
Bara terus melajukan mobilnya. Berkali-kali ia mengumpat karena macetnya jalanan. Mengingat ini adalah jam-jam pulang bekerja bagi sebagian karyawan.
Bayangan keceriaan, senyuman dan kebahagiaan istri dan anak-anaknya bersama sahabatnya sendiri terus saja melintasi pikirannya. Ia sendiri tak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan saat ini, yang jelas membayangkan ada laki-laki lain yang membuat tawa tiga orang bagian dalam hidupnya tersebut, membuat hatinya terasa seperti di sayat, ada kecemburuan yang menyeruak di sana.
Sementara itu, Syafira, dokter Rendra dan si kembar masih tetap asyik menikmati makan sore mereka sambil bercanda ria.
Entah kenapa, dokter Rendra merasa kalau ada sesuatu yang Syafira sembunyikan saat tadi ia menanyakan perihal rumah tangganya. Ia tahu, tak seharusnya bertanya dan mengurusi kehidupan rumah tangga sahabatnya tersebut, namun ia hanya ingin memastikan jika keduanya bahagia.
Tak ada pertanyaan lagi yang ia lontarkan sejak Syafira berusaha menghindari untuk menjawab dengan mengalihkan topik pembicaraan.
"Tuan?" sapa pak Hendro menghampiri Bara begitu tahu Bara turun dari mobilnya setelah memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit
"Dimana anak-anak?" tanya Bara.
"Mereka sedang makan di Restoran depan sana tuan," jawab pak Hendro.
"Pak Hendro pulanglah, biar nanti mereka pulang sama saya," perintah Bara.
"Baik tuan," sahut pak Hendro.
Bara berpikir sejenak, apakah dia akan menyusul anak-anak dan istrinya atau menunggu saja di rumah sakit.
"Ah dari pada kelamaan mikir, mending aku samperin mereka," gumamnya. Ia berjalan ke arah Restoran yang letaknya tepat di seberang rumah sakit
"Daddy!" Seru Nala yang melihat daddynya berjalan ke arah mereka.
"Bapaknya anak-anak?" gumam Syafira dalam hati, keningnya mengkerut, menatap heran kenapa suaminya bisa berada di sana.
"Mas Bara kok di sini?" tanya Syafira.
"Hem, ayo pulang," sahut Bara singkat.
"Bara, kau ke sini untuk menjemput mereka?" tanya Dokter Rendra.
"Kebetulan kami sudah selesai makan, apa kau mau makan terlebih dahulu?" sambungnya sebelum Bara menjawab pertanyaan pertamanya tadi.
"Tidak, aku sudah makan tadi. Kebetulan aku ada urusan dan lewat sini tadi, dan kebetulan pak Hendro ada urusan penting, jadi dia minta aku sekalian jemput mereka," ucap Bara beralasan dengan serba kebetulan, yang mana membuat Syafira tak percaya begitu saja.
__ADS_1
"Mas parkirnya di sini? Mau masuk jenguk Adel dulu nggak? Sekalian aku pamit sama Adel," ucap Syafira dan di iyakan oleh Bara.
Di dalam ruang rawat Adel, Bara hanya diam dan memperhatikan setiap gerakan atau ucapan yang di keluarkan oleh Syafira saat mengajak ngobrol adiknya yang masih terbaring koma sambil menggendong Nala yang sudah kecapean. Ia bisa melihat ada raut kesedihan di wajah cantiknya yang selalu ia tutupi dengan sebuah senyuman tersebut.
Ya, selalu dengan apik gadis sederhana dan ceria tersebut selalu berhasil menyembunyikan betapa banyak luka yang tersimpan dalam hati sebenarnya. Sesekali Bara mendesah berat, sekelebat rasa bersalah menderanya karena sudah menambah beban hidup istrinya tersebut dengan sikap dingin dan acuhnya selama ini.
"Dek, kakak ulang dulu ya. Kapan-kapan kakak kesini lagi, kamu cepat bangun ya," ucapnya lemah, memegangi tangan Adel.
"Onty cantik, Nathan pamit pulang dulu," pamit Nathan.
"Nala juga pamit Onty syantik, cepat bangun ya biar bunda nggak sedih lagi. Assalamualaikum!" Seru gadis kecil tersebut dari gendongan sang ayah.
Sementara Bara hanya diam, memandang lekat Adel yang terbaring beberapa detik tanpa bersuara, seakan ada harapan atau doa tersendiri yang tersirat dari tatapannya tersebut.
🌼🌼🌼
Suasana dalam mobil hening, si kembar tertidur di jok belakang karena lelah, Syafira hanya diam menatap ke arah luar jendela mobilnya. Entahlah, dia seperti kehilangan selera untuk sekedar bicara setelah tadi bertemu dokter Rendra. Apalagi jika ingat saat tadi dokter Rendra bicara soal perkembangan kondisi Adel yang tak kunjung ada peningkatan sedikitpun.
Sementara Bara fokus menyetir sambil sesekali melirik ke arah Syafira.
"Dia kenapa? Tumben diam nggak merepet kayak biasanya. Jadi aneh lihatnya, dan bggak nyaman," batin Bara.
"Ehek hem!" Bara sengaja berdehem untuk mencari perhatian Syafira, tapi nyatanya istrinya tersebut tak bergeming.
"Ehem!" Bara lebih mengeraskan lagi suaranya, dan berhasil! Syafira langsung menoleh kearahnya.
"Mas apa sih? Jangan keras-keras, ntar anak-anak kebangun, kasihan mereka capek, biar tidur dulu," ucap Syafira menoleh ke jok belakang, memastikan si kembar tidak terusik dengan suara Bara barusan.
"Habisnya kamu diam aja, padahal tadi aku lihat ketawa ketiwi sama Rendra, apa mendadak sakit?" ucap Bara, aura kecemburuan mulai tercium.
"Heleh, bilang aja mas Bara cemburu, iya kan? Iya dong?" Syafira mulai menguasai hatinya lagi, tersenyum dan kembali menyimpan semua di ujung paling dasar hatinya.
"Bagaimana kondisi Adel?" tanya Bara mengalihkan pembicaraan.
"Tidak ada perubahan,masih sama, belum ada tanda-tanda mau bangun dari komanya. Harapan buat sadar juga hanya beberapa persen saja," jawab Syafira lemah, ada keputus asaan di dalam kalimatnya.
Bara ingin sekali mengusap kepala Syafira dan menenangkannya, memberi support untuk istrinya tersebut, tapi tangannya terasa kaku untuk melakukannya.
__ADS_1
"Kamu harus yakin kalau Adel pasti akan sadar, aku akan mengupayakan perawatan terbaik buat dia," akhirnya hanya itu yang bisa Bara ucapkan sebagai kepeduliannya.
"Terima kasih," ucap Syafira tersenyum tulus.
"Rendra yang menangani Adel?" kekepoan tentang kedekatan Syafira dan dokter Rendra mendadak mulai muncul.
Syafira mengangguk.
Tiba-tiba Bara ingat ucapan dokter Rendra waktu itu yang mengatakan jika dia mencintai kakak dari gadis yang sedang koma di rumah sakit tersebut. Jangan-jangan...Bara langsung mengerem mobilnya mendadak. Sehingga membuat Syafira terkejut.
" Ya Allah mas, kenapa sih bikin kaget tahu nggak. Ada anak-anak sedang tidur itu kasihan kalau kaget," ucap Syafira.
"Tadi ada sesuatu lewat di depan," ucap Bara beralasan.
"Mana, nggak ada,"
"Ada tadi," Bara kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan standar.
"Heleh, orang nggak ada kok," gumam Syafira.
"Sudah lama kenal Rendra?" tanyanya menyelidik.
"Iya, dokter Rendra itu kakaknya Mia, sahabat aku. Aku sudah lama mengenalnya sejak SMA dulu. Jadi begitu tahu Adel dan ayah kecelakaan dokter Rendra langsung yang menanganinya, padahal dia kan direktur rumah sakit ya, tapi emang dia baik banget sumpah!" ucap Syafira, teringat semua kebaikan dokter Rendra kepada keluarganya selama ini, meski selalu di tentang oleh orang tua angkatnya.
"Dia direkturnya, tapi aku yang punya," batin Bara.
"Sejak SMA ya?" datar tanpa ekspresi.
"Iya mas, dulu waktu ayah masih ada dokter Rendra sering main ke rumah. Ayah suka sama dia karena dia baik orangnya, bahkan ayah sempat berandai-andai kalau misalnya dokter Rendra jadi menantunya, hihi tapi ya namanya juga jodoh kan rahasia Allah," jawab Syafira, begitu lancar cerita sambil senyum-senyum jika ingat masa-masa dulu. Tanpa ia sadari, di sampingnya ada hati yang sedang menahan sebuah kecemburuan.
"Jadi kamu pikir, jika.ayah kamu masih hidup dia akan lebih memilih Rendra jadi suami kamu daripada saya?" selidik Bara.
"Kalau dari segi lama kenal dan status pasti iya mas," sahut Syafira, kening Bara langsung mengkerut.
"Tapi ayah bukan orang yang tidak bisa di ajak nego dan alot. Jadi dia tetap akan mempertimbangkan mas Bara juga kalau jodohnya aku emang harus mas Bara dan juga.., mas Bara ayah yang bertanggung jawab" lanjut Syafira.
"Tapi saya suka buat kamu menangis diam-diam, saya bukan suami yang baik, Apa ayah kamu tetap akan menerimaku?" batin Bara mengakui kesalahannya.
__ADS_1
🌼🌼🌼