Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 57


__ADS_3

"Bunda tidak apa-apa?" tanya Nathan, pria kecil itu merasa bersalah.


"Tidak sayang, bunda tidak kenapa-kenapa. Ayo kita pulang!" Syafira menuntun kedua bocah kembar itu di sisi kiri dan kanan.


"Nala takut bunda, tante Sonya jahat," ucap Nala, mata gadis cilik itu mulai berkaca-kaca.


"Maaf bunda, gara-gara Nathan," Nathan berhenti melangkah dan menundukkan kepalanya menyesal karena telah mendorong Sonya sehingga Sonya marah.


Syafira berjongkok dan tersenyum," Anak bunda tidak salah, anak bunda anak baik bukan? Lain kali tidak boleh kasar sama orang yang lebih tua maupun lebih muda ya?" Syafira mengusap kepala Nathan dengan lembut penuh kasih sayang.


Nathan mengangguk dan mereka melanjutkan jalan menuju ke parkiran dimana pak Hendro menunggu. Kebetulan kali ini pak Hendro tidak ikut masuk ke Mall, ia hanya menunggu di parkiran mall tersebut.


"Pak ayo pulang!" Syafira membuka pintu mobilnya.


"Baik nyonya muda," pak Hendro segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya.


"Apa terjadi sesuatu nyonya muda?" pak Hendro merasa ada yang tidak beres dengan raut wajah Syafira dan si kembar saat tiba di parkiran tadi. Dan sekarang ia sedang memperhatikan nyonya mudanya tersebut dari kaca mobil. Syafira terlihat seperti sedang kepikiran sesuatu. Mungkin sedikit atau banyak ucapan Sonya mempengaruhi perasaannya saat ini.


"Tidak ada pak, kami hanya lelah saja dari tadi keliling mall," jawab Syafira menoleh ke si kembar yang sudah pada terlelap karena capek.


Sesampainya di rumah, Syafira dan pak Hendro menggendong si kembar satu-satu. Pak Hendro menggendong Nathan dan Syafira menggendong Nathan. Kedua anak kembar itu kebiasaan jika sudah merasa capek pasti akan tidur di mobil.


Syafira dan pak Hendro menidurkan si kembar di kamar mereka. Kemudian, pak Hendro pamit keluar. Sementara Syafira masih tinggal untuk melepas sepatu yang Nathan dan Nala kenakan.


Setelah memastikan posisi tidur si kembar nyaman, Syafira mencium puncak kepala mereka secara bergantian lalu keluar menuju kamarnya.


Setelah meletakkan tasnya, Syafira langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena setelah ini ia harus berangkat kuliah.


Saat Syafira melepas pakaiannya, ia melihat luka memar di punggungnya akibat lemparan vas bunga berbahan keramik yang di lempar oleh Sonya tadi dari pantulan cermin yang ada di kamar mandi tersebut.


Syafira meringis saat tangannya menyentuh luka itu. Tadi ia sampai lupa rasa sakitnya karena sangking marahnya terhadap Sonya. Syafira bersyukur tadi ia bisa tepat waktu melindungi Nathan dari lemparan Vas yang hampir mengenai Nathan tersebut. Ia tak akan memaafkan dirinya sendiri jika hal buruk terjadi kepada si kembar. Ia tak tahu bagaimana harus mempertanggungjawabkan kepada Bara jika si kembar terluka.


Syafira segera menyelesaikan ritual mandinya lalu bersiap-siap ke kampus.


🌼🌼🌼

__ADS_1


Hari berikutnya...


Bara baru saja pulang dari luar kota, ia langsung naik menuju kamarnya karena jam-jam segini si kembar pasti sedang sekolah. Bara mencari keberadaan Syafira akan tetapi kamar itu sepi, seperti tak berpenghuni. Mungkin istrinya tersebut sedang kuliah, pikirnya.


Bata duduk di tepi ranjang , mengendurkan dasinya lali melepas sepatunya. Merasa lelah, Bara memutuskan untuk mandi agar badannya sedikit lebih fresh.


Syafira yang sedang asyik mengurusi tanaman di taman belakang tak menyadari jika suaminya sudah pulang karena tak ada pelayan yang memberitahunya.


"Sudah waktunya menjemput anak-anak," gumamnya ketika melihat jam tangannya.


Syafira langsung mencuci tangannya dan melepas celemek yang ia kenakan supaya bajunya tidak kotor.


Dengan langkah sedikit cepat, Syafira berjalan menuju kamarnya untuk mengambil tasnya. Sesampainya di kamar ia langsung menyambar tasnya namun tiba-tiba ia merasa kebelet. Ia langsung masuk ke dalam kamar mandi dan langsung membuang air seninya. Tanpa ia sadari ada seseorang juga di dalam kamar mandi dan...


"Aaarrrggghhh!" Teriak Syafira yang kini sadar ada sesosok pria berbadan tegap sedang berdiri di bawah Shower. Yang menjadi pusat perhatiannya adalah benda aneh yang berdiri tegak di bawah pusar suaminya.


Syafira segera berlari keluar. Bara segera mengakhiri ritual mandinya. Ia segera melilitkan handuk di pinggangnya dan menyusul Syafira. Bisa di pastikan istri sholehah nan polosnya itu kini sedang ngedumel habis-habisan setelah mengalami kejadian barusan. Benar saja, istrinya tampak sedang komat kamit, tapi bukan ngedumel melainkan terus beristighfar sambil memegang dadanya.


Bara mengernyit, apa sebegitu menakutkannya adik kecil miliknya sehingga istrinya sampai segitu syoknya. Bukankah justru menggemaskan, pikirnya.


Bara mendekati Syafira yang terduduk lemas di tepi ranjang, sedang mencoba mengatur napasnya. Rasanya ia baru saja mengalami sesuatu yang menguji adrenalinnya.


"Fir...?" Panggil Bara yang kini sudah berdiri tegak di depan Syafira. Tidak seperti Syafira, ia lebih sanai menanggapinya.


Syafira membuka tangan dan matanya. Pandangannya langsung tertuju kepada benda menonjol di balik handuk yang melilit tubuh Bara yang kini tetap berada pada garis lurus dengan pandangannya.


Syafira langsung menelan salivanya kasar, otaknya tiba-tiba keliling komplek. Benar-benar otaknya kini teracuni.


"Ma...mas Bara jangan dekat-dekat!" peringat Syafira yabg langsung melompat naik ke atas tempat tidur.


Bara tersenyum menanggapinya. Istrinya benar-benar sepolos itu?


"Mas Bara ngapain tadi?" pertanyaan konyol, jelas-jelas suaminya sedang mandi tadi. Dirinya saja yang grasah grusuh langsung masuk.


"Mandi, ngapain lagi?" jawab Bara.

__ADS_1


"Ke~kenapa pintunya nggak di kunci?"


"Saya kira tidak ada orang, lagian kan paling cuma kamu yang berani masuk ke kamar kita, bibi kalau tidak ijin mana berani nyelonong"


"Ish, untung aku yang masuk, coba kalau orang lain kan?" malah ngobrol, Sepertinya Syafira lupa jika harus menjemput si kembar.


"Oh, jadi beruntung ya kamu bisa melihatnya? Mau lagi?" goda Bara yang semakin gemas ketika melihat wajah istrinya semakin merah.


"No!" teriak Syafira melempari Bara dengan bantal.


"Belum diapa-apain sudah no no aja kami Fir," Bara semakin menggoda Syafira.


"Lagian kamu asal nyelonong masuk aja, langsung jongkok lagi. Kan ada tempat sendiri buat buang air kecil Fira," lanjut Bara.


"Ya aku pikir kan nggak ada orang, karena udah kebelet ya dimana aja nggak masalah mas," ucap Syafira lirih.


"Pakai baju, itunya nonjol. Otak dan mata suciku ternodai sudah," menunjuk yang di maksud tanpa berani menatapnya.


"Kamu kayak ABG ya Fir, liat ginian ketakutan. Padahal sudah halal loh kalau kamu mau lihat, nggak dosa,"


"Ogah mas, nggak berani. Lah aku kan masih ABG mas,"


"Terus kapan beraninya?" tantang Bara.


"Coba pegang dulu gimana? Nanti lama-lama berani dan terbiasa," Bara sengaja semakin menggoda Syafira. Wajah gadis itu benar-benar sudah merah seperti udang rebus.


"Apaan sih, mas Bara bercandanya nggak lucu! Mending jemput anak-anak aja!" Salah tingkah, Syafira langsung bangun dan beranjak.


Nahas, kakinya tidak memijak tepi tempat tidur dengan benar sehingga ia hampir jatuh. Beruntung, Bara langsung menangkap tubuhnya.


"Aw!" pekik Syafira kesakitan saat tangan Bara memegang punggungnya untuk menjaga keseimbangan Syafira supaya tidak jatuh. Ternyata luka lebam itu lebih sakit dari kemarin.


"Kenapa?" Bara melepas tangannya, ia menatap curiga wajah Syafira yang tiba-tiba menahan sakit.


"Nggak papa mas, mas Bara terlalu kencang tadi," Syafira berbohong.

__ADS_1


Bara tak percaya begitu saja, ia mencoba menyentuh dan menekan punggung istrinya. Terlihat jelas Syafira menahan sakit.


🌼🌼🌼


__ADS_2