
"Makan lagi ya Fir, sekarang mau apa? Buah? Mas kupasin ya? Atau mau yang lain? Bilang aja mau apa mas bakal cariin sampai dapat, yang penting kamu makan," ucap Bara, entah sudah yang ke berapa ia bilang begini kepada Syafira.
"Aku nggak lapar mas, baru sebentar aku makan. Jangan suruh aku makan terus," tolak Syafira.
"Kata dokter kemarin kamu pingsan gara-gara makan nggak teratur. Kamu itu sekarang nggak sendiri, di sini ada anakku, jadi makannya harus dobel. Selera nggak selera harus di paksa makan. Jangan sampai kamu pingsan lagi. Apa kata orang, kalau tahu kamu kurang makan, suami kamu ini terlalu kaya untuk nggak ngasih makan anak dan istrinya,"
" Kok mas malah ngomel sih, mas sendiri kan yang barusan nyuapin aku makan. Kalau di jejal makan terus malah bahaya, bisa-bisa aku muntah," ucap Syafira kesal.
" Iya-iya, maaf. Mas cuma takut kamu dan anakku kenapa-kenapa...."
"Anakku!" protes Syafira cepat.
"Iya, anak kita maksudnya," sahut Bara tersenyum sebelum ia menlanjutkn bicaranya.
"Waktu tadi dokter bilang kamu pingsan karena nggak makan, mas merasa bersalah banget Fir. Jadi mas harus pastiin kamu makan tepat waktu dan bergizi. Mas nggak mau sampai menyesal karena terjadi sesuatu yang buruk sama kalian, atau mas lebih nggak bisa maafin diri mas sendiri lagi," ucap Bara tulus.
Syafira terdiam sejenak mendengar ucapan suaminya," Ya, tapi nggak begini juga kan?" ucapnya dengan nada bicara melunak.
" Iya iya. Sekarang kamu mau apa? Mumpung Adel belum kesini, mas masih ada waktu buat dekat-dekat kamu," Bara kembali mengusap perut Syafira. Berkali-kali ia mengatupkan bibirnya saat mengusap perut Syafira yang kini ada calon buah hatinya. Tak bisa menyembunyikan betapa bahagianya ia mendengar kabar kehamilan Syafira tersebut.
"Nggak mau apa-apa. Maunya mas dapetin maaf dari Adel, baru kita bahas kedepannya," ucap Syafira penuh harap.
"Hemm, mas mengerti," sahut Bara mengusap rambut Syafira penuh sayang. Meski masih kaku dan jutek, namun Syafira tak lagi menolak kehadiran suaminya tersebut.
Adel dan Varel masuk ke dalam ruangan kelas satu di puskesmas tersebut, Bara langsung mundur, menjaga jarak dengan Syafira.
"Kakak! Kakak nggak kenapa-kenapa kan? Kakak baik-baik aja kan? Calon keponakan aku juga baik-baik aja kan?" berondong Adel seraya memeluk Syafira. Begitu mendengar jika Syafira jatuh dan di bawa ke puskesmas, Adel sangat khawatir terjadi sesuatu dengan kakak dan calon keponakannya.
" Iya dek, kakak dan calon anak kakak baik-baik aja kok. Jangan nangis gitu ah, malu dilihatin Varel tuh," hibur Syafira.
"Biarin aja nangis Fir, nanti di kasih permen juga diem. Kan bocah!" ledek Varel yang mana membuat Adel berdecak sebal sambil menatapnya.
__ADS_1
Pandangan Adel beralih kepada Bara, "Pasti gara-gara om kan? Pasti om yang buat kakak jatuh kan? Harusnya om tadi nggak nyusulin kakak," omelnya.
"Dek cukup! Justru mas Bara yang udah bawa kakak ke sini. Kalau nggak ada mas Bara, kakak nggak tahu apa yang akan terjadi sama kakak dan anak kakak. Lagian hormati dia, bagaimanapun dia masih suami kakak, panggil yang sopan," ucap Syafira memperingati Adel. Meski ia bisa menerima dan memahami perasaan Adel, tapi tidak di benarkan jika Adel bersikap arogan terhadap Bara.
Adel langsung diam dan duduk di kursi samping ranjang, ia melirik Bara yang berdiri tak jauh darinya dengn tangan bersedekap.
"Kamu tenang saja, saya tidak mungkin membiarkan Syafira kenapa-kenapa. Biar bagaimanapun di dalam perutnya itu anak saya, saya juga punya kewajiban untuk menjaganya," ucap Bara.
Adel tak menyahut, sebenarnya ia tadi mendengar obrolan Bara dan Syafira sebelum ia masuk. Satu poin plus lagi buat kakak iarnya tersebut. Namun hal itu belum cukup, tak semudah itu pikirnya.
๐ผ ๐ผ ๐ผ
Setelah di pastikan kondisi Syafira dan janinnya baik-baik saja, akhirnya Syafira diijinkan pulang oleh dokter.
"Pelan-pelan aja Fir jalannya," ucap bara seraya memapah tubuh Syafira.
"Aku bisa jalan sendiri. Nggak perlu di papah begini, bahkan berlaripun aku bisa kalau aku mau," ucap Syafira.
"Tapi mas khawatir Fir, atau mau pakai kursi roda ke mobilnya?" tawar Bara yang langsung dapat tatapan tajam dari Syafira, "Mas! Aku sehat, aku baik-baik saja, jangan perlakukan aku seperti orang sakit! Aku hamil, bukan sakit!" protes Syafira.
Mobil yang di kendarai Bara tak langsung melaju kembali ke rumah uwak, namun kini mobil tersebut terparkir di halaman sebuah resto," Kok malah ke sini sih mas, bukannya langsung pulang aja," ucap Syafira sesaat setelah mendaratkan tubuhnya di sebuah tikar. Bar memilih temoat lesehan untuk mereka berdua.
"Makan dulu," sahut Bara.
"Ck, di suruh makan mulu! Sebelum pulng tadi aku kan udh makan di puskesmas, tuh rantangnya yang di bekalin Adel masih ada di mobil. Meski hamil juga ada rasa kenyang kali, masa di suruh jejal makanan terus,"
Bara hanya tersenyum menanggapinya, rasanya sudah lama ia tak mendengar Syafira mengomelinya. Jika masih mau mengomel itu artinya level kemarahannya rendah, nmun jika sudah mogok bicara, diam seribu bahasa atu tiba-tiba ngilang alias minggat, itu udah level ubun-ubun. Dan Bar sangat membenci level tersebut.
"Mas yang makan, mas lapar dari pagi belum makan. Kamu cukup temani mas aja kalau masih kenyang. Jangan ngegas terus, ntar anakku takut bundanya ngomel terus," ucap Bara lembut. Ia kembali mengusap perut Syafira.
Syafira diam, ia menikmati setiap sentuhan Bara pada perutnya.
__ADS_1
"Mau minum aja?" tawar Bara saat pelayan resto mencatat menu pesanannya. Syafira mengangguk.
"Oke, sama jus mangganya satu ya mbak," ucap Bara tanpa bertanya terlebih dahulu kepada Syafira minuman yang ia pilihkan sambil menyerahkan buku menu kembali kepada pelayan.
"Enak ya di sini, pemandangannya indah. Sawahnya lagi hijau-hijaunya, segar di mata," ucap Bara. Syafira memgedarkan panfangannya ke sekitar, kemudian mengangguk tanda setuju dengan apa yang suaminya katakan.
"Selama ini, apa kamu kesulitan dengan kehamilan kamu?" tanya Bara di sela-sela menunghu pesanan datang.
Syafira menggeleng, "Enggak yang gimana-gimana. Paling kalau pagi sama malam mual," jawabnya kemudian.
"Enggak gimna-gimana tapi Berkali-kali pingsn begitu," ucap Bara lirih setengah mengomel, namun tetap terdengar oleh Syafira yang hanya melengos menanggapinya.
Tak lama kemudian, pesanan datang, "Benar kamu nggak mau makan?" tanya Bara sebelum mulai makan dan Syafira mengangguk.
Bara menggulung lengan kemejanya sampai siku lalu bangkit dari duduknya untuk mencuci tangan. Air untuk cuci tangan yang di sediakan oleh pelayan dalam mangkok kecil dirasanya kurang bersih untuk mencuci tangannya.
Syafira hanya memperhatikan suaminya yang sedang makan tanpa banyak bicara. Berkali-kali ia melirik Bara yang tengah makan ayam bumbu rujak yang sengaja Bara pesan untuk menggoda sang istri. Syafira tak kuasa untuk tidak menelan salivanya sendiri ketika Bara makan ayam tersebut menggunakan tangannya.
Bara melirik Syafira sambil menahan senyum, "Enak loh sayang, mau nggak?" tawarnya kepada Syafira. Syafira menggeleng tapi raut wajahnya tak bisa bohong jika ia mupeng. Padahal ia baru saja makan, tapi meliht suaminya makan, sepertinya enak sekali, apa ini pengaruh dari kehamilannya, entahlah, ia sendiri tak tahu.
"Beneran nggak mau? Bumbu rujaknya seger banget loh ini," tanya Bara sekali lagi sambil menyuwir ayam. Ia kembali melirik Syafira yang kembali menelan ludahnya
Syafira mengangguk lalu menggeleng, pengin tapi gengsi, begitulah adanya.
Bara tersenyum melihatnya, di arahkannya ayam bumbu rujak beserta nasi yang ada di tangannya ke mulut Syafira. Syafira menatapnya protes. Bara hanya mengangguk dan tersenyum.
Dengan malu-malu Syafira membuka mulutnya, "Enak kan? Nggak apa-apa udh makan tapi makan lagi, namanya juga lagi hamil sayang. Lagi ya?" Bara kembali menyuwir ayam yang belum seberapa berkurang tersebut. Syafira hanya diam, tak menolak juga tak mengiyakan. Tapi, ia menunggu Bara kembali menyuapianya.
Disuapi menggunakan tangan oleh Bara, membuat nap su makan Syafira bertambah. Rasanya berkali-kali lipat nikmat. Dan pada akhirnya, makanan yang di pesan oleh Bara tersebut sebagian besar masuk ke dalam perut Syafira. Sedangkan Bara sudah cujup kenyang melihat sang istri makan dengan lahapnya. Tak henti-hentinya ia tersenyum bahagia melihat kelakuan Syafira yang masih gengsi tapi mau.
๐ผ ๐ผ ๐ผ
__ADS_1
๐ ๐ Jangan kupa like, komen dan tehnya, tengkyu ๐ค ๐ค
Salam hangat author โค๏ธโค๏ธ๐ ๐