
Bara berdiri mencoba menikmati pemandangan yang ada. Ia berjalan ke arah bunga yang tumbuh liar di sana. Meskipun tumbuh liar namun bunga yang entah apa namanya itu sangat cantik.
Sementara Syafira mengeluarkan ponselnya, ia ingin menghubungi si kembar yang sudah sangat ia rindukan.
"Assalamualaikum buk," ucap Syafira tersenyum ketika melihat wajah bu Lidya dari layar ponselnya.
"Waalaikumsalam sayang, kamu apa kabar Nak? Kamu baik-baik saja kan? Sekarang kamu dimana? Apa anak cecurut itu sudah berhasil menemukanmu? Apa dia sudah meminta maaf padamu?" Bu Lidya memborbardir Syafira dengan rentetan pertanyaan.
"Satu satu buk kalau bertanya, Fira jadi bingung buat jawabnya," sahut Syafira, senyum tak memudar dar bibirnya.
"Hahaha habisnya ibu kesal dengan suamimu itu Fir, umurnya aja udah hampir 33, itu artinya dia sudah seperempat abad lebih hidup di dunia ini, tapi kadar kepekaannya minus kalau masalah perasaan. Beg*nya nggak ketulungan sola cinta, harus di gertak dulu baru gerak,"
"Alhamdulillah kabar Fira baik buk, sangat baik. Mas Bara juga sudah minta maaf kok sama Fira, dan sekarang dia lagi sama aku kok. Pokoknya nanti pulang ibu pasti kaget sama perubahan sikapnya, Fira harap ibu nggak jantungan yah, hehehe bercanda," jelas Syafira dengan tawa renyahnya.
Melihat Syafira tersenyum seperti itu, membuat bu Lidya bernapas lega dan bahagia. Itu artinya rumah tangga menantunya kini sudah baik-baik saja.
Si kembar yang habis bermain mendekati bu Lidya saat mereka mendengar bu Lidya menyebut nama Syafira.
Bu Lidya menoleh ke arah dua cucunya yang seperti menunggu giliran untuk bicara dengan bunda mereka.
"Oma minggir, asti bunda mau lihat kami kan bukan lihat oma. Jangan di monopoli sendiri dong ponselnya, nanti bunda bosan lihat wajah oma terus," ucap Nathan.
"Iya oma, Nala sudah rindu sama bunda," sambung gadis kecil berlesung pipit tersebut.
Nathan menggeser-geser tubuh bu Lidya supaya bu Lidya sedikit minggir, tapi bu Lidya tak bergerak. Nathan pun sedikit mendorong tubuh bu Lidya sehingga kini meraka bisa dengan jelas melihat wajah bunda meeka dari layar ponsel yang di taruh di atas meja tersebut.
"Assalamualaikum bunda!" seru keduanya menyapa.
"Waalaikumsalam anak-anak bunda yang ganteng dan cantik. Apa kalian merindukan bunda?" tanya Syafira.
"Sangat bunda, rindu banyak-banyak!" sahut Nala sambil mengguk-mangguk yang di dukung oleh anggukan Nathan.
"Bunda juga rindu sama kalian, sangat rindu. Nanti bunda pulang ya..." Di sela-sela obrolan mereka, Bara datang dengan membawa bunga yang baru saja ia petik dan di sodorkannya keada Syafira.
__ADS_1
Syafira mendongak dan tersenyum kepada Bara, di terimanya bunga itu.
"Makasih," ucapnya tersenyum.
Bara duduk di samping Syafira. Ikut bergabung dalam obrolan istri dan anak-anaknya.
"Daddy!" panggil keduanya ketika melihat wajah sang ayah.
"Boy, princess," ucap Bara tersenyum.
Mendengar suara menantunya, bu Lidya langsung bereaksi.
"Mana, mana daddy kalian?" ucapnya sambil berusaha mencari angle supaya ia juga tetlihat.
"Iiihh oma, kalau seperti ini oma nutupi wajah Nala dan Athan oma," protes Nala tapi bu Lidya tak peduli.
"Sebentar sayang, oma mau bicara sama daddy kalian," sergahnya.
"Ma..." sapa Bara.
Bara mengernyit, kenapa pertanyaan ibu mertuanya seolah tidak.menyukai jika dia mendapat kemulusan dalam memperoleh maaf dari istrinya.
"Mama tidak suka aku sama Fira baikan?" tanya balik Bara.
"Kalau mama sih tergantung uangnya saja, kalau banyak ya suka kalau nggak tambah ya B aja," jawab bu Lidya bercanda.
"Nanti Bara transfer," ucap Bara.
Bu Lidya tersenyum mendengarnya.
"Aduh Fira sayang, kenapa kamu langsung maafin sih cecurut itu, kenapa nggak di bikin menderita dulu. Di bikin susah dulu, nangis-nangis bombay dulu baru di maafin. Kamu itu baiknya kelewatan sayang. Kalau ibu jadi kamu, udah ibu kasih itu suami pelajaran berat, ibu siksa perasaannya dulu, di maafinnya belakangan hahaha, " Bu Lidya bicara dengan nada menggebu-nggebu yang hanya di balas senyuman oleh Syafira.
"Tapi untungnya Syafira bukan mama, kalau Syafira itu mama, Bara juga mikir tiga kali buat jadikan istri," sahut Bara.
__ADS_1
"Ck, dasar," cebik bu Lidya.
Sementara si kembar pada duduk dengan bete, kedua tangan mereka bersidakep di depan dada dengan wajah cemberut. Mereka kesal karena bu Lidya tak memberi kesempatan keduanya untuk bicara bahkan tidak terlihat di layar.
"Anak-anak mana ma, Bara mau ngobrol.sama mereka, engap lihat wajah mama penuh di layar," ujar Bara bercanda.
"Astaga mama lupa," hu Lidya menoleh ke kiri dan akan.
"Oppsss!" bu Lidya menyadari aura kemarahan dari kedua cucunya.
"Sudah?" tanya Nathan jutek.
"Sorry, sorry," ucap oma santai sambil melorotkan tubuhnya ke lantai dan pindah tempat di seberang si kembar.
Si kembar pun kembali mengobrol.dengan kedua orang tua mereka cukup lama. Hingga video call berakhir.
"Daddy sama bunda akan pulang, besok daddy jemput ke tempat oma," ucap Bara sebelum mengakhiri video call.
"Tidak perlu, biar mama yang mengantar mereka," terdengar suara hu Lidya yang menyahut meski tidak.terlihat wajahnya.
"Kalian nikmati saja waktu kalian, yang penting transferannya beres, mau pulang seminggu lagi juga tidak masalah," sambung bu Lidya seolah dirinya seorang wanita matre, padahal tanpa ia minta, Bara maupun Varel selalu mentransfer uang kepadanya lebih dari cukup. Bahkan.bisa buat travelling bersama teman-temannya.
"Bunda tutup ya teleponnya, assalamualaikum," ucap Syafira.
"Waalaikumsalam," jawab si kembar dan bu Lidya sebelum akhirnya panggilan terputus.
Syafira bernapas lega dan tersenyum setelah menelepon si kembar.
"Leganya lihat anak-anak baik-baik saja," ica Syafira.
"Mereka akan baik-baik saja bersama mama, meskipun mama modelannya begitu, suka pedas kalau bicara, tapi ia selalu bisa di andalkan. Dulu kalau mas ke luar.kota atau ke luar negeri, si kembar selalu mas titipkan kepada mama. Dan sekarang ada kamu, mama seperti mendapat kebebasan, seperti burung yang di lepaskan dari sangkarnya, bisa jalan-jalan ke luar negeri tanpa kepikiran si kembar lagi. Dia selalu mengkhawatirkan si kembar dan juga mas sebenarnya, selalu meminta mas untuk menikah lagi meski mas tahu dalam hatinya juga sedih dan sakit mengatakan itu karena mas juga suami anaknya, tapi begitulah mama, tak.pernah menunjukkan sisi lemahnya kepada orang lain. Sama seperti kamu, kalian wanita kuat, wanita hebat," ucap Bara, ia menarik Syafira dalam pelukannya.
"Mas juga ayah yang hebat buat si kembar," sahut Syafira.
__ADS_1
"Mas masih perlu banyak belajar untuk jadi ayah dan suami yang baik. Bahkan mas tidak bisa tidak bisa melakukan apa yang bisa kamu lakukan untuk mereka. Tapi mereka anak yang hebat dan cerdas, jarang sekali mengeluh. Mas merasa sebenarnya merekalah yang selama ini menjaga perasaan mas, yang merawat mas supaya tetap waras menjalani hidup. Sebenarnya merekalah yang hebat bukan mas," ucap Bara, tanpa terasa ia menitikkan air matanya. Memang sensitif rasanya jika membicarakan sang buah hati. Bara yang di kenal dingin pun bisa menitikkan air matanya jika sudah membicarakan perihal anak-anaknya.
🌼🌼🌼