
Pagi-pagi sekali Syafira terbangun. Kepalanya terasa sangat berat dan pusing. Mungkin efek karena menangis semalaman, pikirnya yang saat ini sedang memegangi kepalanya.
Dengan langkah malas, Syafira berjalan keluar kamar menuju kamar mandi, ia merasa sedikt mual juga pagi itu. Efek menangis semalaman membuat badannya serasa mering, pikir Syafira lagi.
Baru pukul enam pagi, tapi perut Syafira sudah keroncongan meminta jatah. Tak ada makanan apapun yang bisa ia makan di rumah lamanya itu. Akhirnya Syafira pergi ke toko kuenya.
Sesampainya di depan toko, Syafira mengeluarkan kunci dari dalam tas karena jam segitu toko tentu saja belum buka. Rani dan Dewi biasa datang pukul delapan atau lebih.
Rasa lapar yang mendera pagi itu benar-benar tak seperti biasanya. Saat melihat roti-roti yang berjajar rapi di etalase, ia langsung mengambil beberapa dan membawanya ke dapur.
Syafira memakan roti-roti tersebut dengan sangat rakus dan tiba-tiba saja ia tersedak.
"Mas tolong minum mas, minum," ucapnya tanpa sadar.
Sepi, tak ada yang menyahut apalagi memberinya minum. Syafira mengembuskan napasnya pelan. Biasanya jika ia tersedak pasti Bara sudah mengomelinya karena khawatir "kalau makan pelan-pelan, nggak da yang mau rebut makanan kamu, mas heran kamu tuh kalau makan seringnya kesedak, kesedak itu bisa jadi bahaya tau!," meskipun begitu, tapi tetap dengan sigap suaminya itu mengambilkan minum untuknya. Tak ada lagi kehangatan suasana pagi seperti kemarin.
Ia ingat dengan si kembar yang setiap pagi bikin keributan-keributan kecil, namun membuatnya senang melakukan ritual pagi menyiapkan keperluan mereka. Bagaimana pagi mereka hari ini, apa mereka sudah bangun? Apa mereka mencarinya? Ah tentu saja, mereka pasti mencarinya," Nathan, Nala maafin bunda ya," gumamnya seraya menangis, merasa bersalah kepada dua anaknya tersebut. Selera makannya tiba-tiba langsung hilang, roti yang tinggal dua bungkus itu tak jadi ia makan.
Di luar toko, tampak Rani dan dewi yang datang bersama, tak sengaja mereka bertemu di seberang jalan depan toko. Mereka sengaja datang lebih awal dari biasanya karena hari ini ada pesanan kue yang cukup banyak dan mereka harus membeli bahan-bahn yang sudah hampir habis terlebih dahulu.
Saat hendak membuka pintu, Rani kaget karena pintunya tak di kuci bahkan sedikit terbuka. Ia dan Dewi saling berpandangan,"Kebuka, jangan-jangan ada maling...," ucap Dewi kepada Rani.
"Atau rampok?" timpal Rani yang membuatnya langsung menggedik ngeri.
"Coba aja kita masuk, cek... Siapa tahu mbak Fira yang datang," Rani mencoba berpikir positif
"Masa sih mbak Fira, nggak biasanya dia datang pagi begini. Jam segini kan lagi urus keperluan si kembar sama pak ganteng. Gimana kalau ada rampok beneran di dalam, aku takut, serem Ran," ucap Dewi was-was.
"Ssstt kita pakai ini," Rani mengambil sapu ijuk yang terletak di sudut depan toko. Pelan-pelan ia masuk ke dalam toko dengan Dewi yang memegangi ujung kaos seragam toko yang di kenakan Rani.
"Kalau mereka bawa senjata tajam gimana, kita cuma pakai sapu ijuk Ran," bisik Dewi.
" Ssst diem, kayaknya beneran ada maling, tuh lihat roti-roti di etalase berkurang, tapi yang lainnya tetap utuh dan rapi. Maling kelaparan kali ya," ucap Rani.
" Mungkin mereka belum sarapan Ran, ih aku jadi takut, minta tolong orang aja yuk. Jangan masuk," Dewi si penakut menarik-narik kaos Rani.
" Diem ih, jangan narik-narik. Ganggu konsentrasi aja, orangnya lagi ada di dapur sepertinya. Nanti kamu siap teriak ya?" kata Rani dan....
" Mbak Fira....!" seru keduanya saat mendapati Syafira tengah duduk melamun seorang diri di dapur toko.
"Eh kalian ngagetin aja, kok udah pada datang jam segini," ucap Syafira kaget.
"Kita juga kaget mbak, kirain ada maling tadi kok pintu kebuka, nggak tahunya mbak Fira, untuk nggak langsung aku gebuk pakai sapu," ucap Rani yang langsung meletakkan sapu ijuk yang ia pegang.
__ADS_1
"Eh iya, tadi aku dari rumah ayah. Pagi-pagi udah kelaparan aja, makanya aku kesini buat ganjel perut," ucap Syafira, berusaha tersenyum.
"Mbk Fira yang makan semua ini?" tanya dewi melihat beberapa plastik pembungkus roti diatas meja.
Syafira mengangguk sambil meringis.
"Kayak orang nggak makan seminggu mbak, doyan atau lapar sih mbak," kata Rani.
"Lapar banget, semalam nggak makan,"sahut Syafira.
Rani dan dewi saling melempar pandang, sepertinya apa yang ada di dalam pikiran mereka sama. Pasti bosnya itu sedang ada masalah, terlihat jelas matanya sembab, mukanya juga terlihat pucat dan nada bicaranya sangat tidak semangat. Di tambah lagi, pagi-pagi ia sudah berada di toko untuk sarapan, tidak biasnya ia begitu. Namun, keduanya hanya bisa saling mengangkat bahu tanda tak mengerti dan tak enak hati untuk bertanya dan tidak etis jika mereka terlalu kepo atau ikut campur urusan bosnya.
"Mbak Fira sakit ya? Mukanya pucat begitu?" hanya itu yang bisa Rani keluarkan dari mulutnya. Untuk bertanya lebih, ia tak berani.
"Ah enggak, cuma sedikit lelah aja. Dan mungkin karena aku belum mandi jadi nggak segar wajahnya," jawab Fira sekenanya dan tetap berusaha tersenyum.
"Atau mbak Fira mau makan apa? Di ujung jalan itu jam segini udah ada yang jualan nasi sama sayur, mau aku beliin?" tawar Dewi.
Syafira menggeleng, "Tidak usah, aku udah kenyang kok. O ya, hari ini aku nggak bisa bantu di toko ya. Mau ke makam ayah terus ke rumah sakit. Mungkin aku tidak bisa datang kesini dalam waktu dekat-dekat ini, kalian berdua bisa handle seperti biasa kan?" tanya Syafira kepada dua karyawannya.
"Bisa mbak, mbak Fira tenang aja pokoknya," Rani yang menyahut dan di anggukki oleh Dewi.
Setelah sedikit bincang-bincang soal toko dan pekerjaan akhirnya Syafira pamit. Ia akan kembali ke rumah ayahnya unyuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum ke makam sang ayah.
"Mbak Fira kenapa ya, tumben aja dia pagi-pagi kesini buat cari makan, mana matanya bengkak begitu, dia pasti habis nangis. Nggak di usir sama om mantan duda kan ya," ujar Rani setelah Syafira pergi.
Dua karyawan itu pun hanya bisa saling menerawang apanyang terjadi dengan bosnya sambil mendesah pelan. Berharap semuanya baik-baik saja.
πΌ πΌ πΌ
Dengan perasaan tak menentu, Syafira berjongkok di samping makam sang ayah. Diusapnya nisan yang bertuliskan nama ayahnya tersebut dalam diam.
"Ayah, maafin Fira yah... Karena Fira menikah sama mas Bara, orang yang sudah menabrak ayah. Apa ayah membenci mas Bara? Maafin Fira kalau ayah kecewa sama Fira. Kalau tahu dari awal, mungkin Fira akan berpikir ulang untuk menikah dengan dia waktu itu yah...Maafin Fira, karena anak ayah ini sekarang malah jatuh cinta sama orang yang menyebabkan ayah pergi selamanya... Maafin Fira ayah, karena Fira mencintai dia..." ucap Syafira dengan derai air mata. Ia merasa bersalah terhadap mendiang ayahnya.
"Fira serasa nggk9 sanggup yah, Fira tahu kalaupun tidak karena mas Bara, jika sudah waktunya ayah tetap akan ninggalin Fira. Tapi mendapati kenyataan kalau perantaranya suami Fira sendiri terlalu menyakitkan yah, ini terlalu beray buat Fira...Fira harus gimana sekarang yah...apa yang harus Fira lakukan..., "
"Tolong maafin Fira yah, maafin mas Bara atas segala kesalahannnya kepada ayah. Maafin suami Fira yah, jangan benci dia... Maaf kalau putri ayah ini egois karena masih saja mencintai dia yang sudah menyebabkan ayah meninggal... Fira juga tidak tahu kenapa bisa sebodoh ini...Fira marah, fira benci sama dia tapi Fira juga cinta sam dia, putri ayah memang bodoh, maafin Fira yah... "Syafira terus menangis dan meminta maaf di depan pusara sang ayah. Ia rerus merutuki Kebodohannya yang tidak bisa menghilangkan cintanya untuk Bara begitu saja meski tahu kenyataannya.
Setelah menumpahkan dan mencurahkan perasaannya di depan makam ayahnya, Syafira langsung akan menuju ke rumah sakit.
πΌ πΌ πΌ
Di tempat lain....
__ADS_1
Bara tampak duduk dan melamun di ruangannya di kantor cabang. Ia baru saja menelepon Varel kembali untuk memintanya mengawasi dan menjaga Syafira selama ia tidak di Jakarta. Ia juga sudah menelepon pihak rumah sakit untuk menanyakan bagaimana sebenarnya kondisi Adel dan memang ternyata kondisinya sudah separah itu, ia hanya harus bersiap-siap jika terjadi sesuatu yang buruk dengan Adel dan Syafira semakin membencinya bahkan mungkin akan pergi dari hidupnya selamanya.
"Kamu lagi apa sayang? Sudah makan belum? Pasti semalaman kamu nangis kan karena mas, maafin mas ya Fir," Bara mengusap layar ponselnya yang di penuhi gambar Syafira dan kedua anaknya. Ia ingat kalau Syafira sedang banyak makan akhir-akhir ini. Tapi, jika sedang galau hatinya, istrinya itu akan lupa makan, lupa mandi lupa segalanya pokoknya.
" Mas rindu dengar celotehan kamu, rindu dengar omelan kamu, mas rindu senyum kamu," di ciumnya gambar Syafira yang sedang memanyunkan bibir itu. Baru semalam mereka berpisah tapi sudah saling merindukan. Bagaimana jika harus berpisah selamanya, Bara tak bisa membayangkan hidupnya akan sehampa apa.
Tok tok tok!," Tuan muda, tuan Wisnu sudah menunggu di ruang meeting," ucap om John yng baru saja masuk.
"Hem, sebentar lagi kita ke sana om," ucap Bara. Ia memang belum mengatakn soal Syafira kepada om John. Biarlah mereka konsentrasi dulu terhadap perusahaan. Bisa di bayangkan seperti apa rasa bersalahnya om John jika pria paruh baya itu mengetahuinya. Bara juga mengkhawatirkan kesehatan pria yang sudah puluhan tahun mengabdikan hidupnya untuk keluarga Osmaro tersebut. Akhir-akhir ini kesehatan om John sedang tidak baik.
πΌ πΌ πΌ
Hari-hari berikutnya, Syafira selalu datang ke rumah sakit. Varel secara diam-diam selalu mengikutinya dan mengirimkan gambar kegiatan Syafira kepada Bara. Setidaknya Bara bisa sedikit lega jika istrinya baik-baik saja. Namun, sangat terlihat kemurungan dan badannya yang semakin kurus dan wajahnya pucat.
Hari ini Varel kembali membuntuti Syafira ke rumah sakit.
Syafira yang baru saja sampai langsung menarik kursi dan duduk di samping ranjang Adel, ia memasukkan ponselnya ke dalam tas, ia baru saja mendapat pesan dari dokter Rendra kalau dokter tampan itu sejak kemarin sore ada dinas ke luar kota dan pengawasan Adel ia sudah memerintahkan kepada dokter lain di rumah sakit tersebut "Kakak datang lagi dek, ini udah hari ketiga kakak datang tapi kamu belum mau bangun juga. Kakak mohon dek kamu bangun dong. Kamu nggak kasihan sama kakak. Kakak udah nggak punya siapa-siapa lagi dek. Cuma kamu harapan kakak satu-satunya, ayo dek berjuang demi kakak. Kakak janji apapun akan kakak lakukan demi kamu, asal kamu bangun... "ucap Syafira, ia seperti berharap pada sesuatu yang tidak mungkin, seperti semakin membodohkan diri dengan harapan kosongnya soal Adel.
Varel ikut Sedih dan lemas mendengarnya, wanita yang diam-diam ia sukai itu begitu rapuh saat ini, tapi ia yang tak pernah terlihat tak bisa berbuat apa-apa. Ia tak ingin menambah masalah untuk kakak iparnya. Ia segera mengirim photo dan video yang baru saja ia ambil diam-diam kepada Bara.
"Apa dia sakit Rel? Kenapa wajahnya pucat sekali? Dia juga semakin kurus, apa dia makan dengan baik?" Bara langsung menelepon Varel begitu adik iparnya itu mengirim photo Syafira yang sedang duduk di dalam ruang rawat Adel, ia juga mengirim video Syafira yang tengah melamun sambil memgangi tangan adiknya dan sesekali mengusap air matanya.
" Dia masih nangis terus rel? Kamu hibur dia atau apa, jangan biarkan dia nangis terus," lanjut Bara ingat video yang di kirim oleh Varel. Biasanya Syafira selalu tegar, tapi kini wanita itu benar-benar dalam fase kerapuhannya. Dada Bara terasa sakit melihat Syafira menyeka air matanya. Berkali-kali ia merutuki diri dalam hatinya.
" Gimana mau hibur kak, dia aja nggak mau ketemu sama siapa-siapa. Apalagi yang berhubungan sama kakak, dia lagi nggak mau di ganggu banget , lagi sensitif banget. Ini aja aku ngendap-ngendap ngkutin dia macam detektif tahu nggak?" sahut Varel di luar ruangan dengan suara sedikit rendah supaya tidak terdengar dari dalam.
" Udah ya kak, aku harus balik ke kantor lagi," ucap Varel. Akhir-akhir ini sebenarnya ia juga sangat lelah, kalau bisa ia ingin mebelah diri seperti amuba yang bisa terus mengawasi Syafira namun juga tetap berada di perusahaan untuk mengurus masalah yang sedang terjadi.
"Sayangnya aku bukan keturunan amuba, aku keturunan Lidya, bukan membelah diri tapi ambyar kalau mama mah," gumamnya dalam. hati.
Bu Lidya sendiri sekarang sedang sibuk mengurus dan mengalihkn perhatian si kembar terutama Nala yang sudah mulai menanyakan Syafira. Namun, wanita paruh baya itu selalu punya cara untuk menghandle kedua cucunya meskipun kadang dengan cara yang absurd.
Bara mendesah panjang, ia ingin sekali cepat kembali ke Jakarta dan menemui Syafira, tapi masalah perusahaan belum selesai, ia bahkan harus berpindah ke kota lain lagi setelah ini.
"Ya sudah, balik aja ke kantor kamu," ucap Bara, tapi Varel tak menggubris. Ia mendengar suara gaduh di seberang telepon yang belum terhenti.
Syafira teriak histeris sambil memanggil nama Adel dan teriak memanggil dokter, saat tiba-tiba Adel menunjukkan reaksi aneh dan alat pendeteksi jantung berhenti, dimana layarnya menunjukkan sebuh garis lurus.
"Adel bangun!!! Dokter! Tolong dokter!" teriak Syafira, ia sudah tak bisa berpikir lagi. Bayangan kematian Adel ada di depan matanya persis saat ayahnya meninggal kala itu.
Dokter dan beberapa perawat lari berhamburan masuk ke dalm ruangan tersebut untuk memeriksa kondisi Adel sebelum akhirnya Syafira pingsan. Varel yang tadinya ingin menutup telepon langsung ikut masuk saat melihat kepanikan beberapa perawat dan ia langsung menangkap tubuh Syafira yang mulai kehilangan kesadaran diri.
"Rel, halo.. Rel apa yang terjadi? Kenapa ramai sekali. FIRA KENAPA? REL..!!!! " tanya Bara yang ikut panik mendengar kegaduhan di seberang telepon. Apalagi terdengar suara Varel yang memanggil Syafira, "Fir, bangun Fir.. Sadarlah!" ucap Varel yang terus berjalan mengikuti brankar dorong yang membawa Syafira menuju ruang IGD karena pingsan.
__ADS_1
πΌ πΌ πΌ
π π π 2000 kata ya, panjang ini bisa buat dua bab, tapi aku jadiin satu aja untuk menemani hari minggu kalian... Jangan lupa like, komen dan votenya kalau masih ada juga boleh,,,, Tengkyu ππΌπ€π€β€οΈβ€οΈβ€οΈπ π π