
"Fir, beneran om-om tadi suami kamu?" tanya Roni yabg masih tak percaya. Meski tak mengenal Syafira sangat dekat, tapi ia tahu tipikal seperti apa Syafira. Ia tak mungkin memiliki cita-cita untuk menikah muda di usianya yang bahkan 20 tahun saja belum genap.
Kini mereka berdua sudah berada di sebuah cafe sedang menunggu teman lainnya datang.
"Iya Ron, kenapa?" jawab Syafira tanpa ingin menutupi pernikahannya. Meskipun karena terpaksa, namun pernikahannya dengan Bara bukanlah sebuah aib yang harus di tutup-tutupi.
"Nggak apa-apa Fir, cuma nggak nyangka aja kamu memutuskan menikah di usia sekarang ini. Apalagi sama laki-laki yang sudah berumur. Dan, sepertinya suami kamu itu nggak bersikap baik sama kamu, kamu nggak terpaksa kan menikah sama dia?" Roni memberanikan diri bertanya.
"Nanti atau sekarang sama aja kan Ron, kalau jodohnya juga bakalan tetap menikah. Dan dia tidak seperti yang kamu pikirkan, dia memperlakukan aku dengan baik, sangat baik. Dan tolong jangan mengurusi apa yang tidak seharusnya kamu urusi. Kita di sini buat mengerjakan tugas," ucap Syafira.
"Fir, aku hanya..."
"Mereka datang, tolong jangan bahas apapun lagi jika tidak ada hubungannya dengan tugas Ron," pinta Syafira.
"Sorry kita telat," ucap teman Syafira yang baru datang.
Roni dan Syafira tersenyum, mereka pun memulai untuk mengerjakan tugas.
🌼🌼🌼
Syafira pulang sore hari.
"Nona baru pulang?" tanya pelayan ketika Syafira masuk ke rumah.
"Iya, Mas Bara kemana?" tanya Syafira, karena ia tidak melihat mobil yang biasa dinaiki Bara tidak ada di parkiran.
"Sepertinya tuan muda ke makam nyonya Olivia non, tadi om Jhon kemari dan membawa bunga kesukaan nyonya Olivia," ucap bibi dengan hati-hati.
"Oh begitu, anak-anak dimana?" tanya Syafira. Ada nada kecewa dari ucapannya, pasalnya kemarin Bara yang bilang jika mereka akan ke makan ayahnya dan Olivia bersama.
"Tuan dan nona muda kecil sedang di kamar mereka non," jawab Bibi.
Syafira langsung menuju ke kamarnya terlebih dahulu untuk membersihkan diri sebelum menemui si kembar.
Selesai mandi, ia langsung menemui kedua anaknya di kamar.
"Assalamualaikum, ada yang merindukan bunda?" ucap Syafira tersenyum setelah membuka pintu kamar si kembar.
"Wa'alaikumsalam. Bundaaaaa!" seru Nathan dan Nala bersamaan.
__ADS_1
Syafira masuk ke dalam dengan tanpa memudarkan senyuman di wajahnya.
"Ada cerita apa hari ini di sekolah?" tanya Syafira yabg kini sudah memangku Nala.
Si kembar pun bercerita tentang apa yang mereka alami di sekolah secara bergantian. Syafira mendengarkan cerita mereka dengan seksama dan sesekali di selingi canda dan tawa.
"Hahahaha o ya? Kenapa bisa begitu?" salah satu tanggapan yang Syafira ucapkan ketika kedua anaknya bercerita.
"Iya bunda, masa tadi waktu bu guru minta kita menyebutkan contoh batang antik, athan jawabnya oma. Kan kasihan oma, oma kan tua bukan antik," celoteh Nala.
"Antiklah kan umur udah banyak dan kuno, terus nggak ada duanya," kekeh Nathan.
"Eh ada ding, duanya kamu Nala, kamu kan mirip oma hahahaha," kelakar Nathan.
"Athan!" teriak Nala tidak terima.
"Apa? Kau bilang oma cantik, kenapa tidak terima setiap aku bilang kalian mirip," ucap Nathan.
"Itu untuk menghibur oma aja, nanti oma sedih kalau di bilang jelek," sahut Nala.
"Kan persis! sama-sama nggak terima di bilang jelek. Kalian emang sehati hahaha," ucap Nathan tertawa. Nala tak terima dan mereka terus berdebat.
"Sudah sudah! Sekarang kalian mandi ya, udah sore," ucap Syafira. Jika perdebatan itu terus berlanjut, bisa-bisa berakhir dengan tangisan Nala.
"Nona, biar bibi yang membantu tuan dan nona muda kecil mandi. Nona istirahat saja, pasti Nona lelah karena baru saja pulang," ucap bibi yang bertugas sebagai nanny si kembar. Semenjak ada Syafira, ia merasa makan gaji buta karena kebanyakan yang mengurus si kembar adalah Syafira, sedangkan dia hanya membantu saja atau jika Syafira sedang tidak berada di rumah.
"Tidak bi, saya tidak capek kok," sahut Syafira tersenyum.
"Tapi non,"
"Udah nggak apa-apa bi, biar saya saja. Bibi bisa mengerjakan yang lainnya," ujar Syafira.
"Baiklah kalau begitu nona, bibi permisi dulu," pamit bibi lalu keluar dari kamar si kembar.
Syafira pun mengurusi keperluan sore si kembar.
🌼🌼🌼
Sementara itu di tempat berbeda, Bara masih tampak berjongkok di makam Olivia. Sejak siang tadi ia datang hingga sore ini, tak ada sepatah katapun yabg keluar dari mulutnya. Entahlah apa yang ada dalam pikiran laki-laki tersebut.
__ADS_1
"Tuan muda, sebaiknya kita pulang sekarang. Hari mulai gelap. Nona pasti sudah menunggu Anda pulang," ucap om Jhon yang sejak tadi setiap berdiri tak jauh dari Bara yang sebenarnya sejak tadi merasa kesemutan karena tak bergeming dari posisi berdirinya.
Mendengar ucapan om Jhon, Bara tersadar jika ia sudah lama berada di makam Olivia. Terbukti dengan kakinya yang susah berdiri karena kesemutan. Ia melihat jam mewah yang menghiasi pergelangan tangan kanannya.
"Kita pulang sekarang," ucapnya pada om Jhon.
"Baik tuan muda," sahut Om Jhon.
Tiga puluh menit kemudian, Bara sampai di rumah. Om Jhon langsung pamit pulang.
"Baru pulang mas?" sapa Syafira yang baru selesai sholat maghrib, dengan masih memakai mukena, ia menghampiri Bara. Ia meraih tangan Bara dan menciumnya.
"Hem," sahut Bara. Tiba-tiba rasa bersalah menghampirinya karena ia ingat jika sudah berjanji akan ke makam bersama, tapi hari ini ia ke sana sendiri hanya karena kesal melihat Syafira pergi bersama temannya.
"Mas mandi dulu terus sholat nanti keburu habis waktu maghrib. Aku akan menyiapkan makan malam," ucap Syafira. Ia menahan segala kekecewaan dalam hatinya.
"Anak-anak nggak sholat bareng?" tanya Bara.
"Mereka tadi bilang mau sholat sendiri di kamar, Nathan mau jadi imamnya," jelas Syafira.
"Emang udah bisa?"
"Baru proses belajar, biarkan saja jangan terlalu dipaksa, nanti juga bisa karena biasa," ucap Syafira.
Bara tak menyahut lagi, ia langsung masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Syafira langsung menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.
Di meja makan, Syafira melayani Bara seperti biasa. Bara sejak tadi hanya memperhatikan istrinya tersebut yang tak menunjukkan kemarahan sedikitpun terhadapnya. Namun, hal itu justru membuat Bara merasa kesal. Apa gadis yang kini sedang menuangkan air putih ke dalam gelasnya tersebut sudah mati rasa terhadap apa yang sudah ia lakukan. Apa dia benar-benar tidak peduli dengan apa yang suaminya lakukan? Normalnya sih jika peduli Syafira akan marah kepadanya karena sudah ingkar janji. Tapi, sejak tadi Syafira tak menyinggung soal Bara yang ke makam Olivia tanpa mengajaknya, ia hanya menjalankan tugasnya sebagai ibu yang baik dan memberi bonus buat Bara dengan melayani keperluannya seperti yang pagi tadi ia ucapkan.
"Bunda, Nala mau itu dong. Tolong ambilkan," pinta Nala karena apa yang ia inginkan jauh dari jangkauannya.
"Nathan juga mau bunda," sambung Nathan.
"Boleh," sahut Syafira tersenyum ramah.
"Mas mau juga?" tanya Syafira.
"Tidak, ini saja cukup," jawab Bara.
Mereka pun makan malam bersama seperti biasa dengan di selingi celotehan si kembar. Sesekali Bara melirik ke arah Syafira yang tampak acuh terhadapnya namun sangat antusias ketika menanggapi celotehan si kembar
__ADS_1
🌼🌼🌼