihal karyawan baru yang di kirim om Jhon atas perintah Bara.


"Orangnya cekatan mbak, baik dan jujur, ramah lagi. Dia juga pintar buat kue, sudah berpengalaman pokoknya jadi enak mbak, nggak perlu banyak penjelasan dia udah paham sendiri. Om Jhon pintar cari orang. Aku senang jadi ada teman kalau mbak Fira nggak ke sini. Mbak Fira mau ketemu? Dia lagi di dapur bikin kue, aku panggilan kalau mau ketemu sekarang, "


" Nggak sekarang ran, aku buru-buru mas Bara udah nungguin di mobil. Lain kali aja kita ngobrol lagi kalau aku ada waktu luang ya. Aku pergi dulu ya, nitip toko. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku, ini kuenya aku bawa ya?" ucap Syafira. Ia memepervayakam toko kuenya yang kini semakin maju kepada Rani.


" Iya mba, mbak Fira hati-hati," sahut Rani yang langsung menyapa pembeli yang baru saja datang. Sementara Syafira hanya menganghuk tersenyum kepada pembeli tersebut dan langsung kembali ke mobil.


Syafira langsung masuk dan meletakkan kuenya di jok belakang.


" Bawa apa itu, kok banyak?" tanya Bara.


"Kue buat ibu sama macaroon buat anak-anak udah lama mereka nghak makan macaroon, pasti senang kalau di bawain," jawab Syafira.


"Oh..." balas Bara singkat. Ia kembali melajukan mobilnya.


"Ada juga Lamington cake buat mas Bara," ucap Syafira. Namun tak di sahut oleh Bara.


"Kok diem? Nggak ada ekspresinya, kemarin kayaknya mas lagi pengin makan Lamington kan bilangnya? Itu ada aku bawain," ucap Syafira.


"Itu kan kapan hari sayang, sekarang udah beda penginnya," ujar Bara, matanya tetap fokus ke depan.


"Udah beda ya, mau apa dong? Macaroon juga? Nanti bisa minta punya si kembar, atau mau lapis legit? Bisa nyuil punya ibu, sedikit aja tapi soalnya ibu paling suka lapis legit, pasti nggak boleh kalau di minta," sahut Syafira.

__ADS_1


"Enggak, mas penginnya yang lebih legit lagi," sergah Bara, memberi kode.


"Emang ada?" Syafira tampak berpikir keras, lapis legit yang lebih legit lagi itu definisinya yang seperti apa.


"Ada, punyamu," Bara menunjuk sesuatu di antara kedua paha Syafira. Yang mana langsung menbuat Syafira mendengus, masih saja masalah sajen si piton yang di bahas.


Syafira memperhatikan suaminya, jika di lihat-lihat, suami tampannya tersebut mirip abg yang sedang on-onnya jatuh cinta tapi tidak di apeli oleh sang kekasih selama seminggu.


Syafira hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, sejaknouoang dari kampus tadi wajah Bara tidak berseri seperti biasanya, tampak sepertintak terurus pokoknya, menyedihkan.


"Emang bggak gitu semingguan ngefek ya mas? Sampe sebegitunya, mas Bara kayak nggaj ada tenaga begitu, nggak semangat," ucap Syafira.


"Tentu saja pengaruhnya besar sayang buat semangat mas. Jangankan seminggu, kakau bisa tuh tipa hari, paling nggak dua hari sekalilah, itu baru benar,"


"Ya kali setiap hari mas, yang ada badan encok semua bukannya bugar. Lagian dulu puasa lima tahun aja bisa, ini baru juga semingguan udah uring-uringan aja sih,"


"Beda dong yank, kalau duku kan emang nggak ada penyaluran. Masa iya mas mau jajan sembarangan, nggak maulah. Mas suka yang bersih. Kalau sekarang kan udah ada kamu yang halal dan mas cinta, sayang dong kalau di anggurin lama-lama,"


"Jajan apa sih maksudnya mas? Apa hubungannya itu sama jajan coba?" otaknpolos Syafira tidak bisa menyerap ucapan Bara rupanya.


"Ya jajan..." Bara menggerakkan jaribtelunjuk dan tengahnya bersamaan naik tirun sebagai tanda kutip dari ucapannya.


"Apa sih? Nggak paham," Syafira masih tetap tidak mengerti.


Jujur saja, setelah merasakan apa itu surga dunia yang di ajarkan oleh duaminya, bohong banget jika Syafira bilang tidak kangen di patok si piton. Tapi, untuk mengaju secara blak-blakan ia masih malu-malu.


" Kok diem, nggak kangen ya? Padahal enak kan kok nggak kangen?" tanya Bara lagi karena Syafira tak menjawab pertanyaannya.


"Ka kangen..." jawab Syafira lirih namun terdengar jelas oleh Bara. Ia menoleh. Melihat wajah sang istri yang kini merona malu. Bara tersenyum tipis, istrinya itu masih saja malu-malu soal begituan.


"Ya udah kalau begitu, putar balik aja gimana? Biar si kembar nginep di rumah mama," ujar Bara yang langsung di sergah oleh Syafira, "Enggak bisa, ini dari tadi Nala sama Nathan udah nelfon terus minta di jemput," ucapnya.


"Tumben sih mereka nggak betah di rumah mama,"


"Nggak tahu juga mas," wajah Bara kembali di tekuk, dalam pikirannya pasti malam ini akan direcoki sama si Nala lagi.


"Jangan di tekuk gitu mukanya, jadi makin tua tahu nggak," goda Syafira.


"Senyum dong mas, biar aura demitnya ilang. Dari tadi mengkerut terus tuh muka. Nanti malam dah aku kasih, gimana deal?" tawar Syafira.


"Janji?"

__ADS_1


"Lihat sikon juga sih, tergantung Nala rewel enggak,"


"Nolak suami dosa loh yank,"


"Eh siapa yang nolak, aku nggak pernah nolak ya mas. Mas minta hayuk-hayuk aja, cuma kemarin-kemarin kan mas nggak minta, jafi bukan salah dan dosaku dong?" protes Syafira.


"Malam ini fix no debat!" ucap Bara.


"Mau berapa ronde?" tanya Syafira.


"Halah sok-sokan nanya mau berapa ronde, yakin nih nawarin? Ntar baru satu atau dua minta udahan," jawab Bara.


Syafira hanya mencebik mendengarnya.


"banyak pokoknya, sampe kamu hapal rasanya,"


Syafira hanya bisa menggelengkan kepalanya, " jadi Lamington atau macaroonnya tetap nggak mau nih?"


"Nggak, mas nggak mau macaroon. Maunya kelon aja. Ntar malam ya?" ucap Bara nyengir.


"Hem," sahut Syafira memutar bola matanya malas. Ujung-ujungnya yang di bawah pusar yang di bahas.


"Ayo lah, gas ke rumah mama cepat. Biar bis pulang cepat, kalau perlu anak-anak di kasih obat tidur aja, biar tidur awal sampai pagi,"


"Jangan aneh-aneh deh mas, orang anak-anak tidurnya udah teratur kok mau di obat tidur, yang ad mas Bara yang aku kasih obat tidur nanti biar nggak uring-uringan terus,"


"Fir..."


"Hehe bercanda sayang, udah ah fokus nyetirnya. Ini Nala udah telepon terus. Aku angkat dulu,"


"Anak-anak emang keras kepala kalau ada maunya. Heran anak siapa sih?" kalimat Bara membuat Syafira tidak jadi mengangkat teleponnya. Ini om-om, ngomong sepwrti nggak sadar diri, pikirnya menatap tajam sang suami.


"Apa? Kenapa?" tanya Bara yang sadar di tatap sang istri.


"Iya iya, sinkembar anak mas, keras kepalamya juga sama seperti kamu, ibu mereka," ucap Bara kemudian.


"Kok aku? emang mereka anak aku, tapi keras kepalanya kayak bapaknya, kalau ada maunya nggak bisa di bantah," sahut Syafira.


"iya ajalah, wanita emang maha benar dengan segala omelannya," ujar Bara yang lanhsumg mendapat satu cubitan mesra di pinggang.


🌼 🌼 🌼

__ADS_1


πŸ’ πŸ’ Note : Gc embunpagi sedang mengadakan pembersihan member yang tidak aktif, jika ada yang tidak sengaja ke kick, bisa masuk lagi terutama para pembaca karya othor.


Jangan lupa like komen dan hadiahnya, votenya kalau masih ada boleh buat othorterima kasih πŸ™πŸ™πŸ’ πŸ’ 


__ADS_2