Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 78


__ADS_3

Esok harinya, Syafira bangun terlebih dahulu. Ia merasa pusing dan badannya juga demam. Ia melihat suaminya tidur terduduk sambil memangku laptop yang masih menyala.


Meskipun merasa lemas, Syafira tetap memaksa untuk turun dari tempat tidur, "Pasti semalam begadang," gumamnya pelan.


Ia mengangkat tangan Bara yang menindih laptop dengan pelan supaya bisa mengambil laptop dari pangkuan suaminya tersebut. Namun, Bara tetap terbangun meskipun Syafira sudah melakukannya dengan hati-hati. Karena terkejut, Bara langsung memegang tangan Syafira.


"Aku ganggu ya mas? Maaf ya, mas Bara jadi kebangun. Aku cuma mau mindahin laptopnya aja tanpa ingin mengganggu tidur mas," ucap Syafira.


Bara tidak menjawab ucapan Syafira, ia malah fokus kepada tangannya yang memegangi tangan Syafira, terasa hangat.


"Sayang, kamu demam?" tanya Bara yang langsung memindahkan tangan kanannya ke kening Syafira.


"Sepertinya iya mas, aku sedikit tidak enak badan dan pusing," jawab Syafira.


Bara langsung turun dari tempat tidur, "kita ke dokter ya?" ucapnya khawatir seraya memegangi kedua lengan Syafira.


"Nggak perlu mas, nanti buat istirahat juga baikan kok," tolak Syafira.


"Nggak , kita harus ke dokter. Atau gini saja, mas panggil dokter keluarga saja ke rumah. Ah aku lupa, dia sedang berada di kuat negeri. Kalau begitu aku akan menelepon Rend..." Bara tidak meneruskan ucapannya. Ia mengusap wajahnya kasar, ingat jika Rendra menyukai Syafira. Ia tidak ingin terlihat konyol karena menahan cemburu kalau dokter Rendra memeriksa Syafira.


"Kenapa mas?" tanya Syafira.


"Tidak apa-apa, mas akan meminta Niken untuk ke sini," akhirnya Bara memutuskan untuk menghubungi dokter Niken.


"Dokter Niken bukannya dokter kandungan mas? Tidak mungkin kan aku hamil, kita baru melakukannya tiga hari yang lalu," ucap Syafira. Bara mengusap wajahnya kasar.


"Tidak usah khawatir, aku hanya perlu minum obat aja dan istirahat, nanti juga sembuh. Udah biasa seperti ini, kalau kecapean ya masuk angin. Beda kalau orang kaya pusing mikirin uangnya yang nggak habis-habis biasa sakit jantung atau stroke," canda Syafira.


"Kamu itu ya, udah sakit masih aja bercanda. Kita ke rumah sakit aja ya? Mas takut kamu kenapa-napa," timpal Bara.


"Bolehlah, sekalian ketemu dokter Rendra, udah lama nggak tahu kondisi Adel sejauh mana," sahut Syafira. Tujuannya bukan untuk periksa tapi untuk menjenguk adiknya, ia sebenarnya paling tidak suka periksa-periksa ke dokter jika sedang tidak enak badan.


"Nggak jadi, di rumah saja. Soal kondisi Adel, nanti mas tanyakan. Kamu istirahat aja ya?" Bara memapah tubuh sang istri untuk berbaring di tempat tidur.


"Tadi katanya mau ke rumah sakit?" canda Syafira.


"Tidak kalau untuk menemui Rendra," sahut Bara jutek. Ia menarik selimut untuk menyelimuti Syafira.


"Kenapa?"


"Kepo," jawab Bara.


Syafira mendengus kesal dengan jawaban suaminya.


"Jawab pertanyaan mas dengan jujur, kamu suka tidak sama Rendra?" tanya Bara setelah duduk di samping Syafira.


"Kenapa harus tidak suka? Dokter Rendra orangnya baik, tidak ada alasan buat membencinya," jawab Syafira polos, ia tidak menyadari jika suaminya sedang cemburu.


"Suka sebagai apa?" tanya Bara. Laki-laki itu malah merembet kesana-sana, lupa kalau istrinya sedang sakit.


"Maksud mas Bara apa sih? Yang jelas kalau tanya,"

__ADS_1


"Rendra suka sama kamu," ucap Bara.


Deg! Syafira terkejut, bagaimana bis suaminya tahu.


"Mas Bara kata siapa? Jangan suka ambil kesimpulan sendiri ah, nanti jadi cemburu nggak jelas kan bahaya kalau orang bucin cemburu tuh. Apalagi sama sahabat sendiri,"


"Mas serius, mas bukan orang bodoh yang tidak bisa melihatnya. Yang mas ingin tahu bagaimana dengan kamu? Suka dalam artian seorang wanita kepada lawan jenis tidak?" tanya Bara, ia menatap istrinya lekat-lekat. Ingin tahu jawaban Syafira.


Syafira menganggukkan kepalanya pelan tapi pasti. Bara langsung memejamkan kedua matanya, tangannya mengepal. Ia berpikir jika dulu ia memisahkan dua orang yang sebenarnya saling mencintai.


"Tapi itu dulu, sebelum aku menikah dengan mas Bara," ucap Syafira. Lebih baik ia jujur saja apa adanya daripada ada salah paham di kemudian hari, pikirnya.


Bara kembali menatapnya, meminta penjelasan lebih dari sang istri.


"Iya, dulu aku sempat suka sama dokter Rendra, dia tampan dan baik, aku kenal dia sejak aku SMA. Tapi, aku tidak pernah bilang sama dia kalau aku suka. Orang tua angkatnya membenciku, mereka tidak suka gadis miskin seperti aku. Setelah menikah sama mas Bara aku mulai memupus perasaan itu sedikit demi sedikit, karena ayah selalu bilang jika aku sudah menikah, cinta dan kehormatanku harus aku berikan hanya untuk suamiku, aku tidak boleh memandang pria lain lagi selain suami. Dan saat itu aku putuskan untuk mencintai mas Bara," jelas Syafira.


"Secepat itu?"


"Ya nggak secepat itu mas, butuh proses apalagi kan mas Bara bersikap seperti itu dulu sama aku, jadi aku tetap membatasi hati, sampai akhirnya batasan itu aku langgar karena nyatanya aku tetap jatuh cinta sama om dudaku ini dan melupakan om dokter itu,"


"Tapi tidak perlu menyebut di tampan juga kali," ucap Bara.


"Iya, suamiku yang paling tampan," ucap Syafira mengusap pipi suaminya tersenyum. Dan saat tangan halus itu menyentuh pipinya, saat itu juga Bara ingat jika sang istri masih demam.


"Yasudah, buat istirahat ya, mas buatkan bubur buat kamu, lalu minum obat nanti," ucap Bara mengecup kening Syafira. Syafira mengangguk.


"Jangan cemburu lagi dengan dokter Rendra," ucap Syafira.


🌼 🌼 🌼


Setelah memasang kompres di kening Syafira lalu mandi, kini Bara sedang sibuk berkutat di dapur untuk membuat bubur. Ini kali pertama ia menginjakkan kaki di dapur untuk memasak. Bara masih terlihat bingung apa yang harus ia lakukan ketika sampai di dapur.


Bara mengeluarkan ponselnya untuk browsing di internet cara membuat bubur yang enak.


"Tuan, biar bibi saja yang membuat," tawar bibi yang sejak tadi memperhatikan tingkah sang majikan di dapur.


Bara hanya membalasnya dengan tatapan tajam kepada bibi dan bibi pun langsung diam. Menunduk dan berangsur mundur untuk pergi dari sana.


Bara memulai aksinya memasak. Meskipun ia tak jarang kebingungan mencari bahan dan alat untuk memasak karena tidak tahu dimana mereka berada tapi mulutnya tetap tak mau bertanya kepada bibi. Tapi, pada akhirnya semua bahan dan alat yang ia butuhkan ketemu juga.


"Mas sedang apa? Serius sekali," tanya Syafira yang kini sudah berada di ambang pintu dapur. Bara menoleh ke sumber suara.


"Sayang, kenapa kamu ke sini? Mas kan sudah bilang kamu istirahat saja," ucap Bara.


"Aku udah enakan mas, penasara mas buat apa sih?" Syafira mendekati suaminya yang terlihat tampan meskipun sedang memasak.


"Mas buat bubur buat kamu, sebentar lagi jadi," sahut Bara tersenyum.



"Kamu duduk aja dulu, mas selesaiin ini dulu," kata Bara dan Syafira menurut, ia duduk sambil terus mengamati suaminya masak.

__ADS_1


Selesai membuat bubur, Bara langsung mengambil mangkuk dan menyajikannya.


"Makan ya buburnya, semoga enak, ini pertama kali mas buat soalnya," Bara mulai menyendok bubur dan meniup-niupnya karena panas.


Syafira merasa bahagia, ternyata suaminya adalah sosok suami yang sangat perhatian.


"Mas Bara keren saat masak," puji Syafira yang di balas senyuman oleh suaminya.


Bara menyodorkan bubur ke mulut Syafira, Syafira bersiap untuk membuka mulutnya. Namun suara heboh bu Lidya dari ruang keluarga menghentikan aktivitas keduanya.


"Mertua mas datang," ucap Syafira tersenyum membuat Bara mengernyit.


"Ketenangan akan segera terusik," sahut Bara.


Syafira tersenyum, "Kita keluar mas, ibu pasti ngantar anak-anak," ucao Syafira.


"Biarkan saja, kamu makan dulu," ucap Bara.


"Tapi mas..."


"Nggak nurut, mas gagahi kamu di sini, mau?"


"Astaga, istri lagi sakit juga," Syafira geleng-geleng kepala, Bara hanya tersenyum santai.


Akhirnya Syafira hanya bisa menurut.


"Udah mas," ucap Syafira setelah beberapa suap bubur masuk ke mulutnya.


"Sekali lagi,"


"Nggak mau, udah kenyang," ujar Syafira, selain karena mulutnya yang memang sedang tidak enak untuk makan, juga karena rasa buburnya yang ambyar. Tapi Syafira mengatakan jika bubur buatan suaminya itu enak tiada duanya. Ia sangat menghargai usaha suaminya. Bara hanya tersenyum ketika Syafira bicara seperti itu, ia tahu istrinya itu hanya tidak ingin mengecewakannya.


Bara memapah Syafira keluar untuk menemui bu Lidya dan si kembar yang sedang berada di ruang keluarga.


"Astaga ma, kenapa suaranya heboh sekali sih. Syafira sedang sakit jangan bikin tambah sakit," ujar Bara ketika melihat bu Lidya sedang menunggunya dan Syafira yanh dikiranya sedng berada di kamar.


"Apa? Syafira sakit? Kok bisa? Kamu apain Bara istrimu bisa sakit," ucap bu Lidya heboh, sementara si kembar sudah berhambur memeluk Syafira dan menuntun Syafira untuk duduk diantara keduanya. Mereka bertiga mengobrol tanpa menghiraukan bu Lidya dan Bara.


Bara hanya diam tak menanggapi ucapan ibu mertuanya. Emangnya diapain lagi selain di sayang-sayang, pikirnya malas bicara.


" Astaga, pasti kamu gempur terus kan istrimu itu hingga dia kelelahan trus sakit begini, benar-benar deh kamu, buat istrimu ini pengalaman pertamanya, jangan samakan dengan kamu yang udah berpengalaman. Pasti selain kelelahan dia kedinginan karena harus sering mandi jadi masuk angin," lanjut bu Lidya.


"Sehari cuma beberapa kali," sahut Bara cuek.


Plak! Bu Lidya menabok lengan Bara.


"Itu namanya banyak, baru sehari itu, yang semalam berapa, benar-benar deh," omel bu Lidya.


"Orang Syafira nya mau, mama kayak nggak pernah muda aja, coba nanti mama menikah lagi, pasti tahu tasanya jadi Bara," yes, Bara bisa membalikkan ucapan bu Lidya, ia girang sekali dalam hati.


🌼 🌼 🌼

__ADS_1


__ADS_2