
Sampai di sekolah si kembar, Bara dan Syafira langsung di sambut oleh bu Lidya yang sedang mengobrol bersama orang tua murid yang lainnya.
"Fira, sayang, udah datang?" sapa bu Lidya begitu melihat Syafira datang.
"Iya buk, acaranya belum mulai kan? Fira belum terlambat kan?" tanya Syafira khawatir, karena tadi di rumah harus ada drama dengan suaminya terlebih dahulu, dimana Syafira Harus ganti baju sampai empat kali karena Bara selalu mengomentari baju yang Syafira pakai. Terlaku terbuka, terlalu pendek, nggak sopan, dadanya terlalu nonjol mas nggak mau mata laki-laki lain jelalatan liatnya, itu jatah mas dan lain sebagianya, komentar-komentar posesif yang membuat Syafira menggerutu berkali-kali.
"Udah, aku mau pakai yang ini aja, ini terakhir aku ganti. Kalau mas Bara nggak boleh juga aku nggak pakai baju aja sekalian, gimana? Daripada pusing pakai ini nggak boleh, itu nggak boleh, itu semua juga baju mas Bara yang beliin, ini udah siang kalau telat kasian Si kembar pasti ngiranya kita nggak datang," ucap Syafira kesal yang membuat Bara akhirnya menyerah dan mengiyakan saja untuk mengakhiri perdebatan soal baju tadi sebelum berangkat.
" Belum di mulai kok, anak-anak juga lagi pada latihan sebelum tampil" jawab Bu Lidya. Pandangannya pindah kepada sosok laki-laki dingin, acuh, cuek namun berkharisma yang berdiri menggandeng tangan Syafira. Siapa lagi kalau bukan Bara, menantu tengilnya.
"Tumben datang ke acara sekolah anak-anak, kena angin apa?" tanya bu Lidya setengah tak percaya . Pasalnya ini kali pertama Bara menginjakkan kaki di acara yang di adakan oleh sekolah si kembar.
"Angin sepoi-sepoi, semilir-semilir enak," jawab Bara asal, mengingat ciuman yang di berikan oleh Syafira sebagai syarat mau datang ke sekolah semalam, pengennya sih lebih dari ciuman tapi keganggu suara Nala yang melengking, meminta Syafira tidur dengannya. Di tambah sebuah kecupan lembut pagi tadi di dapur. Anggap aja itu napas Syafira angin sepoi-sepoinya.
"Ini acara apa sih, kenapa mama juga ada di sini?" tanya bara kemudian.
"Acara penerimaan penghargaan buat si kembar dan murid lainnya yang berprestasi di sekolah. Si kembar yang minta mama buat datang, mama kan juga pengen lihat cucu-cucu kebanggaan mama nerima hadiah di atas panggung, kenapa nggak boleh? Biasanya juga mama yang datang kalau ada acara, "jawab bu Lidya.
"Iya maz, jadi ini kan udah mau ganti tahun ajaran baru, sebentar lagi anak-anak naik kelas TK B, dan di TK A mereka sangat pintar dan berprestasi, Nala selalu menang kalau lomba baca puisi, apalagi puisis bahasa inggris dia sangat pintar . Nathan selalu menjadi juara kalau mewarnai atau rakit merakit. Apalagi kalau lomba kelompok, Nathan selalu bisa memimpin teman-temannya dengan baik dan pasti jadi juara. Tuh lihat piala-piala yang mereka berhasil dapatkan," Syafira menunjuk sederet piala yang memang sengaja di pajang di almari kaca yang di letakkan di salah satu sudut.
"Sebanyak itu?" tanya Bara.
"Ya enggak semuanya, banyak dari kelas dan siswa lain juga, tapi si kembar salah dua dari mereka yang selama ini berprestasi, sekalian juga acara perpishan dengan guru TK A mereka karena nanti di TK B, gurunya ganti," jelas Syafira.
"Mas Bara nggak tahu kan anak-anak sehebat itu, membanggakan. Mas sibuk nguli aja sih," sambung Syafira.
"Hooh benar itu Fir, sayangnya buat kembar sih nggak di ragukan lagi, tanggung jawabnya juga nomor satu, tapi me time sama mereka bisa dihitung dengan upil," sambung bu Lidya. Membuat Bara dan Syafira mengerutkan dahi, segala upil di bawa bu Lidya , jorok pikir keduanya.
"Aku tahu mereka anak-anak yang hebat, lihat saja bibitnya, unggulan begini," jawab bara santai. Bukan ingin sombong, tapi memang kenyataannya.
"Hadeh narsis, udah ah ayo masuk, sebentar lagi mau mulai acara. Ingat , mas yang bakal jadi wakil wali murid buat sambutan," Syafira menggandeng lengan Bara, untuk mengajaknya masuk ke tempat acara.
"Ih wow, serius ini Fir? Bara yang bakal naik panggung nanti?" tanya bu Lidya yang ngintilin mereka di belakang.
__ADS_1
"Iya buk, sudah Fira jampi-jampi jadi mau mas Baranya," jawab Syafira.
"Akhirnya, es Batu ini ketemu pawangnya juga, cair, cair deh! Di jampi-jampi pakai apa?" bu Lidya tampak girang sekali.
"Mama kepo!" sahut Bara cuek.
"Jangan lupa nanti malam," bisik Bara di telinga Syafira.
"Nanti malam mau ngapain?" tanya bu Lidya yang ternyata mendengar. Masih tajam ternyata pendengarannya.
"Nggak ngapa-ngapain buk," jawab Syafira cepat.
"oh, kirain kelon," tukas bu Lidya. Kini mereka sudah sampai di aula dan duduk di bangku paling depan dengan posisi Bara di tengah.
"Kalau iya memang kenapa?" celetuk Bara.
"Mas ih," Syafira mencubit pinggang suaminya yang iseng banget dengan bu Lidya.
🌼 🌼 🌼
Sambutan yang di berikan oleh bara tidak panjang, cukup singkat, padat namun sangat jelas.
"Suamiku keren, jadi makin cinta beneran," puji Syafira setelah Bara selesai memberi sambutan dan duduk di sampingnya kembali. Bukan sekedar untuk membuat Bara senang, tapi memang Syafira beneran makin cinta sih sama mas Baranya. Yang di puji hanya tersenyum tipis seraya mendaratkan bobot tubuhnya di kursi.
"Coba tadi didepan juga senyum gitu. Kan makin membuat aku jatuh hati," ucap Syafira.
"Kalau mas tebar-tebar pesona, bukan hanya kamu yang jatuh hati, tapi mereka juga,"
Syafira melirik ke arah para hadirin yang masih saja menatap kagum suaminya. Tanpa senyum aja udah buat mereka klepek-klepek lupa sama para suami yang duduk di samping mereka, apalagi di senyumin, auto jungkir balik pasti. Di sisi lain ada barisan para fans garis keras Bara yang berstatus janda muda, sejak Bara datang tadi mata mereka seperti tak mau lepas menatap pria tampan itu.
" Derita punya suami tampan, hot daddy lagi, saingannya banyak, tuh lihat mereka nggak kedip mandang mas Bara, berharap banget mas Bara jadi ayah anak mereka kayaknya," ucap Syafira tersenyum, senang karena suaminya tidak tergoda sama sekali dengan mereka yang jelas - jelas pakaiannya menonjol dimana-mana.
Bara hanya diam, ia meraih tangan Syafira, menggenggam dan meletakkannya di atas pahanya. Yang membuat para fans garis keras mas Bara itu mencebik kesal. Tapi bara cuek tak peduli, biar mereka tahu siapa nyonya Osmaro sebenarnya.
__ADS_1
🌼 🌼 🌼
Kini giliran anak-anak menerima hadiah dan penghargaan dari sekolah. Nala tidak langsung turun, ia akan memberi sambutan mewakili teman-temannya. Ya, meskipun cengeng, tapi Nala sangat berani dan pintar jika bicara di depan umum. Berbeda dengan nathan yang kebih banyak diam, tak suka bicara didepan orang banyak, mirip daddynya.
Syafira menatap kagum kepada gadis bertubuh mungil itu. Kalimat - kalimat sambutan yang diajarkannya selama hampir satu minggu ini, dengan lugasnya diucapkan oleh sang putri. Nala memang cepat sekali menghafal. Tak sia-sia ia mengorbankan Bara yang sudah mulai protes karena setiap malam Syafira tidur bersama Nala setelah mengajari anak itu sampai ketiduran dan tidak kembali ke kamar utama. Syafira menyimak setiap kata yang keluar dari bibir mungil itu hingga hampir selesai. Di detik-detik terakhir, Nala mengucapkan terima kasih kepada orang-orang tersayangnya.
"Terima kasih mommy Olivia yang sudah melahirkan Nala dan Athan. Mommy Olivia, mommy terbaik di dunia, Nala sayang mommy, semoga mommy selalu berada di sisi Tuhan. Terima kasih buat daddy yang selalu menjadi pahlawan buat Nala dan Athan. Meski daddy sibuk bekerja terus, tapi Nala tahu itu semua untuk cari uang buat Nala dan Athan. Daddy pasti lelah karena harus bekerja terus, tapi daddy tetap menggandeng tangan Nala dan Athan. Tetap mengajari yang baik-baik kepada Nala dan Athan. Nala bangga punya daddy terbaik di dunia. Nala sayang daddy. I love daddy so much," Bara tak kuasa untuk tidak menitikkan air mata haru dan bangganya. Ia tersenyum bangga ketika manik mata tanpa dosa itu menatap kearahnya sambil memberikan finger love kepadanya. Bibirnya bergumam," I love you more princess daddy,"
Bara segera menepis air matanya, tak ingin ketahuan yang lain. Syafira tersenyum melihat Bara yang diam-diam melow.
"Buat Athan, terima kasih sudah menjadi kakak yang hebat, selalu jagain Nala meskipun sering Nakalin Nala," mendengarnya Nathan tersenyum dengan coolnya dari pojokan panggung sambil bersedekap di kelilingi gadis - gadis kecil yang ngefans dengannya namun dia acuh dengan mereka. Hadeh sepertinya es batu Bara akan berpindah kepadanya.
" Oma," Nala beralih menatap bu Lidya.
"Yuhu, oma di sini!" seru bu Lidya sembari mengusap air mata harunya.
"Terima kasih oma sudah menjadi teman terbaik Nala, selalu mau di repotkan daddy buat jaga Nala dan Athan padahal oma sibuk cari opa baru," sontak kakimat Nala membuat yang ada di sana tertawa. Syafira mengernyit, dia tidak mengajarkan seperti itu, tapi sepertinya anak itu berimprovisasi sendiri.
"Bunda," kini giliran Syafira,
"Terima kasih bunda, bunda sudah mau menjadi bunda Nala dan Athan dan nanti akan jadi bunda dedek bayi juga kan ya. Terima kasih udah sayang sama Nala dan Athan, terima kasih udah mengajari banyak hal. Terima kasih daddy sudah membawa bunda yang baik buat Nala dan Athan. Bunda adalah bunda terbaik di dunia, Nala dan Athan sayang bunda banyak-banyak. Sayang terus sama Nala dan Athan ya bunda. I love you bunda Fira," ucap gadis cilik yang baru berusia lima tahun lebih itu dengan nada khas anak-anak.
Nala dan Nathan masuk sekolah TK A saat usia mereka empat tahun lebih, belum genap lima tahun. Tak heran jika sekarang sudah mau naik ke kelas TK B di usia mereka yang belum ada enam tahun.
Syafira tak kuasa menahan tangis harunya, wanita itu cukup terkejut ketika Nala mengucap namanya. Pasalnya ia tidak mengajari Nala hal itu juga karena ia takut anak itu akan bingung jika harus mengucapkan dua wanita sebagai ibunya. Sehingga dia hanya mengajarkan untuk menyebut mommy Olivia saja. Ibu kandungnya yang telah melahirkan anak sepintar mereka.
"Love you more sayangnya bunda," gumam syafira tersenyum. Ia ingin segera mendekap Nala dan Nathan.
Semua yang hadir langsung berdiri dan tepuk tangan, mereka ikut terharu dan bangga.
"Cucuku itu, cucuku!" seru bu Lidya heboh karena bangga di sela-sela tepuk tangan para hadirin.
"Olive, terima kasih telah melahirkan anak-anak yang hebat seperti merek," batin Bara.
__ADS_1
"Makasih sayang," Bara mengusap tangan Syafira yang di genggamnya. Ia mengecup kening sang istri, tanpa peduli dimana mereka berada sekarang.
🌼 🌼 🌼