Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 109


__ADS_3

Setelah mengakhiri permainn panas yang singkat padat dan jelas tujuannya itu, Bara tak lantas mengijinkan Syafira keluar begitu saja.


"Aku harus cepat kembali mas, nggak enak sama yang lain kelamaan di sini," tukas Syafira, ia merasa sudah kelamaarn berada di ruangan suaminya tersebut.


"Sebentar, ini di rapiin dulu, jangan cuma bajunya aja yang dirapiin," Bara membantu merapikan rambut Syafira yang awut-awutan.


Syafira tersenyum, "Kirain mau lagi," gumamnya malu sendiri.


"Mas dengar loh sayang, emang kalau mau lagi boleh nambah?" mas Bara belum kenyang ternyata.


"Udah ah, kebanyakan nanti aku kembung mas,"


"Kan emang itu berharapnya, kamu cepat kembung perutnya,"


"Hamil mas, bukan kembung ih. Udah ya aku keluar dulu keburu om Jhon datang nanti," pamit Syafira.


"Nanti ada bekal makan siang nggak buat mas? Bentar lagi jam man siang," tanya Bara sebelum Syafira membuka pintu.


"Enggak, aku nggak bawa. Nnti kita makan siang di luar aja ya, pengin mie ayam," sahut Syafira.


"Mie ayam? Lagi?" Bara mengerutkan keningnya, pasalnya sudah empat harian ini Syafira senng sekali makan mie ayam.


Yang di tanya hanya nyengir lalu hilang di balik pintu.


🌼 🌼 🌼


Brak!! Bara melemar kasar berkas yang aru saja di berikan oleh om Jhon.


"Tenang kak, kita pasti bisa mengatasinya, kitabtidak akan membiarkan perusahaan dalam masalah besar," Varel yang jug berada di ruangn tersebut tampak berusaha menenangkan Bara.

__ADS_1


"B*engsek emang si Brandon, udah di kasih hati merogoh ampela, beraninya dia bermain-main denganku," geram Bara. Diam-diam ternyata sepupunya yang pernah bekerja di perusahaan tersebut menusuknya dari belakang, hingga kini perusahaan terancam masalah yang cukup berat.


" Aku kira dia beda dengan paman, tapi ternyata sama liciknya. Dia kerja di sini hanyabuntuk menghancurkan perusahaan," Bara memijit pelipisnya yang terasa pening. Entah apa yang sudah di lakukan oleh sepupunya yang memutuskan resign beberapa waktu Yang lalu dengan alasan ingin fokus membantu perusahaan sang ayah tersebut, yang jelas sekarang Bara terancam kehilangan beberapa anak perusahaan dan juga klien-klien penting yang sudah beberapa tahun ini bekerja sama dengannya.


"Arrrrghhh sial!" Bara berteriak frustrasi. Suasana hatinya benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat dengan sebelumnya saat tengah bercinta dengan Syafira.


Varel dan om Jhon hanya bis terdiam, mereka juga tampak pusing dengan masalah yang sedang mereka hadapi.


"Kalau begini, mereka bisa mengakuisisi perusahaan," gumam Varell.


"Tidak bisa di biarkan, justru kita yang harus mengakuisisi perusahaan mereka. Berani bermain main denganku , tanggung akibatnya," geram Bara.


"Siapakan semuanya, lusa aku akan ke kantor - kantor cabang untuk mengurus semuanya," perintahnya kemudian. Ia langsung bangkit dari duduknya dan keluar meninggalkan Varel dan om Jhon.


"Om..." Varel menatap om Jhon tampak putis asa, ia tahu masalah kali ini cukup sulit.


"Persiapkan saja semuanya, saya yakin tuan muda bisa mengatasinya. Lusa biar saya uang menemaninya, kau tetaplah di sini, mengurus yang ada disini," ucap om Jhon menepuk pundak Varell lalu menyusul Bara keluar meninggalkan Varel yang masih termenung.


🌼 🌼 🌼


" Eh mas, baru mau aku samperin ke ruangan, udh di sini aja, yuk! "Syafira mengambil tas miliknya lalu menggandeng mesra lengan Bara.


" Mas bara kenapa? Ada masalah?" tanya Syafira yang menyadari perubahan raut wajah suaminya.


" Nggak apa-apa, Nggak ada masalah yang berarti," ucap Bara. Ia tak ingin Syafira ikut kepikiran sial masalah yang sedang ia hadapi.


Tak lama kemudian, Bara memarkirkan mobilnya di kedai mie ayam yang akhir-akhir ini menjadi tempat makan sing favorit bagi Syafira.


"Bang Mia ayamnya dua ya, biasa yang satu ayamnya banyakin, minumnya air putih aja dua," ucap Syafira kepada penjual mie ayam. Ia mengajak Bara untuk mencari tempat duduk.

__ADS_1


"Eh mbaknya lagi, ketagihan ya sama mie ayam saya, perasaan dari kemarin terus, kayak lagi ngidam aja," sahut abang penjual mie ayam sedikit berteriak.


"Yee, yang penting abangnya senang kan mie ayamnya aku beli," kata Syafira tersenyum.


"senanglah mbak, cuma si omnya kayaknya bosan itu dilihat dari wajahnya," si abang mie ayam menatap Bara diikuti Syafira, "Iya mas bosan?" tanya Syafira.


Bara hanya menggeleng, padahak dalm hati ia mengiyakan ucapan abang penjual mie ayam.


"Enggak bosan bang katanya, malah senang bisa nurutin maunya istri katanya," seru Syafira.


"Sayang," Bara menatapnya memperingati ubtuk tidak berteriak.


"Heee, iya mas maaf," ucap Syafira meringis.


"Ini mbak mienya, ayamnya spesial saya tambahin banyak. Biar nggak minta punya suaminya lagi. Bersyukur mbak punya suami kaya tapi mau diajak makan di kedai sederhana begini," ucap abang mie ayam.


"Emang abang tahu dia kaya?" selidik Syafira.


"Keliatan mbak dari auranya, kalau saya kan juga keliatan, tapi aur-auran, nggak karuan, hehe," lumayan candaan abang mie ayam bisa sedikit mengangkat sudut bibir mas Bara.


Syafira dan bara makan sambil ngobrol. Syafira makan dengan lahap sekli. Bara menyodorkan mangkuknya yang belum seberapa berkurang isinya tersebut. Syafira nyengir lalu menyumpit satu persatu suiran ayam yang masih utuh milik Bara. Bara hanya akan memakan mie dan pangsitnya saja, itupun pasti tak akan habis.


"Lah, suaminya cuma kebagian mienya lagi mbak?" ucap abang mie ayam yang kebetulan melihat aktivitas Syafira. Syafira hanya membalasnya meringis, memperlihatkan deretan gigi-gigi putihnya.


Sementara Bara tak menggubris ucapan abang mie ayam, ia kembali menatap sang istri.


"Mienya mau nambah punya mas?" tawar bara yang melihat Syafira begitu lahapnya makan. Padahal baru pagi tadi bilang mau diet, pikirnya.


Syafira menggeleng, "Ini aja cukup mas, udah lumayan kenyang, nanti bisa bawa beli camilan aja sbelum balik ke kantor, bisa buat ganjal perut kalau lapar," ucap Syafira seraya memasukkan suwiran ayam terakhir ke mulutnya. Ia sampai bersendawa karena kenyang, "Eh maaf mas kelepasan," ucapnya meringis.

__ADS_1


Bara hanya tersenyum sambil memandanginya. Ia merasa Syafira sedikit aneh akhir-akhir ini, jadi hobi makan. Padahal kalau orang normal, makan mie ayam dengan porsi aeerti itu setiap hari juga bakan akan bosan, tapi ia melihat Syafira tetap lahap dan begitu menikmati. Sesederhana itu menyenangkan hati sang istri ternyata, pikirnya.


🌼 🌼 🌼


__ADS_2